Beranda blog Halaman 260

Pembunuhan Keluarga Anom Bermotif Dendam

0

REMBANG. – Empat korban ditemukan meninggal di tempat tidur. Tapi, di kamar yang berbeda, dengan luka lebam di kepala.

Polisi juga tak menemukan satu barang pun hilang dari kediaman keluarga dalang Anom Subekti di Desa Turus-gede, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, itu.

Di rumah itulah, Bekti, sapaan akrab Anom Subekti; sang istri, Tri Purwati; serta anak dan cucu mereka, AS dan GLK, ditemukan meninggal Kamis (4/2) pagi. Polisi menduga pembu-nuhan tersebut bermotif dendam.

”Hasil otopsi nanti bisa menguatkan motif dari kasus pembunuhan ini,” kata Kapolres Rembang AKBP Kurniawan Tandi Rongre, Kamis (4/2) lalu.

Meninggalnya empat orang di kediaman Anom yang juga jadi Sanggar Seni Ongko Joyo itu diketahui asisten rumah tangga (ART) sekitar pukul 06.00, Kamis (4/2) lalu. Gerbang rumah itu terbuka.

Rumah tersebut memang memiliki pagar. Di terasnya ada joglo dan ter-tata satu set gamelan. ART itu memanggil-manggil tuan rumah. Namun, tak ada jawaban.

Dia pun memutuskan masuk. Ternyata di dalam ditemukan Bekti, Tri, serta anak dan cucu me-reka dalam kondisi sudah tak bernyawa.

Sekitar pukul 07.00 polisi langsung mema-sang police line di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut. Dan, melakukan olah TKP.

Meski milik Bekti, ru-mah itu ditempati si putra pertama, Danang. Gang masuk menuju rumah tersebut, Kamis (4/2) lalu juga diblokade dengan ga-ris polisi berwarna kuning.

Menuju gang itu, dari Jalan Raya Rembang-Blora masuk melalui jalan desa beraspal halus. Jaraknya sekitar 300 meter. Kamis (4/2) lalu, jalan tersebut dipadati mobil. Baik milik Polres Rem-bang, Polda Jateng, BP-BD Rembang, maupun mobil pelayat.

Di bagian kanan gang, ada gudang. Memanjang hingga ujungnya di de-pan rumah Bekti. Di ujung gang itu, ada pa-pan nama bertulisan

”Padepokan Seni Ongko Joyo” disertai panah 60 meter. Tertempel di tem-bok luar gudang di kanan gang itu. Melihat ke dalam gang, hanya ada dua rumah. Salah satunya milik Anom Subekti.

Pihak kepolisian te-ngah mengumpulkan bukti petunjuk dan re-kaman CCTV di sekitar rumah korban. Jenazah dibawa ke RSUD dr R Soetrasno, Rembang, untuk dilakukan otopsi dan pihaknya masih berkoordinasi dengan keluarga.Dari hasil keterangan saksi, kata Kapolres, diperkirakan kejadian berlangsung dini hari. ”Tapi, ini semua masih dalam penyelidikan,’’ ujarnya. (*)

