Beranda blog Halaman 249

Bupati Anna: Kunjungan Wantimpres sebagai Energi untuk Wujudkan SPBE di Bojonegoro

0

BOJONEGORO. – Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres RI) DR. H. Soekarwo, SH., M.HUM atau yang lebih akrab disapa “Pakde Karwo”, Kamis (25/03/2021) melakukan kunjungan kerja di Desa Prayungan Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.

Kunjungan kerja dengan melibatkan Tim Peneliti ini bertujuan untuk melaksanakan kajian literasi informasi untuk membangun kebudayaan digital.

Rombongan Wantimpres, Tim Peneliti serta dari Dinas PMD Propinsi Jawa Timur disambut oleh Bupati Bojonegoro beserta OPD terkait dan Forkopimca Kec. Sumberrejo.

Dalam sambutannya Bupati Anna menyampaikan, bahwa kunjungan Wantimpres dalam hal ini kehadiran Pakde Karwo merupakan sumber energi tersendiri bagi Desa Prayungan dan juga bagi Pemkab. Bojonegoro untuk menerapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

“Terlebih lagi Desa Prayungan yang telah berhasil meraih 3 penghargaan sekaligus pada Malam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik KI Award tahun 2020”, jelas Bupati Anna.

Lebih lanjut Bupati Anna Mu’awanah menyampaikan bahwa Kabupaten Bojonegoro sangat mendukung mendukung SPBE, sehingga perlu persiapan dukungan baik infrastruktur, sarana dan prasarana serta SDM yang mahir akan IT.

“Untuk itu dalam pengisian CPNS tahun ini, Kabupaten Bojonegoro mengusulkan ke Kemenpan dan RB formasi untuk tenaga IT. Semoga CPNS untuk formasi tenaga IT nanti bisa terpenuhi ” ujarnya.

Sementara itu menurut Pakde Karwo di era 4.0 sekarang ini menuntut masyarakat harus berdamai dengan digital, mengingat pandemi covid 19 saat ini sangat berdampak pada turunnya nilai perekonomian masyarakat, terpuruknya UMKM, sehingga banyak orang miskin lama dan munculnya orang miskin baru, tingkat kriminalitas meningkat, dan angka perceraian yang semakin tinggi.

Patut untuk belajar di Desa Prayungan, penggunaan teknologi informasi tidak hanya dimanfaatkan untuk urusan Pemerintahan Desa (pelayanan masyarakat, perizinan) namun juga dimanfaatkan juga sebagai media guna meningkatan kesejahteraan masyarakat, yang terakomodir dari aspirasi masyarakat.

Lebih lanjut menurut Pakde, hal terpenting transformasi yang harus dilakukan saat ini adalah transformasi digital, ini bukan permasalahan Bojonegoro saja, melainkan permasalahan seluruh dunia.

“Siapa yang survive adalah mereka yang bisa berkolaborasi dengan perkembangan teknologi sesuai dengan konsep kesejahteraan,” pesannya.

Hadir pula pada Kunjungan Kerja Wantimpres RI tersebut Wakil Bupati Bojonegoro Budi Irawanto, dimana Wakil Bupati sangat mengapresiasi kepada Pemerintah Desa Prayungan atas keberhasilan penerapan pemanfaatan teknologi informasi baik di lingkup Pelayanan Pemerintahan dan masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Bojonegoro akan selalu mendukung transformasi digital terhadap Pemerintahan Desa yang lain, karena dampak pandemi Covid-19 saat ini teknologi digital menjadikan alternatif,” katanya. (*)

Desa Mojorembun, Kradenan Gelar Pelatihan Relawan Desa Tangguh Bencana

0

BLORA. – Pemerintah Desa Mojorembun Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Selasa (23/03/21) menyelenggarakan pelatihan relawan Desa Tangguh Bencana (Destana).

Kegiatan yang menghadirkan Kasi Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora Blora, Hanung, diikuti oleh Plt Trantib Kecamatan Kradenan (Garmin S.sos), Bataut Koramil 10 Kradenan (Serka Setiyawan), Babin Kamtibmas Desa Mojorembun (Bripka Mujayin), Babinsa Desa Mojorembun (Sertu Mujiyana), Satpol-PP Kecamatan Kradenan (Achmad), Kepala Desa Mojorembun (Muh Saifudin Zuhri), dan PMI Kabupaten Blora, serta elemen masarakat Desa Mojorembun.

Dalam pelatihan sehari itu dipraktekkan simulasi penanganan Desa Tangguh Bencana dan sosialisasi perencanaan evakuasi bencana banjir, serta pemetaan BRK (Bahaya Keretakan Resiko Kapasitas).

Kepala Desa Mojorembun, Muh Saifudin Zuhri S.Pd menyambut baik kegiatan tersebut dengan harapan para relawan dan warga masarakat dapat terorganisir dan terencana jika sewaktu-waktu terjadi bencana banjir atau bencana lainya.

