BLORA, – Gurat sedih tampak dari wajah salah satu peserta tes Perangkat Desa (Perades) Blora, Ami’ul Hasanah beserta kedua orang tua-nya, yang pada Senin (31/1) lalu datang tanpa diundang dalam pelantikan Perades se-Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.
Awalnya Ami’ul Hasanah sempat bahagia, ketika melihat pengumuman di balai desanya, bahwa namanya menempati skor teratas dalam seleksi Kepala Dusun (Kadus). Namun rasa bahagia itu tidak berlangsung lama, sebab selang 3 hari pengumuman tersebut diubah. Posisi teratas sudah digantikan oleh peserta lain bernama Wanto, yang sebelumnya berada di urutan 3.
Pelengseran sepihak membuat Ami terpukul dan kecewa karena panitia atau Kades tidak membe-rikan surat maupun undangan terkait hal tersebut.
“Kabarnya Wanto bikin pengaduan terkait SK pengabdian sebagai operator, pasca pengumuman di balai desa sebelum pelantikan, sehingga skornya bertambah dan menyalip skor saya,” ucap Ami, Senin (31/1) lalu.
Menurut Ami, kabarnya SK Pengabdian tersebut diajukan ke Camat, selanjutnya disetujui oleh Dinas Pemberdayaan Masyara-kat (PMD) selaku pembina selek si Perades.
Ami sempat protes ke Agus selaku panitia desa, dijawab bahwa panitia sudah menyerahkan tanggungjawab kepada Kades sejak skor peserta seleksi diumumkan di balai desa tanggal 25 Januari. Namun ketika ada perubahan tanggal 28, panitia mengaku sudah lepas tanggung jawab dan diserahkan kepada Kades.
Sementara itu, usai pelantikan Perades Talokwohnojo di Kantor Kecamatan Ngawen, baik Wanto maupun Kades langsung kabur dari lokasi menghindari awak media. (*)
Mensikapi polemik antar pejabat di tingkat Forkompincam di Kecamatan Ngawen terkait carut-marutnya proses seleksi Perades, Mokhamad Fadoli dari Forum Komunikasi (Forkom) Masyarakat Blora selain mengaku prihatin juga sempat menaruh curiga.
“Pernyataan Kapolsek serta Danramil yang frontal juga serampangan dan cenderung tendensius itu menyalahi etika aparatur negara. Saya akhirnya curiga, karena itu saya juga akan menelusuri, ada muatan dibalik pernyataan tersebut,” ujar Fadoli ketika ditemui wartawan, Jumat (4/2) lalu.
Tim Forkom yang mengaku juga turut mengikuti kegiatan monitoring dalam kegiatan Tes Computer Assisted Test (CAT) di UDINUS Semarang menegaskan, bahwa Kapolsek Ngawen bersama Danramil hadir di lokasi tes tapi hanya sebentar lalu pergi meninggalkan lokasi.
“Dari hasil investigasi, beliau berdua di Semarang bersama keluarganya. Dan sampai akhir acara penyerahan BAP, Kapolsek serta Danramil tidak kembali ke lokasi test,” tambahnya.
Padahal, lanjut Fadoli, dalam peraturan bupati sudah cukup jelas bahwa Camat, Kapolsek, serta Danramil dalam proses seleksi perangkat desa bertindak sebagai pengawas yang bertugas mengawasi tahapan pelaksanaan pengangkatan perangkat desa.
“Kalau pada acara penyerahan BAP tidak hadir, itu artinya Kapolsek dan Danramil telah melalaikan tugasnya. Padahal sudah berada di Semarang dan paginya datang ke lokasi test,” ujar Fadoli heran. (*)
“Dalam foto dokumentasi sidang pleno Perades di kantor PMD Blora terlihat jelas Kapolsek Ngawen hadir. Lalu, apa maksudnya di luaran dia membuat statemen bahwa tidak pernah diikutkan dalam proses pengawasan Perades?,” ujar Mokhamad Fadoli, ketua bidang ekonomi Forkom Blora.
Sengkarut seleksi Perades di Kabupaten Blora yang cukup meresahkan rakyat, menjadikan pejabatnya saling curiga, dan bahkan saling lempar tanggung jawab. Hal itu seperti disampaikan Mokhamad Fandoli dari lembaga Forkom Blora, Rabu (2/2) lalu.
Protes yang disampaikan peserta seleksi Perades bernama Ami’ul Hasanah, warga Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen yang dapat nilai tertinggi tapi gagal jadi kepala dusun, mendapat tanggapan berbeda dari petugas pengawas di tingkat kecamatan.
Kapolsek Ngawen dan Danramil ketika ditemui awak media terkesan cuci tangan, keduanya sepakat tidak tahu menahu dan mengaku tidak dilibatkan. “Pak Camat tidak ada komunikasi tentang hal ini, ya kita tidak tahu,” ujar Kapolsek Ngawen Iptu Sugiman.
Pernyataan Kapolsek Ngawen itu mendapat klarifikasi dari Camat Ngawen Supriyono yang menyata-kan, bahwa Danramil dan Kapolsek Ngawen juga hadir dalam pelaksanaan Tes Computer Assisted Test (CAT) seleksi pengisian perangkat desa (Perades) di Semarang.
“Ini bukti chat via wa dengan Kapolsek dan Danramil waktu proses CAT di Semarang,” ujar Supriyono sambil menunjukkan bukti Chat di HP-nya.
Kepada wartawan, Camat Supriyono juga membantah ucapan Ami’ul yang katanya diundang ke kecamatan. “Itu juga tidak benar, Mas. Yang bersangkutan memang dipersilahkan oleh Pak Kades kalau mau menghadap Camat,” tambahnya.
Supriyono mengaku mendapat info dari Kades Talok, bahwa Ami mau menghadap ke Camat untuk menanyakan perihal terbitnya rekomendasi dari Dinas PMD Blora yang berujung mendongkrak posisi Wanto ke nomor urut 1 dan melengserkan posisi Ami ke nomor urut 2.
Dihubungi terpisah Kades Talokwohmojo membenarkan, bahwa dia yang menyarankan Ami’ul datang ke kecamatan untuk minta penjelasan terkait rekomendasi PMD. “Lalu, saya juga ngabari Pak Camat lewat WA kalo saudara Ami’ul mau menghadap,” tandasnya. (*)
Bertempat di Rumah Makan Ayam Geprek “Sako”, Jl. Raya Blora – Purwodadi, Senin (31/01/2022) berlangsung pelatihan jurnalistik yang disampaikan langsung oleh Pemimpin Redaksi Koran Diva, Abas A. Darsono.
Diklat Jurnalistik dengan tema “Trik Menulis & Cara Menjual Berita” pada hari itu diikuti puluhan peserta yang berasal dari Blora, Ngawen, Kunduran, Japah, dan Todanan.
Selama kurang lebih dua jam, Abas yang jebolan Jawa Pos Surabaya itu mampu membuka mata para peserta untuk melihat besarnya peluang untuk mendulang rupiah dari kegiatan menulis berita.
“Di era digital karya tulis tidak terbatas ditawarkan ke media cetak, melainkan bisa dijual ke media on line yang jumlahnya ratusan,” ujar pria yang akrab disapa Kang Abas itu.
Gunawan Umardani, salah satu peserta pelatihan mengaku sudah pernah mengikuti pelatihan jurnalistik di Jakarta. “Di sini saya ingin sharing dengan Kang Abas untuk belajar menulis berita pariwara atau berita berbayar,” ujar pria asal Nglobo Kecamatan Jiken itu.
Di akhir sesi, Kang Abas memberikan tawaran dan kesempatan kepada peserta pelatihan untuk mulai belajar menulis di media on line milik PT. Diva Patra Media, yaitu www.korandiva.co.
