Beranda blog Halaman 182

APDESI: Agar Tidak Gagap, Kades Harus segera Bentuk PPID Desa

0

BLORA.-
Dalam upaya menampung aspirasi tingkat bawah, Rabu (27/07/2022) diselenggarakan rapat untuk menyamakan pendapat di Pendopo Desa Kemiri Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora dengan menghadirkan Ketua Assosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Blora, Agung Heri Susanto.

Tampak hadir pada kesempatan itu antara lain Camat Jepon H. Bukhri, Forkompincam, dan kepala desa se-Kecamatan Jepon.
Selaku ketua APDESI, Heri minta kepada semua kepala desa untuk segera membuat dan membentuk pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPID) Desa agar bisa melayani jika ada pemohon informasi publik (KIP).

“Kades bukan penyaji administrasi, karena itu kalau ada permohonan keterbukaan informasi Publik (KIP) pasti masih gagap,” ujar Heri. Persoalan yang terjadi beberapa bulan terakhir, menurut Heri lebih disebabkan karena Kades sendiri belum tau apa itu KIP.

“Karena tidak memiliki dasar boleh tidaknya memberikan informasi, hal itu menjadi keragu-raguan Kades,” tambahnya. Menurut Heri, setelah terbentuk PPID Desa dan diberikan pendampingan oleh Kominfo dan KIP, desa akan bisa menyajikan satu data yang dibutuhkan oleh pemohon sesuai dengan regulasi yang ada.

“Saya berharap adanya dukungan dari LSM dan media, agar semua Pemerintahan Desa bisa bekerja secara optimal dengan tujuan mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa,” tandas Heri.

Sementara itu Camat Jepon H. Bukri, pada kesempatan itu menyampaikan pesan kepada para kades terkait peringatan hari kemerdekaan, agar segera mempersiapkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI yang ke-77.

“Walaupun masih dalam keadaan pandemi tetapi jangan sampai mengurangi semangat nasionalisme, kita tetap melaksanakan sesui kondisi yang ada,” ucap Bukhri.

“Kegiatan nanti fokus di desa-desa. Karena selama dua tahun ini tidak ada kegiatan, maka saya berharap kepala desa khususnya se-Kecamatan Jepon agar melaksanakan Peringatan HUT RI ke 77 dengan tema “Pulih Lebih Cepat,” tandas Bukhri. (*)

Dikonsep Transportasi Wisata, Perahu Penyeberangan di Margomulyo Tolak Angkut Kendaraan

0

BOJONEGORO.–

Penyeberangan perahu di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, tampak menarik. Desain seperti transportasi wisata. Tempat duduk disusun berjajar di atas perahu disertai pelampung. Menariknya, perahu penyeberangan tidak melayani kendaraan melintas.
Transportasi air ini menghantarkan warga menuju kawasan Kecamatan Kradenan, Blora, Jawa Tengah. Konsep diusung perahu wisata menyeberangi Bengawan Solo. “Iya memang konsepnya perahu wisata, dikelola karang taruna,” kata Agus Suprapto pengelola perahu, Senin (25/07/2022).
Menurut dia, inisiatif membuat penyeberangan nyaman dan aman tersebut dilatarbelakangi kejadian banjir besar 2007 lalu. Perahu tenggelam dengan satu korban warga desa. Sehingga perahu dipoles dengan cat dan diberikan kursi duduk dan peneduh.
Namun, menurut Agus, jumlah alat keselamatan itu perlu ditambah karena hanya ada lima. Dia sudah mengusahakan meminta bantuan penambahan kepada Dinas Perhubungan Bojonegoro, namun belum direalisasikan.
“Kami sudah kirim permintaan penambahan, tapi sampai saat ini belum diberikan,’ jelasnya.
Agus menuturkan, selain perahu wisata juga ada perahu penyeberangan motor. Namun, perahunya tidak besar. Namun perlu usaha cukup ekstra, karena perahu tidak besar dan akses terjal. “Kalau menyeberangkan motor perlu keberanian, kalau berani ya diseberangkan,” jelasnya. (*)

Kawasan Jalan Kartini, Jadi Sentra Kuliner Warga Kota Bojonegoro

0

BOJONEGORO.-

Kabupaten Bojonegoro memiliki banyak tempat asyik untuk bersantai dan mencicipi aneka kuliner. Jika pagi, ada Pasar Sor Greng di Kelurahan Ledokwetan, maka jika senja menjelang hingga malam, anda bisa jalan-jalan sambil kulineran di Jalan Kartini hingga Jalan Panjaitan.
Para pedagang aneka makanan mulai menggelar dagangannya selepas asar. Pusat kuliner ini lebih dikenal dengan Kartini Street Food. Selama tiga tahun terakhir, yakni sejak Januari 2020, pedagang kaki lima (PKL) berpusat di kawasan Jalan Kartini.
Lokasi Kartini Street Food yang strategis di tengah kota berdekatan dengan Taman Lokomotif. Hal ini menjadikan kawasan ini ramai pengunjung di setiap harinya.
Fathurrohman, salah satu pedagang mi asal Desa Kabunan Kecamatan Balen ini mengaku sejak dipindah di jalan Kartini ini jualannya semakin laris.
“Alhamdulillah setiap hari dagangan habis. Dulu sebelum disediakan lapak di sini, saya mangkal enggak tentu, kadang mendorong gerobak. Tapi sekarang sudah nyaman, tidak perlu takut lagi ada obrakan (razia) dari petugas,” ungkapnya.
Fathurrohman mengaku selama ini berjualan mulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 7 kg bahan mi, dengan omset per harinya rata-rata Rp 1,5 juta.
Kawasan Kartini Street Food memang menjadi tempat favorit warga Bojonegoro yang ingin melepas penat sambil menikmati makanan atau minuman. Pengunjung tidak hanya dari kalangan tua, namun para milenial Bojonegoro juga menyukai kuliner di sini.
Fely dan Berlian adalah di antara warga yang berdatangan di Kartini Street Food. Keduanya masih duduk di bangku SMA dan mengaku sering memilih menghabiskan malam minggunya di Kartini Street Food.
“Enak di sini. Di tengah kota. Enggak perlu jauh jauh, menu makanannya juga enak, lengkap. Mau makan atau minum apa saja ada, banyak pilihannya,” ucap Fely, Sabtu (23/07/2022).
Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Penggelolaan Informasi dan Komunikasi Publik (PIKP) Dinas Kominfo Bojonegoro Nanang Dwi Cahyono menyampaikan, kebijakan Bupati Anna Mu’awanah untuk memberi tempat bagi PKL di Jalan Kartini sangat tepat.
Kini, kawasan tersebut menjadi sentra kuliner warga Bojonegoro. Selain itu, para pedagang merasakan manfaatnya. “Pemkab Bojonegoro terus berupaya dengan melakukan pendekatan baik personal maupun melalui program yang bertujuan untuk mensejahterakan para pelaku UKM dan IKM Bojonegoro. Salah satunya adalah para pedagang kaki lima yang ada di kawasan jalan Kartini ini,” terangnya.(*)

Paijah Dibohongi, Sukinah Dilaporkan ke Polisi

0

BLORA.-

Ulah Sukinah (48), warga Sendangharjo (Blora) yang telah ingkar janji dan membohongi Paijah (31), warga Sukolilo (Pati) akhirnya berbuntut laporan ke polisi.
Didampingi dua orang pengacaranya, Christian Bagoes Prasetyo, SH, MKn dan Dwi Purnomo SH, Senin (25/07/2022), Paijah mendatangi Mapolres Blora untuk melaporkan tindak kejahatan penipuan dan pembohongan yang dilakukan oleh Sukinah terkait pengalihan hak kepemilikan bangunan dan tempat usaha hiburan (rumah karaoke) di Dukuh Polaman RT.01/RW.06, Jalan Raya Blora-Rembang, Blora Kota.
Berawal pertemuannya dengan Suyanto, warga Desa Badong (Blora) beberapa bulan lalu, Paijah mendapat informasi adanya tempat usaha karaoke di Dukuh Polaman, milik Sukinah yang kabarnya mau dijual. Hingga akhirnya terjadi kesepakatan bahwa Sukinah yang mengaku selaku pemilik lahan dan bangunan tempat usaha hiburan (rumah karaoke) tersebut, mengalihkan hak pengelolaannya kepada Paijah dengan kompensasi Rp 25 juta.
“Setelah saya kelola satu bulan, dan pengunjung karaoke sudah mulai ramai, tiba-tiba dia membatalkan perjanjian secara sepihak,” ujar Paijah yang memiliki nama asli Susana Fitriani itu.
Surat perjanjian pengalihan hak usaha itu sendiri ditandatangani oleh Susana Fitriani (Paijah), Sukinah, Rani (suami Sukinah), Suyanto dan Joko Santosa sebagai saksi.
Kepada wartawan Paijah mengatakan, bahwa untuk mengawali usaha karaokenya dia juga harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah untuk merenovasi bangunan tempat karaoke yang lokasinya persis di belakang warung makan Mustika di Jl. Raya Blora-Rembang.
“Dan, tempat usaha yang dialihkan kepemilikannya kepada saya itu ternyata berada di atas lahan orang lain,” terang Paijah yang mengaku mengalami kerugian lebih lima puluh juta itu.
Dari hasil penulusuran di lokasi, selain lahan untuk usaha karaoke, lahan yang juga digunakan Sukinah untuk usaha warung makan di Jl. Raya Blora-Rembang itu juga milik orang.
“Pemilik lahan sebenarnya sudah pernah memberi uang pesangon pada bu Sukinah untuk pindah. Tapi sampai sekarang dia belum mau pindah,” jelas warga Polaman yang tinggal tidak jauh dari warung milik Sukinah.
Sementara itu dari pihak Desa Polaman mengaku sudah mengetahui persoalan status lahan yang di tempati Sukinah. Dan pihak desa juga sudah beberapa kali mengingatkan, agar yang bersangkutan tidak membuat permasalahan yang bisa mengganggu keamanan dan ketertiban desa.
“Tapi peringatan itu tak dihiraukan, hingga sampai muncul laporan ke polisi” ungkap seorang perangkat Desa Polaman, ketika dimintai klarifikasi oleh awak media.
Dan dari hasil penelusuran wartawan di lokasi diperoleh keterangan, bahwa lahan yang digunakan tempat usaha karaoke Sukinah tersebut adalah asset milik PT. KAI DAOP IV Jawa Tengah.
Akibat pelaporan ke polisi itu, Sukinah bisa terancam pidana dan menyusul teman prianya yang bernama Rani, yang kini sudah ditahan di Polres Blora karena kesandung kasus pelanggaran hukum yang lain. (*)

Tambah Wawasan, KTNA Blora Stuba Swadaya ke Sanggar Rojolele dan Bengkel Sapi di Yogyakarta

0

BLORA.-

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Blora, Sabtu (23/7/2022) mengadakan studi banding (stuba) ke Sanggar Rojolele, Klaten dan bengkel sapi di Sleman.

Studi banding ke Sanggar Rojolele di Dukuh Kaibon Desa Delanggu Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten dan ke bengkel sapi di Dusun Kalijeruk, Desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman, Yogyakarta itu dilaksanakan dalam rangka menambah wawasan, pengetahuan dan membangun relasi serta sebagai ajang refreshing yang menguntungkan.

Sekretaris KTNA Blora Farid Darwanto menjelaskan, kegiatan stuba ke Yogyakarta itu diikuti oleh para pengurus/anggota KTNA kabupaten dan perwakilan para petani melenia.

“Bahwa pelaksaan studi banding dilandasi niat dan semangat ingin maju guna meningkatkan kesejahteraan para petani,” ucapnya di Blora, Senin (25/7/2022).

Sehingga walaupun harus berswadaya murni dari para peserta, kegiatan harus tetap diwujudkan. Apalagi di dua tempat kunjungan itu merupakan sumber pengalaman dan pengetahuan yang berkorelasi positif dan sangat bermanfaat bagi kemajuan para petani Blora.

“Karena kita dapat belajar dan menyerap berbagai kiat dalam mewujudkan budidaya pertanian padi organik dan manajemen tata kelola peternakan sapi yang baik,” jelasnya.

Farid Darwanto menambahkan dalam kunjungan di Sanggar Rojolele diterima langsung oleh Maryana seorang perangkat desa dan tokoh penggerak para petani di dukuh Kaibon. Ia menceritakan dengan penuh semangat kepada peserta studi banding upaya memotivasi para petani untuk hijrah dari budidaya padi unorganik ke budidaya padi organik.

Dengan menggelorakan sesanti, kembalikan kejayaan padi Rojolele yang pernah disandang pada masa lalu dengan budidaya padi secara organik. Berbagai hambatan, tantangan, rintangan dan gangguan harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan harapan. Berkat kegigihan dan semangat yang membara untuk maju dan berbagai kiprah serta upaya terobosan bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret Solo.

Akhirnya saat ini hasilnya sudah dapat dirasakan oleh para petani padi rojolele yang telah membudidayakan padi secara organik. Terbukti di Dukuh Kaibon, 60% luas lahan telah beralih ke budidaya organik dan siap menyediakan beras rojolele organik rasanya wangi pulen untuk melayani pembelian dengan harga Rp 75.000 per 5 kilogram. Bahkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberi predikat dukuh Kaibon sebagai daerah penghasil beras sehat dan ramah lingkungan.

Kemudian dilanjutkan kunjungan ke bengkel sapi di dusun Kalijeruk desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman,Yogyakarta. Nama Bengkel Sapi bagi para peserta studi banding unik dan mudah diingat dengan menganalogikan bengkel mobil.

Bengkel sapi itu milik Prof.Dr. Ir. Ali Agus mantan Dekan Fakultas Peternaan UGM asli Blora. Ia menyambut dengan antusias dan senang hati atas kedatangan para peserta studi banding di Bengkel Sapi.

Bahkan berkenan untuk sharing dan berbagi ilmu maupun pengalaman dalam pemeliharaan sapi, Ali Agus membuka bengkel sapi fungsinya dalam bahasa yang sederhana memang seperti bengkel motor.

Upaya merekondisi sapi-sapi yang rusak (tidak sehat), kurus menjadi sapi sapi yang sehat,gemuk dan unggul. Disamping itu untuk mengedukasi dan melayani petani beternak sapi dengan tehnologi.

Bengkel Sapi mengambil sapi-sapi petani yang kurus dan tidak tumbuh dengan baik, setelah ditangani pulih menjadi sapi sehat, gemuk dan unggul dikembalikan kepada petani yang juga diberi pelatihan beternak sapi yang baik.

Menurut Ali Agus, sebelumnya sapi-sapi itu pertumbuhan ADG (Average Daily Gain) di bawah 1 kilogram. Namun setelah diterapi di Bengkel Sapi pertumbuhan sapi sapi bisa mencapai 3 kilogram per hari. “Penyebab utama dalam pemeliharaan sapi pada umumnya adalah di pakan ternak,” kata Ali.

Di Bengkel Sapi telah diciptakan pakan ternak yang bernama booster bermanfaat untuk menyehatkan dan memacu nafsu makan sapi. Selain itu, juga disiapkan saus burger sapi yang menjadi konsumsi sapi yang sedang direkondisi. Bengkel sapi dikelola oleh para tenaga profesional muda dari UGM dan lulusan perguruan tinggi lainnya, serta menjadi sarana magang dan pelatihan berbagai kampus. Ketua KTNA Blora Sudarwanto setelah melihat secara langsung di dua tempat kunjungan mengucap syukur.

“Alhamdulilah dengan adanya studi banding tersebut sangat bermanfaat sekali bagi penambahan pengetahuan dan pengalaman yang terkait budidaya pertanian padi organik dan managemen tata kelola peternaan sapi,” kata Sudarwanto yang mantan Komisioner KPUD Blora.

Hal itu, kata Sudarwanto, mengingat kondisi alokasi pupuk bersubsidi saat ini sangat berkurang sekali jauh dari kebutuhan petani, seperti yang tercantum pada Peraturan Menteri Pertanian RI Nomer 10 tahun 2022 tentang tata cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian.

“Dengan kondisi tersebut kedepan para petani dituntut untuk berinovasi sehingga alternatif pilihannya adalah usaha budidaya pertanian organik dengan mengoptimalkan potensi hasil kotoran hewan ternak sapi di Kabupaten Blora yang merupakan gudangnya sapi Jawa Tengah,” ungkapnya.

Disamping itu, kita juga bisa belajar manajemen tata kelola pemeliharaan yang baik dengan mengadopsi tehnologi dan inovasi yang diterapkan di Bengkel Sapi Kalijeruk.

Kedepan KTNA sangat berharap melalui Koperasi Mustika Tani Sejahtera dapat bermitra kerja baik dengan Sanggar Rojalele dalam mengadopsi pertanian padi organik maupun dengan Bengkel Sapi untuk pengembangan usaha peternaan sapi di Kabupaten Blora.

Penasehat KTNA Blora, Bambang Sulistya memberikan apresiasi positif telah dilaksanakannya kegiatan studi banding tersebut. Mantan Sekda Blora itu berharap, semoga hasil studi banding dapat segera diamalkan di wilayah masing-masing.

“Kedepan saya berharap KTNA dapat memotivsi para petani untuk berbudidaya pertanian organik dan terwujudnya bengkel sapi ala KTNA Blora,” harapnya. Disamping itu semangat berswadaya untuk mengadakan studi banding tetap dilaksanakan dan mudah-mudahan mendapat restu dan dukungan dari instansi yang terkait. (*).

Gus Mus adalah “Kiai yang Nyeni”

0

DI Indonesia, sedikit sekali sastrawan yang berasal dari kalangan kiai. KH Ahmad Mustofa Bisri merupakan salah satu dari yang sedikit itu. Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus ini sangat piawai dalam menghasilkan karya sastra.

Gus Mus lahir pada 10 Agustus 1944 di Rembang, Jawa Tengah. Ia dibesarkan dari keluarga yang patriotis, intelek, progesif dan juga kasih sayang. Ayahnya KH Bisri Musthafa adalah seorang orator yang ulung. Ia dapat menjadikan hal yang sulit untuk dimengerti menjadi mudah dicerna semua kalangan baik orang kota, maupun desa. Kakeknya, KH Zaenal Musthofa merupakan pendiri dari Taman Pelajar Islam atau yang lebih dikenal saat ini sebagai Roudlotut Tholibin.
Menimba ilmu dari dua pesantren, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri selama dua tahun. Kemudian dilanjutkan di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta selama empat tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Berbekal ilmu yang ia pelajari selama hidupnya, karya Gus Mus sangatlah banyak. Karya-karya ini tidak hanya dari satu jenis, melainkan dari berbagai jenis. Katakanlah seperti esai, puisi, cerpen, bahkan Gubahan Humor merupakan jenis yang ia tekuni dan setiap jenis nya tidak menghasilkan satu atau dua karya, melainkan lebih dari tiga karya di setiap jenisnya. Tak heran beliau dijuluki dengan “Kiai yang Nyeni” karena banyaknya karya yang ia hasilkan.
Sejak muda, Gus Mus gemar menulis. Beliau sering berkompetisi dengan kakak nya yaitu KH. M. Cholil Bisri. Tulisan-tulisan beliau sudah banyak yang dimuat berbagai media massa termasuk Kompas. Selain itu, ia juga berbakat dalam mementaskan puisi hingga pada pentas puisi yang pertama nya pada tahun 1980-an telah menuai banyak pujian dan beliau segera dikukuhkan kehadirannya sebagai “bintang baru” dalam dunia kepenyairan Indonesia.
Karena dedikasinya dalam bidang sastra, Gus Mus banyak menerima undangan dari berbagai negara. Undangan seperti menghadiri perhelatan puisi di Baghdad. Kemudian ia juga menghadiri seminar di berbagai negara seperti Universitas Hamburg Jerman, Universitas Malaya (Malaysia), Belanda, Perancis, Jepang, Spanyol, Kuwait, dan Saudi Arabia.
Saat ini, beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin Leteh, Rembang, meneruskan dari pesantren yang didirikan oleh kakeknya. Selain itu, beliau juga bekerja sebagai penasihat di Majalah Cahaya Sufi dan AL-Mihrab Semarang. (*)

Kampoeng Thengul di Margomulyo, Lestarikan Seni Khas Bojonegoro

BOJONEGORO. –

Wayang thengul menjadi seni pertunjukan khas Bojonegoro. Dalam perkembangannya, thengul menjadi identitas kebudayaan dan mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Hal itu tampak pada geliat Kampoeng Thengul di Desa Sumberrejo Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro. Di sini, warga tak sekedar melestarikan wayang thengul, tapi juga tari thengul hingga aneka sovenir bertema thengul.

Wintari salah satu penggagas Kampoeng Thengul mengatakan dengan adanya perkembangan zaman, kesenian ataupun budaya yang asli khas Bojonegoro harus terus dilestarikan. “Jangan sampai hilang ditelan bumi,” ungkapnya, Jumat (22/07/2022).

Kampoeng Thengul dibentuk dengan tujuan agar generasi penerus bisa lebih mengenal thengul. Di Desa Sumberrejo, warga mendirikan sanggar tari Thengul.

“Alhamdulillah banyak peminat dari kalangan anak-anak untuk belajar menari Thengul khas Bojonegoro ini,” imbuh Elya Ardiana, salah satu pelatih tari.

Wayang thengul sendiri merupakan kesenian Bojonegoro yang mirip wayang golek. Namun ada perbedaan dari sisi cerita yang diangkat dan karakter tokohnya. Jika wayang golek mengangkat cerita dari Wayang Purwa seperti Mahabharata dan Ramayana, justru wayang thengul banyak mengangkat cerita rakyat seperti cerita panji serta cerita para wali.

Wayang thengul menggunakan perangkat boneka kayu tiga dimensi. Wayang dibalut pakaian, di mana tangan sang dalang masuk ke dalamnya. Dalang menggerak-gerakkan boneka tersebut dengan ibu jari dan jari telunjuk, sedangkan tiga jari lain memegang tangkai wayang.

Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, layar (kelir) yang digunakan terdapat lubang kotak di tengahnya. Sehingga penonton dapat menyaksikan dari arah belakang layar. Wayang ini berbentuk boneka 3 dimensi dan biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro.

Sementara itu, Camat Margomulyo Dyah Enggarini menjelaskan Kampoeng Thengul adalah sebuah dusun yang ingin memberikan nilai tambah dari seni yang sudah ada. Di kampung tersebut tinggal dalang sekaligus pembuat wayang thengul, mbah Sumarno.

“Oleh karena itu kami buat Kampoeng Thengul dengan upaya thengul tidak hanya sebagai pementasan wayang. Tetapi juga mengangkat thengul menjadi seni atau budaya yang memberikan nilai ekonomi kepada warga. Selain itu dapat memberi edukasi kepada generasi masa kini untuk melestarikan dan mencintai budaya khas Bojonegoro,” terang Camat. (*)

Pemuda Pancasila Akan Pantau dan Awasi Proses Hukum Kasus Perades di PN Blora

0

Blora, Diva.-
Ketua Musyawarah Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Kabupaten Blora, Munaji, Rabu (20/07/2022) menggelar rapat pemilihan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Cepu.

Dalam sambutannya, Munaji menegaskan bahwa PP Blora masih solid menjalankan misi organisasi yaitu mengawal Pancasila agar tetap abadi, sebagai satu-satunya ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami sampaikan bahwa Pemuda Pancasila Blora tetap solid, untuk mengawal dan mengabadikan Pancasila, dengan semboyan Pancasila Abadi, maka negara kita akan tetap jaya, dan kita siap bersinergi dengan aparat Pemerintahan di setiap tingkatan, termasuk untuk wilayah Kecamatan Cepu ini, untuk itu pesan saya, pemilihan ini harus memutuskan yang terbaik untuk organisasi,” ujar Mbah Mun, panggilan akrab Ketua MPC PP Blora.

Turut hadir mewakili Camat Cepu, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Polisi Pamong Praja Kecamatan Cepu, Listyo Wibowo, menyampaikan mewakili Pemerintah Kecamatan.Cepu, berharap bisa menjalin sinergitas dan kerjasama yang baik, untuk menata kondusifitas di Kecamatan Cepu, dengan membuat kegiatan bersama, dalam segala bidang utamanya di bidang sosialisasi ideologi Pancasila, sebagai dasar negara.

“Saya mewakili Bapak Camat, menyampaikan pesan untuk Ketua MPC Pemuda Pancasila dan bersama jajarannya, termasuk untuk PAC Cepu, bahwa Pemerintahan Kecamatan Cepu siap menjalin kerjasama, dan bersinergi, untuk mensosialisasikan Pancasila, satu – satunya azas dan ideologi Bangsa kita, Indonesia, dari segala bentuk rongrongan maupun upaya-upaya untuk mengganti Pancasila dari kelompok-kelompok radikalis, yang disebarkan melalui media sosial,” ujarnya.

Mewakili Danramil, Wadanramil 0721/Cepu, Samuri menyampaikan himbauannya untuk jajaran Pemuda Pancasila Blora, terutama di wilayah Kecamatan Cepu, untuk terus menjalin sinergi dengan aparat Pemerintahan dan Keamanan, demi menciptakan kondusifitas daerah, sekaligus menjaga ideologi negara.

Sementara itu Pengurus MPC PP Blora dalam keterangan Persnya menyatakan siap memantau kasus Perades di Kabupaten Blora. Saat dikonfirmasi masalah Perades yang terus berkembang di Blora, Ketua PP Blora Munaji yang pada kesempatan itu didampingi jajaran pengurus termasuk Humas PP menegaskan bahwa organisasinya siap kawal dan memantau hingga tuntas.

“Kami akan kawal proses hukum kasus Perades di Blora yang saat ini sudah mengantarkan dua desa masuk persidangan tapi tidak dilakukan penahanan,” ujar Munaji.

Menurut Munaji, seperti Desa Beganjing (Japah) dan Desa Nginggil (Kradenan), biarkan proses hukum yang berjalan, tetapi pihaknya tetap mengawasi betul. Munaji juga menegaskan akan memecat anggotanya, bila terbukti ikut terlibat dalam kasus Perades yang tak kunjung selesai ini.

“Kami akan mengirim surat kepada Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri Blora dalam rangka pemantauan dan pengawasan proses hukum kasus Perades,” tandas Mbah Mon, panggilan akrab ketua PP Blora itu. (*)

Bangun Talud Jalan, Warga Desa Patalan Adakan Musyawarah dan Selamatan

0

BLORA.-
Pemerintahan Desa (Pemdes) Patalan Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Minggu (24/07/2022) mengadakan acara musyawarah dan selamatan. Acara dalam rangka pembangunan talud jalan yang berada di RT.01, RW. 02 tersebut dihadiri Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, dan masyarakat setempat.

Menurut Kepala Desa (Kades) Patalan Kecamatan Blora Kabupaten Blora, H. Supriyatno, acara musyawarah dan selamatan dalam rangka pembangunan talud Jalan Dukuh Sambong Desa Patalan.