“Karena secara giografis, Desa Mojorembun terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Wulung yang hampir setiap tahun terdampak luapan sungai tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan para relawan bisa di butuhkan di daerah lain,” ujar Zuhri. (*)

Pol PP Randublatung Bersih-bersih Sampah di Pasar Wulung

0

BLORA. – Tim Sat Pol PP Randublatung, Jumat (19/03/21) melakukan kerja bakti membersihkan tumpukan sampah di Jl. Raya Randublatung-Cepu, tepatnya di Desa Kediren, Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora.

Tumpukan sampah di sebelah timur Pasar Wulung itu sangat mengganggu pengguna jalan. Selain menimbulkan bau menyengat, sampahnya juga banyak berhamburan ke jalan raya sehingga membayakan pengendara.

Koordinator Sat Pol PP, Kamilan menduga, sampah-sampah tersebut sengaja dibuang oleh masyarakat Randublatung dan sekitarnya.

“Warga kurang menyadari tentang kebersihan, sehingga membuang sampah seenaknya sendiri tanpa memperhatikan lingkungan,” ujarnya.

Pelaksanaan bersih-bersih sampah juga melibatkan pengurus Pasar Wulung. Tampak berada di lokasi, Koodinator Pasar Wulung Agus Mugiyono beserta staf dan jajarannya. (*)

Wayang Thengul Bojonegoro

0

WAYANG THENGUL adalah salah satu jenis seni pewayangan dari Bojonegoro. Seni pertunjukan wayang dari Bojonegoro ini terbuat dari kayu berbentuk boneka yang diberi pakaian serta asesoris sesuai dengan kedudukan dan perannya.

Referensi wayang thengul sangat minim, dari beberapa buku mengenai wayang, ternyata wayang thengul belum tercatat. Wayang thengul telah menjadi ikon kesenian Bojonegoro. Untuk mengembangkan wayang thengul, seniman Bojonegoro, menciptakan Tari Thengul.

Beberapa dalang wayang thengul Bojonegoro, ternyata jarang yang bisa menceritakan sejarah wayang thengul ini. Bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, yang menyatakan wayang thengul sebagai ikon, juga belum mempunyai catatan mengenai sejarah wayang thengul.

Santosa (67 tahun) warga Desa Padangan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, dalang wayang thengul dan wayang krucil yang sekaligus menjadi perajin kedua jenis wayang tersebut, mungkin satu-satunya yang mempunyai catatan atau setidak-tidaknya ceritera mengenani wayang thengul. Beliau menggeluti dalang wayang thengul sejak masih muda, sekitar usia 14 pada tahun 1959. Beliau keluar dari bangku sekolah STN (Sekolah Teknik Negeri) Padangan Bojonegoro kelas dua, untuk menggeluti seni pedalangan wayang thengul.

Wayang thengul muncul sekitar tahun 1930, seorang pemuda bernama Samijan dari Desa Banjarjo, Kecamatan Padangan membuat wayang boneka yang menyerupai wayang menak yang pada waktu itu sudah terkenal di wilayah Kudus. Kemungkinan, Samijan terinspirasi wayang menak Kudus, yang penyebaran meluas sampai Padangan berbatasan dengan Cepu, Kabupaten Blora, yang pada waktu itu wayang menak Kudus sebagai media siar agama Islam.

Jika Wayang Golek Menak sebagai media siar agama Islam, lain halnya dengan Samijan. Niat membuat wayang thengul selain untuk mengembangkan kreatifitas seninya, juga untuk mencari nafkah hidup, karena pada tahun 1930an perekonomian rakyat sangat sulit. Dia membuat wayang thengul untuk mengamen, berniat keliling dari desa satu ke desa lainnya (mengembara). Niat yang kuat untuk keliling (mengembara) dalam bahasa Jawa “methentheng niyat ngulandara” dengan mengamen mendalang wayang boneka kayunya, yang dijadikan nama wayangnya dengan sebutan thengul (theng dari akronim methen theng, dan ngul dari kata ngul andara). Namun juga ada yang mengartikan karena wayang thengul ini kepalanya dapat digerakan ke kiri ke kanan, atau methungal menthungul , maka lalu disebut thengul.

Tidak menduga niatan Samijan membuat wayang thengul yang semula hanya untuk mengamen, ternyata dari hari ke hari yang menanggap semakin banyak. Bukan saja di Padangan, tetapi sampai ke Bojonegoro, Dander, Kanor bahkan sampai wilayah Tuban. Yang menanggap tidak hanya sekedar sebagai hiburan, ari kelompok pengamen, bahkan untuk keperluan hajatan mulai berkembang.

