Beranda blog Halaman 243

Camat Kalitidu Pimpin Rapat Anjangsana dengan UPTD dan Desa

BOJONEGORO. – Rapat anjangsana Forkopimca dengan Kepala UPTD/ kantor/ koordinator dan Kepala Desa se Kecamatan Kalitidu digelar di Balai Desa Mojo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, pada Rabu 09 Juni 2021.

Acara tersebut dihadiri oleh Camat Kalitidu, Sekcam, Beberapa Kades sekecamatan, Kepala UPTD, Koordinator Pendamping Kabupaten Bojonegoro, perangkat desa, dan undangan yang lain.

Dalam sambutannya, Camat Kalitidu Mohamad Yasir menyampaikan tentang penyelenggaraan pemerintahan desa dan tata kelola keuangan desa serta peningkatan status desa atau IDM ( Indeks Desa Membangun ).

“Kami berharap semua desa khususnya di Kecamatan Kalitidu agar menjadi desa mandiri semua”, harap Mohamad Yasir.

“Sementara Kecamatan Kalitidu IDM dengan status MANDIRI adalah Sukoharjo, Sumengko, Ngringinrejo, Kalitidu, Panjunan dan Mojo. Dan tidak lupa yang tidak kalah penting utamanya adalah penuntasan atau pelunasan PBB tahun 2021”, tegas camat.
Didik Wahyudi, Koordinator Pendamping Kabupaten Bojonegoro dalam sambutannya juga menjelaskan bahwa Desa Mojo statusnya naik menjadi desa mandiri.
“Selamat kepada Desa Mojo yg statusnya naik menjadi desa mandiri”, ucap Didik Wahyudi. (*)

Peringati Hari Lahir ke-13, Paguyuban MAOS Blora Gelar Acara Senam Bersama

0

BLORA. – Memperingati hari lahirnya yang ke-13, Paguyuban Manut Obahe Sikil (MAOS) Blora, Selasa (8/6/2021) lalu mengadakan kegiatan senam bersama di Alun-Alun Blora.

Diawali doa bersama, kegiatan dilanjutkan senam kesegaran jasmani yang diikuti para anggota paguyuban. Setelah pelaksanakan pemberian bantuan bagi kaum duafa, kegiatan diakhiri dengan menikmati tumpengan bersama

Ketua MAOS, Soepandi mengatatakan, peserta yang hadir sekitar 80 persen dari 106 jumlah anggota MAOS.

“Kami berupaya meningkatkan imunitas diri dengan berolahraga secara rutin dan mengkonsumsi makan yang bergizi,” ujar mantan kepala SMA itu.

Soepandi menjelaskan, paguyuban MAOS merupakan salah satu paguyuban yang populer dan unik di Kabupaten Blora.

Aktivitasnya cukup banyak dan memiliki muatan positif, mulai dari kegiatan jogging atau jalan pagi setiap hari di Alun-Alun, juga senam kesegaran jasmani yang dilakukan setiap hari Jum’at.

“Ada juga bersepeda santai atau gowes, sasarannya tempat wisata lokal setiap Selasa dan Sabtu,” ujar pria super aktif yang berperan di berbagai organisasi kemasyarakatan itu.

Ada juga program rekreasi, sebelum pandemi COVID-19 di lakukan dua kali dalam satu bulan bahkan pernah rekreasi ke Bali dua kali.

“Sementara dalam masa pandemi diliburkan,” imbuh Soepandi yang juga menjabat Wakil Ketua PWRI Kabupaten Blora itu.

Kegiatan bakti sosial saat musim kemarau dilakukan dengan memberi bantuan air bersih kepada warga yang kesulitan air bersih, sedangkan di masa pandemi memberi bantuan kepada kaum duafa.

Ada pula kegiatan mengaji membaca Al- Qur’an dan kegiatan anjang sana ke keluarga yang sedang kena musibah atau keluarga yang sedang syukuran atau berulang tahun.

Disamping itu, para anggotanya juga sangat beragam baik dari sisi umur, profesi dan keyakinan.

“Sehingga paguyuban ini ibarat seperti miniatur masyarakat Blora yang heterogen, bahasa keren NKRI nya Blora,” tuturnya.

Uniknya di Alun-Alun Blora justru dianggap sebagai kantor, sehingga tiap hari terbuka bisa bertemu dengan berbagai elemen masyarakat.

