Hadapi Tahun Politik, Bambang Sulistya: Ciptakan Suasana Kondusif Jelang Pesta Demokrasi Lima Tahunan

.-

Menghadapi tahun agar kita tetap dapat menciptakan suasana kondusif dan bisa berkontribusi positif dalam pesta yang dihelat setiap lima tahun sekali.
Hal itu disampaikan oleh mantan Sekda Blora ketika menghadiri dan menyimak pencerahan wisuda periode III Doktor, Magister, Sarjana dan Diploma Tahun Akademik 2022/2023 di Auditorium KHA Kahar Mudzakkir terpadu Univesitas Islam Indonesia (UII) .
Bambang Sulistya mengucapkan syukur Alhamdulillah, sebab pasca pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 30 Desember 2020, dirinya bersyukur masih diberi anugerah oleh Tuhan Yang Maha Pemurah karena diberi kesempatan untuk menikmati akbar yang penuh nuansa kegembiraan, kebahagiaan dan optimisme di Tahun Kelinci Air.
“Saya menyaksikan dan hadir Wisuda periode III Doktor, Magister,Sarjana dan Diploma Tahun Akademik 2022/2023 di Auditorium KHA Kahar Mudzakkir Kampus terpadu UII Yogyakarta Sabtu 28 Januari 2023,” tuturnya, di Blora Jumat (3/2/2023).
Peserta wisuda 857 lulusan, 23 ahli madia,752 sarjana,79 magister dan 3 doktor serta 1714 orang tua wisudawan sebagai tamu undangan.
Ternyata, setelah direnungkan banyak mendapat pelajaran dan hikmah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari- hari.
Diantaranya, pertama di tengah suasana hiruk pikuk hadirnya banyak orang masih diterapkan protokol dengan mewajibkan baik para wisudawan maupun tamu undangan memakai masker.
“Artinya kewaspadaan dan kehatian-hatian oleh panitia penyelenggara wisuda masih memiliki komitmen bahwa Covid-19 masih ada,” ucapnya.
Kedua acara wisuda disusun secara sistimatis, singkat dan menghibur serta relegius karena selain doa juga ada sholafat.
Kemudian, ketiga ada pencerahan sekilas tentang menghadapi agar kita tetap dapat menciptakan suasana kondunsif dan bisa berkontribusi positif dalam pesta demokrasi yang dihelat setiap lima tahun sekali.
Pencerahan, tambah Bambang Sulistya, tmdisampaikan oleh Wakil Alumni Universitas Islam Indonesia (UII), Cecep Agus Supriyanta yang saat ini mengemban amanah sebagai Asisten Deputi Koordinasi Wawasan Kebangsaan, Deputi Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa,Kementerian Koordinator Bidang Politik,Hukum,dan Keamanan Republik Indonesia.
Keempat ada spirit perjuangan yang diungkapkan dari wakil wisudawan /wisudawati oleh Fildzah Adlina.
Ia menyampaikan bahwa Kampus UII telah banyak memberikan momen-momen yang indah dan memesona, mendapatkan pengalaman yang luar biasa, mulai dari belajar tentang arti dari suatu perjuangan, pantang menyerah, bekerja keras dan siap berkorban.
Apa yang didapati saat ini adalah cermin dari perjuangan kita.
Kelima, kemahiran dan kepiawian serta kehebatan dari Rektor UII Fathul Wahid, dalam memberikan sambutan dan wejangan.
“Di tengah-tengah susana formal belau mampu menciptakan suasana menghibur dan membuat gelak tawa serta tepuk tangan seluruh peserta yang hadir dalam wisuda,” katanya.
Ia mengawali dan mengakhiri sambutan dengan membacakan patun jenaka, setiap bait yang dibaca disambut ucapan dari audien “cakep” dan diikuti tepuk tangan dan gelak tawa.
Kemudian ada wejangan atau pitutur yang sangat bermanfaat bagi kita semua.
Di dalam perubahan zaman yang begitu pesat, memberi arahan agar kita terus meningkatkan kecakapan dalam bentuk pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill).
Disamping itu juga memantapkan diri dengan keluhuran sikap (attitude) berupa nilai-nilai dalam berakhlak mulia.
Karena akhlak mulia bersifat menular dan akan menjadi inspirasi bagi orang lain dan jadi cerminan kualitas orang beriman.
Keluhuran sikap dapat mewujudkan dalam banyak hal, termasuk menjujung tinggi dalam berpikir dan bertindak.
Mengikhtirkan keadilan dengan sungguh- sungguh karena tidak ingin melanggar hak dan menghormati semua orang karena sadar bahwa semuanya .
Dalam kontek nyata kejujuran dapat mewujudkan kehati-hatian menjalankan amanah,termasuk menjauhkan diri dari pratik koruptif dan tindakan pelanggaran lainnya.
Mendengarkan orang lain juga termasuk tindakan yang mulia. Kegiatan tersebut agar terus dibudayakan dan dilestarikan.
Jangan seperti saat ini orang cenderung saling menghujad dan mementingkan kepentingan sendiri istilah melenia memang gua pikirin yang penting happy entah orang lain menderita.
Tetaplah menjadi orang baik yang keberadaannya dicari, kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindui, kebaikannya diteladani dan kematiannya ditangisi.
Karena orang baik selalu pintar mengendalikan diri, sabar, toleran dan tidak mengutamakan diri sendiri.
Disamping itu orang baik selalu menebar kebaikan,senyuman,berpikir positif,penuh perhatian,selalu membagikan hal yang bermanfaat dan selalu menghafal tiga kata sakti dalam berkomunikasi, yaitu maaf, tolong dan terimakasih serta orang baik selalu meperlakukan orang lain dengan hormat,penuh kasih sayang, empati,tidak suka menebar berita hoaks dan siap bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukanya.
Bambang Sulistya menambahkan, ada ungkapan bijak yang patut diteladani disaat kita aktif bergaul di masyarakat.
“Memang baik menjadi orang penting,tapi jauh lebih penting menjadi orang baik. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita dan memudahkan kita dalam menjalani peran yang kita mainkan,” tuturnya.
Menjadi orang baik yang ikut merawat jagat membangun kerukunan di dalam masyarakat. (*).

Baca Juga:  Ajakan AHY untuk Rawat Persatuan, Demokrasi dan Kebangkitan Ekonomi Sangatlah Tepat