Satu kotak wayang Samijan yang dibawa untuk ngamen keliling, dinamakan Wayang Geyer. Nama ini bisa jadi karena beratnya wayang satu kotak, sehingga membawanya yang dengan cara dipikul hingga nggeyer-nggeyer (merasakan beratnya mengangkat beban). Dari nama Wayang Geyer ini, nama Samijan pun terkenal dengan sebutan Ki Dalang Geyer.

Ketenaran Dalang Geyer Samijan dengan wayang thengulnya berjalan hingga tahun 1950-an. Waktu itu penanggap wayang thengul belum merasa puas kalau belum menanggap

dhalang Geyer. Dan nama geyer sangat identik dengan wayang thengul, sehingga seorang dalang wayang thengul di Bojonegoro pun akhirnya dikenal dengan sebutan dalang geyer.

Penerus Samijan ada-lah Tayib dari Desa Caper Kecamatan Batokan yang sebelumnya sebagai penabuh gamelan (niyaga) yang setia mengikuti Samijan. Karena Samijan tidak memiliki anak, maka penerusnya bukan keturunannya tetapi orang lain.

Wayang thengul Bojonegoro, mengambil bentuk dan pakaian mirip kethoprak. Lakon-lakon yang digelar sangat variatif, terutama dalam kisah babad atau cerita rakyat. Untuk wilayah Bojonegoro yang terkenal dengan kisah atau cerita Anglingdarma, Babad Jipang, Babad Ronggolawe. Cerita Panji, Babad Majapahit juga sering dipentaskan.

Gamelan pengiring menggunakan gamelan laras slendro atau pelog, juga diiringi waranggana. Layar bagian tengah terbuka, berbeda dengan layar (geber) wayang kulit yang layar backgroundnya berupa lembaran kain penuh. Pada pakeliran wayang thengul layar bagian tengah terbuka atau diberi lubang diperuntukan sebagai media pementasan gerak wayang, sehingga kalau ditonton dari belakang layar akan tampak bentuk wayang dan pergerakan dalang, lain halnya dengan wayang kulit yang hanya terlihat bayangan siluetnya karena sorotan cahaya (lighting) dari arah muka. Panjang layar pun tidak sepanjang wayang kulit, hanya sekitar 3 meter sampai 4 meter.

Wayang-wayang lainnya dijajar di sisi kiri dan kanan dari bagian layar yang terbuka. Gunungan (kayon, makara) terbuat dari ikatan bulu ekor merak, diikat berjajar ditancapkan seperti kepala raksasa yang menghadap ke muka. Dalam satu kotak wayang thengul terdiri dari 70 sampai 80 buah. Tempat dudukan (tancapan) wayang menggunakan batang pisang.

Wayang thengul tak jauh berbeda dengan wayang Golek Menak Kudus, atau wayang Golek Jawa Barat, di mana bagian kepalanya dapat digerakkan ke kanan ke kiri, bahkan mendongak ke atas.

Wayang thengul yang awalnya untuk mengamen, dalam perkembangannya juga untuk pagelaran hajatan, seperti khitanan, perkawinan, membayar nazar, untuk upacara adat seperti bersih desa, di Bojonegoro dengan istilah manganan. Lama pagelaran antara 6-7 jam, terkadang juga siang malam. Bahkan sekarang juga untuk ruwatan atau murwa kala.

Pakem bentuk wayang hanya tokoh-tokoh tertentu, untuk peran tokoh raja, ksatriya, atau patih yang tidak populer bisa menggantikan peran lain yang selaras. Tokoh-tokoh seperti Menak Jingga, Kecanawungu, Damarwulan, Maudara, Aria Penangsang, Ronggolawe, dan lainnya yang memiliki spesifikasi karakter, dibuatkan bentuk tersendiri.

Dalam pagelaran wayang thengul tidak ada tokoh punakawan yang spe-sifik, seperti wayang kulit terdapat Semar, Gareng, Petruk, Bagoong atau wayang krucil Bancak, Do-yok, atau Sabdapalon, Nayagenggong. Punakawan dalam wayang thengul bisa dimunculkan dengan kreatifitas dalangnya namanya pun menyesuaikan dengan lakon yang digelar.

Untuk cerita Babad Majapahit ada punakawan yang dikenal dengan nama Nayagenggong dan Sabdapalon, untuk ceri-tera Panji dikenal puna-kawan Bancak dan Doyok. Dalam cerita babad atau cerita sejarah jarang me-nampilkan tokoh puna-kawan, kalau pun ada nama tokoh punakawan yang ditampilkan tergantung dari kreatifitas dan imajinasi dari dalang itu sendiri, sebagai selingan.(*)

Penyegelan Kandang Ayam di Desa Glagah, Pol PP Bertindak Arogan

0

KUDUS. – Aksi penyegelan kandang ayam di Desa Glagah Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, oleh Sat Pol PP pada Selasa (23/03/21) bisa dibilang berlebihan, bahkan cenderung arogan.

Turut serta dalam rombongan Satpol PP pada hari itu diantaranya, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas DPKLH, Dinas Perijinan, Polsek dan Koramil, serta Bakum Setda Kabupaten Kudus.

H. Imam Sofii selaku pemilik kandang ayam melalui kuasa hukumnya, Triswadi menyebut tindakan Sat Pol PP dalam penyegelan kandang dinilai berlebihan karena disertai pengeluaran ayam secara paksa hingga mengakibatkan hampir 2.500 ekor ayam mati.

“Pengeluaran ayam secara paksa dari kandang membuat ayam stres hingga banyak yang mati. Jelas ini sangat merugikan klien saya secara materiil,” ujarnya.

Beda jika berurusan dengan benda mati. Menurut Triswadi dalam proses pengosongan kandang yang di dalamnya masih terdapat ternak ayam yang masih hidup, diperlukan penanganan khusus,” paparnya.

Mestinya, lanjut Triswadi, masih banyak cara dalam penegakan hukum, tanpa harus mengeluarkan ayam dengan cara paksa–yang menambah kerugian materi.

“Tidak bisa dibenarkan. Dalam kegiatan penyegelan dan penyitaan barang, aparat penegak hukum tidak dibenarkan mengurangi atau menghilangkan nilai ekonomi barang sitaan,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, permasalahan yang muncul pada akhir Tahun 2019 silam ini, berawal dari surat pengaduan warga ke Kades Glagah Kulon Nomor: 660.3.2/66/32.08.6/2019, tanggal 19 Desember 2019 yang ditembuskan ke instansi terkait serta BPD Desa Glagah Kulon.

Karena diduga ada tanda tangan yang dipalsukan dalam surat pengaduan warga tersebut maka Triswadi mewakili kliennya melaporkan ke Polda Jateng pada 29 Januari 2021.

“Bila mengacu pada surat aduan warga yang diikuti surat peringatan sampai dengan SP ke-7, maka pelaksanaan eksekusi pada tanggal 23 Maret ini belum berkekuatan hukum tetap,” katanya.

Triswadi juga menjelaskan, bahwa kliennya yang bernama H. Imam Sofii sudah taat hukum karena dalam katogeri parent stok. Dalam PP Menteri No.5 Tahun 2019 tentang peternak rakyat, bahwa populasi ternak yang ternak dijinkan 12.100 ekor.

“Padahal klien saya hanya 3.800 ekor, artinya klien kami kategori peternak rakyat yang perlu dibina oleh pemerintah,” katanya.

Atas kejadian ini, Triswadi mengaku akan menempuh upaya hukum melalui PTUN Semarang, dan perbuatan melawan hukum atas produk hukum dan perbuatan Ka Satpol PP.

“Secara hukum ini di luar protap, karena itu kami akan tindak lanjuti terkait kerugian ini,” tambahnya. (*)

Candi Sewu Ternyata Hanya 249 Candi

0

Candi Sewu berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Candi Sewu termasuk Taman Purbakala Nasional (Tampurnas) Prambanan. Memang dari candi Prambanan tidak jauh sekitar 2,5 km ke arah utara. Diantara candi Prambanan ke candi Sewu masih ada dua candi, yaitu candi Lumbung dan candi Bubrah. Dari Prambanan ke candi Sewu bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik andhong wisata, atau kereta wisata.

Candi ini aslinya sesuai dengan parasasti yang ditemukan berangka Tahun 792 M bernama candi Manjusrigrha, artinya rumah Dewa Masjusri, nama salah satu Budisatwa dalam ajaran Agama Budha. Jadi, Candi Sewu bercorak Budha sedang Candi Prambanan bercorak Hindu. Komplek Candi Sewu, berukuran 185 M x 165 meter, dikelilingi pagar tembok dari batu.

*Hanya 249 Candi

Meski namanya Candi Sewu ternyata jumlahnya tidak sampai 1.000 buah. Karena banyaknya, orang dahulu agar mudah menyebutnya candi seribu. Sama halnya dengan bangunan gedung Lawang Sewu di pusat Kota Semarang, jumlahnya pintunya juga tidak sampai 1.000 buah, tetapi hanya 928 buah.

Ada lagi Gunung Sewu, gunung kecil-kecil yang tersebar dari Kabupaten Gunung Kidul, Wonogiri sampai Pacitan. Bisa jadi jumlahnya lebih atau kurang, sebab belum pernah ada yang menghitung secara teliti. Ya karena banyaknya dan sulitnya menghitung, maka disebutlah Gunung Sewu.