“Kalau ada yang ulang tahun langsung diadakan makan bersama secara gratis karena ada dana swadaya atau sponsor dari para anggotanya,” imbuhnya.


UCAPAN SELAMAT

Sementara itu, mantan Sekda Blora H. Bambang Sulistya selaku pembina Paguyuban MAOS menekankan agar dalam masa pandemi COVID-19 jangan gelisah, apalagi panik dalam menghadapi realita pandemi COVID -19.

“Tetap semangat dan yakin semua kehidupan kita ada yang mengatur maka berserah diri kepada Sang Pengatur setelah kita berikhtiar secara maksimal,” kata Bambang Sulistya.

Ia mengajak akronim MAOS sebagai pijakan untuk melangkah dengan memaknai (M) Memotivasi diri setiap saat dimanapun kita berada untuk menggelorakan rasa syukur bahwa sampai saat ini kita sehat, rejeki cukup dan teman-teman banyak serta punya harapan hari esok lebih baik dari hari ini.

(A) Aktif, artinya agar semua sesuai dengan harapan maka kita harus aktif berdoa, aktif berolah raga, aktif berkarya dan aktif bersilahturahmi serta aktif berbagi.

Kemudian, (O) Optimis, artinya hidup harus selalu berpikir positif dg mencoba menyingkirkan pola pikir pesimis yang berorientasi hal-hal negatif yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain apalagi disaat pandemi saat ini orang cenderung bersumbu pendek.

Berikutnya, (S) Semangat, artinya kita harus mampu mengobarkan semangat pantang menyerah, semangat untuk maju dan semangat untuk meningkatkan keimanan agar kita tetap tenang dan yakin di tengah badai pandemi COVID-19 bahwa musibah itu pasti akan berlalu.

‘”Akhirnya saya menyampaikan selamat ulang tahun MAOS ke-13 semoga angka 13 bukan menjadi aka sial tapi menjadi angka keberuntungan dan angka peningkatan keimanan,” ucapnya.

Sehingga keberadaan Paguyuban MAOS kedepan makin berkembang dan maju, memberi kontribusi positif bagi program pembangunan di Kabupaten Blora. (*)

Ditandai Pentas Wayang Kulit, Icon Desa Wisata Panca Pesona Pengkoljagong Diresmikan

0

BLORA. – Bertempat di Pendopo Kridha Manggala, balai Desa Pengkoljagong Kecamatan Jati Kabupaten Blora, Sabtu (05/06/21) pekan lalu digelar pentas wayang kulit.

Bersama sinden Tety dari Yogyakarta, dalang kondang Sigit Ariyanto dalam pentas 3 jam siang itu mengambil tema lahirnya Wingsanggeni.

Kegiatan yang rencananya akan dihadiri oleh Bupati Blora itu dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-3 SMK mbagun desa, dan sekaligus peresmian Candi Majapahit “Prabu Kalithi” yang merupakan icon Desa Wisata Panca Pesona Pengkoljagong.

“Karena acaranya bersamaan datangnya Panglima dan Kapolri ke Blora, maka Pak Bupati gak bisa datang,” jelas Sugiyono.

Sugiyono menambahkan, event ini juga peresmian Candi Majapahit Prabu Kalithi, icon desa wisata Pengekoljagong.

Hadir dalam kegiatan hari itu Prof. Dr. Marlock (Gus Marlock), direktur FP3MKI (Forum Peduli Pendidikan, Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia), Kepala SMKN 1 Jati, SMK Muhammadiyah Randublatung, dan ketua Praja Kecamatan Jati, Agus Supriyono.

“Saya sangat berterima kasih kepada prof Dr. Marlok yang telah mempercayai kepada Desa Pengkoljagong atas prestasi awal untuk membantu desa yang mandiri, desa maju dan unggulan,” tandasnya.

Pada pkl. 09.45 Wib, acara diawali dengan pentas tari dari pemuda pemudi yang tergabung dalam wadah “Sanggar Tari Bolo Sewu” pimpinan Kades Sugiyono, S.Pd.

Sementara itu Ketua MKKs Blora, diwakili Kepala SMK 1 Jati, Yuswanto, M.Pd menuturkan, bahwa SMK mbangun desa merupakan program yang sangat bagus.

“Perlu kita dukung bersama, karena nantinya akan membangun program unggulan di tiap SMK/SMA yang ada, seperti saat ini yang sudah ada di Kabupaten Blora,” tutur Yuswanto.

