banner 728x250

Pensiun, Bagyo Tekuni Usaha Batik Blora

BLORA. – Tak pernah dibayangkan sebelumnya, jika sekarang harus menekuni usaha di bidang industri dan penjualan kain batik.

H. Subagyo Spd MM yang empat tahun lalu purna tugas dari SMA Negeri 1 Blora itu kini kesehariannya berkutat dengan kain, pensil, dan peralatan batik yang lain.

Rumah tinggalnya di Jl. Nusantara 41 Blora yang sejak beberapa tahun lalu disulap menjadi show room “Mustika Art Gallery” tak pernah sepi dari pengunjung dan pembeli. “Kalau hari Minggu banyak masyarakat umum yang datang ke sini,” ujar suami Hurip Indriani itu, Selasa (2/3) lalu.

Batik yang diproduksi Mustika Art Gallery adalah batik blora yang memi-liki corak khas dengan gambar daun jati, burung merak, macan tutul, dan ayam alas. Untuk pembatiknya, Bagyo mempekerjakan tenaga lokal yang bisa dibilang masih tetangga sendiri.

Baca Juga:  Jelang Lebaran, Camat Kunduran Gelar Pasar Murah

“Biasanya ibu-ibu bekerja di sini setelah suaminya berangkat kerja, dan sudah menyelesaikan tugas rumah,” tambah Bagyo yang di dalam kepengurusan PWRI Kabupaten Blora aktif sebagai koordinator wilayah itu.

Mustika Art Gallery yang bisa dibilang perintis batik blora sejak Tahun 2009 ini produksinya sudah terlempar jauh hingga ke manca negara. Menurut Bagyo, direktur pabrik gula Blora, Kama Jaya pada waktu itu pernah membawa batik buatannya ke Inggris dan Jerman.

Ditambahkan oleh Bagyo, Presiden Jokowi dan Gubernur Ganjar Pranowo ketika mengunjungi Kampung Samin pada Tahun 2015 juga sempat mampir ke stand Mustika Art Gallery.

Harga batik di tempat ini relatif terjangkau, mulai 115 ribu hingga 500 ribu rupiah. Pelanggan Mustika Art Gallery kebanyakan kantor, dinas dan sekolah. “Ada rumah sakit swasta yang pesan batik di sini sampai ratusan lembar untuk seragam karyawannya,” ujar pria kelahiran Demak itu.

Baca Juga:  Turnamen Bola Voli Gedebeg Cup 2022 Diikuti 36 Club, Tim REGEZ Gresik Juara I

Yang membedakan Mustika Art Gallery dengan toko batik lain, di tempat ini calon pembeli bisa pesan motif atau bawak desain sendiri. “Ini kami juga sedang mengerjakan batik Asri pesanan dari PWRI Blora,” ujar Bagyo sambil menunjukkan kain batik dengan gambar Arjuna dan Sri-kandi.

Di masa pandemi seper-ti sekarang ini, kata Bag-yo, usaha batik juga terkena dampaknya. Karena itu ia berharap adanya bantuan pemerintah mulai dari permodalan atau bentuk subsidi lainnya.

Khususnya kebijakan Pemkab Blora dalam hal melindungi hak cipta batik blora, Bagyo berharap bisa segera di-patent-kan agar tidak diproduksi oleh industri batik luar Blora.

“Di Blora kan ada puluhan industri batik, harusnya untuk seragam karyawan kantor dan instansi di Blora diarahkan untuk beli produk lokal Blora,” harapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.