“Musyawarah dan selamatan ini merupakan salah satu bentuk kemanunggalan Pemdes, TNI, Polri bersama masyarakat,” ujar Supriyatno.
“Selain itu, kegiatan ini sebagai ajang silaturohim agar hubungan yang selama ini sudah terjalin baik, akan tetap selalu terjaga,” tambah Priyatno.

Atas nama pemerintahan desa, Priyatno mengucapkan banyak terima kasih kepada perangkat desa, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas dan warga.

“Mereka semua telah membantu, saling bahu membahu demi kemajuan Desa Patalan. Baik bantuan fisik maupun non Fisik,” tandas Supriyatno. (*)

Peluang Lolos

0

KEPALA desa di Blora benar-benar sedang menjadi bintang. Beberapa bulan terakhir namanya terus mewarnai hampir semua halaman media, baik surat kabar cetak, portal on line, hingga televisi digital. Tema hangat yang selalu menarik nama kades ke halaman media adalah kasus seleksi perades.

Dari puluhan kasus perades yang dilaporkan ke polisi, kejaksaan, ombusdman, hingga KPK serta BSSN, semua barang bukti dan alat buktinya menyeret jabatan kepala desa.

Seperti halnya kasus perades yang sekarang sudah memasuki babak peradilan di Pengadilan Negeri Blora, dua orang kepala desa (Kades Beganjing dan Kades Nginggil) seminggu sekali harus menempuh jarak puluhan kilo meter hanya untuk duduk di kursi terdakwa. Tetapi mondar-mandir dari rumah ke pengadilan itu nikmatnya bak menu makanan di Resto Boga Bugi, jika dibanding harus nginap di rumah tahanan.

Dengan mengambil peran sebagai fungsi kontrol sosial, hampir semua media di luar pagar pendopo mengawal proses hukum yang digelar di PN Blora. Mereka menyoroti keengganan aparat penegak hukum (APH) untuk menahan atau menghukum para pelaku kejahatan yang sedang diadili.

Dimulai dari pemilihan Pasal 263 ayat 1 yang diterapkan dalam kasus pemalsuan SK dengan terdakwa dua orang Kades. Ada dugaan APH ingin meloloskan pengguna SK palsu yang sekarang sudah dilantik menjadi perangkat desa.

Kenapa penyidik tidak menerapkan ayat 2-nya sekaligus? Pasal 263 KUHP ayat 2 berbunyi “Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barang siapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian”.

Proses hukum yang juga menjadi sorotan adalah dibiarkannya para terdakwa dengan ancaman hukuman 6 tahun menjalani proses peradilan tanpa didampingi penasihat hukum. Padahal sesuai Pasal 56 KUHP, tersangka tindak pidana dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun atau lebih maka dalam pemeriksaannya “wajib” didampingi Penasihat Hukum.

Dalam pasal itu juga ditegaskan, jika terdakwa dengan ancaman 5 tahun atau lebih tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan “wajib” menunjuk penasihat hukum bagi mereka.

Di Bumi Samin, kata “wajib” ternyata bisa berubah menjadi “hak”. Seperti pernyataan seorang APH di tingkat penyidik, bahwa menahan atau tidak menahan itu adalah “hak” dan kewenangan aparat. Bisa jadi dalam peradilan 2 orang Kades, didampingi penasihat hukum atau tidak, itu “hak” seorang hakim untuk tetap menjalankan persidangan.

Semoga keputusan hakim tersebut tidak melanggar prinsip-prinsip kode etik dan pedoman perilaku hakim, dan juga tidak memberikan “peluang” bagi para terdakwa untuk bisa lolos dari jerat hukum, akibat “hak” nya untuk mendapatkan penasihat hukum dari PN tidak mereka dapatkan.

Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga hukum, kita berharap masih ada Hakim yang memiliki nurani, untuk mengambil keputusan hukum yang adil.(*)