Tampak hadir ikut memantau lokasi, Waka Polsek Jati Iptu Sugiman (mewakili Kapolsek AKP Eko Pramono, SH, MH yang tidak bisa hadir karena ada giat ke Blora), Kanit Intel Ipda Kasmin bersama anggotanya di lokasi, Peltu Jasman, Batuud Koramil 11 Jati (mewakili Danramil AKP Chb M. Rifai ada giat di Blora), Babinsa Serka Pujianto dan Babinkamtibmas Desa Pengkoljagong Bripka Pujianto memantau pentas wayang kulit, dan selalu mengingatkan tamu undangan untuk tetap memakai masker, Kasi Pol PP Kecamatan Jati Supriyo, SH bersama anggota.

Usai pentas wayang kulit, acara dilanjutkan dengan peresmian Candi Majapahit Prabu Kalithi sebagai icon “Desa Sapta Pesona Pengkoljagong” yang ditandai dengan pengguntingan pita oleh Kepala Desa Sugiyono didampingi Dalang Sigitg Ariyanto dan Sinden Tety sebagai tanda peresmian icon desa wisata Banyu Geni.

Usai pemotongan pita, Sugiyono berharap ke depan Desa Pengkoljagong sudah siap menerima wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Pengkoljagong.

Saat ini, tambah Sugiyono, obyek wisata yang siap dikunjungi antara lain Banyu Geni, Lukisan Dinding yang tersebar di beberapa dukuh, dan nanti juga diadakan pentas seni, sanggar seni Bojo Sewu, di hari tertentu.

“Kepada masyarakat Desa Pengkoljagong, mari bersama-sama ikut menyukseskan program desa wisata yang nantinya akan meningkatkan penghasilan masyarakat dengan adanya kunjungan wisatawan,” harap Sugiyono. (*)

Mustasyar PCNU Blora, KH Machsun Usman Wafat

0

BLORA. – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kabar duka datang dari Blora, Jawa Tengah. Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blora, KH Machsun Usman wafat, Ahad sore (16/5) pekan lalu.

Kabar duka tersebut dibe-narkan oleh putra sulung Kiai Machsun, Gus Anief Usman. Kepada wartawan disampaikan, Pengasuh Pondok Pesan-tren Assalam Cepu, Blora itu menghembuskan nafas ter-akhirnya sekitar pukul 15.30 WIB di RSUD dr Soeprapto Cepu, Blora.

Sebelumnya, Dewan Pembina Yayasan Pesantren Assalam dan Asrama Yatim Piatu Yastamas Cepu itu sempat dirawat di rumah sakit.

“Beberapa tahun belakangan ini beliau memang sudah sering gerah, dan terakhir gerah beliau dirawat di RSUD,” jelas Gus Anief.

Informasi dari Gus Anief, jenazah dimakamkan di Tem-pat Pemakaman Keluarga Bani Usman, di Dk. Kalangan, Ds. Jalakan, Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur, pada hari Senin (18/5) pekan lalu.

Kabar wafatnya Kiai Machsun Usman ini tentu menjadi duka yang mendalam bagi banyak kalangan, termasuk Bupati Bantul DIY H Abdul Halim Muslih, yang masih termasuk saudara almarhum. “Ya Allah, Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan para aktivis NU di Blora dan sekitarnya, termasuk Ketua PAC GP Ansor Cepu Ahmad Anwar.

“Kami segenap keluarga besar PAC GP Ansor Cepu turut berduka cita atas wafatnya Kiai Machsun, semoga kami generasi muda NU, dapat meneruskan perjuangan beliau,” ungkapnya. (*)

Dikira Perjanjian Hutang, yang Ditandatangani Kasri Ternyata Akte Jual Beli

0

BLORA. – Dasar pengalihan hak kepemilikian sertifikat nomor: 1113 dari atas nama Kasri-Urip menjadi Tedja Samudera adalah akte jual beli yang disahkan oleh Notaris PPAT Diah Trimurti Saleh, SE., S.H., MKn. tertanggal 10 September 2020.

Ditemui di kantornya, Senin (31/5) lalu, Notaris Diah menerangkan, bahwa pengalihan hak di sertifikat sudah sesuai prosedur dan tidak ada yang salah.

“Dari awal, berkas yang ditandatangani kedua belah pihak antara pasangan Pak Urip, Bu Kasri, dan Tedja Samudera adalah berkas akte jual beli,” ujarnya.

Menurut Notaris Diah, sebelum Urip dan Kasri tanda tangan, Tedja Samudra (mewakili notaris) sudah membacakan isi akad jual beli kepada keduanya. Bahkan lan-jut Diah, copy akte, semua tanda tangan, sampai foto saat penandatanganan terdokumentasi secara rinci.

“Urusan kami adalah akte jual beli senilai 50 juta. Setelah uang dibayarkan oleh pembeli kepada penjual (dalam hal ini yang menerima Siti Suyatin), urusan saya selesai. Adapun kalau mereka ada perjanjian di luar itu, saya tidak ikut campur,” tegas Diah yang berkantor di Jl. Tentara Pelajar No 10 Blora.

Sementara pengakuan Kasri, Urip dan Suyatin, mereka belum pernah bertemu dan berhadapan dengan Notaris Diah. “Bapak dan Ibu waktu tanda tangan surat cuma di kantor Koperasi Bina Raharja, bukan di kantor Notaris,” kata Suyatin.

Terkait pernyataan notaris yang mengatakan, bahwa Tedja Samudera sudah membacakan isi akte jual beli langsung dibantah oleh Suyatin.

“Tedja waktu itu cuma nyodorkan surat yang katanya untuk perjanjian hutang sebesar sebesar Rp 104 juta, dan harus dilunasi dalam waktu 7 bulan. Pada waktu itu sama sekali tidak ada kata-kata jual beli rumah atau tanah,” ujar wanita bertubuh bongsor itu. (*)

Terjerat Hutang Rentenir, Pasangan Kakek Nenek Terancam Kehilangan Rumah

0

“Aluwung modar tinimbang aku dikongkon tanda tangan adol omah iki, Pak (lebih baik mati daripada saya tanda tangan untuk jual rumah ini).” Begitu ungkapan sedih Kasri, ketika ditemui wartawan di rumah tinggalnya, di Dukuh Wonosari, Desa Tempurejo, Kecamatan Blora.


Bagi Kasri (59), kejadian yang diingat pada tanggal 10 September 2020 adalah ia bersama suaminya, Urip (66) datang ke kantor koperasi simpan pinjam (KSP) Bina Raharja di Jl. Jend. Sudirman, kawasan Bangkle, Kecamatan Blora adalah disuruh menandatangani surat perjanjian utang-piutang senilai Rp 50 juta dengan jaminan sertifikat nomor: 1113 atas nama Kasri-Urip.

Karena itu, betapa kagetnya Kasri dan Urip ketika pada bulan April lalu kedatangan seseorang bernama Tedja Samudera yang meminta kepada mereka berdua untuk segera mengosongkan rumah dengan luas tanah 562 M2 itu.

“Mending sekarang keluar dulu. Nanti kalo dibeli, besok setelah lebaran monggo,” kata Tedja seperti ditirukan oleh Suyatin, menantu Kasri-Urip.

“Iya beneran buk, dari pada nanti saya bawakan tentara sama babinsa rame, di situ ibuk e jenengan malu,” ucap Tedja kepada Suyatin pada waktu itu.

Tidak sekedar kata-kata, Tedja Samudra (42) yang warga Ki Soreng Lr. A1, Kecamatan Blora, pada hari itu juga menunjukkan kepada Kasri dan Urip, selembar sertifikat nomor: 1113 yang sudah berubah menjadi atas nama Tedja Samudera.

Kasri dan Urip pun bergeming dan tidak mau mengosongkan rumah karena ia merasa belum pernah menjual rumah yang merupakan harta warisan dari orang tuanya.

Dari perbincangan wartawan bersama Kasri bersama Urip, dan didampingi Siti Suyatin yang tidak lain adalah menantu Kasri-Urip, Senin (31/5) lalu sedikit terkuak tabir persoalannya.

Berawal dari Siti Suyatin (me-nantu) yang mempunyai hutang di kantor KSP Bina Raharja Blora dengan agunan sertifikat rumah a/n Kasri-Urip. Pada saat itu sudah jatuh tempo, dan total hutang yang harus dilunasi adalah sekitar Rp 17 juta.

Untuk bisa melunasi koperasi Bina Raharja, Siti Suyatin pinjam uang rente kepada Tedja Samudera sebesar Rp 50 juta.

