Banjir dan Marah

miliaran rupiah yang sudah digelontorkan oleh untuk pengendalian di wilayah pada Tahun 2023 ternyata tak membuat surut banjir di wilayah Cepu dan sekitarnya. Seperti yang terjadi selama dua hari berturut-turut pada tanggal 12 dan 13 Desember lalu, yang membuat 660 rumah warga terendam air dan sebuah jebol.

Padahal tahun ini ada 7 titik pengendali banjir yang sudah dikerjakan proyeknya seperti halnya di Kelurahan Cepu; normalisasi kali dari jembatan Bypass sampai belakang Cepu, normalisasi pengerukan, dan ada beton mulai dari RSU Cepu sampai ke Kebun Kelapa menuju .
Di Kelurahan Karangboyo; wujudnya draimase pasangan batu, di Kelurahan Balun wujudnya normalisasi dan rehab talud drainase yang rusak. Normalisasi dimulai dari sebelah Pom Bensin Cepu.
Di Kelurahan , pengendali banjir berupa drainase pasangan batu yang lokasinya di depan SMP Negeri 1 Cepu. Ditambah lagi adanya drainase di wilayah Ngareng, tepatnya di Sebelah Vyatra. Proyek pengendalian banjir yang lain adalah perbaikan saluran drainase di Sorogo yang dibuat dari beton.
Sementara itu yang menjadi maskot dalam proyek pengendalian banjir di Cepu adalah pembuatan Embung Nglebok yang diharapkan bisa menampung kiriman air besar dari daerah atas sekaligus menahan air agar tidak langsung meng-alir ke Kota Cepu.
Walaupun setiap tahun selalu menjadi langganan banjir, sikap warga Cepu kali ini lebih kecewa karena persoalan banjir tahun ini kabarnya sudah ditangani oleh pemerintah. Masyarakat juga mendengar kabar, bahwa proyek pengendalian banjir di Kelurahan Karangboyo, Cepu, Balun, Tambakromo, dan Ngareng sudah selesai pengerjaannya. Tapi kenapa masih banjir?
Seharusnya semua proyek pemerintah Tahun Anggaran 2023 bisa selesai pada bulan Desember, kontraktor perencana dan pelaksana harusnya juga paham bahwa hujan pasti datang pada setiap Desember, dan mereka harusnya sudah mengantisipasi.
Bentuk kekecewan warga terlihat ketika banjir mulai menggenangi kawasan Ngareng, Cepu. Pada malam itu air sudah memasuki rumah dan toko yang ada di sepanjang jalan raya mulai dari Viyatra hingga Kapur Tulis.
Di pertigaan Kapurtulis, warga langsung memasang dan tangga bambu sebagai tanda larangan masuk bagi semua kendaraan agar ombak air tidak masuk ke dalam toko atau rumah warga. Sementara persis di depan pintu gerbang Viyatra, ada seorang warga berkulit putih, berkacamata bening dan mengenakan kaos hitam tampak pasang badan di tengah jalan menghadang semua laju kendaraan.
Ketika ada pengendara bertanya, apa bisa melintas di Jl. Ngareng? Pria itu menjawab dengan nada emosi, “Silahkan lewat asal mau ngepel rumah saya!!”
Dengan gaya seperti itu, pria tersebut berusaha mengembalikan semua kendaran yang akan melintasi Jalan Ngareng pada malam itu.
Pemandangan seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena yang melintasi kawasan Ngareng bukan hanya warga Blora melainkan juga ada warga Bojonegoro yang akan menuju .
***

Baca Juga:  Pandemi Covid-19 Berimbas pada Kegiatan Praktek Kerja Lapangan Siswa SMK