Beranda blog

Ribuan Petani Tebu “Kepung” Kota Blora Desak Perbaikan PG GMM, DPRD Justru Absen

0

Korandiva-BLORA.– Gelombang kemarahan petani tebu tak lagi terbendung. Ribuan petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, turun ke jalan dalam aksi besar-besaran yang mengguncang kota, Kamis (2/4).
Iring-iringan panjang bak “konvoi perlawanan” memenuhi akses menuju pusat kota. Sedikitnya 180 truk pengangkut tebu, 7 bus, 2 pikap, puluhan mobil pribadi, serta 3 traktor (jonder) lengkap dengan sound horeg dan poster tuntutan, bergerak serempak menuju Alun-Alun Blora. Warga di sepanjang jalan dibuat heboh oleh aksi yang jarang terjadi dalam skala sebesar ini.

Dalam orasinya, Ketua DPC APTRI Blora, Sunoto, melontarkan tuntutan keras kepada manajemen PT Gendhis Multi Manis (GMM). Ia mendesak agar perbaikan boiler segera dilakukan serta meminta adanya pergantian manajemen yang dinilai gagal dan tidak profesional.
“Petani tidak bisa terus menjadi korban. Kami menanam di lahan hingga 5.000 hektare, tapi hasilnya justru merugi,” tegasnya.

Masalah bermula saat pabrik gula GMM berhenti beroperasi di tengah musim giling 2025 dengan alasan kerusakan mesin boiler. Dampaknya fatal. Tebu petani terpaksa dialihkan ke pabrik lain seperti PG Trangkil dan PG KTM Lamongan.
Alih distribusi itu bukan solusi, melainkan sumber masalah baru. Biaya transportasi membengkak, waktu pengiriman molor, dan ironisnya—tidak semua tebu terserap. Kerugian pun membengkak hingga miliaran rupiah. Sementara sebagian besar petani diketahui menanggung beban modal dari pinjaman bank.
Pemerintah Kabupaten Blora melalui Sekretaris Daerah, Komang Gede Irawadi, menerima seluruh aspirasi petani dan berjanji akan meneruskannya ke Perum Bulog serta pemerintah pusat.

Harapannya, ada langkah konkret mengingat gula menjadi bagian penting dari program ketahanan pangan nasional.
Namun di tengah panasnya tuntutan rakyat, satu hal justru mencolok: nihilnya kehadiran wakil rakyat. Tak satu pun anggota DPRD Blora tampak di lokasi aksi.

Situasi ini memunculkan pertanyaan tajam: di mana suara wakil rakyat saat petani berjuang mempertahankan hidupnya?
Aksi damai ini bukan sekadar unjuk rasa. Ini adalah peringatan keras—bahwa ketika kebijakan dan pengelolaan gagal, rakyat kecil dipaksa menanggung beban paling berat. Dan ketika mereka bersuara, diamnya para pemegang mandat justru menjadi ironi yang sulit diterima. (*)

Ribuan Petani Kepung Alun-alun Blora, Tagih Janji Operasional PG GMM: Ultimatum 10 April atau Bergerak ke Jakarta

0

Korandiva-BLORA.— Kesabaran petani tebu di Blora tampaknya telah mencapai batas. Sekitar 2.000 petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora turun ke jalan, Kamis (2/4/2026), mengepung Alun-alun Blora dalam aksi damai yang sarat tekanan politik.

Mereka datang bukan sekadar menyuarakan aspirasi, melainkan menagih janji yang hingga kini tak kunjung ditepati: kepastian operasional Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM), anak perusahaan Perum BULOG, yang mati suri sejak 2025 akibat kerusakan mesin boiler.

Dengan iring-iringan sekitar 193 truk bermuatan tebu—simbol kegelisahan sekaligus ancaman kerugian—massa menyuarakan kekecewaan terhadap pemerintah pusat. Bendera Merah Putih berkibar di antara batang tebu yang mengering, seolah menegaskan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan menyangkut nasib ribuan keluarga petani.

Ketua DPC APTRI Blora, Sunoto, secara terbuka melontarkan ultimatum keras kepada Direktur Utama BULOG dan Presiden Prabowo Subianto.
“Ini bukan lagi sekadar aspirasi. Ini penagihan janji. Yang bisa menjawab hanya Dirut BULOG dan Presiden,” tegasnya.

Tiga tuntutan dilayangkan tanpa kompromi: perbaikan total mesin pabrik agar bisa giling pada musim 2026, perombakan manajemen dengan tenaga profesional, serta opsi terakhir—menyerahkan pengelolaan kepada pihak yang dinilai lebih kompeten jika BULOG dianggap gagal.

Di balik tuntutan itu, tersimpan kerugian yang tak kecil. Sedikitnya 5.000 hektare tebu tahun lalu tak terserap, dengan estimasi kerugian mencapai Rp100 miliar. Tahun ini, ancaman kerugian yang lebih besar sudah di depan mata, sementara tebu petani telah siap ditebang tanpa kepastian pembeli.
“Kalau tahun ini tidak giling lagi, kerugian akan berlipat. Petani sudah di ujung tanduk,” kata Sunoto.

Kondisi ini memaksa petani mencari jalan keluar sendiri dengan mengirim hasil panen ke luar daerah, seperti Ngawi dan Trangkil, Pati. Namun langkah itu hanya solusi sementara yang justru menambah biaya distribusi dan menggerus keuntungan petani.
Ironisnya, PG GMM yang sejak awal digadang-gadang sebagai tulang punggung ekonomi Blora kini justru menjadi simbol kegagalan pengelolaan. Pabrik yang dibangun untuk kesejahteraan rakyat lokal itu kini terbengkalai, meninggalkan beban ekonomi yang kian berat.
“Kalau pabrik ini tidak bisa dijalankan, artinya kita gagal menjaga amanah,” ujar Sunoto.

Pemerintah Kabupaten Blora melalui Sekretaris Daerah Komang Gede Irawadi hanya bisa berjanji akan meneruskan tuntutan ke pemerintah pusat. Respons normatif ini belum menjawab kegelisahan petani yang menuntut kepastian konkret, bukan sekadar disposisi administratif.

Aksi yang berlangsung selama dua jam itu berakhir tertib. Namun pesan yang ditinggalkan jelas: waktu hampir habis.
Petani memberi tenggat hingga 10 April 2026. Jika tak ada jawaban, gelombang aksi yang lebih besar siap digelar—dengan Jakarta sebagai tujuan berikutnya.
Blora kini menunggu. Antara janji yang ditepati, atau kemarahan petani yang tak lagi bisa dibendung. (*)

Bupati Blora Copot Sekwan Plt Gara-Gara Mobil Dinas Dipakai Lebaran

0

Korandiva-BLORA.— Bupati Blora, Arief Rohman, akhirnya mengambil langkah tegas: mencopot Agus Listiyono dari jabatan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Blora. Pencopotan ini dipicu penggunaan mobil dinas berpelat merah untuk kepentingan pribadi saat momentum Lebaran—praktik yang seharusnya sudah lama menjadi “pantangan” bagi pejabat publik.

Keputusan tersebut resmi berlaku per 1 April 2026. Posisi Plt Sekwan kini diisi oleh Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Blora. Langkah ini disebut sebagai bentuk ketegasan pemerintah daerah agar fasilitas negara tidak terus-menerus diperlakukan seperti milik pribadi.
“Ini bukan sekadar pelanggaran teknis, tapi soal integritas,” tegas Arief. Ia menambahkan, selain pencopotan jabatan, Agus juga dijatuhi sanksi berupa surat teguran.

Kasus ini bermula dari aksi Agus yang menggunakan mobil dinas bernomor polisi K 28 E untuk rangkaian perjalanan silaturahmi pada 21 Maret 2026. Dari kediaman bupati, ia melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua di Kunduran, lalu ke Sragen untuk menemui mertua. Perjalanan tersebut terekam kamera warga di Jalan Raya Tangen dan viral di media sosial—memantik sorotan tajam publik.

Ironisnya, Agus mengaku mengetahui adanya Surat Edaran Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 2 Tahun 2026 yang secara tegas melarang penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, terutama saat hari raya. Namun, ia berdalih “kurang cermat” dalam memahami aturan.

Dalih itu jelas sulit diterima. Regulasi sudah gamblang: kendaraan dinas hanya untuk kepentingan tugas, bukan urusan keluarga. Ketika aturan sejelas itu masih dilanggar, publik wajar mempertanyakan kedisiplinan dan etika pejabat.

Langkah pencopotan ini menjadi pesan keras bagi ASN di lingkungan Pemkab Blora: penyalahgunaan fasilitas negara bukan lagi pelanggaran sepele. Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas, tindakan semacam ini tak hanya mencoreng institusi, tetapi juga menggerus kepercayaan publik.
Kini, yang diuji bukan hanya individu, melainkan konsistensi pemerintah daerah dalam menegakkan disiplin—tanpa tebang pilih. (*)

Janji Dirut Bulog Tak Kunjung Ditepati, 3000 Petani Tebu Blora Siap Turun ke Jalan

0

Korandiva-BLORA.– Bara kekecewaan petani tebu di Kabupaten Blora kian sulit dibendung. Janji Direktur Utama Bulog yang dilontarkan dalam pertemuan resmi di Jakarta, Januari 2026 lalu, hingga kini belum juga terealisasi. Padahal, komitmen tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Sri Setyorini, serta Ketua DPRD Mustopa.

Kondisi ini memicu kemarahan kolektif petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora. Mereka menilai Bulog tidak serius menyelamatkan nasib petani tebu yang kini berada di ambang kehancuran.

“Selama janji itu belum dipenuhi, semangat juang kami tidak akan padam,” tegas Ketua APTRI Blora, Sunoto, dalam pertemuan bertajuk Diplomasi Kuliner, Rabu (1/4/2026).
Istilah “diplomasi kuliner” bukan sekadar simbol. Di balik suasana santai, forum tersebut menjadi ajang konsolidasi serius untuk menyatukan barisan dan mengobarkan kembali semangat perlawanan. APTRI secara terbuka menuding buruknya manajemen PT GMM Bulog sebagai biang kerok keterpurukan industri tebu rakyat di Blora.

Empat Tuntutan Keras
Dalam aksi damai yang dijadwalkan Kamis (2/4/2026), sedikitnya 3.000 massa akan turun ke Alun-alun Blora dengan membawa empat tuntutan utama:

  1. Perbaikan segera dua boiler rusak agar musim giling 2026 tidak gagal total.
  2. Reformasi total manajemen PT GMM Bulog dengan figur profesional dan berintegritas.
  3. Pengaktifan kembali hubungan tripartit antara petani, manajemen, dan pemerintah daerah.
  4. Opsi tegas: jika Bulog tak mampu, pabrik gula diminta dilepas ke pihak swasta.

Tak hanya massa besar, aksi ini juga akan diikuti 182 truk, alat berat, hingga kelompok kesenian barongan—menunjukkan keseriusan sekaligus tekanan simbolik terhadap pemerintah dan Bulog.

Peringatan Soal “Penumpang Gelap”
Di tengah konsolidasi, muncul kekhawatiran adanya pihak yang mencoba menunggangi aksi. Mantan kepala desa, Agus Joko Susilo, mengingatkan agar peserta tetap waspada.
“Informasi sudah beredar. Ada potensi pihak yang memanfaatkan situasi. Ini harus diantisipasi sejak awal,” ujarnya.

Solidaritas dari Akar Rumput
Dukungan juga datang dari berbagai lapisan. Seorang petani, Mudo, bahkan mengaku telah menyiapkan logistik secara mandiri untuk memastikan peserta aksi tetap bertahan di lapangan. Sementara petani milenial seperti Untoro dan Hery menegaskan bahwa aksi ini lahir dari panggilan nurani.
“Kami tidak rela petani terus jadi korban janji yang tak pernah ditepati,” tegas mereka.

Seruan Moral dan Ancaman Sosial
Nada kritik dalam gerakan ini tak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral. Para petani menilai ingkar janji sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik—bahkan mengutip nilai-nilai religius sebagai pengingat beratnya konsekuensi.

Penasehat APTRI, Bambang Sulistya, tetap mengingatkan agar aksi berlangsung damai dan tidak anarkis.
“Jaga kendali, jaga persatuan. Tapi perjuangan ini harus terus berjalan,” ujarnya.
Dengan tekanan massa yang kian membesar, publik kini menanti: apakah Bulog akan segera menepati janji, atau justru membiarkan gelombang perlawanan petani semakin tak terbendung? (*)

Waka Adm Lukman Jayadi Pimpin Langsung Operasi Simpatik di Ketringan, 8 Batang Kayu Jati Ilegal Diamankan

0

Korandiva-BLORA.– Waka Administratur KPH Cepu, Lukman Jayadi, turun langsung memimpin operasi simpatik di Desa Ketringan, Kecamatan Jiken, Senin (30/3/2026), menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan penyimpanan kayu jati ilegal. Dalam kegiatan patroli gabungan bersama jajaran BKPH Wonogadung, petugas menemukan tumpukan kayu jati berbentuk persegi di pinggiran rumah warga.

Sebanyak 8 batang kayu jati dengan panjang 340 cm dan ukuran 20 x 20 cm berhasil diamankan sebagai barang bukti. Proses penindakan dilakukan secara humanis dengan melibatkan Kepala Desa Ketringan guna menjaga situasi tetap kondusif. Selanjutnya, kayu tersebut langsung dievakuasi dan diamankan ke TPK Cabak untuk proses lebih lanjut sesuai prosedur.

Lukman Jayadi menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk komitmen dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus menindak tegas praktik ilegal.

“Kami mengapresiasi peran serta masyarakat yang telah memberikan informasi. Ke depan, kami akan terus mengedepankan langkah persuasif dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya. Hingga malam hari, personel Polhutmob dan jajaran BKPH tetap siaga di pos masing-masing, dengan situasi wilayah terpantau aman dan kondusif. (*)

Lebaran yang Menghapus Jarak: Ketika PKL dan Bupati Duduk Semeja

0

Korandiva-BLORA.- Suasana hangat tak sekadar terasa—ia benar-benar hidup di Rumah Dinas Bupati Blora, Sabtu (28/3/2026). Di tengah nuansa Lebaran yang masih lekat, rombongan pedagang kaki lima yang tergabung dalam Pujakumara datang bukan hanya untuk bersalaman, tetapi meneguhkan ikatan sosial yang kerap terpinggirkan oleh hiruk-pikuk ekonomi jalanan.

Mereka disambut langsung oleh Bupati Arief Rohman—atau yang akrab disapa Gus Arief—bukan dalam formalitas kaku, melainkan dalam suasana yang cair dan setara. Ruang VIP yang biasanya terasa eksklusif, siang itu berubah menjadi ruang kebersamaan. Tawa, obrolan ringan, hingga santap hidangan khas Lebaran menjadi penanda bahwa jarak antara pemimpin dan rakyatnya bisa luruh dalam momen yang tepat.

“Bagai mendapat durian runtuh,” ujar Supriyanto, Ketua Pujakumara, dengan mata berbinar. Bukan semata karena jamuan, melainkan karena rasa dihargai. Diwongke—sebuah kata sederhana dalam bahasa Jawa yang sarat makna—menjadi inti dari pertemuan itu.

Di balik suasana hangat, terselip pesan yang tajam. Gus Arief tidak hanya mengapresiasi, tetapi juga menegaskan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa ruang publik seperti Alun-Alun Blora bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan wajah kota yang harus dijaga bersama.

