21.8 C
Central Java
Selasa, 24 Mei, 2022

Buy now

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PPKM Darurat akan Sukses, jika Masyarakat Paham Titik Lengah Diri

BLORA. – Pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat memasuki hari keenam.

Berdasarkan informasi dari berbagai media, ternyata masih terjadi adanya pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat.

Banyak pakar dan ahli kesehatan mengatakan, walaupun sudah melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat serta sudah divaksin dua kali, namun kita masih berpeluang tertular virus Corona. Hal itu karena kita punya titik lengah dan titik lemah dalam mensikapi sesuatu.

Hal itu disampaikan Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya, Kamis (8/7/2021).

Titik dimaksud menurut Bambang, adalah titik yang memberi peluang dan kesempatan bagi virus corona untuk memasuki ke tubuh manusia.

“Adapun titik kelengahan dan kelemahan yang perlu diwaspadai guna mencegah guna penularan virus Corona dapat dirumuskan ke dalam akronim 7M,” ujarnya.

Pertama, Melaksanakan agenda makan dan foto bersama, saat ini kebiasaan makan dan foto bersama seperti sudah menjadi tren baru.

“Dalam proses makan pasti akan melepas masker, dan biasanya diikuti dengan ngobrol santai sehingga tak terasa telah memberi peluang virus masuk ke tubuh apalagi dilanjutkan dengan foto bersama yang biasanya melahirkan suasana gelak tawa dan lupa diri menjaga jarak,” ujar mantan Sekda Blora itu.

Kedua, mematuhi komitmen bersama bahwa melaksanakan protokol kesehatan itu menjadi kewajiban kita bersama baik di rumah, di kantor maupun di lingkungan sosial masyarakat.

“Misalnya di rumah. Mungkin bapak atau ibu sudah mematuhi protokol kesehatan, terus bagaimana dengan anak, asisten rumah tangga dan saudara sendiri yang ada di rumah, apakah juga mematuhi protokol kesehatan?” bebernya.

Demikian pula di kantor. Ketika sedang melaksanakan rapat staf, apakah bisa dijamin adanya komitmen kebersamaan untuk sama-sama bisa menjaga diri patuh prokes.

Berikutnya yang ketiga, melepas kebosanan dan kejenuhan dalam merasakan pandemi COVID-19.

“Ada kecederungan untuk melarikan diri bergabung kongkow, nongkrong atau kumpul berkerumun dengan kawan yang tidak jelas kondisi kesehatannya,” paparnya.

“Terkadang bisa memakan waktu cukup lama, bahkan karena asyik lupa tak pakai masker. Berarti ada peluang untuk tertular COVID-19,” tambahnya.

Keempat, memasuki fasilitas umum di pasar, stadion, mal, toko swalayan, stasiun, terminal, bandara dan di kantor pelayan masyarakat, pasti akan bertemu dengan orang-orang yang belum tentu aman terinfeksi dari virus COVID-19.

Kelima, melanggengkan rasa kekeluargaan. Biasa, ketika kita ketemu sahabat, teman akrab atau keluarga yang sudah lama tidak pernah ketemu, ada perasaan ingin melakukan tindakan yang merupakan bentuk pelayanan terbaik, tidak hanya sekedar curhat atau ngobrol mungkin juga dilanjutkan acara minum, makan bersama yang otomatis harus melepas masker.

Bahkan untuk kenang-kenangan diabadikan dengan foto bersama. Tanpa disadari itu juga menjadi titik lengah dan lemah kita.

Keenam, merasa aman karena sudah melakukan vaksin. Apalagi bila sebelumnya sudah melakukan test dan hasilnya negatif.

“Perlu diingat, hasil test bersifat realtime hanya berlaku pada saat diperiksa dan hasil negatif tidak menjamin bebas dari virus,” terangnya.

Ketujuh, memfosir diri dalam beraktivitas. Harus ada waktu jeda untuk beristirahat.

Di masa pandemi COVID-19 terlalu memaksakan diri akan menimbulkan kelelahan jasmani dan rohani.

“Dampak, imunitas diri akan mengalami penurunan, sehingga mudah kemasukan virus corona,” tuturnya. (*)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Latest Articles