Di Pacitan ada yang disebut Luweng Sewu berupa goa-goa kecil di sepanjang lereng tebing gamping mulai Pantai Barehan sampai di dukuh Padsi, Kecamatan Kebonagung. Dan Kota Pacitan juga mendeklarasikan sebagai Kota Seribu Goa, karena banyaknya goa-goa di sepanjang Pantai Selatan Kabupaten Pacitan.

Demikian juga Candi Sewu, berapa jumlah sebenarnya. Ternyata Candi Sewu hanya berjumlah 249 buah yang terdiri dari candi induk, candi perwara dan pengapit candi (pengiring). Candi Induk satu (1) dikelilingi candi perwara 4 lapis, lapisan ke 1 sebanyak 88, lapis kedua 80 buah, lapis ketiga sebanyak 44 dan lapis ke empat sebanyak 28 buah, sehingga jumlah candi perwara 240 buah dan candi pengapit 8 buah. Jadilah semua jumlahnya 249 buah bangunan candi.

Candi Sewu berpintu 4 yang utama dari timur yang menandakan Candi Sewu menghadap ke timur. Kemudian pintu lainnya di Selatan, Barat dan Utara, yang setiap pintu ada dua Patung Dwarapala besar berhadap-hadapan ukuran 2,285 meter dengan tempat duduk empat persegi setinggi 1,11 meter. Patung Dwarapala ini ditemukan dalam keadaan terkubur tanah.

*Siapa yang membangun?

Raja siapa yang membangun Candi Sewu sampai sekarang belum ditemukan prasasti yang menyebutkan, dan para ahli purbakala/sejarah pun belum ada titik temu pendapat. Bersadarkan prasasti yang ditemukan tahun 1960 M yang berangka Tahun 714 S atau 792 M, para ahli memperkirakan Candi Sewu dibangun Tahun 782-792 M pada masa pemerintahan Raja Panangkaran (746-784) diteruskan raja Rakai Panaraban, dari Kerajaan Mataram. Kemudian pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya yang menikah dengan Pramodhawardhani yang beragama Budha, Candi Sewu diperluas.

Mengingat luasnya bangunan, bisa jadi Candi Sewu merupakan bangunan kerajaan (negara) sebagai pusat pemujaan agama Budha. Hiasan atau relief-relief dinding candi juga berbeda dengan candi yang lain. Candi-candi lain, seperti candi Borobudur, candi Jago, Candi Penataran, dan lain-lain, relief dinding candi banyak mengan-dung ceritera. Tetapi di Candi Sewu tidak. Berbagai relief seperti bunga, jambangan, kala, penari, lentera, arca singa, arca garuda dan lain-lain, yang satu sama lainnya tidak ada kaitan ceritera.

Candi Sewu yang ditemukan dalam keadaan reruntuhan, sekarang sudah dapat dilihat sebagian besar, setelah diadakan pemugaran sejak Tahun 1981-1993 dieruskan Tahun 2006, sampai sekarang terus dilakukan penyempurnaan. Candi Sewu merupakan candi Budha terbesar di Indonesia setelah Candi Borobudur.

Silahkan untuk berwisata ke Candi Sewu, terutama yang wisata ke Prambanan jangan lupa melanjutkan ke Candi Sewu. (*)

Pondok Pesantren Al-Asy’ari – Ceweng, Bojonegoro Adakan Pondok Ramadhan 27 Hari Gratis

0

BOJONEGORO. – Pada bulan suci Ramadhan 1442 H tahun ini, Pondok Pesantren Al-Asy’ari – Ceweng, Bojonegoro akan menggelar kegiatan Pondok Ramadhan selama 27 hari khusus santriwan untuk segala umur.

Selama Ramadhan yang Insya Allah akan diawali pada 12 April 2021, pondok yang berlokasi di Dusun Ceweng, Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini akan mengkaji kitab-kitab dengan metode yang mudah dipahami untuk segala tingkatan.

Kitab yang akan dikaji diantaranya, (1) Kitab Nashoikhul Ibad (ibadah yang di imbangi perilaku), (2) Kitab Arbaurrosail (tentang sholat yang sempurna), (3) Kitab Manaqibul Jawahir (sejarah para wali kutub), (4) Kitab Qurrotul Uyun (rumah tangga bermodal cinta), dan (5) Kitab Ayyuhal Walad (kewajiban berahlaq kepada orang tua dan orang yang lebih tua, serta mencintai yang lebih muda).

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Asy’ari – Ceweng, KH Choirul Anam menyampaikan, selama mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan disediakan makan sahur dan berbuka secara cuma-cuma. “Gratis total, tidak dipungut biaya,” pesannya.

Dan, bahkan jika ada daerah yang mengikuti kegiatan ini dengan jumlah santri lebih dari 10 orang, transportasinya ditanggung oleh Ponpes Al-Asy’ari. “Transportasinya PP ditanggung oleh pondok,” tandasnya.

Mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan adalah wujud rasa cinta akan datangnya bulan suci Ramadhan. Berkata demikian KH Choirul Anam seraya mencuplik sabda Rasulullah Muhammad SAW,

“Barang siapa saja yang senang akan datangnya bulan suci Romadhon, maka jasadnya haram akan masuk neraka.” (*)

Canthik Prahu Rajamala yang Mistis

0

Pernahkah Anda berwisata ke Musium Radya Pustaka, Surakarta? Kalau pernah, pasti Anda sudah melihat patung menyerupai kepala wa-yang Raksasa Rajamala. Memang namanya patung Rajamala, bekas canthik (kepala haluan) kapal pesiar Sunan Pakubuwono ke IV sampai Paku Buwono VII.

Patung ini berada di ru-ang belakang sisi barat museum, dengan tempat ruang remang-remang. Dengan warna merah menyala yang menyeramkan dan terasa aura mistis.

Patung Rajamala ada dua, yang dulu dipasang di haluan dan buritan. Yang satu tersimpan di Museum Kraton Surakarta Hadiningrat. Kedua patung ini sama-sama mengandung aura mistis.

Setiap hari Selasa Kliwon, kedua patung itu diberi sesaji. Di samping itu, patung Rajamala di museum Radya Pustaka, sejak ditempatkan di tempatnya tersebut sampai sekarang belum pernah dipindahkan, konon tidak mau dipindahkan.

*Perahu Pesiar Termegah.

Canthik Rajamala merupakan canthik untuk perahu pesiar terindah dan terbesar pada jamannya dan diberi nama juga perahu Rajamala, untuk menyelusuri Bengawan Solo, sampai ke Madura, sungai Berantas, bahkan di Laut Jawa dari jaman Sinuwun Paku Buwono IV sampai Paku Buwono VII.

Perahu Rajamala dibuat atas inisiatif Pangeran Adipati Anom, yang nama mudanya GRM Sugandi, putra Susuhun Paku Buwono IV pada Tahun 1737 Tahun Jawa (1810 M) dan selesai hari Jumat wage 27 Jumadilakir Tahun Be 1738 JW (1811 M) dengan sengkalan Nawa Katon Tinitihan Janma.

Ukuran perahu, pan-jang 58,9 meter, lebar 6,5 meter, panjang dayungnya 6,6 meter. Sekarang yang tersisa dari perahu Rajamala adalah dua canthik patung kepala Rajamala dan dayung yang juga tersimpan di museum Keraton Surakarta Hadiningrat. Bahannya kayu jati dari hutan Donoloyo milik keraton.

Hutan Donoloyo sendiri juga memiliki ceritera mistis, dikenal sebagai hutan yang angker, wingit.

Ada ceritera ketika pem-buatan perahu, para tukang banyak yang sakit karena diganggu makluk halus yang berada di hutan Donoloyo. Namun karena kesaktian Pangeran Adipati Anom, para makhluk tersebut dapat ditaklukkan, dan bersedia mengabdi kepada sang Pangeran dan menjaga canthik Rajamala.

*Ada dua versi terjadinya perahu Rajamala ini.

Versi pertama, ketika tgl. 19 Nopember 1809 Si-nuwun Paku Buwono IV menerima hadiah perahu besar dari Gubernur Jen-dral Dandeles dengan hiasan canthiknya patung puteri Belanda yang cantik.

Kemudiun Sinuwun Paku Buwono IV ingin mempunyai perahu sendiri lalu memerintahkan puteranya Pangeran Adipati Anom untuk membuat perahu yang besar dan bagus untuk disandingkan dengan perahu hadiah Gubernur Jendral Dandeles.

Pangeran Adiparti Anom melaksanakan dhawuh ramanda dan jadilah perahu Rajamala yang indah dan megah.

Kedua perahu tersebut kemudian dinikahkan dengan upacara lengkap sebagaimana layaknya pengantin Jawa, bertempat di Kedhung Penganten Bengawan Solo, pada tanggal 19 Juli 1811.

Versi kedua, menurut Babad Tanah Jawa, bahwa Sinuwun Paku Buwono IV akan memulangkan permaisurinya, Bendara Kanjeng Ratu Kencanawungu ke Madura (Sumenep). Mendengar berita itu, Pangeran Anom sangat sedih, kemudian membuat perahu untuk mengantar ibunda ke Sumenep.

Tetapi setelah Sinuwun Paku Buwono IV mengetahui perahu buatan putranya tersebut, akhirnya permaisuri Sinuwun tidak jadi dipulangkan. Akhirnya perahu yang begitu indah dan gagah tersebut dijadikan perahu keraton, yang digunakan oleh Sinuwun Paku Buwono IV untuk mengarungi Bengawan Solo, Sungai Brantas dan laut Jawa.

