Jangan Berkelanjutan

tahun ini besarannya mencapai Rp 2,57 triliun, namun di waktu yang tinggal 40 hari jelang akhir Tahun 2022 penyerapannya masih sangat rendah yaitu baru mencapai 67,4 persen. Masih ada Rp 844 Miliar yang belum terserap atau belum dibelanjakan.

Bila sampai bulan ke-11 anggaran yang diserap sebesar Rp 1,73 triliun, mungkinkah dalam waktu 40 hari kedepan bisa membelanjakan anggaran yang tersisa Rp 844 Miliar? Atau akan terjadi Silpa hingga ratusan miliar, atau bahkan lebih banyak dari Silpa tahun lalu yang 225 Miliar?
Pertanyaan-pertanyaan bernada khawatir atau tidak yakin seperti di atas wajar dilontarkan oleh warga masyarakat karena serapan paling rendah tahun ini adalah anggaran yang dikelola oleh (DPU) . Padahal anggaran pada ini mengalami lonjakan yang luar biasa hingga 300 persen, dari Rp 137 Miliar pada Tahun 2021 menjadi Rp 377 Miliar pada Tahun 2022.

Secara teknis harusnya tidak ada masalah karena sudah digedok pada November 2021 sehingga proses perencanaan bisa dilakukan normatif sejak awal.

Baca Juga:  Tabung Gas Meledak, 5 Rumah di Randublatung Terbakar

Maka yang patut diduga, molornya pengerjaan -proyek fisik infrastruktur di Blora lebih dikarenakan faktor politis. Hal itu terlihat pada proses lelang yang molor karena kuatnya pengkondisian. Bahkan ada proyek yang retender hingga 12 kali. Ditambah lagi banyak temuan proyek yang bersumber dari dana Bankab untuk desa kualitasnya amburadul. Contoh viralnya video paving yang mudah hancur dengan hanya dibanting.

Sudah bukan rahasia lagi, pengkondisian proyek tidak lepas dari skema pengembalian modal dalam Pilkada. Besarnya anggaran infrastruktur dalam APBD menjadi bagian dari skema pengembalian modal Pilkada melalui fee proyek kepada pihak tertentu. Motif pengembalian modal Pilkada adalah efek Pilkada berbiaya tinggi yang melibatkan para bandar yang berani berjudi dengan uang puluhan miliar.

Baca Juga:  Pendapatan Daerah Kabupaten Blora 2023 Direncanakan Capai Rp 1,8 Triliun

Seperti yang terjadi di lewat pengakuan Adi Jumal Widodo, orang kepercayaan Bupati Pemalang, Jawa Tengah (nonaktif), Mukti Agung Wibowo yang menyebutkan, bupati mengembalikan modal yang digunakannya saat Pilkada 2020 melalui setoran dari para bawahannya. Hal itu diutarakan Adi saat menjadi saksi di Pengadi-lan Tipikor, , Senin (21/11/2022).

Yang perlu digaris bawahi, kepentingan politis seorang pemimpin jangan sampai merugikan rakyatnya. Pengkondisian proyek jangan sampai mengorbankan kualitas dan waktu dalam pengerjaan. Melalui anggaran APBD 2022, masyarakat berharap semua pekerjaan proyek infrastruktur di kabupaten ini bisa selesai tuntas di akhir Desember 2022. Jangan berkelanjutan pada tahun berikutnya.

Bila itu yang terjadi, ujung-ujungnya kepentingan rakyat lagi yang dikorbankan. Uang rakyat dalam APBD yang dititipkan akhirnya hanya jadi bancaan dan “permainan” elit kekuasaan.
Rakyat yang tersakiti mungkin sekarang hanya bisa diam, tapi mereka akan selalu ingat dan kelak akan membalasnya lewat Pilkada selanjutnya.
***