“Yang 17 juta untuk melunasi koperasi Bina Raharja, sisahnya dipakai memperbaiki rumah saya,” ujar Siti Suyatin yang mengaku tinggal tidak jauh dari rumah mertuanya.

Setelah menandatangani surat-surat yang disodorkan oleh Tedja Samudera, sertifikat atas nama Kasri-Urip berpindah dari KSP Bi-na Raharja ke tangan Tedja Samudera sebagai agunan. Tentu saja, yang menandatangani surat-surat tersebut adalah pasangan Urip dan Kasri karena sertifikat atas nama mereka berdua.

Menurut pengakuan Siti Suyatin, berkas yang ditandatangani mertua-nya itu adalah perjanjian dengan Tedja Samudera yang menerangkan besarnya pinjaman plus bunga sebesar Rp 104 juta (awal pinjaman 50 juta), dan jatuh tempo setelah 7 bulan sejak tandatangan.

Setelah 7 bulan, saat jatuh tempo Suyatin belum bisa melunasi, Tedja Samudera memberi tempo tambahan dua bulan.

“Setelah itu rumah disuruh untuk dikosongkan,” ucap Suyatin dengan nada gundah.

Usut punya usut, ternyata kepemilikan sertifikat sudah berubah menjadi atas nama Tedja Samudera.

Melihat sertifikat rumahnya sudah berubah kepemilikannya, pasangan sepuh dan lugu ini langsung shoc seketika.

Wartawan belum berhasil menemui Tedja Samudera yang kabarnya pernah aktif bekerja di kantor BPN itu. Rumah di Jl. Ki Soreng Lr. A1 ketika dikunjungi wartawan dalam keadaan terkunci. Penghuni kost mengatakan, tuan rumahnya sudah dua hari tidak pulang. (*)

Didukung para Lawyer, KAWAL Pati Siap Menjadi Induk Organisasi Wartawan, Aktifis, dan LSM

0

PATI. – Bertempat di kediaman advokad senior, Utuh Nugroho Tri Antoro, SH MH, Rabu (26/05/21) lalu digelar pertemuan sebagai tindak lanjut pernyataan praktisi hukum dari LBH BIMA SAKTI dalam aksi Komunitas Aktifis Wartawan dan LSM Pati (KAWAL Pati) di kantor Kejari Pati, beberapa waktu lalu.

Pertemuan dengan tujuan untuk menyatukan visi misi menjadikan Pati yang lebih baik itu dihadiri pengacara, aktifis, LSM, dan wartawan lintas media.

Kepada wartawan, Advocad Bima Agus menyatakan, bahwa kegiatan ini lahir murni dari rasa keprihatinan para aktifis dalam mensikapi pernyataan Kajari Pati yang tidak mencerminkan sebagai publik figur.

“Sebagai penjabat publik, Kajari Pati harusnya bisa menciptakan suasana kondusif, bukannya malah membuat kegaduhan,” ujar Bima Agus.

Hasil pertemuan, intinya para advokad mendukung sepenuhnya langkah yang akan ditempuh oleh komunitas KAWAL yang akan menempuh proses hukum.

Dalam pemaparannya, Bima Agus menyatakan akan memberikan suport dalam hal bantuan hukum kepada para aktifis dan pegiat media.

“Kita dukung aksi Anda yang sangat luar biasa. Tanpa ada perencanaan, LSM dan wartawan bersatu secara spontanitas menggeruduk kantor kejaksaan. Tetapi memang itulah karakter orang Pati, yang penting maju duluan urusan belakangan,” ujarnya.

“Kedepan kita lakukan lebih profesional lagi, kita kaji dulu dari sisi hukumnya,“ tambahnya.

Sebagaimana diketahui, ada 4 pengacara yang membantu terbentuknya organisasi KAWAL termasuk Lawyer Riyanta dan Bagus.

Dalam pertemuan itu dari Komunitas Aktifis, Wartawan, Advocad dan LSM menyetujui usulan ketua KAWAL, Cahaya Basuki untuk memasukkan para advokad yang hadir ke dalam kepengurusan KAWAL.

“Kini organisasi KAWAL Pati terasa sudah lengkap karena didukung dari berbagai praktisi yang berkaitan dengan layanan publik,” ujar Cahaya Basuki yang akrab dipanggil Yayak Gundul itu.