4 Orang, Satu Keluarga Jadi Korban Pembunuhan

0

REMBANG. – Satu keluarga di Desa Turusgede Kecamatan Kota Rembang, Rembang, Kamis (4/2) lalu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di rumahnya. Tetangga mengaku mendengar teriakan pembantu rumah tangga kor-ban berteriak ada pembunuhan.
Salah seorang warga setempat, Rukhan, bercerita awalnya ia sedang mencari rumput tak jauh dari lokasi kejadian. Kala itu, ia mendengar teriakan minta tolong dari asisten rumah tangga (ART) rumah korban.
“Saya dengar pembantunya (ART) minta tolong keluar. Bilang kalau ada pembunuhan di dalam, korbannya bapak, ibu dan ada lainnya juga. Saya be-lum sampai masuk, langsung pergi laporan ke Pak Pj Kades biar laporan ke polisi,” jelasnya, Kamis (4/2) lalu.
Hingga saat ini pihak Polres Rembang masih bersiaga di lokasi kejadian. Warga dilarang untuk berkerumun untuk memenuhi protokol kesehatan. Di lokasi kejadian pun dipasang garis polisi.
Insiden terjadi di Padepokan Seni Ongko Joyo Desa Turusgede Kecamatan Kota Rembang. Ada sebanyak 4 anggota keluarga, diantaranya adalah kepala keluarga yang merupakan pemilik padepokan seni tersebut, Anom Subekti.
“Ada 4 orang, 2 dewasa 2 anak-anak, sekeluarga nampaknya. Posisi masih di tempatnya masing-masing, di dalam kamar beda-beda,” terang tim Dokkes Polres Rembang, Ipda Purwanto.
Hingga petugas datang, menurutnya, posisi jena-zah tak sampai diubah bahkan disentuh. Hal itu untuk memudahkan pro-ses autopsi terhadap para korban. Pemeriksaan me-nunggu dilakukan oleh tim dari Polda Jateng. (*)

Terbukti Gelapkan Bansos, Sekdes Cepokrejo Ditahan Kejaksaan

0

TUBAN. – Diduga terlibat kasus bantuan sosial program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), Sekdes Cepokorejo, Kecamatan Palang, Susilo Hadi Utomo, Selasa (2/2/2021) resmi ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Tuban.

Hal itu dibenarkan oleh Kasi Pidana Khusus (Pidus) Kejari Tuban Andhy Rachman, bahwa penahanan itu dilakukan menyusul pelimpahan tahap dua tersangka dan barang bukti dari penyidik Satreskrim Polres Tuban ke kejaksaan.

‘’Saat itu juga (bertepatan dengan pelimpahan tahap dua, Red), langsung kami lakukan penahanan tersangka,’’ katanya, Selasa (2/2/2021).

Andhy mengatakan, saat digiring ke Lapas Kelas IIB Tuban, Jalan Veteran oleh jaksa penuntut umum (JPU), tersangka cukup kooperatif. Proses penahanan pun berjalan lancar. ‘’Tersangka kooperatif,’’ tandasnya.

Sekdes Susilo dijerat pasal 2, pasal 3, dan pasal 8 UndangUndang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. ‘’Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara,’’ ujar Andhy.

Sekadar diketahui, terungkapnya kasus tersebut bermula dari keresahan warga desa setempat yang terdata sebagai penerima BPNT, namun tidak pernah menerima sejak 2018. Sedikitnya 46 warga yang mempertanyakan haknya. Mereka inilah yang protes ke pemerintahan desa. Dari kasus tersebut akhirnya terungkap dugaan penyelewengan bantuan sosial di desa setempat.

Warga yang merasa tidak menerima bantuan sosial tersebut akhirnya melapor ke Polres Tuban. Dalam penyidikan terungkap kerugian negara kurang lebih sekitar Rp 140 juta. Meski uang yang diduga ditilap sudah dikembalikan, namun tidak menggugurkan proses hukum.(*)

Tiga Orang Jadi Tersangka Gegara Nekat Mandikan Jenazah Covid-19

0

TUBAN – Gegara mengambil paksa jenazah Covid-19 dari rumah sakit, tiga orang warga Jatirogo, Tuban, Jawa Timur dijadikan tersangka oleh Polres Tuban.

Ketiga tersangka berinisial NU (38), AA (32) dan N (53). Mereka dikenakan Pasal 93 UU 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan Jo Pasal 212 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara.

“Tersangka diancam hukuman 1 tahun penjara, tidak ditahan hanya wajib lapor karena ancaman di bawah 5 tahun. Tersangka masih memiliki hubungan keluarga,” ungkap Kapolres Tuban, AKBP Ruruh Wicaksono, Senin (18/1).

Kejadian itu bermula ketika Ali Rozikin (49) Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qomariyah yang diketahui pasien Covid-19 meninggal dunia akibat terpapar positif Covid-19 usai dirawat di Rumah Sakit Ali Mansyur Jatirogo, Kamis, (24/12/2020) sekitar pukul 18.30 WIB.

Selanjutnya, jenazah dirujuk ke RSUD dr. Koesma Tuban untuk dilaksanakan pemulasaran jenazah.

“Awalnya, keluarga pasien telah sepakat bahwa jenazah dimakamkan sesuai protokol kesehatan, karena pasien meninggal positif Covid-19,” papar AKBP Ruruh didampingi Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Yoan Septi Hendri.

Setelah selesai dilakukan pemulasaran, jenazah dibawa dengan menggunakan 2 kendaraan ambulans dan dikawal oleh petugas Satlantas Polres Tuban.

Dimana, kendaraan pertama yang mengawal dari Polres Tuban, dan yang tengah kendaraan ambulance yang membawa jenazah.

“Kendaraan ambulans yang terakhir membawa petugas Gugus Tugas Covid-19 yang akan menguburkan jenazah,” tegas mantan Kapolres Madiun itu.

Setelah rombongan pembawa jenazah masuk di samping rumahnya almarhum, tepatnya depan Mushalla Nurul Qomariyah di Desa Karangtengah, sekitar pukul 03.00 WIB, ada tiga tersangka mengadang mobil ambulans bersama sejumlah masyarakat.

“Mobil ambulans yang membawa jenazah diberhentikan oleh tersangka. Saat itu Kapolsek Jatirogo dan anggotanya serta tim Tugas Covid-19 telah memberikan perintah dan Iarangan agar pemakaman jenazah dimakamkan secara prokes,” terang Kapolres Tuban.

Namun, imbauan itu tidak dihiraukan oleh ketiga tersangka. Kemudian, tersangka NU meminta sopir ambulans turun dan membuka pintu belakang mobil untuk mengambil jenazah. Ketiga tersangka kemudian mengangkat peti jenazah pasien Covid-19 untuk dibawa ke Mushala Nurul Qomariyah.

Di situ, tersangka NU langsung mencongkel peti dengan menggunakan linggis dan mengeluarkan jenazah yang meninggal dunia akibat terpapar virus corona berdasarkan hasil tes swab.

“Satu linggis yang digunakan untuk mencongkel peti jenazah kita amankan sebagai barang bukti,” jelasnya.

Setelah jenazah berhasil dikeluarkan dari peti, tersangka AA mengambil gunting untuk merobek atau mengguntung plastik dan kain kafan pada jenazah. Lalu, ketiga tersangka mengangkat jenazah untuk dimandikan dan dimakamkan tanpa menerapkan protokol kesehatan.

“Jenazah dibawa keluar samping Mushala untuk dimandikan. Kemudian dimakamkan di TPU Desa Karangtengah oleh warga,” demikian AKBP Ruruh. (*)

