banner 728x250

Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya

Trik Marketing Pengusaha Kuliner Blora

BLORA.-

Ada ungkapan bijak yang sering kita dengar, di setiap musibah pasti ada hikmah dan di setiap kejadian pasti ada pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Demikian pula sejak pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), maka dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat adalah kehidupan mereka yang semakin sulit.
Hal itu seperti disampaikan tokoh masyarakat Blora Bambang Sulistya, Kamis (29/9/2022). “Karena semua kebutuhan hidup harganya mulai naik,” ucap mantan Sekda Blora itu.
Menurut Bambang, selain solusi dari pemerintah yang saat ini sudah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat, maka perlu ada langkah terobosan dan solusi lain.
Maka sangat diharapkan dari berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepekaan, kepedulian dan kemampuan dana agar ikut memberi sumbangsih dan bantuan–utamanya kepada anggota masyarakat yang kurang beruntung.
Dan, ternyata di Kabupaten Blora, Jawa Tengah telah muncul sebuah inovasi sosial dan spiritual yang barangkali bisa menjadi salah satu solusi guna meringankan beban kehidupan masyarakat, yaitu hadirnya sebuah warung makan yang memberikan kebebasan kepada para pengunjung untuk membayar seikhlasnya.
Warung makan itu diberi nama “Monosuko” dan berdomisili di Jln Nusantara No 50, Kota Blora, dengan menu makanan yang tersaji berupa: nasi rawon, soto dan ayam geprek.
“Bersyukur saya kemarin, berkesempatan menikmati menu makanan di warung tersebut,” ungkap Bambang.
Warung Monosuko, memiliki sesanti, makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Dari sisi rasa dijamin memenuhi selera makanan para konsumen.
Apalagi dari sisi kualitas dapat dipastikan tidak mau kalah dengan makanan soto, rawon dan ayam geprek bertarif. Mengingat dalam penyajian menu makanannya juga ditangani secara profesional.
Martono, pengusaha milenial yang punya gagasan sekaligus pemilik warung Monosuko mengungkapkan untuk penanganannya ia menghadirkan seorang Chef bernama Dibdyo yang bekerja di sebuah hotel berbintang di Surabaya.
Langkah dan kiprah Martono untuk membuka warung Monosuko patut diapresiasi dan mendapat acungan jempol.
Karena di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan hidup. Ia mewujudkan Ide cerdas yang melangit untuk berbagi dengan memberi subsidi berupa makanan kepada anggota masyarakat yang membutuhkan dengan membayar seikhlasnya.
Seandainya di Kabupaten Blora di setiap kecamatan ada sebuah warung model Monosuko, maka bisa dipastikan akan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan gizi untuk mendukung kualitas sumber daya manusia sekaligus ikut andil dalam menangkal dan mengatasi stunting.
“Karena pada saat saya di warung Monosuko sudah ada anak-anak yang memakai seragam Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama menikmati menu makanan,” tambah Bambang Sulistya yang sekarang dipercaya sebagai Ketua PWRI Blora.
Sementara kalau melihat dan mendengar dari penuturan Martono. Ia sosok pengusaha muda yang berpredikat S3, bukan dimaksudkan yang bersangkutan bertitel Doktor namun perilaku yang ditunjukan mencerminkan sikap paripurna.
Meliputi S1, Sederhana/prasojo dalam berucap dan bertindak ora neko neko. Komitmen dalam berjanji dan bersinergi membangun kemitraan berusaha
S2, Sosial selalu menjadi landasan dalam setiap melangkah baik dalam berbisnis maupun dalam bergaul di dimasyarakat. Seperti dalam membuka Warung Monosuko idea dasarnya belajar Kepyur/Berbagi.
Karena ia sehari-hari seorang pengusaha yang bergerak di bidang komoditas ayam yang setiap hari menghasilkan keuntungan.
Sebagian dari profit itu untuk disalurkan kepada masyarakat yang kurang beruntung melaluhi warung Monosuko dengan membayar seikhlasnya. Karena Ia menyadari, sebagian dari hasil usahanya adalah haknya kaum duafa.
Kemudian S3, Silaturahmi menjadi prinsip hidup dalam menggapai kesuksesan berusaha.
Karena dengan bersilaturahmi diyakini segala usaha akan lancar dan berkembang serta segala persoalan pasti akan memperoleh solusi dan kemudahan.
Perjalanan hidup Martono tak semulus jalan tol, pahit getir dan manisnya kehidupan sudah dijalani.
Ia dilahirkan dari keluarga petani sederhana dari Desa Nglengkir Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora.
Dirinya banyak belajar dari kegagalan usaha dan kegelapan hidupnya, namun semangatnya selalu tak pernah pudar apalagi kata menyerah atau kapok dalam berusaha.
Selalu bangkit dan memiliki optimisme dari setiap keterpurukan usaha. Bahkan mau belajar dan menerima nasehat dari siapapun asal untuk kebaikan.
Masih ada ide dari Martono yang sederhana tapi memiliki makna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Blora yang akan diwujudkan.
Berkenaan dengan hal tersebut ia mohon doa restu kepada masyarakat Blora semoga usaha warung makan Monosuko bisa tumbuh dan berkembang tidak hanya di Kecamatan Blora saja tapi bisa berdiri di kecamatan lainnya.
Ia siap bekerja sama dan bersinergi dengan siapapun yang memiliki kepekaan dan nurani untuk sesarengan mBangun Blora Mustika. (*).

Baca Juga:  Dikira Perjanjian Hutang, yang Ditandatangani Kasri Ternyata Akte Jual Beli