banner 728x250

PWRI Blora Tangkal Fitnah dengan Jurus Senyap

BLORA.-

Ibarat pepatah “bak jamur di musim hujan”, berita yang menjurus ke arah fitnah atau hoaks tiba-tiba bermunculan dan menjadi buah bibir di masyarakat. Hal itu disampaikan Ketua PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indonesia) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya ketika memberi arahan dalam rapat konsolidasi para pengurus PWRI Kabupaten Blora di ruang pertemuan Kantor PWRI Blora, Sabtu (22/10/2022).

“Bahkan berita kebohongan itu telah memenuhi krIteria TSM (Terstruktur, Sistimatis dan Masif) yang mampu mewarnai dan menjadi perbincangan hangat di jagad langit dan bumi Nusantara,” ungkapnya.

Baik yang dilakukan di tingkat pusat maupun sampai di tingkat arus bawah, baik dari kelompok elit maupun dari kelompok akar rumput dan baik dari golongan kaum Brahmana maupun kaum Sudra.

Sehingga ada orang yang mengatakan, bahwa saat ini fitnah lebih nyata dari kenyataan. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia fitnah memang lebih sering dipahami berita bohong atau desas desus tentang seseorang yang dilatar belakangi maksud-maksud jahat kepada orang lain.

Secara konkrit pengertian fitnah adalah segala perbuatan atau penyebaran berita yang tidak didasarkan kepada fakta atau secara ringkas saat ini fitnah dipahami sebagai perbuatan untuk “menyebar luaskan berita bohong atau hoaks” yang dapat mempengaruhi kehormatan, wibawa, reputasi dan harga diri seseorang.

“Setiap orang pasti dalam perjalanan hidupnya akan mengalami dan jadi sasaran fitnah,” ucapnya.

Apalagi orang yang saat ini sedang mendapat amanah sebagai pemimpin, pejabat atau tokoh masyarakat, pemuka agama, elit politik dan pemegang kekuasaan pasti tak terhidar dari fitnah.

“Oleh karena itu kita harus punya penangkal atau sikap yang rasional untuk menghadapi fitnah di saat kondisi masyarakat sedang mengalami kesulitan dan suhu politik mulai memanas dengan cara mengamalkan jurus SENYAP,” kata mantan Sekda Blora itu.

Baca Juga:  PWRI Blora: Jadikan Bahagia dan Sehat sebagai Motivator dan Inspirator dalam Kehidupan di Masyarakat

Yang dimaksud adalah sebuah akronim yang merupan kristalisasi dari langkah-langkah positif untuk menghadapi badai fitnah dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah tersebut diawali dari huruf (S): Sikap sabar dalam menghadapi fitnah adalah langkah yang pertama dan paling utama.
Karena dengan bersabar kita bisa belajar untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu, sumbu pendek dan emosi yang meledak ledak yang justru akan merugikan diri sendiri.

“Jangan lepas kendali hanya keburu ingin segera melakukan pembelaan untuk menyanggah fitnah,” tegasnya.

Namun bersabarlah dengan cara melangkah mengumpulkan imformasi dan menyiapkan bahan bukti yang mampu meyakinkan bahwa fitnah yang kita terima tidak benar dan tidak didasari oleh fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dengan akal sehat.

“Ingat orang sabar dalam menghadapi fitnah selalu dalam lindunganNya dan pasti akan dimudahkan urusanya,” lanjutnya.

Biarkan orang lain berbuat buruk dengan memfitnah,yang penting kita tetap bersabar dan berperilaku baik kepadanya.

Kemudian huruf (E): Enyahkan pola pikir negatif ketika sedang mendapat fitnah. Jangan langsung panik resah apalagi takut yang tidak mendasar.

Segera ubah untuk berpikir positif dan wujudkan sikap tenang , tunjukkan kualitas diri bahwa kita mampu membuktikan fitnah itu bohong dan pemfitnah itu keji serta tidak bermoral.

Selanjutnya huruf (N): Nekat untuk melakukan komunikasikan ke berbagai pihak dan jangan pernah ragu untuk mendapat imformasi,data dan dukungan sebagai bukti bahwa kita di pihak yang benar.

Baca Juga:  Menjaring Berkah Ramadhan, Piwara Blora Bagikan 200 Paket Takjil

Bahkan kita harus berani mengadakan klarifikasi kepada orang yang memfitnah untuk mendapatkan keterangan dan argumentasi atas fitnah yang disebar luaskan.

“Lakukan upaya penyelesaian secara persuasif dan yang terakir bila langkah persuasif belum memperoleh hasil maka tempuh melaluhi jalur hukum sehinga ada kepastian kebenaran dari ujaran kebencian,” tuturnya.

(Y): Yakinkan pada diri kita sendiri bahwa fitnah itu merupakan teguran dari Tuhan Yang Maha Bijaksana agar kita makin berhati-hati, berbenah diri dan introspeksi diri menjadi orang yang lebih baik dan siapa menghadapi realita hidup di zaman Kalabendu seperti saat ini.

Huruf (A): Ada kewajiban moral dan pesan dari langit untuk siapa memberikan maaf kepada orang yang telah berbuat zhalim.

Karena dengan memaafkan orang telah membuat fitnah kepada kita, maka hati menjadi lebih lega dan tidak memiliki beban apalagi menyimpan dendam.

“Ada petuah bijak hidup akan damai dan bahagia kalau kita dengan ikhlas mampu memberikan maaf kepada orang lain yang telah membuat kita sengsara dan menderita,” tambahnya.

Berikutnya, terakhir huruf (P): Percayalah bahwa kebenaran pasti akan menang dan berprasangka baiklah kepada Tuhan Yang Maha Pemurah bahwa fitnah yang datang adalah ujian bagi kita untuk meningkan kwalitas diri dan keimanan kita.

Bambang Sulistya berharap, semoga para Wredatama tetap semangat dan kukuh tidak terpengaruh terhadap fitnah yang akhir-akhir ini sudah membuat suana makin gaduh dan tidak memiliki kepekaan serta kesadaran bahwa masyarakat masih dalam keadaan menderita.

“Selamat berkarya nyata dan terus mengabdi kepada masyarakat sampai di akhir usia,” ucapnya. (*).