Dukung Program Vaksinasi Lansia, PWRI Blora Siap Divaksin COVID-19

0


BLORA. – Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora terus berinovasi dalam upaya mendukung pemerintah mencegah persebaran COVID-19.
Salah satu bentuk dukungan kepada pemerintah PWRI Blora berinovasi membuat masker merah putih bertuliskan “Laskar Wredatama Peduli COVID-19, Paris Van Blora”.
“Tadi pagi pengurus PWRI Blora, membagikan masker merah putih dengan tulisan, Laskar Wredatama peduli COVID-19, Paris Van Blora,” kata Ketua PWRI Blora, Bambang Sulistya, Senin (8/2/2021).
Masker itu dibagikan kepada seluruh pengurus PWRI kabupaten, kecamatan dan kelurahan.
Menurut Bambang Sulistya, warna masker merah putih menunjukkan kecintaan, pengabdian, dedikasi dan loyal pada ibu pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kami gaungkan akronim Paris Van Blora. Itu mungkin aneh dan membuat penasaran. Akronim itu semua ada di Blora,” kata mantan Sekda Blora itu.
Paris Van Blora itu, jelas Bambang, dimaknai Paris dari Blora dengan penjabaran akronim (P), artinya Pariwisata.
“Aneka potensi wisata Blora perlu terus dikelola dan dikembangkan seperti sumur minyak tua, Goa Terawang, Kedung Pupur, Loko Tour dan lainnya. Semua itu menjadi kebanggan Blora,” terangnya.
Kemudian (A), dimaknai sebagai Agribisnis karena di Blora banyak potensi untuk budi daya agro, seperti buah jambu madu, kelengkeng, dan durian.
“Bahkan saya usul nama buah seperti jambu madu itu diganti jambu Blora,” ucapnya.
Sedangkan (R), memiliki arti Ramah Tamah seperti yang tercermin dalam kehidupan warga Blora yang saling hormat, gotong royong dan saling sapa menjalin kekeluargaan.
Selanjutnya (I), artinya Inovasi. Warga Blora diharapkan bisa giat melakukan inovasi untuk hal yang positif dan bermanfaat.
“Inovasi penataan dan mempercantik kota yang dilakukan Bupati Blora Djoko Nugroho sangat luar biasa. Sedangkan (S), itu seni budaya. Blora punya seni barongan yang hampir semua warga sangat menyukai. Karakter berani itu salah satu ciri orang Blora,” jelas dia.
Pihaknya, tambah Bambang, juga menyambut positif penjelasan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terkait pemberian vaksin COVID-19 bagi orang lanjut usia (lansia).
“Kami keluarga besar PWRI Kabupaten Blora menyamput positif penjelasan dari bapak Menteri Kesehatan, kalau lansia sudah mendapat jatah vaksin,” ungkapnya.
Menurutnya, saat rapat pengurus PWRI kabupaten dengan memakai seragam batik terbaru khas Blora dan memakai masker merah putih terbaru siap mendukung program vaksinasi lansia dan siap menerima vaksinasi yang pertama untuk kaum lansia.
“Saya, secara pribadi siap divaksin corona untuk lansia yang pertama,” tegasnya.
Diketahui, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin beri pernyataan soal pemberian vaksin COVID-19 bagi orang lanjut usia (lansia) yang dapat dimulai, Senin (8/2/2021).
Menkes menjelaskan vaksin baru dapat diberikan pada warga Lansia dikarenakan sebelumnya vaksin Coronavac baru dapat izin emergency use authorization (EUA) dari BPOM pertama kali untuk masyarakat usia 18-59 tahun. (nn)

Polisi Akan Periksa Manajemen RS Telogorejo terkait Dugaan Mal Praktek

0

Kasus laporan dugaan Mal Praktek yang di lakukan oleh RS Telegorejo Semarang terus bergulir. Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng sudah melakukan klarifikasi terhadap orang tua korban pada Kamis (28/1/2021) selama 12 jam di ruang Subdit 1 Industri Perdagangan dan Investasi (Indagsi).
“Untuk Klarifikasi kedua orang tua korban sudah dilakukan pada kamis minggu lalu, kita datang pukul 09.00 hingga pukul 17.00 Wib untuk materinya tidak bisa saya sampaiakan, biar dari Krimsus aja yang nanti menjelaskan,” ungkap Penasehat Hukum Arta Uli Sianturi kepada RMOLJateng, Jumat (5/2/2021).
Sementara itu Kasubdit 1 Indagsi DitKrimsus Polda Jateng AKBP Asep Maulidin saat dikonfirmasi membenarkan klarifikasi yang telah dilakukan oleh anggotanya kepada keluarga korban Samuel Reven dalam hal ini kedua orang tuanya.
“Benar kita sudah lakukan pemeriksaan terhadap pelapor dan istrinya. Materinya soal peristiwa yang dialamii pelapor. Dalam waktu dekat akan kita panggil juga pihak RS Tlogorejo untuk dimintai keterangan. Tahapanya masih proses penyelidikan, jadi masih awal,” jelas AKBP Asep Mauludin.
Mantan Kasat Reskrim Polrestabes Semarang ini juga menambahkan setelah kedua belah pihak dilakukan pemeriksaan, langkah selanjutnya akan dilakukan gelar perkara internal apakah kasus ini cukup bukti untuk dilanjutkan ke tahap penyidikan atau tidak. (*)

