Harga Lebih Tinggi Dibanding GMM, Petani Blora Pilih Jual Tebu Keluar Daerah

BLORA.-

Selaku manajemen pabrik gula, PT Gendis Multi Manis (GMM) Bulog optimis bisa berkinerja lebih baik dalam musim giling 2023 dibanding tahun sebelumnya.
Pabrik gula yang berada di Desa Tinapan Kecamatan Todanan Kabupaten Blora itu rencananya menargetkan sebanyak 400 ribu ton tebu tergiling dengan rendemen 7,5%.
Ketua Koperasi Tebu Rakyat Mandiri (Manteb) Blora Bambang Sulistya menjelaskan berbagai perbaikan telah dilakukan agar giling tahun 2023 berjalan lancar dengan moto “No Stop Giling” selama kurang lebih 150 hari.
“Sedangkan pada musim giling 2022 PT GMM Bulog telah menggiling tebu sebanyak 296.234 ton dengan rendemen 6,83% dan realisasi produksi gula kristal putih sebanyak 20.161 ton,” terangnya, di Blora, Senin (13/2/2022).
Ia menambahkan, kendala yang dihadapi dalam musim giling tahun 2022 diantaranya terhambatnya penjualan produk gula dan curah hujan yang berlebih di luar prediksi sehingga berpengaruh nyata terhadap pembiayaan tebang angkut tebu dan menurunnya rendemen tebu.
“Menurut penuturan beberapa petani tebu yang sempat saya temui di kebun tebu, guna mendapatkan informasi sebagai bahan evaluasi giling tahun 2022, di antaranya bapak Syukur yang berdomisili di desa Japah Kecamatan japah, memiliki tebu seluas 10 Ha pada masa giling 2022 produksi hasil tebunya semua dijual ke pabrik gula yang berada di Kabupaten Pati,” ungkapnya.
Mengapa hasil tebunya dijual keluar dari Kabupaten Blora, dengan blak-blakan dan jujur dijelaskan kalau dijual ke pabrik gula di Kabupaten Pati setelah ditimbang tebunya langsung mendapatkan uang dan harga tebu lebih tinggi.
Sebab, kata Syukur, jika dihitung per hektar selisih perolehan uang dari hasil penjualan tebu di pabrik gula di Kabupaten Pati dibanding dengan penjualan tebu ke pabrik gula GMM Bulog kurang lebih mencapai Rp 5.500.000 Ha.
Sementara petani Tebu di Kecamatan Tujungan, Munaji, yang memilih lahan tebu seluas kurang lebih 15 Ha sebagian besar hasil tebunya dijual ke Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Selisih hasil penjualan tebu per hektar mencapai hampir Rp 7 juta.
Kenyataan penjualan tebu dari petani di Kabupaten Blora ke pabrik gula yang berada di luar kabupaten Blora sering disebut tebu bertamasya.
Sakijan, seorang petani tebu dari kecamatan Todanan yang sehari-hari sebagai anggota DPRD Kabupaten Blora menyatakan sangat prihatin karena dulu petani Blora beralih untuk menanam tebu dengan harapan hasilnya dapat digiling di pabrik gula PT GMM Bulog dengan harga yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani tebu di Bumi Mustika Blora.
Apalagi di masa giling tahun 2022 terjadi anomali dan sangat ironis sejak pabrik gula GMM Bulog awal beroperasi mulai bulan Juli 2014 sampai giling tahun 2022 harga tebu baru kali ini dari awal giling sampai akhir giling harga tebunya tidak berubah atau tidak naik sama sekali dengan harga hanya Rp66.000/kwintal tebu di dalam wilayah Kabupaten Blora, dan tebu dari luar Kabupaten Blora Rp 67.000/kw sampai Rp 68.000/kw.
Sedangkan harga tebu Pabrik Gula di Kabupaten Pati mencapai harga tebu Rp 76.000/kw. Terjadi peningkatan tebu tamasya dalam masa giling tahun 2022 adalah sebagai indikasi yang kurang baik bagi petani tebu di kabupaten Blora.
Karena dulu petani Blora tertarik beralih untuk menanam tebu yang hasil tebunya bisa digiling di pabrik gula GMM dengan rendemen dan harga yang menarik dan jarak tempuh angkut tebu yang dekat.
Demikian pula terhadap eksistensi Koperasi Petani Tebu rakyat yang dulu terbentuk atas prakarsa dari managemen PG GMM, namun dengan makin banyaknya produksi tebu yang dijual keluar dari Kabupaten Blora maka dengan perjalanan waktu Koperasi Petani Tebu Rakyat akan mati suri.
Sebagai catatan di Kabupaten Blora ada 5 buah KPTR salah satu KPTR yang masih loyal memberi kontribusi produksi tebu untuk dijual ke PG GMM adalah KPTR Manteb.
Walaupun pada masa giling 2022 tebu yang dijual ke GMM makin menurun dibanding tahun giling 2021.
“Saya sangat berharap dalam masa giling tahun 2023 pengalaman pahit yang terjadi pada masa giling tahun 2022 tidak terulang kembali,” kata Bambang Sulistya.
Terutama pihak manajemen pabrik gula GMM Bulog dapat memberi pelayan prima dengan wujud kualitas tebu dengan standar MBS potlot, pembayaran tebu tepat waktu dan harga yang membuat petani gumuyu.
“Sehingga slogan nandur tebu mulyo uripku Pabrik Gula GMM Bulog makin maju dapat diwujudkan,” tegasnya. (*).

Baca Juga:  Dinsos Dukung PWRI Blora Sukseskan Hari Lansia