“Belajar menulis yang ringan-ringan aja dulu di koran online. Nanti kalau nulisnya sudah bagus bisa dimuat di koran cetak,” pesan Abas. (*)
Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Jepon Kabupaten Blora, Sabtu (29/1/2022) menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Primkoptama Subur Tahun buku 2021 masa Bhakti Pengurus 2019-2021.
Ketua PWRI Kecamatan Jepon Rajiman Santarko menjelaskan, dalam kegiatan RAT tersebut agenda utamanya adalah pemilihan pengurus masa Bhakti 2022-2024.
“Kami menyampaikan ucapan trima kasih kepada pengurus koperasi yang lama atas kinerjanya yang mampu mewujudkan Primkoptama Subur mendapat predikat Koperasi Cukup Sehat,” ucap Rajiman Santarko, yang pernah menjabat Camat Tunjungan itu.
Dikatakannya, kiprah para pengurus juga telah dirasakan manfaatnya oleh para anggota koperasi. Salah satunya walau di masa pandemi dan sulit telah mampu mengajak wisata rekreasi di tempat wisata ke Semarang.
Untuk para pengurus yang baru, lanjut Rajiman, nanti akan dilakukan pelantikan serta diharapkan dapat melakukan tugas lebih baik dan mewujudkan prestasi yang lebih cemerlang dari pengurus sebelumnya.
Sementara Camat Jepon yang diwakili oleh Sekcam Ngaspin memberi apresiasi positif terhadap kinerja pengurus lama Primkoptama Subur dan sangat berharap dalam pengurus yang baru nanti dapat mewujudkan para anggota koperasi makin sejahtera.
Ketua PWRI Blora Bambang Sulistya menyampaikan ucapan trimakasih kepada Ketua PWRI Jepon yang telah mampu membina pengurus Primkoptama menjadi Koperasi Sehat dan hari ini mampu mewujudkan RAT.
“Demikian pula saya mengucapkan trimakasih atas pengabdian dan perjuangan para pengurus lama Primkoptama Subur,” ucapnya.
Khusus untuk para calon pengurus baru yang nanti akan dilantik, mantan Sekda Blora itu menitipkan pesan agar dalam melaksanakan tugas dapat mengaplikasikan jurus ABCD, yaitu pengurus yang (A) amanah, (B) bersih, (C) cerdas dan memiliki (D) dedikasi yang tinggi untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan para anggota Koperasi yang terdiri dari para pejuang Pembangunan alias para Purna Tugas ASN.
“Kemudian dalam menghadapi realita kehidupan saat ini telah merebak berita tentang berkembangnya virus corona varian baru Omicron, saya minta kepada seluruh anggota dan pengurus PWRI Kecamatan Jepon tidak perlu resah, gelisah apalagi takut tentang datangnya varian baru,” tuturnya.
Sampai saat ini, kata Bambang, di wilayah Kabupaten Blora sudah masuk level satu dalam PPKM dan juga belum ada indikasi virus Omicron masuk di Kota Sate.
Untuk itu diharapkan agar tetap waspada dan selalu beriktiar untuk melaksanakan juga jurus penyelamatan yang terakomodasi dalam Akronim ABCD.
Yaitu, (A) Aktif setiap saat dimanapun kita berada untuk pandai bersyukur atas kenyataan yang kita hadapi, apa yang kita miliki dan capaian aktivitas yang kita wujudkan, karena dengan bersyukur hati menjadi tenang dan imunitas diri makin mantab dan meningkat.
(B) Budayakan berfikir positif dalam kehidupan sehari hari bahwa penyakit corona bisa disembuhkan dengan melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat.
“Stop budaya ngrumpi apalagi menebar berita hoaks yang akan menimbulkan keresahan dan ketakutan di masyarakat,” ucapnya.
Kemudian, (C) Cepat mengambil sikap untuk segera mengikuti vaksinasi tahap ketiga atau vaksin Booster dan secara ikhlas ikut menggerakan para kelompok lanjut usia kalau di Blora sebutannya keren (kelompok retan) yang sampai saat ini masih takut dan belum mengikuti vaksinasi agar mau melaksanakan vaksinasi. Dengan vaksinasi tubuh makin sehat dan imunitas makin maningkat.
Berikutnya, (D) Diyakini, bahwa hanya Allah yang mampu menyelamatkan dan melindungi kita semua.
“Untuk itu mari tingkatkan kwalitas ibadah kita terutama untuk bersedekah kepada kaum duafa,” ujarnya.
Dalam pembukaan acara RAT tersebut hadir pula dari unsur Forkompimcam Jepon dan utusan Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Blora. (*).
BLORA.-Setelah ada 2 warganya yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (BDB), di wilayah Kelurahan Randublatung, tepatnya di RT.04 RW.02, Rabu (26/01/2022) dilaksanakan kegiatan Fogging. Kegiatan yang melibatkan Babinsa dan Babinkamtib-mas beserta petugas Puskesmas UPTD Randublatung itu dilaksanakan mulai pukul 8.30 Wib.Salah seorang warga, Pardi mengatakan, bahwa satu minggu yang lalu ada dua anak usia 12 tahun yang satu usia 9 tahun terjangkit demam berdarah.“Menurut keterangan dari orang tua anak yang usia 12 tahun, diwaktu malam panas badannya tinggi sampai 39, terus dibawa ke Puskesmas. Hasil diagnossa dr.Fajar Barnani dinyatakan positif DB,” ujar warga tersebut.Sementara anak yang berusia 9 tahun juga sampai dirawat di RSU Cepu. Dan, sekarang kedua anak terse-but sudah sembuh.Disela sela kesibukan fogging, kepala kelurahan setempat, Nunik Aryawati SE.MM. manghimbau kapada semua warga Kelurahan Randublatung agar selalu berhati hati mengawasi putra putrinya dan waspada terhadap penyakit BDB.“Apalagi saat ini musimnya musim pancaroba, jangan sampai lengah untuk menjaga anak-anaknya terutama anak usia dibawah 12 tahun,” pesannya.Di waktu yang sama Babinsa Kelurahan Randubla-tung Serda Bunowo saat ditemui awak media mengata-kan sangat mendukung bersama kegiatan fogging pada hari itu. “Tapi jangan lupa, masyarakat harus tetap melaksanakan 3M, Menguras-Menutup-Mengubur,” katanya. (*).
Cuaca Blora yang cerah sikap optimis untuk maju dalam kehidupan spiritual harus tetap dimiliki agar bisa menjalani dan menikmati Tahun 2022 yang bernuansa omicron.
Caranya adalah, dengan menciptakan kebiasaan-kebiasan positif seperti halnya rajin bersilahturahmi disertai niat baik dalam setiap melangkah.
Ungkapan itu disampaikan Bambang Sulistya, Ketua PWRI Kabupaten Blora yang juga mantan Sekda Blora, Minggu (23/1/2022), ketika berkesempatan silaturahmi bersama tokoh andalan petani Blora, Anton Sudibdyo.
“Sabtu (22/1/2022), saya berkesempatan bersilahturahmi dengan seorang tokoh andalan petani Blora yang sering disebut Kyai Lemhanas. Yaitu Anton Sudibdyo yang berdomisili Desa Japah Kecamatan Japah,” ucapnya.
Anton Sudibyo yang mantan anggota DPRD Blora, menurut Bambang merupakan satu-satunya petani Blora yang pernah mengikuti pelatihan khusus di Lemhanas.
Anton yang sekarang mengelola lahan tebu seluas 50 hektar, dikenal sebagai petani penyangga dan petani jangkar di Pabrik Gula PT Gendis Multi Manis (GMM) Bulog Kabupaten Blora, pabrik gula moderen yang ada di Jawa Tengah.
Selain bertani tebu, Anton juga menanam lombok, padi, porang, dan talas yang sekarang lagi ngetren karena daunnya menjadi bahan utama rokok herbal.
“Sebagai Kyai Lemhanas Bapak Anton memiliki pemikiran cerdas, bahwa ke depan petani tidak boleh lagi terjangkit penyakit musiman,” tuturnya.
Maksudnya, selama ini setiap musim tanam tiba petani selalu dihadapkan pada penyakit berupa harga pupuk unorganik mahal dan terkadang masih terjadi kelangkaan. Harga benih naik dan harga pestisida tak terjangkau.
“Kedepan, petani harus bebas dari penyakit tersebut, sehingga harus ada upaya yang mampu menumbuhkan sebuah Gerakan Petani Mandiri (GPM) yang siap berdikari. Yaitu, berdiri di atas kaki sendiri untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi usaha tani,” jelas Bambang.
Sementara itu Anton Sudibyo mengajak kepada seluruh petani di Bumi Nusantara, khususnya para petani di Bumi Samin Blora untuk segera beralih dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian organik yang tidak lagi tiap tahun dihantui oleh harga pupuk yang makin mahal, bahkan terkadang masih sulit didapat.
Disamping itu dengan sistem pertanian organik mampu menghasilkan produk hasil pertanian yang berkualitas, tentu dengan harga yang menguntungkan bagi petani sehingga dapat berkontribusi positif bagi peningkatan Kesejahteraan petani.
“Dengan penerapan pola pertanian organik akan terjaga keseimbangan ekosistem menjadi lebih baik dan melestarikan kesuburan tanah,” kata Anton.
Bahkan dengan beralihnya ke pertanian organik juga ikut mendukung kebijakan pemerintah tentang subsidi pupuk.
Diungkapkan oleh Anton, dengan beralih ke pertanian organik petani memiliki peluang usaha untuk mencapai kemandirian dalam hal membuat sarana produksi pertanian baik berupa pupuk dan pestisida organik dengan menggunakan bahan bahan yang sudah tersedia di lingkungan petani.
Untuk membuktikan ide cemerlangnya itu Anton saat ini sudah merintis pembuatan kompos cacing tanah atau yang sering terkenal dengan nama casting di laboratorium pekarangan rumahnya.
DIjelaskan oleh Anton, bahwa pembuatan kompos cacing tanah menggunakan bahan dari kotoran hewan, blotong limbah produksi pabrik gula, gedebok pisang, bekatul, dolomit dan dua jenis formula super.
Untuk menambah referensi berkaitan bahan kompos dapat menggunakan sisa sayuran dan dedanunan atau limbah organik lainya.
Kemudian jenis cacing yang digunakan pengomposan adalah lumbricus rubellus yang dibeli dari Malang lewat komunitas pembudidayaan cacing dengan harga Rp 75.000 per kg.
Selain menggunakan cacing juga bisa memanfaatkan bahan eisenia foetida dan pheretima asiatica.
“Mengapa menggunakan cacing dalam pengomposan. Karena cacing tanah dapat mempercepat proses pengomposan dengan mengurai bahan organik terlebih dahulu sebelum diurai oleh mikro organisme lainnya,” tuturnya.
Sehingga dalam proses pengomposan ini ada kerja sama antara cacing tanah dan mikro organisme. Hasil dari proses vermikomposting ini berupa Casting yang merupakan kotoran cacing berguna untuk pupuk organik.
Kandungan Casting mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman seperti netrogin, phospor, mineral dan vitamin.
“Karena mengandung unsur yang lengkap,apalagi kalau nilainya C/N kurang dari 20 maka Casting dapat digunakan sebagai pupuk masa depan yang ramah dengan lingkungan,” ungkapnya.