“Berdagang itu ibadah. Tapi jangan lupa, kita juga punya tanggung jawab menjaga Alun-Alun tetap BINA: Bersih, Indah, Nyaman, dan Asri,” pesannya, lugas namun mengena.

Pesan itu diperkuat oleh sesepuh Pujakumara, Khoirurroziqin, yang mendorong agar semangat kebersamaan tidak berhenti di ruang pertemuan. Kerja bakti rutin setiap Jumat kembali digaungkan—sebuah langkah kecil yang, bila konsisten, mampu menjaga marwah ruang publik.

Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan doa. Namun lebih dari itu, yang tertinggal adalah rasa—bahwa di tengah dinamika ekonomi kecil yang kerap terabaikan, ada ruang dialog yang terbuka, ada tangan yang menyambut, dan ada harapan yang dirawat bersama.

Bagi para pedagang, siang itu bukan sekadar halalbihalal. Ia adalah pengakuan. Ia adalah penguatan. Dan mungkin, ia adalah awal dari relasi yang lebih manusiawi antara kekuasaan dan mereka yang setiap hari menghidupi denyut kota dari pinggir jalan. (*)

Ratusan Jamaah Padati Sholat Idul Fitri 1447 H di Desa Biting Kecamatan Sambong

0

Korandiva-BLORA.- Suasana penuh khidmat dan kebahagiaan menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Jamik desa Biting kecamatan Sambong, Sabtu pagi (21/3/2026). Sejak fajar menyingsing, ratusan jamaah telah memadati area masjid hingga ke halaman dan ruas jalan di sekitarnya.

Takbir, tahmid, dan tahlil menggema menggetarkan hati, seolah menjadi penanda kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan. Wajah-wajah penuh syukur tampak dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga para lansia yang dengan penuh semangat turut hadir.

Dan Terpantau juga oleh awak media, beberapa jamaah ada yang membawa alas shalat bagi yang tidak kebagian Shaf didalam masjid, yaitu dengan membawa alas koran ataupun terpal yang dijadikan alas buat menjalankan shalat Idul fitri hingga selesai.

Pelaksanaan Shalat Id berlangsung dengan tertib dan lancar. Bertindak sebagai imam Kiai Nurhadi, Khatib Ustadz Baidhowi, beliau menyampaikan khutbah yang sarat makna tentang pentingnya menjaga fitrah, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat. “Idul Fitri kembali suci bersih dari dosa seperti anak yang baru lahir, dan jangan dinodai dengan melakukan kemaksiatan dan kemungkaran. Bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk kembali kepada kesucian hati, memperbaiki diri, dan memperkuat ukhuwah,”ujar khatib dalam khutbahnya yang disambut khusyuk oleh jamaah.

Yang menarik, suasana kebersamaan begitu terasa usai pelaksanaan sholat. Jamaah saling bersalaman, berpelukan, bahkan tak sedikit yang menitikkan air mata haru terutama mereka yang lama tak berjumpa dengan keluarga dan kerabat.

Masjid Jamik Baitussalam Biting juga terlihat lebih semarak dengan penataan yang rapi dan kebersihan yang terjaga. Panitia pelaksana turut menyediakan fasilitas tambahan seperti area parkir yang lebih luas guna mengakomodasi lonjakan jamaah.

Momentum Idul Fitri kali ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya terletak pada kemeriahan, tetapi pada kebersamaan dan keikhlasan hati dalam saling memaafkan.

Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin
Suasana gembira dan kebersamaan sangat terlihat setelah shalat selesai para jamaah saling bersalaman bermaaf maafan dan berbagi kebahagian di hari yang fitrah ini. (*)

Laris Habis 300 Porsi, Nasi Pecel Mas Wahyu Banjiri Cepu Saat Lebaran Fitri 1447 H

0

Korandiva-BLORA.– Hari Raya Idul Fitri 1447 H (22 Maret 2026) makin ramai di pinggir Jalan Taman Seribu Lampu Cepu, berkat nasi pecel legendaris Mas Wahyu. Mobil Mitsubishi Mirage sederhananya warna kuning langsung kebanjiran pembeli sejak pukul 06.00 pasca salat Id—stok 300 porsi ludes kurang dari 3 jam.

