banner 728x250

Hadirkan Matahari dalam Kehidupan Sehari-sehari

BELUM lama ini pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk kembali memakai masker sekalipun berada di luar ruangan. Padahal sebelumnya, pemerintah telah melakukan pelonggaran, saat beraktivitas di luar rungangan masyarakat diperbolehkan tidak memakai masker.

Perubahan kebijakan tersebut ternyata telah menimbulkan persepsi dan dinamika baru. Bahkan, ada yang mensikapinya terlalu sensitif dan berlebihan akibat trauma masa lalu– ketika pandemi Covid-19 sedang meraja lela. Apalagi setelah melihat adanya lonjakan kasus Covid-19 di Bumi Nusantara beberapa waktu terakhir.

Di Kabupaten Blora, walaupun kasus Covid-19 sudah landai dan tidak lagi menjadi buah bibir, namun terlepas dari itu semua kita hendaknya harus tetap berhati-hati dan waspada, serta mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), karena virus Corona masih ada.

Dalam menghadapi realita kehidupan saat ini, masyarakat utamanya para Lansia harusnya memiliki prinsip hidup 6A.
Yaitu, (A)wak sehat (badan sehat), (A)ti seneng (hati gembira), (A)keh kancane (banyak teman), (A)na gunane (ada manfaatnya), (A)jeg ibadahe (tetap beribadah), dan (A)wet uripe (umur panjang).

Jadi, janganlah selalu memaksakan diri apalagi memforsir diri untuk menggapai berbagai keinginan ketika sedang menikmati waktu di masa senja. Dalam kondisi seperti sekarang ini, warga masyarakat perlu untuk melakukan lagi gerakan Pengamalan Budaya Berjemur (PBB) di bawah sinar matahari pagi.

Baca Juga:  Upaya Penyelamatan Korban di Air, BPBD Pati Gelar Latihan Rescue Water

Sebagai ikhtiar agar badan tetap sehat, selain rutin berolahraga, asupan makanan bergizi dan seimbang, istirahat yang cukup juga jangan lupa untuk menghadirkan matahari dalam kehidupan sehari-sehari.
Karena dari matahari atau Sang Surya yang merupan Ciptaan Tuhan Yang Maha Hebat kita akan memperoleh manfaat dan teladan bagi kehidupan kita.

Adapun berbagai kebaikan yang dapat kita manfaatkan dari matahari diantaranya:
Pertama, matahari memberi kontribusi positif bagi kesehatan atau imunitas diri manusia. Ketika pada puncak-puncaknya Pandemi Covid-19 di Kabupaten Blora muncul gerakan PBB (Pengamalan Budaya Berjemur) di Lapangan Kridasono dan di berbagai tempat. Bahkan berjemur tidak pakai baju atau blojet.

Namun saat ini kegiatan berjemur di bawah sinar matahari sudah tidak ada lagi. Karena itu perlu diawali lagi untuk berjemur matahari di pagi hari berkisar pukul 8 s/d 10. Durasi berjemur yang dianjurkan antara 15- 20 menit tiap hari.

Berjemur di pagi hari akan memperoleh berbagai manfaat, diantaranya mencegah terinfeksi virus corona meskipun tak dapat membunuh virus corona. Kemudian meningkatkan fungsi otak, membantu menghilangkan depresi ringan, menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan tulang. Membantu meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi gejala alzheimer/pikun. Mengurangi resiko penyakit kanker dan bisa untuk detoksifikasi tubuh serta mampu mencegah diabetes.

Baca Juga:  Nasi Tewel "Mbah Rasiah" di Tambakromo-Pati, Disajikan dengan Alas Daun Jati

Kedua, sinar matahari mampu menyegarkan lingkungan hidup. Karena sinar matahari mendukung terjadinya proses fotosintesis pada hijauan daun tanaman. Melalui proses tersebut salah satunya dihasilkan oksigen yang sangat bermanfat bagi kehidupan.
Berikutnya yang ketiga, matahari dapat dijadikan motivasi diri dalam melaksanakan disiplin waktu dan janji kepada orang lain.
Karena ada ungkapan kalau kita mau disiplin bercerminlah kepada matahari yang setiap pagi pasti berada di ufuk sebelah timur dan sore hari di sebelah barat, dan tak pernah ingkar janji.

Selanjutnya yang keempat, matahari menjadi teladan dalam mencegah sikap yang suka mengumbar pamer dan kehebatan diri. Seperti dalam ungkapan bijak, “Jadilah cahaya matahari, walau tak tersentuh namun selalu menerangi kehidupan.

Kelima, matahari menjadi filosofi kehidupan dalam berbagai kegiatan di masyarakat. Seperti dalam syair lagu “Kasih Ibu” karya legendaris Mochtar Embut yang lahir pada 5 Januari 1973 di Sulawesi Selatan dan meninggal 20 juli 1973 (39 tahun).
“Kasih Ibu, kepada beta tak terhingga sepanjang masa, Hanya memberi, Tak harap kembali,Bagai Sang Surya, Menyinari Dunia”. (*).
—————-

*) Penulis adalah mantan Sekda Blora yang sekarang menjabat Ketua PWRI Kabupaten Blora.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *