banner 728x250

Tumbuhkan Semangat Nasionalisme Generasi Milenial Melalui Budaya Senyum

BLORA.-

Program siaran “Wredatama Menyapa” awal September 2022 digelar di LPPL Gagak Rimang, Radionya Wong Blora, Kamis malam (1/9/2022). Tema yang diusung adalah upaya menumbuhkan semangat nasionalisme kepada generasi milenial.
Ketua Persatuan Wredatama Republik Idonesia (PWRI) Kabupaten Blora H. Bambang Sulistya mengatakan, setelah dua tahun vakum dalam memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, baru pada Tahun 2022 ini berbagai elemen masyarakat menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-77 dengan menggelar berbagai kegiatan yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme.
Mulai dari pembuatan umbul-umbul beraneka warna, pemasangan bendera merah putih, upacara bendera, berbagai macam lomba tujuh belasan, kegiatan tirakatan, karnawal pembangunan hingga munculnya gerakan nasional pembagian 10 juta bendera merah putih kepada masyarakat.
“Lalu muncul sebuah pertanyaan dari lubuk hati yang paling dalam, apakah selama ini semangat nasionalisme dari para generasi muda mulai memudar,” tanya Bambang Sulistya yang pernah menjabat Sekda Blora itu.
Untuk memberi respon atau tanggapan terhadap ungkapan tersebut ada baiknya kita memahami pengertian tentang nasionalisme agar tidak gagal paham.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.
“Pengertian lain, nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang potensial dan aktual untuk mempertahankan, mengabdikan dan memakmurkan semangat kebangsaan,” paparnya.
Ada yang memaknai nasionalisme wujud rasa cinta dan bangga pada bangsa dan tanah air tanpa memandang rendah bangsa lain.
Nasionalisme ini muncul karena faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam terjadi karena adanya penderitaan dan kesengsaraan dari rakyat serta keinginan untuk menikmati kebebasan dan kemakmuran.
Sedang faktor dari luar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat dan canggih serta berbagai budaya dari luar dan paham seperti hendonisme, liberalisme, radikalisme dan humanisme.
“Sehingga muncul di masyarakat saat ini berbagai sikap yang bertolak belakang dari semangat nasionalisme,” terangnya.
Diantaranya meliputi, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan sendiri.
Mudah bersumbu pendek dan bertindak negatif dengan menciptakan kepanikan, kekerasan, keonaran, intoleran, memecah belah persatuan dan kesatuan serta kebiasaan menebar berita hoaks.
Selanjutnya sikap keras kepala, egois, ambisius dan kurang beretika dalam pergaulan di masyarakat.
Demikian pula adanya perilaku yang menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan pribadi.
“Kondisi itulah bisa dijadikan indikasi bahwa rasa nasionalime di kalangan generasi milenial makin menurun,” terangnya.
Upaya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.Karena sebagai upaya menjaga keutuhan persatuan kesatuan bangsa dan meningkat ketahanan nasional serta menjaga martabat bangsa di hadapan dunia.
“Generasi muda atau melenial adalah generasi penerus bagi keberlanjutan kehidupan suatu bangsa,” jelasnya.
Bangsa akan maju dan tangguh kalau generasi mudanya memiliki sikap nasionalisme yang tinggi.
Guna mewujudkan hal tersebut ada berbagai upaya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme bagi generasi milenial melalui pengamalan Budaya Senyum.
“Bukan dimasudkan senyum yang merupakan sedekah paling mudah dan dapat memupuk hubungan baik antara sesama anak bangsa serta mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit,” tuturnya.
Namun yang dimaksud senyum di sini ada sebuah akronim yang mampu mewujudkan semangat nasionalisme yang maknanya sebagai berikut.
Diawali huruf (S): Setia kepada Pancasila sebagai idologi Negara dan Bangsa Indonesia. Siap melaksanakan nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila sebagai pandangan hidup yang mampu mempersatukan dalam berbangsa dan bernegara.
Saling menghormati dan bekerja sama dengan penganut agama dan kepercayaan lain.Tidak memaksakan kehendak dalam bermusyawarah dan menjujung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan sehari hari.
Selanjutnya huruf (E): Empati dan peduli dengan lingkungan hidup yang diujudkan melaluhi kegiatan sedekah bumi berupa penanaman dan pemeliharaan tanaman penghijauan.
Sehingga tercipta lingkungan hidup yang bersih, sejuk, nyaman, indah penuh kedamaian. (N): Nguri-nguri penuh kasih sayang dalam melestarikan aneka ragam budaya Indonesia.
“Banyak sekali warisan budaya yang dapat diperkenalkan kepada generasi melenia mulai dari wayang,berbagai jenis tarian, lagu, alat musik, rumah adat dan beragam cerita legenda daerah,” kata Bambang Sulistya.
Langkah sederhana ini tak sekedar memberikan wawasan tetapi juga sebagai pelajaran untuk menghormati warisan budaya dari para pendahulu kita.
Huruf (Y): Yakinkan kepada generasi milenial agar bisa sukses dalam kehidupan harus siap belajar menghargahi perbedaan dan saling menghormati.
Karena Indonesia adalah negara multikultural dengan berbagai ras, suku, agama dan budaya didalamnya.
Tanamkan sejak dini mengenahi perbedaan perbedaan yang ada dan Allah menciptakan manusia dengan beragam perbedaan untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Berikutnya huruf (U): Upayakan secara intensif untuk memperkenalkan generasi melenia Sejarah Indonesia.
Terutama kisah-kisah kepahlawanan dan sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal itu sangat bermanfaat untuk menanamkan nilai positif dan kebaikan seperti semangat berjuang yang siap berkorban harta, jiwa dan raga.
“Sikap pantang menyerah dan semangat gotong royong, serta berani mengambil tanggung jawab atas risiko setiap keputusan yang diambil,” tegasnya.
Huruf terakhir (M): Mencintai produk dalam negeri yang diyakini memiliki kwalitas baik.Sehingga tidak merasa minder atau kurang percaya diri memakai hasil karya bangsa sendiri.
Seperti memakai kain batik dan baju kebaya bagi kaum wanita dalam setiap menghadiri resepsi bahkan telah diberikan teladan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat melantik para menteri semua memakai batik.
Demikian pula saat jemaah haji Indonesia berangkat ke tanah suci dan pulang dari tanah suci ke Indonesia semua jemaah haji pakai seragam batik.
“Demikian berbagai ikhtiar dalam rangka menumbuhkan semangat nasionalisme kepada generasi milenialsemoga dapat membangun jiwa anak bangsa menjadi lebih kuat dan tangguh serta memiliki sikap patriotisme dalam menghadapi tatangan zaman semakin komplek,” ungkapnya. (*).

Baca Juga:  Bocah Pupuk Bawang Berikrar Dukung Jokowi di 2024