Berkah Ramadhan, Pengepul Barang Bekas di Malo Mulai Menggeliat

BOJONEGORO.-

Covid-19 kian sirna, geliat ekonomi wargapun semakin terasa. Terlebih di Bulan seperti sekarang, roda usaha mulai berputar, di mulai ramai pembeli, jasa pengiriman barangpun tidak pernah sepi pesanan.

Kondisi itu juga dirasakan oleh Hudi (37), pengepul barang bekas yang membuka lapak di depan rumahnya, di Desa Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Beberapa pekan terakhir, Hudi mengaku kebanjiran order jual beli barang bekas. “Biasanya dalam sehari hanya bertransaksi 1 jutaan, kali ini per harinya hampir 4 sampai 6 juta rupiah,” ungkapnya seraya mengumbar senyum, Minggu (24/05/22).

Ketika korandiva.co menyambangi rumahnya yang terlihat lusuh dan kumuh karena tumpukan barang bekas itu, dia bersama rekan kerjanya sedang menaikkan barang bekas ke atas truk yang sudah siap mengirimkan ke pengepul besar, tempat biasa dia menyetorkan barang bekas yang sudah dipilah tersebut.

Dengan sedikit canda, Hudi menyapa korandiva.co, “ tidak, Mas? Silahkan duduk, tapi ya seperti ini tempatnya kotor semua,” imbuh pria yang dikenal pekerja keras itu dengan ramahnya.

Baca Juga:  Kusrini: Kartini Kekinian Itu Justru Bisa Menopang Ekonomi Keluarga

Hudi mengaku tidak sengaja mengawali usaha jual-beli barang bekas. Ketika di pinggir bengawan, dia melihat banyak sampah berserakan dan juga barang yang dibuang di bengawan.

“Saat itu ada pemulung yang mengaisnya. Otak saya langsung menangkap peluang itu, dan saya bergumam dalam hati, ini yang dikatakan dari sampah menjadi berkah,” paparnya.

Mengawali terjun di dunia barang bekas, Hudi hanya bermodalkan nekat dengan memulung.

“Asal lihat sampah, bagi saya itu rupiah,” ujarnya sambil berkelakar.

Lambat laun usaha yang dirintisnya menunjukan hasil. Setelah mengetahui Hudi, banyak warga yang menyimpan barang bekasnya untuk dijual kepadanya. “Lumayan, Mas. Bisa buat tambah beli bumbu dapur,” kata Winarti (34), yang saat itu sedang menenteng barang bekas untuk disetor ke lapak Hudi.

Baca Juga:  EMCL Serahkan Sarana Pengembangan Peternakan Ayam Petelur di Desa Sudu

Menurut Hudi, usahanya juga sempat terkena imbas Covid 19. Karena aktivitas warga terbatasi, jadi ruang gerak pemulung tidak leluasa hingga pendapatan lapak barang bekas pun berkurang drastis.

“Biasanya tiap 2 hari saya bisa kirim 1 truck, saat Covid saya mampu kirimnya dua minggu sekali,” katanya.

Tapi semenjak Ramadhan ini, Hudi mengaku bisa kirim barang bekas ke pengepul besar setiap hari. “Banyak warga yang sudah sadar kalau sampah itu bisa jadi rupiah. Setiap hari, dari pagi sampai malam saya bergelut dengan serakan barang bekas seperti ini,” ujar Hudi sambil menunjuk tumpukan barang bekas yang belum dipilah.

Untuk mengantisipasi peningkatan omset dagangnya, Hudi pun berani menambah 2 orang karyawan agar tidak kewalahan.

“Ada yang bagian memilah, ada yang menimbang dan juga ada yang mengemas. Pekerjaan lebih cepat selesai dan pengiriman pun bisa tiap hari,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *