Tahun Politik Sekarang Mirip Indonesia Zaman Kalabendu

.-

Tahun 2024 diprediksi merupakan tahun penuh harapan, keberuntungan dan tantangan. Hal itu disampaikan para winasis dalam kegiatan rapat internal pengurus (Persatuan Republik Indonesia) , di ruang pertemuan PWRI, Selasa (9/1/2024).

Apalagi saat ini suhu sudah membara dampak dari hasil debat /cawapres ketiga yang penuh dengan dagelan beretika, menjadikan Negeri Katulistiwa ini sontak dipenuhi polusi suara hoaks dengan aneka ragam nada sesuai aliran yang diikuti.

Ketua pada kesempatan itu menyampaikan pesan sebagai tambahan wawasan dan referensi, serta spirit dalam menghadapi tahun shio Naga. “Agar tetap dingin walaupun suasana panas,” katanya.

Pesan yang disampaikan mantan Sekda Blora itu diantaranya, kalau dulu ada peribahasa tong kosong nyaring bunyinya memiliki makna orang yang bodoh biasanya banyak ngomongnya atau bualannya.

“Namun saat ini berdasarkan hasil penelitian orang suka ngomong atau ngoceh sangat menyehatkan dan bermanfaat bagi dirinya sendiri,” tuturnya.

Ada tiga manfaat yang diperoleh orang yang suka bicara. Pertama, membuat otak tetap aktif dan meningkatkan daya ingat serta mencegah pikun atau alzheimer.

Kedua, bisa mengurangi stres dan tekanan psikologis serta mencegah serangan stoke. Tentunya dengan catatan bicara tidak menimbulkan emosi apalagi membuat kemarahan. Ingat pitutur jawa yang bijaksana “Lamun siro iso ngomong nanging aja mbrebeki kuping”.

Ketiga, suka berbica juga dapat membuat awet muda karena berbicara itu melatih otot-otot wajah, tenggorokan dan paru-paru.
“Maka sarannya untuk kita semua di saat ini kalau sedang ngobrol berkatalah yang benar, baik, sopan, lemah lembut dan pantas,” ungkapnya.

Selanjutnya situasi saat ini di Indonesia yang berideologi menurut para pengamat spiritual kelangitan suasananya dengan Zaman Kalabendu seperti yang pernah diramalkan oleh Jayabaya dan Raden Ngabehi Rangga Warsita seorang pujangga besar jawa.

Baca Juga:  Peringati Hari Relawan 2022, PMI Blora Serahkan SK Pembentukan PMR Mula Madya Wira

Zaman Kalabendu sebagai ungkapan zaman kegelapan, zaman angkara murka, zaman sengsara, zaman penuh kebencian, zaman gojang gajing dan zaman edan yen ora edan ora kumanan.

Adapun ciri-ciri Zaman Kalabendu dapat terumuskan ke dalam akronim BEJAT bukan dimaksudkan menggambarkan seseorang yang sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi baik akhlaknya, budi pekertinya maupun perilakunya yang sudah menyimpang jauh dari etika kehidupan.

Namun BEJAT di sini mengandung arti sebagai berikut; (B)- Banyak orang berlomba-lomba dalam kerakusan, kesombongan dan kemunafikan.

Bahkan banyak orang yang sudah tidak lagi memiliki tata krama, unggah-ungguh, tidak punya rasa malu dan hatinya sudah terbakar oleh ambisi angkara murka, imannya mudah goyah dan keyakinannya mudah berubah.

Segala ikhtiar untuk meraih sesuatu dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Pola instan dan trasaksional menjadi kebiasaan baru dalam menggapai baik rezeki maupun /kedudukan.
Saat ini sudah menjadi buah bibir bahwa jabatan menjadi komoditas baru yang bisa dijual belikan.

(E)- Emosi sudah menjadi panglima dalam pergaulan hidup sehari hari. Orang mudah bersumbu pendek, gampang gelap mata dan membabi buta.
Kebiasaan bertindak yang tidak menggunakan akal . Perilaku kaduk wani kurang deduga (berani tanpa perhitungan) dan hantam dulu urusan belakang seperti sudah menjadi tren kebiasaan baru.

(J)- Janji sudah menjadi asesoris dalam pergaulan hidup dan sarana untuk promosi diri dalam meraih kepercayaan dan menggapai kemenangan.
Bukan lagi janji sebagai keyakinan sakral yang harus ditepati dan diujudkan. “Sehingga obral janji di tahun politik saat ini sudah menjadi sebuah keniscayaan yang harus dipasarkan di masyarakat,” tegasnya.
Tepat kiranya kalau saat ini syair lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji” yang sangat pada masa tahun 70-an dinyanyikan oleh Bob Tutupoly menjadi kenyataan.
Sepenggal syairnya, Memang lidah tak bertulang, Tak terbekas kata-kata, Tinggi gunung seribu janji, Lain di bibir lain di hati.

Baca Juga:  Melebihi Target, Vaksinasi di Desa Singget - Jati Diikuti 2020 Orang Lebih

(A)- Ada anomali baru saat ini wong cilik wani golek kesalahane karo wong gede, lan wong gede ora iso kanggo tuladha (Orang kecil berani cari kesalahannya dengan para penguasa, dan penguasa tak bisa jadi panutan/teladan).

(T)- Tersebarnya berita hoaks, fitnah, adu domba, provokasi dan pemecah belah persatuan dan kesatuan umat semakin luas dan meningkat. Keadaan tersebut bisa menimbulkan keresahan, kepanikan dan ketakutan di masyarakat.

Itulah sejumlah ciri Zaman Kalabendu yang perlu kita pahami bersama. Untuk mensikapi hal tersebut ada baiknya kita bumikan pitutur bijak “Sak beja bejane sing lali isih beja kang eling lan waspada” (Beruntunglah bagi yang lupa masih beruntung yang ingat dan waspada). Dan “Sak beja bejane wong urip isih beja wong urip sing eling karo sing gawe urip”.
Sehingga secara lugas agar kita tetap eksis di zaman kalabendu adalah iklhas melaksanakan perintah-Nya dan berani meninggalkan larangan-Nya.

Acara kegiatan rapat diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh H.Sudadyo untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Pemurah agar dalam pesta nanti Calon DPD RI Wakil dari Jawa Tengah Ir.H.Bambang Sutrisno MM bisa lolos/menang dalam pemilihan menjadi anggota DPD RI Jateng masa bakti 2024-2029. (*).