Disamping itu cacing sendiri juga bisa memberi nilai tambah bagi peningkatan pendapat bagi petani. Karena bisa dijual sebagai bibit cacing juga dapat dijual untuk konsumsi makanan ikan yang kaya akan protein.
Anton juga sudah memanfaat hasil karyanya untuk tanaman talas bening, tanaman porang, alpukat, durian, anggur, klengkeng dan tanaman pisang cavendis dengan hasil yang menunjukkan penampilan vegetatif yang menggembirakan.
Dirinya terus mengenalkan dan mempromosikan karya pupuk masa depan kepada para petani di sekitarnya agar mau beralih ke budaya pertanian organik.
Bahkan Anton kerap menghadirkan para ahli/pakar/dosen di bidang pertanian agar ada teknologi terapan yang bisa mendukung penerapan budidaya pertanian organik yang cepat diadopsi oleh para petani.
Cepat atau lambat bahwa kalau melihat kondisi perubahan yang begitu cepat dan komplek saat ini khususnya di bidang pertanian, maka menumbuhkan Gerakan Petani Mandiri adalah sebuah keniscayaan dan harus dimulai saat ini mumpung peluang masih terbuka luas.
Semoga Anton Sudibdyo memberi sentuhan rohani dan mampu menggerakan hati kepada siapapun yang peduli kepada para petani untuk sesarengan mbangun Pertanian dengan sistem organik.
Penyebaran luasan pupuk Casting juga dipublikasikan melaluhi siaran langsung Radio Suara Tani di Blora. (*).
Tewasnya enam warga usai pesta miras di Pasar Cepu pada Minggu (16/01/2022) pekan lalu mendapat banyak sorotan, salah satunya dari Camat Cepu Bambang Soegiyatno.
Bambang menyesalkan terjadinya kasus ini. Apalagi setiap malam Minggu pihaknya rutin melakukan operasi miras.
Bambang mengaku, ini musibah. Untuk itu, perlu ada edukasi menyeluruh terkait penyakit (pekat) masyarakat ini.
“Sampai dengan saat ini masih banyak minuman keras yang beredar di masyarakat,” ujarnya.
Sebenarnya, di Kecamatan Cepu kegiatan penertiban pekat sudah sering dilakukan. Baik oleh dari Satpol PP atau aparat penegak hukum lain.
“Namun, untuk menumbuhkan kesadaran ma-syarakat, memang perlu waktu,” katanya.
“Kebanyakan yang terciduk dalam operasi pekat itu warga luar Blora dan mereka masih remaja,” imbuhnya.
Mugianto, salah satu tokoh masyarakat Cepu mengatakan, perlu ada tindak-lanjut dari pihak terkait. Dia sangat prihatin dengan situasi seperti ini. “Kami berharap aparat proaktif melakukan tindakan,” harapnya.
Sebenarnya, Pemkab Blora sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2017 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Salah satu isinya penjualan minuman beralkohol untuk diminum langsung di tempat hanya dapat dijual di hotel, restoran, dan bar.
Anggota DPRD Blora Santoso Budi Susetyo mengaku prihatin dengan kejadian ini. Bisa jadi kasus serupa merupakan gunung es. Yang tidak terekspos lebih banyak.
”Sebenarnya dalam perda sudah jelas diatur dan dibatasi sangat ketat,” terangnya.
Menurutnya, pemkab harus lebih ketat lagi dalam penegakan perda tentang minuman beralkohol.
”Insya Allah kami akan segera koordinasi dengan Satpol PP untuk evaluasi penegakan perda,” ujarnya. (*)
Segerombolan orang diduga melakukan minum minuman keras di Pasar Plaza Cepu, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Minggu siang (16/01/2022). Diduga, minuman jenis arak tersebut mengakibatkan tewasnya enam orang dalam beberapa hari berselang.
Kapolsek Cepu, AKP Agus Budiyana mengungkapkan keenam korban tersebut adalah Dwi Pramono alias Robot (39), Agus alias Singo (50), Diva (28), Puguh Yuwono (60), Ega (28), dan Teguh (43).
“Dwi meninggal pada hari Senin sore (17/1). Agus, Puguh dan Ega meninggal, Selasa (18/1) lalu. Sementara Teguh Wiyono meninggal dunia pada Kamis sore (20/01/2022),” ungkapnya.
Beberapa saksi membenarkan, bahwa para korban menenggak minuman jenis arak pada hari Minggu itu. Awalnya 2 botol Aqua tanggung (600ml) dan 1 Botol Aqua besar.
“Pada hari Senin tanggal 17 Januari 2022 sekitar pukul 12.00, setelah takziah dan mengikuti pemakaman Dwi Pramono, beberapa orang kembali minum arak di Pasar Plaza sebanyak 3 botol aqua besar,” ucap saksi Gunadi (40).
“Itu mereka minum oplosan, Mas. Ada yang ngomong dioplos dengan autan ada yang bilang pakai handsainitizer. Kemarin juga ada yang kejang-kejang di lokasi tempat mabuk setelah takziah di rumah Dwi. Jadi efeknya tidak bareng,” terang saksi lainnya, Mita.
Sementara itu Kepolisian Resort (Polres) Blora masih menunggu hasil autopsi jenazah Teguh Wiyono (43), korban me-ninggal dunia yang diduga akibat menenggak minuman keras jenis arak tradisional, di plaza Cepu.
Pria yang sehari-harinya berkerja sebagaii tukang parkir di Plasa Cepu tersebut, diautopsi di Rumah Sakit Umun Dokter Raden Soeprapto Cepu, Kamis sore (20/01/2022).
Menurut Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Setiyanto, proses autopsi korban berlangsung selama dua jam. Namun demikian, pihaknya belum bisa mengungkapkan penyebab kematian korban.
“Hasil autopsi baru bisa diketahuii minimal seminggu,” kata Setyanto, saat ditemuii wartawan di Mapolsek Cepu, Kamis sore (20/01/2022).
“Selesai diotopsi korban langsung dimakamkan,” ujarnya
Diketahui, Teguh Wiyono (43), warga Rt 2 Rw 7 Cepu Kidul Kelurahan Cepu, Blora meninggal dunia di rumahnya, pada Kamis (20/1) lalu, sekira pukul 07.00 wib.
Sementara itu Kapolsek Cepu, AKP Agus Budiyana mengatakan, bahwa otopsi ini atas persetujuan dari pihak keluarga korban. (*)
Total korban tewas usai berpesta miras di Plaza Cepu, Blora menjadi enam orang pada Kamis (20/01/2022). Polisi pun mengusut kasus tewasnya para peserta pesta miras tersebut.
“Tentunya yang perlu dilakukan saat ini adalah memastikan penyebab kematian para korban. Apakah murni karena miras atau karena ada penyakit bawaan. Ini yang sedang didalami,” kata Kasat Reskrim Polres Blora AKP Setiyanto.
Setiyanto menyebut pihaknya telah melakukan olah TKP dan mengamankan beberapa barang bukti untuk uji laboratorium. Dia menyebut total ada 14 orang yang mengikuti pesta miras berujung maut tersebut.
“Awalnya ada 14 orang yang mengikuti acara pesta miras. Dalam kesehariannya mereka terbiasa melakukan acara minum miras di TKP atau di kompleks Pasar Plaza Cepu tersebut,” katanya.
Setiyanto mengatakan enam orang peserta miras itu meninggal tidak dalam waktu yang bersamaan. Meski begitu, pihaknya akan mengusut penyebab pasti kematian para korban.
“Ada yang meninggal saat dilakukan perawatan oleh tim medis,” ungkapnya. (*)