banner 728x250
BLORA  

Sriyono, Mantan PPL yang Sukses Jadi Petani Jambu

BLORA-

Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Prinsip itulah yang dipegang oleh Sriyono, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) UPT Dinas Pertanian Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora yang sudah purna tugas pada April 2020 lalu.
Sarjana pertanian jebolan Unigoro (Bojonegoro) itu sekarang, hari-harinya dihabiskan untuk mengurus jambu madu. Mulai dari mengelola tanaman jambu di pekarangan miliknya, hingga menjadi pembina serta pendamping para petani jambu di beberapa kecamatan di Kabupaten Blora.
Selain membina dan mendampingi para petani jambu, Sriyono juga memberikan jasa konsulitasi pemelirahaan jambu madu hingga membantu pemasarannya.
Pemasaran jambu yang indukannya berasal dari Sumatera itu sampai hari ini bisa dibilang tidak ada masalah. Belum sampai dijual ke pasar umum, karena untuk melayani pembeli yang datang langsung atau pesan inden sudah kuwalahan.
“Jambu jenis ini di Blora tidak ada duanya. Selain buahnya besar-besar dan banyak air, rasanya manis juga renyah,” ujar suami Bunari itu ketika ditemui wartawan, Senin (18/1) lalu.
Menurut Sriyono, penanaman dan perawatan jambu madu sangatlah muda. Satu bibit pohon cukup ditanam di dalam planter bag ukuran 75 kg, bisa ditempatkan di pekarangan atau ladang hingga usia 5 hingga 7 tahunan.
“Pada usia 6 bulan, tanaman jambu yang tingginya 1,5 meter itu sudah berbuah, dan buahnya ngeri karena besar sekali. Satu kilo isi 6 buah, besarnya sak botol Aqua tanggung,” tandas pria yang tinggal di Dukuh Bapangan, Desa Menden Rejo Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora itu.
Bagi warga Kota Blora dan sekitarnya yang ingin membeli jambu madu bisa datang langsung ke Pasar Tani di Gedung Konco Tani, Seso, Blora setiap Jumat pagi. Harganya Rp 25 ribu per kilo.
“Tiap hari Jumat saya dapat jatah 25 kg. Pertama kali saya bawak 85 kilo sak klemetan sudah habis,” tandas pria kelahiran Boyolali Tahun 1960 itu
Menurut bapak dua anak itu, potensi usaha jambu madu di Blora cukup besar karena belum belum banyak orang yang membudidayakannya secara besar-besaran.
Selain di Kradenan, tambah Sriyono, jaringan petani jambu madu sudah berkembang di Cepu, Jepon, Jiken, dan Banjarrejo.
“Kami selalu ada komunikasi lewat WA Grup. Para petani yang tergabung dalam jaringan bisa konsultasi jika ada permasalahan dengan tanaman jambunya,” ujar pria yang sekarang tergabung sebagai anggota Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora itu.
Bagi yang ingin memulai budi daya jambu madu, lanjut Sriyono, bisa bergabung. “Untuk jadi anggota harus nanam minimal 25 pohon,” tambah pria yang sejak tahun 84 sudah aktif sebagai PPL di dinas pertanian itu.
Melihat perkembangannya, Sriyono yakin kedepan jambu madu ini bisa menjadi icon Blora. “Obsesi saya ingin menjadikan Blora sebagai Kota Jambu Madu,” pungkasnya. (nn)

Baca Juga:  Anton Sudibyo: Amal Ibadah untuk Investasi Dunia dan Akhirat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.