Wis Tau Alus

MEMBANGUN itu bukan hanya soal perencanaan atau kemampuan finansial, tetapi juga harus dilaksanakan dan diawasi dengan baik. Upaya dan semangat dalam mewujudkan janji pasangan Arief-Etik dalam Pilkada yaitu, “Dalane dadi alus… patut diakui. Puluhan ruas utama sudah dibangun walaupun harus menggunakan dana dari hingga ratusan miliar nilainya.

Namun patut disayangkan, infrastruktur senilai ratusan miliar itu tidak dilaksanaan dan diawasi dengan baik pula.
Bukan rahasia lagi, pada bulan Desember 2022 banyak yang belum kelar pengerjaannya, hingga banyak ruas jalan digarap dengan model kejar tayang dan terkesan asal-asalan. Kontraktor ngebut pekerjaan hanya sekedar syarat untuk mencairkan pembayaran tahap akhir sekaligus menghindari denda.
Hasilnya sudah bisa ditebak, hampir semua ruas jalan yang dibangun pada Tahun 2022 kualitasnya rendah.
Contohnya ruas jalan Blora- yang menelan anggaran 16 miliar, belum genap setahun dibangun sudah hancur. Mestinya, infrastruktur yang dibangun dengan anggaran sebesar itu kualitasnya bagus dan kuat untuk dilewati truk ber-tonase besar.
Kalau kita melintasi jalur tersebut, kerusakan terlihat jelas pada jalan sekitar tanjakan dan turunan Sumenggah. Pada ruas itu, aspal terlihat sudah mulai mengelupas dan berpasir, serta bergelombang.
Membangun infrastruktur jalan merupakan kebijakan populis karena publik memang ingin infrastruktur jalan di wilayahnya dalam kondisi bagus. Tak heran jika dalam Musrenbangkab 2024, pembangunan infrastruktur juga masih menjadi prioritas. Namun faktanya, pembangunan infrastruktur jalan di Blora hanya dijadikan kumpulan proyek yang bisa dikondisikan untuk bayar utang .
Juga dalam hal kemampuan anggaran, sebenarnya mampu membangun infrastruktur tanpa pinjaman bank, karena dana Pokir anggota dewan yang besarannya mencapai 100 miliar per tahun itu bisa digunakan untuk membangun jalan berkualitas lebih dari 25 Km setiap tahunnya. Ingat..!! membangun jalan untuk kepentingan rakyat itu bukan sekedar slogan melainkan salah satu komitmen dewan.
Rendahnya kualitas bangunan infrastruktur jalan di Blora jelas merugikan masyarakat. Selain membuat tidak nyaman juga membahayakan para pengendara.
Sudah saatnya kualitas jalan di Blora diperhatikan. Mewujudkan visi misi bupati-wakil bupati dalam membangun infrastruktur jalan harusnya dibarengi semangat untuk kepentingan masyarakat dalam jangka panjang. Dan, janganlah menggunakan prinsip, “Sing penting dalane wis tau alus”.
***

Baca Juga:  Hidup Sederhana Itu PRASOJO