banner 728x250

FGDN Pati Bersatu Gelar Diskusi dengan Tema “Lestarikan Pegunungan Selatan dan Utara Jawa”

PATI.-

Forum Group Discusion Nasional (FGDN) Pati Bersatu dalam tema “Lestarikan Pegunungan Selatan dan Utara Jawa” yang dilaksanakan di Ruang Penjawi Setda Kabupaten Pati, Rabu (21/12/2022) berlangsung hangat dan penuh semangat.
Acara dihadiri oleh Pj Bupati Pati Henggar Budi Anggoro, Anggota DPR RI dari Komisi II Riyanta, dan beberapa Narasumber dari Dinas ESDM, Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah, DPRD Kabupaten Pati, dan Kepala Desa Sukobubuk Saman SH. MH.
Dalam sambutannya Pj Bupati berharap Forum diskusi tersebut dapat memberikan sumbangsih terkait permasalahan yang dihadapi yaitu terkait alih fungsi hutan yang tidak sebagaimana mestinya, serta perlunya masukan dari para akademisi, kementerian, serta pihak terkait menuju Pati yang lebih baik,terangnya.
Sementara Saman SH.MH Kepala Desa Sukobubuk yang juga penggagas Perhutanan Sosial di Jawa Tengah berharap, bahwa program perhutanan sosial ini akan terus berlanjut karena program ini adalah sangat bagus, hanya saja harus ada pendampingan dan persamaan visi dan misi bersama.
“Karena sebenarnya telah terjadi salah kaprah dan salah penafsiran dari penggarap itu sendiri terkait perhutanan sosial, yang mana calon penggarap hanya asal tebang untuk mendapatkan luas garapan sebanyak mungkin tanpa memperhatikan kelestarian dari tanaman keras yang ada,” ujarnya.
Saman mencontohkan di daerahnya, luas 1 ha apabila ditanami buah alpukat dengan jarak 6 – 8 meter, akan muat antara 200 sampai 220 batang pohon Alpukat. “Bayangkan jika 1 pohon alpukat buahnya laku 1 Juta/ pohon, maka masyarakat sekitar hutan akan bisa sejahtera dan jauh dari kata miskin,” tandasnya.
Berbeda dengan pendapat Saman, Ketua POKDARWIS Kabupaten Pati, Sukrisno mengusulkan untuk pemerintah Kabupaten Pati agar segera mencanangkan “Gemar Selingkuh” yaitu Gerakan Masyarakat Senang Lingkungan Hidup. Hal ini sudah dia terapkan di Lingkungan Sukrisno sendiri yaitu di daerah Duren Sawit dan Beketel.
Selain ditanami tanaman keras, Sukrisno memilih tanaman nanas madu, selain kapulaga dan serai. Tanaman ini terbukti ampuh untuk mengurangi bahkan menanggulangi musibah banjir di daerahnya.
Selain harga bibitnya yang murah, menurut Krisno untuk 1 ha lahan dapat di tanami 6000 pohon nanas madu. “Dan, hanya sekali tanam untuk seumur hidup,” pungkasnya.
Sementara aktivis peduli pegunungan Kendeng, Slamet menyoroti masalah Galian C / penambangan liar yang seakan mendapat angin segar atau adanya pembiaran dari Aparat Penegak Hukum selama ini.
Menurutnya, tidak sebanding apa yang dihasilkan dari kegiatan penambangan di daerah Sukolilo dengan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut.
“Saya berharap adanya tindakan tegas dari Aparat Penegak Hukum terhadap kegiatan ilegal tersebut dan tidak perlu ada pandang bulu siapa backing dibalik kegiatan Tambang ilegal ini,” katanya.
Menanggapi hal itu Riyanta Anggota DPR RI dari Komisi II mengajak semua pihak untuk ikut memanfaatkan program-program bagus dari pemerintah.
“Kita jangan hanya jadi penonton, kita sebagai pribumi jangan kalah dengan warga keturunan (dalam tanda kutip). Terkait Perijinan kalau bisa dipermudah jangan dipersulit, dan kita tidak perlu menyalahkan satu dengan yang lain, kita harus mencari solusi dari Permasalahan tersebut,” ujar Riyanta.
Terkait backing aparat yang menjadi sorotan media beberapa saat lalu Riyanta mengatakan, bahwa proses tersebut sudah sampai Irwasda. “Bahkan bila perlu kita teruskan ke Irwasum dan Presiden Bila Perlu,” tandasnya.
Acara yang digagas oleh PT. Media Jurnalis Sabdo Palon dan dihadiri oleh Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh LSM dan pimpinan media serta Assosiasi Media Kabupaten ini diharapkan nantinya daerah pegunungan kapur Kendeng Wilayah kabupaten Pati bisa dikelola bersama-sama antara masyarakat wilayah hutan, Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Kabupaten, sehingga bisa menambah Pendapatan Negara.
“Sehingga bisa menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup,” pungkasnya. (*)

Baca Juga:  Diduga Akibat Polemik Jual Beli Jabatan Perades, Herwanto Mengundurkan Diri dari Jabatan Sekdes Kentong