Perahu Rajamala digunakan raja-raja Keraton Surakarta Hadiningrat mulai Sinuwun Paku Buwono IV sampai Sinuwun Paku Buwono VII.

Pangeran Adipati Anom sendiri kemudian menggantikan ayahnya menjadi raja Surakarta Hadiningrat dengan gelar Paku Buwono V. Namun be-liau tidak lama menjadi raja, hanya tiga tahun (1820-1823) sakit dan meninggal. (*)

Nama Prabu Brawijaya Tidak Ditemukan dalam Sejarah

0

Dalam masyarakat Jawa, Prabu Brawijaya sebagai raja Majapahit sangat terkenal, lebih-lebih bagi para pencinta kethoprak. Karena dalam pagelaran kethoprak, raja Majapahit hanya disebut Brawijaya. Pagelaran kethoprak tidak pernah menyebut Prabu Hayamwuruk, Prabu Kertanegara, Girindrawardana dan sebagainya yang merupakan nama dari sumber sejarah. Prabu Brawijaya yang dipopulerkan dalam lakon kethoprak mengambil dari Babad Tanah Jawi, dan Serat-serat.

Figur Prabu Brawijaya atau dinasti Brawijaya terdapat di Babad Tanah Jawi dan beberapa Serat Kanda.

Dalam Babad Tanah Jawi tersebut, asal usul dinasti Majapahit dengan yang bersumber dari sejarah sangat bertentangan Karena melegendanya nama Brawijaya dalam Babad Tanah Jawa, sam-pai-sampai Kodam V dinamakan Brawijaya, demikian juga sebuah Universitas di Malang juga menggunakannya.

Dalam Sejarah pendiri Kerajaan Majapahit ada-lah Raden Wijaya, sedangkan dalam Babad Tanah Jawi dan beberapa Serat pendiri Majapahit Jaka Sesuruh.

Raja-raja Majapahit berdasarkan sejarah yang didukung dengan bukti kesejarahan seperti prasasti. Adalah:

Raden Wijaya (Karta-rajasa Jayawardana (1293-1309)

Jayanegara (1309-1328)

Tribuwana Tunggadewi ( 1328-1350)

Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)

Wikramawardana (1389-1428 )

– Suhita (1429-1447 )

Dyah Kertawiujaya (1447-1451 )

Rajasawardana (1451-1453)

Girindhawardhana (1456-1466)

Sanghawikramawar dana (Suraprabawa) (1466-1474)

Giridrawardana Dyah Wijayakrama (1468-1478)

Singawadhana Dyah Wijayakusuma (konon menjadi raja paling pendhek, hanya 4 bulan)

Girindhawrdhana Dyah Ranawijaya (1478-1498)

Menurut sejarah ada 13 nama raja Majapahit.

Sementara dalam buku Babad Tanah Jawi hanya ada 7 raja tanpa menyebut tahun memerintah, 5 raja diantaranya menggu-nakan nama Brawijaya. Urutannya, nama raja Majapahit dalam Babad Tanah Jawi sebagai bertikut :

Jaka Sesuruh yang bergelar Prabu Bratana sebagai pendiri

Prabu Brakumara

– Prabu Brawijaya I

Ratu Ayu Kencanawungu

– PrabuBrawijaya II

Prabu Brawijaya III

Sedangkan menurut Serat Momana, raja Majapahit hanya 6, yaitu:

Prabu Sesuruh (Brawijaya I)

Raden Brakusumara (Brawijaya II)

Raden Udaningkung atau Angkawijaya (Bra wijaya III)

– Raden Ayu Kencanawungu

Raden Damarwulan (Brawijaya IV)

– Lembu Amisani (Brawijaya V)

Sedangkan Serat dari Sumenep yang menggu-nakan nama Brawijaya hanya raja pertama Jaka Sesuruh dan raja ke 7 (terakhir) Raden Alit.

Dalam Serat Praraton, penguasa Majapahit 13 raja yang tidak jauh berbeda dengan sumber Sejarah dan tidak ada sebutan Brawijaya.

Raja pertama Raden Wijaya sedang raja terakhir Bre Pandan Salas III Kebanyakan dalam Serat Pararaton, raja Majapahir dengan sebutan Bre.

Dan Serat Pararaton ini menjadi salah satu sum-ber sejarah. (*)

Candi Ratu Boko Itu Bekas Kraton

0

Kalau berwisata ke Candi Prambanan, rasanya kurang lengkap apabila tidak melihat Candi Ratu Baka. Candi Ratu Baka berada 3 km sebelah selatan Candi Prambanan, berada di atas perbukitan. Candi Boko sebenarnya reruntuhan keraton Kerajaan Medang Hindu, tetapi terlanjur disebut sebagai candi. Mungkin karena reruntuhan bangunan semua terbuat dari batu andesit, itulah lalu disebut candi.

