banner 728x250

Tambah Wawasan, KTNA Blora Stuba Swadaya ke Sanggar Rojolele dan Bengkel Sapi di Yogyakarta

BLORA.-

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Blora, Sabtu (23/7/2022) mengadakan studi banding (stuba) ke Sanggar Rojolele, Klaten dan bengkel sapi di Sleman.

Studi banding ke Sanggar Rojolele di Dukuh Kaibon Desa Delanggu Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten dan ke bengkel sapi di Dusun Kalijeruk, Desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman, Yogyakarta itu dilaksanakan dalam rangka menambah wawasan, pengetahuan dan membangun relasi serta sebagai ajang refreshing yang menguntungkan.

Sekretaris KTNA Blora Farid Darwanto menjelaskan, kegiatan stuba ke Yogyakarta itu diikuti oleh para pengurus/anggota KTNA kabupaten dan perwakilan para petani melenia.

“Bahwa pelaksaan studi banding dilandasi niat dan semangat ingin maju guna meningkatkan kesejahteraan para petani,” ucapnya di Blora, Senin (25/7/2022).

Sehingga walaupun harus berswadaya murni dari para peserta, kegiatan harus tetap diwujudkan. Apalagi di dua tempat kunjungan itu merupakan sumber pengalaman dan pengetahuan yang berkorelasi positif dan sangat bermanfaat bagi kemajuan para petani Blora.

“Karena kita dapat belajar dan menyerap berbagai kiat dalam mewujudkan budidaya pertanian padi organik dan manajemen tata kelola peternakan sapi yang baik,” jelasnya.

Farid Darwanto menambahkan dalam kunjungan di Sanggar Rojolele diterima langsung oleh Maryana seorang perangkat desa dan tokoh penggerak para petani di dukuh Kaibon. Ia menceritakan dengan penuh semangat kepada peserta studi banding upaya memotivasi para petani untuk hijrah dari budidaya padi unorganik ke budidaya padi organik.

Dengan menggelorakan sesanti, kembalikan kejayaan padi Rojolele yang pernah disandang pada masa lalu dengan budidaya padi secara organik. Berbagai hambatan, tantangan, rintangan dan gangguan harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan harapan. Berkat kegigihan dan semangat yang membara untuk maju dan berbagai kiprah serta upaya terobosan bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret Solo.

Akhirnya saat ini hasilnya sudah dapat dirasakan oleh para petani padi rojolele yang telah membudidayakan padi secara organik. Terbukti di Dukuh Kaibon, 60% luas lahan telah beralih ke budidaya organik dan siap menyediakan beras rojolele organik rasanya wangi pulen untuk melayani pembelian dengan harga Rp 75.000 per 5 kilogram. Bahkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberi predikat dukuh Kaibon sebagai daerah penghasil beras sehat dan ramah lingkungan.

Baca Juga:  Aksi Donor Darah, Perhutani KPH Randublatung Sumbang 43 Kantong Darah

Kemudian dilanjutkan kunjungan ke bengkel sapi di dusun Kalijeruk desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman,Yogyakarta. Nama Bengkel Sapi bagi para peserta studi banding unik dan mudah diingat dengan menganalogikan bengkel mobil.

Bengkel sapi itu milik Prof.Dr. Ir. Ali Agus mantan Dekan Fakultas Peternaan UGM asli Blora. Ia menyambut dengan antusias dan senang hati atas kedatangan para peserta studi banding di Bengkel Sapi.

Bahkan berkenan untuk sharing dan berbagi ilmu maupun pengalaman dalam pemeliharaan sapi, Ali Agus membuka bengkel sapi fungsinya dalam bahasa yang sederhana memang seperti bengkel motor.

Upaya merekondisi sapi-sapi yang rusak (tidak sehat), kurus menjadi sapi sapi yang sehat,gemuk dan unggul. Disamping itu untuk mengedukasi dan melayani petani beternak sapi dengan tehnologi.

Bengkel Sapi mengambil sapi-sapi petani yang kurus dan tidak tumbuh dengan baik, setelah ditangani pulih menjadi sapi sehat, gemuk dan unggul dikembalikan kepada petani yang juga diberi pelatihan beternak sapi yang baik.

Menurut Ali Agus, sebelumnya sapi-sapi itu pertumbuhan ADG (Average Daily Gain) di bawah 1 kilogram. Namun setelah diterapi di Bengkel Sapi pertumbuhan sapi sapi bisa mencapai 3 kilogram per hari. “Penyebab utama dalam pemeliharaan sapi pada umumnya adalah di pakan ternak,” kata Ali.

Di Bengkel Sapi telah diciptakan pakan ternak yang bernama booster bermanfaat untuk menyehatkan dan memacu nafsu makan sapi. Selain itu, juga disiapkan saus burger sapi yang menjadi konsumsi sapi yang sedang direkondisi. Bengkel sapi dikelola oleh para tenaga profesional muda dari UGM dan lulusan perguruan tinggi lainnya, serta menjadi sarana magang dan pelatihan berbagai kampus. Ketua KTNA Blora Sudarwanto setelah melihat secara langsung di dua tempat kunjungan mengucap syukur.

Baca Juga:  Polres Blora Gelar Ujian Beladiri Polri bagi Anggota

“Alhamdulilah dengan adanya studi banding tersebut sangat bermanfaat sekali bagi penambahan pengetahuan dan pengalaman yang terkait budidaya pertanian padi organik dan managemen tata kelola peternaan sapi,” kata Sudarwanto yang mantan Komisioner KPUD Blora.

Hal itu, kata Sudarwanto, mengingat kondisi alokasi pupuk bersubsidi saat ini sangat berkurang sekali jauh dari kebutuhan petani, seperti yang tercantum pada Peraturan Menteri Pertanian RI Nomer 10 tahun 2022 tentang tata cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian.

“Dengan kondisi tersebut kedepan para petani dituntut untuk berinovasi sehingga alternatif pilihannya adalah usaha budidaya pertanian organik dengan mengoptimalkan potensi hasil kotoran hewan ternak sapi di Kabupaten Blora yang merupakan gudangnya sapi Jawa Tengah,” ungkapnya.

Disamping itu, kita juga bisa belajar manajemen tata kelola pemeliharaan yang baik dengan mengadopsi tehnologi dan inovasi yang diterapkan di Bengkel Sapi Kalijeruk.

Kedepan KTNA sangat berharap melalui Koperasi Mustika Tani Sejahtera dapat bermitra kerja baik dengan Sanggar Rojalele dalam mengadopsi pertanian padi organik maupun dengan Bengkel Sapi untuk pengembangan usaha peternaan sapi di Kabupaten Blora.

Penasehat KTNA Blora, Bambang Sulistya memberikan apresiasi positif telah dilaksanakannya kegiatan studi banding tersebut. Mantan Sekda Blora itu berharap, semoga hasil studi banding dapat segera diamalkan di wilayah masing-masing.

“Kedepan saya berharap KTNA dapat memotivsi para petani untuk berbudidaya pertanian organik dan terwujudnya bengkel sapi ala KTNA Blora,” harapnya. Disamping itu semangat berswadaya untuk mengadakan studi banding tetap dilaksanakan dan mudah-mudahan mendapat restu dan dukungan dari instansi yang terkait. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.