Sementara itu Advocad Utuh Tri Antoro menegaskan akan memberikan suport penuh termasuk tenaga, pikiran, dan biaya. Tapi biaya yang sedikit,” kelakar pria yang akrab disapa Mbah Utuh itu.

Memang, Mbah Utuh dikenal sebagai lawyer yang loyal dan totalitas dalam urusan membantu kegiatan yang sifatnya gebrakan membedah ketimpangan dan ketidak adilan.

Pria yang sejak tahun 1998 menahkodai LSM GAPURA itu telah banyak melakukan aksi kemanusiaan.

”Saya rindu dengan aksi seperti ini, maka saya suport betul jangan sampai berhenti begitu saja. Karena di akhirat nanti kita akan ditanya, kamu saya kasih titel saya kasih kepandaian tetapi ada ketimpangan sosial kok kamu biarkan itu bagaimana,” tandas Mbah Utuh.

Mbah utuh berharap, organisasi KAWAL Pati bisa menjadi wadah yang kuat, menjadi induk organisasi serjenis dari organisasi profesi tersebut. “Bukannya untuk mengkotak-kotakkan antar aktifis,” tukasnya. (*)

KAMI: Dalih Luhut Bela TKA China Sumir, Manipulatif, Dan Menyakitkan

0

JAKARTA. – Mayoritas tenaga kerja asing (TKA) China yang dipekerjakan di tanah air bukan tenaga terampil sesuai aturan pemerintah. Mereka yang mayoritas hanya lulusan SD, SMP dan SMA, serta bukan tenaga terampil hanya pekerja kasar.

Begitu disampaikan para aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) saat berkunjung ke Komisi IX DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/5/21).

Rombongan KAMI yang hadir antara lain Marwan Batubara, Adhie Massardi, Said Didu, MS Kaban, Gde Siriana, Radhar Tribaskoro, dan Sadun. Mereka diterima dengan baik oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Lakalena dan anggota Komisi IX seperti Sri Meliyana, Krisdayanti, Netty Aher, dan Mesakh Mirin.

“Sesuai Permenaker 10/2018, hal ini jelas melanggar aturan dan merampok hak tenaga kerja pribumi,” kata Marwan Batubara.

Marwan mengurai, pada kasus smelter Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), mengacu kepada rekrutmen karyawan September 2020 dipekerjakan sekitar 2 ribu TKA lulusan SD 8 persen, SMP 39 persen, dan SMA 44 persen.

Lulusan D3/S1 hanya 2 persen dan berlisensi khusus 7 persen. Kondisi lebih parah terjadi pada perusahaan smelter Obsidian Stainless Steel (OSS) yang mempekerjakan TKA lulusan SD 23 persen, SMP 31 persen dan SMA 25 persen. Lulusan D3/S1 17 persen dan TKA berlisensi khusus 4 persen.

“Jika disortir berdasarkan pengalaman kerjanya, hanya 1 dari 608 orang (0,1 persen) TKA PT. VDNI dan 23 dari 1167 orang PT. OSS yang memiliki pengalaman diatas 5 tahun sesuai persyaratan,” urainya.

Marwan pun menyoroti pernyataan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) yang pernah berdalih bahwa TKA China perlu didatangkan karena tenaga kerja lokal tidak memenuhi syarat.

LBP kala itu mengatakan bahwa banyak orang di daerah-daerah penghasil mineral di Indonesia pendidikannya tidak ada yang bagus.

“Jadi kalau ada banyak yang berteriak tidak pakai (tenaga kerja) kita, lah penduduk lokalnya saja pendidikannya enggak ada yang bagus. Misalnya saja matematika rendah,” tutur Marwan menirukan ucapan Luhut yang disampaikan pada 15 September 2020.

“Dalih LBP yang membela perusahaan China yang didukung oligarki di atas sangat sumir, manipulatif sekaligus menyakitkan,” tegasnya.

Menurut Marwan, tenaga lokal lulusan SMA, D3 dan S1 tersedia melimpah di Sulawesi dan Jawa. Apalagi jika sekadar lulusan SD, SMP dan SMA. Apalagi faktanya VDNI mempekerjakan TKA lulusan SD 8 persen, SMP 39 persen dan SMA 44 persen.

