20.9 C
Central Java
Selasa, 24 Mei, 2022

Buy now

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Puasa di Hari Asyura

MARILAH kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dengan segenap keteguhan hati dan kemantapan jiwa, dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan dengan penuh ketabahan dan kesabaran.
Peristiwa masa lalu tidak hanya untuk dikenang tapi untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita di masa sekarang dan masa mendatang, untuk diambil hikmahnya agar kita dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:
“Suatu hari, Nabi Shallallahu alaihi wa salam berjalan melewati sekelompok orang Yahudi yang tengah berpuasa hari Asyura, maka Nabi Shallallahu alaihi wa salam bertanya, “Puasa hari apa ini?” Mereka menjawab: Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Isra’il, sedangkan Fir’aun di hari ini ditenggelamkan Allah. Dan hari ini adalah hari ketika perahu Nabi Nuh berlabuh di bukit Al Judiy. Karena itu Nuh dan Musa berpuasa di hari ini, karena bersyukur kepada Allah ta’ala. Lalu Nabi shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini.” Kemudian Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. (HR Imam Ahmad).
Dalam hadits di atas, disebutkan dua peristiwa dari sekian banyak peristiwa penting yang terjadi di hari Asyura. Yaitu berlabuhnya perahu Nabi Nuh dengan selamat di Bukit Judiy dan selamatnya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun beserta bala tentaranya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus oleh Allah kepada kaum yang kafir. Beliau-lah nabi dan rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada orang-orang kafir. Para nabi dan rasul sebelumnya, yaitu Nabi Adam, Nabi Syits dan Nabi Idris ‘alaihimussalam diutus oleh Allah kepada kaum Muslimin. Umat ketiga nabi tersebut semuanya beragama Islam. Tidak ada satu pun yang kafir.
Nabi Nuh konsisten dalam berdakwah selama 950 tahun. Akan tetapi kebanyakan kaumnya tidak beriman. Mereka tetap pada kesesatan dan kekufuran. Mereka memusuhi Nabi Nuh, menyakitinya, melecehkannya bahkan memukulinya. Hingga doa murka terucap dari lisan Nabi Nuh as yang maknanya:
“Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26)
Lalu Allah timpakan kepada mereka banjir besar sehingga tidak menyisahkan satu orang pun diantara orang-orang kafir. Allah selamatkan Nabi-Nya dan orang-orang beriman diantara kaumnya dengan perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh dengan perintah Allah. Allah pun menjaga perahu tersebut hingga berlabuh dengan selamat di Bukit Judiy.
Sedangkan Nabi Musa, beliau hidup di masa raja yang zalim dan melampaui batas, yaitu Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan. Allah memerintahkan Nabi Musa agar pergi kepada Fir’au untuk mengajaknya masuk ke dalam Islam, meng-ESA-kan Allah dan mensucikan-Nya dari sekutu berhala.
Maka Nabi musa pergi dan memperlihatkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa beliau benar-benar utusan Allah ta’ala.
Meskipun begitu, Fir’aun tetap kafir kepadanya, menolak dan bersikap congkak serta menyiksa dan menindas kaum Nabi Musa yang beriman.
Akhirnya, Nabi Musa ‘alaihisalam dan para pengikutnya dari kalangan Bani Isra’il keluar dari Mesir.
Fir’aun mengejarnya bersama ribuan pasukan karena ingin memusnahkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Akan tetapi Allah menolong Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu,” maka terbelah-lah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS Asy-Syu’ra: 63)
Laut terbelah lalu Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya menyeberangi laut. Fir’aun dan pasukannya pun mengejar mereka. Allah subhannahu wa ta’ala kemudian menenggelamkan mereka semua dan Allah selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya.
Allah ta’ala berfirman:
“Dan kami menyelamatkan Bani Isra’il melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka), hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra’il, dan saya termasuk orang-orang yang memeluk Islam.” Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Yunus 90-91)
Ketika Fir’aun hampir tenggelam dan mati, ia menyatakan taubat, Padahal taubat tidak lagi bermanfaat dan tidak diterima dalam keadaan seperti itu. Karena diantgara syarat taubat adalah dilakukan sebelum seorang putus asa dari hidup seperti ketika akan tenggelam dan tidak ada kemungkinan selamat.
Maka dari itu, agar kita diberikan pertolongan oleh Allah SWT, kita disunnahkan puasa pada hari ke-9 dan 10 Muharram sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits.
Hikmah dari puasa tanggal 9 disamping berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama adalah agar berbeda dengan orang-orang Yahudi, karena mereka hanya berpuasa di tanggal 10 saja. (*)


*) Penulis adalah, alumni Ponpes Asy Syadzili, Malang, Jawa Timur. Tinggal di Cepu, Blora.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Latest Articles