26.3 C
Central Java
Sabtu, 28 Mei, 2022

Buy now

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ramadan, Bulan Penuh Sejarah

Ada ungkapan, Bulan Ramadan sebagai bulan yang penuh rahmat, berkah, ampunan, istimewa, suka cita dan bulan yang penuh harapan. Namun bagi saya, Ramadan tahun ini adalah bulan penuh sejarah.

Karena sejak meninggalkan kampus biru 41 tahun yang lalu, baru pada Ramadan tahun ini saya bisa mengikuti tarawih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dan, merupakan kesempatan langka dan istimewa karena pada Ramadan tahun ini dihadirkan pembicara kondang dan terkenal di Bumi Nusantara, salah satunya Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) dengan tema “Titik Temu Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

Saya merasa kagum dan bangga bisa bergabung dengan ratusan jamaah yang memenuhi masjid dua lantai itu bersama generasi muda atau kelompok milenial.

Apalagi ketika saya mendengar tausiah Bapak Mahfud MD karena materi yang disampaikan selain menarik, juga cara menyajikannya cukup lugas, jelas, motivatif dan inspiratif.

Kita bersyukur hidup di alam Kemerdekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila. Karena kita diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadan dalam suasana aman dan damai. Begitu yang disampaikan beliau.

Indonesia dibangun berfondasikan keberagaman. Negeri ini berdiri melalui kesepakatan suci para tokoh Bangsa yang berbeda latar belakang. Indonesia bukan Negara Agama sehingga tiada celah bagi siapapun untuk coba coba Indonesia menjadikan sebagai Negara Agama. Dan Panca-sila adalah titik temu dari seluruh elemen Negara termasuk Islam.

Mahfud MD juga menegaskan Indonesia bukan Negara Islam tapi Indonesia Negara Islami. Sifat-sifat keislaman tumbuh dan berkembang melaluhi budaya di antaranya melaluhi wayang dan Lebaran.

Mendirikan Negara adalah ajaran Agama. Karena apa, dulu Nabi membuat Negara dan Negara diperlukan agar masyarakatnya bisa beragama dengan baik.

Hanya saja kata Mahfud MD membentuk Negara seperti yang dilakukan Nabi kini tak lagi relevan. Karena Negara yang dibentuk oleh Nabi sumber hukumnya Allah SWT dan Nabi.

“Kalau ada apa-apa ini hukumnya dari Allah dan Nabi. Ada peristi-wa sesuatu Nabi yang memutuskan ini hukumnya. Nah sekarang nggak ada lagi Nabi. Oleh sebab itu sistem Negara yang dibentuk nggak boleh seperti Nabi.

Apalagi kalau ada hal baru, misalnya masalah terorisme dan ITE itu tak ada dulu, sekarang kalau ada siapa yang membuat solusi tanya ke Nabi, Nabi sudah tidak ada, ke Allah, Allah sudah tidak lagi menurunkan wahyu, lalu Siapa? Saat ini bentuk sistem Negara sesuai kebutuhan.

Menurut Mahfud, dari 67 Negara berpenduduk mayoritas beragama Islam tak satupun memakai sistem ketatanegaraan ala Nabi. Semisal Mesir atau Maroko dengan sistem presidensialnya, Malaysia dan Pakistan memakai parlementer, lalu keamiran Uni Emirat Arab dan sistem monarki absulut kerajaan Arab Saudi.

Kemudian di Indonesia yang juga Negara yang mayoritas penduduk menganut agama Islam terbesar membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan ijtihad para ulama.

“Indonesia ini bukan Negara Islam tetapi Negara Islami. Islam kata sifat, sehingga sifat-sifat keislaman itu tumbuh dan berkembang di Indonesia melaluhi budaya. Lebaran itu Islam tapi lebaran gak ada dalam ajaran Agama Islam,” jelasnya.

Itu budaya ciptaan Sunan Bonang, karena kita membangun Budaya Islami yang sesuai dengan Budaya Indonesia. Beliau juga menyampaikan makna dan filosofi ketupat.

Bahan utama ketupat yakni nasi dan kelapa muda yang maknanya nasi dianggap sebagai lambang nafsu sedangkan daun berarti “jatining Nur” atau cahaya sejati yang dalam bahasa jawa artinya hati nurani.

Sehingga ketupat sebagai simbul nafsu dan hati nurani. Artinya manusia harus bisa menahan nafsu dunia dengan hati nuraninya. Ketupat juga digunakan sebagai simbul pengakuan kepada Allah dan manusia.

Tingkah laku ini sudah menjadi kebiasaan atau tradisi pada saat hari pertama syawal atau Idulfitri yang dimaknai ketupat ngaku lepat (mengaku salah) atau ketupat diartikan laku papat yang terdiri dari empat tindakan, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan yang artinya lebar pintu permintaan maaf telah dibuka lebar lebar.

Semoga inspirasi dan motivasi dari ceramah tarawih mampu meningkatan wawasan kebangsaan dan kwalitas keimanan kita.

—————-——
*) Penulis adalah Ketua PWRI Kabupaten Blora, yang juga mantan Sekda Kabupaten Blora.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Latest Articles