“Sedang di OSS, TKA lulusan SD mencapai 23 persen dan SMP 31 persen. Inilah salah satu bentuk perlindungan pejabat negara kepada perusahaan asing China, sekaligus fakta perendahan martabat dan kemampuan bangsa sendiri,” tutupnya. (*)

Gaji TKA China Menghina Rakyat Indonesia

0

JAKARTA. – Kehadiran tenaga kerja asing (TKA) China di tanah air tidak menimbulkan rasa ketidakadilan dari segi keterampilan, tapi juga dari pendapatan.

Ketidakadilan itu diurai langsung para aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) saat berkunjung ke Komisi IX DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/5/21).

Rombongan KAMI yang hadir antara lain Marwan Batubara, Adhie Massardi, Said Didu, MS Kaban, Gde Siriana, Radhar Tribaskoro, dan Sadun. Mereka diterima dengan baik oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Lakalena dan anggota Komisi IX seperti Sri Meliyana, Krisdayanti, Netty Aher, dan Mesakh Mirin.

Dijelaskan Marwan Batubara, meskipun bekerja di Indonesia, gaji TKA China lebih besar signifikan dibanding gaji pekerja pribumi.

“Hal ini mengusik rasa keadilan, sekaligus menghina rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dia mengambil contoh pada smelter Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), persebaran gaji bulanan sekitar 27 persen TKA menerima Rp 15 juta hingga Rp 20 juta; 47 persen menerima Rp 21 juta hingga Rp 25 juta; 16 persen menerima Rp 26 juta hingga Rp 30 juta; 5 persen menerima Rp 31 juta hingga Rp 35 juta, dan 4 persen menerima 36 juta hingga Rp 40 juta.

“Hal hampir sama terjadi pada smelter OSS. Mayoritas TKA lulusan SD, SMP dan SMA. Namun memperoleh gaji besar dengan sebaran antara Rp 15 juta hingga Rp 35 juta,” ujarnya.

Untuk jenis pekerjaan yang sama, sambung Marwan, gaji TKA China ini jauh di atas gaji pekerja pribumi lulusan SD hingga SMA yang hanya berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta, sudah termasuk lembur.

“Nasib pekerja lokal dan nasional di smelter-smelter milik China dan konglomerat oligarkis memang tragis. Sudahlah kesempatan kerjanya dibatasi atau dirampok TKA China, gajinya pun umumnya super rendah dibanding gaji TKA China! Kita terjajah di negeri sendiri,” demikian Marwan Batubara. (*)

Kades Gembong Terpilih, Sukardi Ajak Seluruh Komponen Desa untuk Bersinergi

0

PATI. – Bertempat di Aula Balai Desa Gembong Kecamatan Gembong Kabupaten Pati, Rabu (27/05/2021) lalu dilaksanakan serah terima jabatan dari Pj. Kepala Desa Gembong, Teguh Budi Yuwana SH MH kepada Kepala Desa Gembong terpilih, Sukardi, yang telah dilantik oleh Bupati Pati pada 22 Mei 2021.

Acara sertijab Kades Gembong dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat, dan dihadiri oleh Forkompimcam Kecamatan Gembong yakni Camat Gembong, Danramil dan Kapolsek Gembong. Juga tampak hadir, ketua / anggota lembaga desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat selaku undangan.

Camat Gembong, Cipto Manggun Oneng SH dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh masyarakat Desa Gembong yang telah sukses menyelenggarakan Pilkades dengan aman, tertib dan kondusif.

Camat Gembong juga mengucapkan selamat kepada Kades terpilih, semoga kedepannya dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja Kades periode sebelumnya.

“Saya pesan kepada kepala desa terpilih agar bisa mewujudkan visi misinya. Juga, harus berkoordinasi dengan perangkat desa guna terciptanya pemerintahan desa yang lebih maju dan lebih baikk, serta pengelolaan dana desa yang transparan dan tepat sasaran,” kata Camat Gembong.

Sementara itu Kades Gembong terpilih, Sukardi dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukurnya dengan mengucapkan terimakasih kepada semua pihak dan kepada warga masyarakat desa yang telah mengantarkannya untuk memimpin di Desa Gembong.

“Kepada seluruh komponen desa, mari kita bersinergi dalam mewujudkan kemajuan desa. Kita galakkan kembali semangat bersama guna mensukseskan pembangunan dan pemberdayaan yang ada di Desa Gembong ini,” ujar Sukardi. (*)