“SAMBO” sebagai Jurus Pengendalian Diri dalam Berbangsa dan Bernegara

MENTARI pagi pada Selasa, 16 Agustus 2022 yang bersinar cerah di wilayah , seolah memberi pada bendera merah putih untuk berkibar di kawasan , perkampungan, desa dan sudut Kota Blora. Dengan semangat merah putih pula, anggota di bawah kepemimpinan H. Soedadyo melaksanakan santai bersama-sama, menelusuri jalan-jalan pedesaan di .

Start dari Lapangan Kridosono dan finish di Bu Arum Sederhana yang dikenal murah meriah dan bercita rasa empat lima sempurna.
Berkibarnya bendera merah putih disertai gerakan umbul-umbul beraneka warna memberi spirit perjuangan dalam mengayubagya ke-77 RI. Segarnya udara di kawasan Kamolan dan indahnya panorama alam di Desa Bangeran menambah kenikmatan hidup dan kesegaran jasmani.
Kenikmatan itu menjadi lengkap setelah para anggota klub sepeda pancal tiba di garis finis yang tidak lain adalah rumah makan sederhana Bu Arum. Di situ telah tersedia berbagai makanan, tinggal memilih hidangan yang disukai.
Sambil menikmati hidangan para anggota klub sepeda pancal ngobrol ringan, tema perbincangan bebas seputar berita hangat yang saat ini sedang menjadi buah bibir. Mulai dari berita lomba tujuh belasan yang lucu-lucu, , hingga konten di tentang HUT ke-77 RI.
Bahkan ada salah seorang peserta sepeda santai bernama Lasman, mantan anggota yang memberi respon positif dengan memaknai kata “” sebagai akronim dalam pengendalian diri, keluarga, masyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegara.


Diawali huruf (S): SABAR adalah sebuah sikap dan kemampuan untuk menahan diri dalam menghadapi kehidupan cobaan,ujian dan musibah dalam perjalanan hidup.
Orang yang sabar akan berlapang hati dan menyadari bahwa manusia bisa khilaf dan berbuat salah. Dan tak ingin jatuh pada emosi yang tidak terkendali.
Dijelaskan oleh Lasman, para winasis sering mengatakan sabar itu mustkaning laku.Wong sabar jembar rejekine, wong ngalah berkah uripe (Orang sabar banyak rejekinya dan orang mengalah hidupnya berkah).
“Sing Sabar lan ngalah dadi kekasihing Allah (Orang sabar dan ngalah itu akan menjadi kekasih Allah),” tuturnya.
Kemudian huruf (A): ADIGANG, Adigung, Adiguna sebuah sikap yang selalu mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang dimiliki hendaknya dalam hidup sehari hari dapat dikendalikan dan diiliminir. Utamanya hindari pamer kekuatan, kekuasaan dan kepandaian.
(M): MENGHARGAI keberadaan wong cilik jangan melihat sebelah mata. Ingat kita bisa menjadi orang besar, berkuasa dan memiliki karena juga peran dan kontribusi positif dari wong cilik/staf.
Sehingga jangan pernah memperlakukan orang kecil dengan tindakan yang semena-mena apalagi secara biadab pasti akan menuai balasanNya.
“Mari kita saling menghormati, menghargai dan menjaga persaudaraan dan jangan pernah mengandalkan Aji Mumpung masih jadi orang berkuasa dan hebat,” terangnya.
Selanjutnya (B): BERANI mengadakan instropeksi dan autokritik untuk bahan diri. Sehingga mampu memahami kekurangan dan kelebihan yang ada dirinya sendiri, sekaligus sebagai upaya mengendalikan dari sikap-sikap arogansi dan egois.
Terakhir huruf (O): OJO lali Gusti Allah ora sare (jangan lupa Allah tidak pernah tidur).
Sehingga segala tindakan apapun yang telah kita perbuat pasti sudah diketahuiNya. Sehebat rekayasa yang kita lakukan untuk berbuat kejahatan cepat atau lambat pasti akan terungkap.
“Ibarat dalam peribahasa, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga,” katanya.
Tak terasa obrolan ringan dan pitutur luhur telah membawa kehangatan, kekeluargaan dan kerukunan serta semangat kebangsaan dari para peserta sepeda pancal untuk menyambut HUT ke-77 RI dengan tema Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat dan Sehat Lebih Nikmat .
Untuk menumbuhkan etos perjuangan hidup dari para peserta gowes, Soedadyo yang sehari-hari menjabat Sekretaris Kabupaten Blora dan Ketua Kabupaten Blora menuliskan sebuah puisi dengan Judul Bela Negara.
Kobarkan semangat terus membara, Membangkitkan asa bela Negara, Berkorban jiwa serta raga, Usir penjajah dari tanah air kita, Ratusan nyawa pahlawan telah melayang, Mereka dengan gagah berani berperang.
Menebas ketidakadilan walau penuh rintang, Agar tidak ada lagi rakyat yang terkekang, kita telah , Perjuangan para Pahlawan tak sia-sia.
Terluka parah bahkan hilang nyawa pun rela,Demi melihat generasinya hidup damai sentosa. Dirgahayu Republik Indonesia, Merdeka.

Baca Juga:  PWRI Blora: Jadikan Bahagia dan Sehat sebagai Motivator dan Inspirator dalam Kehidupan di Masyarakat