Berada di ketinggian sekitar 200 M dpl (di atas permukaan laut). di wilayah Dusun Dawung desa Bokoharjo dan dusun Sumberwatu Desa Sumberejo Kecamatan Prambanan, dengan luas situs 160.989 M2.

Di duga Istana Ratu Ba-ka dibangun semasa Raja Rakai Panangkaran dari Kerajaan Mataram Hindu. Nama Ratu Boko ayah Rara Jonggrang, dikaitkan dengan legenda Rara Jonggrang yang berkaitan dengan penciptaan Candi Pramabanan oleh Ban-dung Bandawasa.

Reruntuhan istana Ra-tu Boko ditemukan oleh Van Boeckhopltz Tahun 1790. Pada Tahun 1814 peneliti Belanda, antara lain Makenzic, Junghun, Brumun mengunjungi reruntuhan kepurbakalaan itu dan mempublikasikan. Namun baru Tahun 1915 diadakan penelitian oleh FDK Bosch dan menemukan prasasti berangka Tahun 792 M beretulis Abhayagiriwihara.a di bukit yang damai. Prasas-ti tersebut juga menyebutkan nama Tejahpurnpane Panamkorono, para ahli mengartikan Rakai Panangkaran.

Ke pusat bekas istana Ratu Boko, sebelum sampai ke pusat Istana, ada gapura utama terbuat dari susunan batu andhesit dengan pintu tiga yang tengah lebar, berukuran lebar 4,85 m tinggi 2,50 m dan panjang lorong 3,40 m, sedang pintu pengapit lebar 3,90 M tinggi 2,50 M panjang lorong 1,92 m.

Beberapa meter kemu-dian masuki gapura II dengan lima pintu yang tengah besar dengan ukuran lebarnya 5.96 m tinggi 3,85 m panjang lorong 3,70 m sedang empat pintu pengapit kiri dua kanan dua ukurannya lebih kecil. Gapura ini menghadap ke barat, di depannya hamparan tanah lapang, dua tingkat. Dari tebing bukit ini, terlihat Candi Prambanan serta Gunung Merapi.

Sebelah timur gapura utama terdapat bekas candi yang para ahli menyebut candi batu putih karena terbuat dari batu gamping. Jaraknya dari gapura sekitar 45 meter, sedang di timur laut terdapat reruntuhan candi pembakaran yang berbentuk sumuran persegi empat.

Sebelah timur gapura II terdapat tanah lapang yang ditengarai sebagai alu-alun. Kemudian memasuki bangunan batur dari batu andhesit dengan ukuran 24,6 \m X 13,3 m tinggi 1,16 m ini bekas bangunan paseban.

Pendapa Kraton.

Bekas kraton terdapat bekas dua bangunan, yaitu penda padi sebelah utara dan pringgitan di sebelah selatan. Ukuran bekas pendapa 20 m X 20 m. terdapat 60 umpak batu persegi enam penyangga tiyang bangunan. Pendapa dan pringgitan dikelilingi pagar batu panjangn 40 M lebar 36 M dengan pintu masuk di Selatan, Barat dan Utara dengan hiasan makara. Antara pendapa dan pringgitan jaraknya 2 m.

Di sebelah timur pendapa, menurun ada beberapa kolam persegi empat sebanyak 7 buah ukuran terbesar 9 m X 5 m paling kecil 1 m X 1 m, dalamnya 1,25 m dan lainnya berbentuk bundar bergaris tengah 2,5 m dan 1,5 m, semua pada batu andesit. Meskipun sumuran ini batu, tetapi airnya tidak pernah kering meskipun kemarau. Kolam ini diberi pagar keliling yang sebagian sudah runtuh.

Di bawah kolam, komplek keputren, yana di tengah komplek juga ada bangunan pemandian dengan ceruk batu andesit berukuran 30 m X 8 m. Keputren ini diberi pagar keliling, namun sekarang tinggal batu pondasinya.

Sebelah utara di lereng bukit, hanya berjarak beberapa puluh meter dari pendapa, terdapat goa buatan dengan mengeruk batu. Dua buah goa yang besar, yang di atas Goa Lanang ukuran tinggi 1,15 m, lecbar 1,5 m dan dalam 1,5 m. Di bawahnya Goa Wadon ukuran tinggi 1,50 m, lebar 3,50 m dan dalam 3 m.

Di depan Goa Lanang terdapat kolam berukuran 1,90 m X 1,26 mn dan dalam 1,25 m. Dalam kolam ada bangunan lingga dan yoni. Di sekitarnya ada beberapa goa buatan yang lebih kecil. Fungsi goa untuk semedi, menyepi.

Itulah sekilas situs Ratu Boko yang lazin di sebut Candi Ratu Boko. Udara di kawasan candi Ratu Boko sejuk, dengan pemandangan indah, semuanya masih alami. (*)