“Alhamdulillah, laris manis! Biasa hari normal 100 porsi, Lebaran langsung habis. Sambal kacang resep turun-temurun juara, plus telur, tahu, tempe, dan sayur kenal segar,” cerita Mas Wahyu (35), sambil menyeka keringat di tengah antrean keluarga mudik dari Semarang, Surabaya, hingga Jakarta.

Warga lokal dan perantau kampung halaman rela antre. “Enak, murah Rp 6.000/porsi, tambah lauk telur Rp 10.000 pas sarapan Lebaran sebelum open house. Ini pecel terenak di Cepu-Blora bikin kangen rumah.” puji Bu Arum (38) dari Randublatung, bareng keluarga. Dagangannya jadi magnet silaturahmi, bikin Lebaran makin hangat dan lezat. (*)

Janji Bulog Dipertanyakan: Petani Tebu Blora Ancam Turun ke Jalan, Tagih Komitmen Musim Giling 2026

0

Korandiva-BLORA.— Kesabaran petani tebu di Kabupaten Blora kian menipis. Dalam pertemuan panas dengan Bupati dan Wakil Bupati, Jumat (27/3/2026), Ketua APTRI Blora, H. Sunoto, secara tegas “menagih utang janji” Bulog yang hingga kini tak kunjung terealisasi.
Alih-alih menunjukkan progres, perbaikan krusial di tubuh PT GMM Bulog—mulai dari penggantian boiler rusak hingga pembenahan manajemen—justru tak berbekas. Padahal, komitmen tersebut sebelumnya diucapkan langsung oleh Direktur Utama Bulog di hadapan pejabat daerah.

Kondisi ini memicu kemarahan petani. Mereka menilai Bulog gagal memberikan kepastian, bahkan cenderung membiarkan nasib petani terkatung-katung. “Kalau tidak mampu mengelola, serahkan saja ke swasta. Jangan petani terus jadi korban,” tegas Sunoto.

Puncak kekecewaan akan diwujudkan dalam aksi damai besar-besaran pada 2 April 2026 di Alun-alun Blora. Sekitar 5.000 massa dan ratusan truk dipastikan turun ke jalan, membawa satu tuntutan: kejelasan dan tanggung jawab.

Akar persoalan ini tak lepas dari “tragedi giling 2025”—penghentian sepihak akibat kerusakan mesin yang merugikan petani hingga Rp 75 miliar. Hingga kini, tak ada penyelesaian konkret.

Suara serupa datang dari berbagai pihak. Mereka menilai pemerintah pusat seolah menutup mata terhadap penderitaan petani kecil yang sudah berulang kali mengadu tanpa hasil.

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakpastian. Dengan semangat “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, petani Blora bersiap menekan pemerintah—bahkan hingga ke Presiden—agar janji tak lagi sekadar wacana. (*)

Senja Ramadan, Silaturahmi yang Menghangatkan Hati para Purna Tugas

0

Korandiva-BLORA.— Malam kian larut selepas salat tarawih, Jumat (20/3/2026). Di sudut sederhana sebuah kafe di kawasan Nglawiyan, Karangjati, suasana justru terasa hangat. Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan perjumpaan hati—para purna tugas yang pernah mengabdikan diri untuk daerah, kini duduk sejajar, tanpa sekat jabatan.

Di tempat itu, mantan Sekda Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A., menginisiasi sebuah silaturahmi kecil yang mereka sebut dengan sederhana: “kelompok lima persen.” Sebuah istilah yang terdengar ringan, namun menyimpan makna kedekatan, keakraban, dan mungkin—kejujuran dalam memaknai hidup setelah masa jabatan usai.

Hadir dalam lingkaran hangat itu sejumlah nama yang pernah menjadi bagian penting roda pemerintahan Kabupaten Blora: Drs. Purwanto, MM, mantan Kepala DPMPTSP; Drs. Sunanto, MM, mantan Kepala BPBD; Sarmidi, SP., MM., dari Dindagkop UKM; serta Suripto, S.Sos., mantan Kabid Setwan.

Tak ada protokoler. Tak ada kursi kehormatan. Yang ada hanya canda ringan, tawa lepas, dan sesekali jeda hening ketika kenangan lama kembali menyapa.
Malam itu, perbincangan mengalir dari hal-hal sederhana—kesehatan, keluarga, hingga aktivitas selepas purna tugas—lalu perlahan memasuki ruang yang lebih dalam: perenungan tentang hidup.

Purwanto membuka percakapan dengan pitutur Jawa yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa hidup sejatinya adalah tentang memberi manfaat.
“Urip iku urup,” ucapnya pelan, seolah mengajak semua yang hadir untuk kembali menyalakan cahaya dalam diri masing-masing.
Di tengah zaman yang ia sebut “kolobendu”—penuh godaan dan kegelisahan—ia mengajak untuk tetap mengendalikan hawa nafsu dan ego, terutama setelah ditempa selama Ramadan. Baginya, hidup bukan sekadar berjalan, tetapi memahami dari mana manusia berasal dan ke mana akan kembali—sangkan paraning dumadi.
Sunanto, yang kini memilih mengelola tambak di Dukuhseti, Pati, berbicara dengan nada tenang. Ia merasa, selepas purna tugas, hidup tak lagi soal panggung.
“Sekarang waktunya tetap produktif, tapi lebih banyak memberi manfaat,” tuturnya.

Dari tambaknya seluas dua hektare, ia tak hanya memanen ikan nila dan bandeng, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan dengan berbagi kepada masyarakat sekitar. Baginya, keberkahan justru terasa ketika hasil jerih payah bisa dinikmati bersama.

Sarmidi menambahkan dengan keyakinan yang sederhana namun dalam: hidup sudah ada yang mengatur.
“Urip wis ginaris,” katanya.
Ia mengajak untuk lebih banyak berserah, ikhlas, dan tawakal. Karena pada akhirnya, manusia hanyalah pemeran dalam panggung kehidupan, sementara naskahnya telah ditulis oleh Sang Pemilik Semesta. Namun satu hal yang pasti, ia percaya: sopo nandur bakal ngunduh—siapa menanam, akan menuai.

Sementara itu, Suripto, yang kini aktif memimpin paguyuban keluarga besar keturunan Eyang Dipoyudo, justru menemukan makna hidup dalam kesederhanaan.
“Sekarang ini, hidup sederhana itu malah jadi barang langka,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan tanda kemapanan batin—ketika seseorang tak lagi dikuasai keinginan yang berlebihan.

Di penghujung pertemuan, Bambang Sulistya merangkum semua yang mengalir malam itu dalam satu kata: silaturahmi. Sebuah kebutuhan jiwa yang tak tergantikan.
Ia menyebut silaturahmi sebagai “MULIA”—akronim yang sarat makna: melapangkan rezeki, menghadirkan rahmat, mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat berbagi, hingga menjaga kesehatan lahir dan batin.
Malam semakin larut. Percakapan perlahan mereda. Namun hangatnya kebersamaan justru terasa semakin kuat.
Satu per satu mereka berdiri. Saling berjabat tangan, berpelukan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ucapan yang sama terucap tulus, tanpa rekayasa: Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.

Di balik senyum itu, terselip doa sederhana—semoga usia masih memberi kesempatan untuk kembali dipertemukan dalam Ramadan berikutnya.
Karena bagi mereka, pada akhirnya, yang tersisa bukanlah jabatan, melainkan kenangan, persahabatan, dan makna kehidupan yang terus bertumbuh. (*)