Imbas Jateng Di Rumah Saja, Harga Lombok Setan di Salatiga Tembus Rp 100 Ribu per Kilogram

0

Harga sejumlah kebutuhan pokok melonjak sejak Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengeluarkan Surat Edaran tentang “Jateng Di Rumah Saja”.
Satu di antara kebutuhan yang banyak dicari masyarakat, adalah cabe. Jenis cabe yang mengalami kenaikan sangat drastis, adalah cabe rawit merah atau biasa disebut “lombok setan”.
“Cabe rawit setan sekarang naik sampai Rp100 ribu per kilogram,” kata Darmi, seorang pedagang di Pasar Raya Salatiga, Minggu (7/2).
Kenaikan harga cabe rawit setan ini, kata Darmi, karena stoknya di Salatiga minim. Ditambah lagi, kondisi alam dengan curah hujan yang tinggi menyebabkan panen gagal.
Hal senada disampaikan petani Ngablak, Kabupaten Magelang Nur Syaefudin. Untuk saat ini, diakuinya, kenaikan harga cabe berpihak kepada petani. Pemicu kenaikan lainnya, karena pengaruh isu penutupan pasar membuat stok tak banyak.
“Saat ini, cabe kriting dari Rp27 ribu, kini mencapai Rp 50-80 ribu per kilogram. Kalau besok tak ada PPKM mungkin harganya turun. Kalau cabe juga pengaruh cuaca, banyak yang kena jamur jadi pasokan ke pasar sedikit,” ujarnya. (*)

Beredar Rencana Aksi Pemakzulan Jokowi, BEM SI: Bukan dari Kami

0

Beredar rencana aksi demonstrasi dengan agenda menuntut pemakzulan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Informasi rencana aksi ini beredar melalui aplikasi perpesanan dan mengatasnamakan BEM Indonesia.
Koordinator Media Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) Andi Khiyarullah kepada TEMPO mengatakan, informasi rencana aksi pemakzulan ini bukan dari BEM-SI. Andi juga mengaku tak mengetahui adanya perkumpulan bernama BEM Indonesia. “Bukan dari kami. Ini tidak benar,” kata Andi melalui pesan singkat, Ahad, 7 Februari 2021.
Menurut informasi yang beredar di WA, aksi itu digelar pada Jumat mendatang, 12 Februari 2021 atau bertepatan dengan Hari Raya Imlek. Aksi disebut akan dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan titik kumpul Tugu Proklamasi, Menteng, kemudian menuju kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan dan berakhir di Taman Pandang, Monumen Nasional.
Dalam pesan tersebut, tertulis bahwa rezim Jokowi sangat jauh dari harapan rakyat, tidak amanah, menyalahgunakan jabatan, dan tidak berkeadilan hukum dalam banyak kasus. Tertulis ajakan untuk mengawal demokrasi yang berkeadilan, konstitusi, dan Pancasila.
“Kembalikan Dwifungsi ABRI sbg alat pertahanan keamanan negara serta berpolitik, bubarkan kabinet dan parlemen, bentuk DPRMPRS.
Mari kita semua bersatu menyuarakan hak-hak rakyat dan turunkan presiden jokowi dari kursi istana !” demikian bunyi pesan teks yang ditulis tanpa kaidah baku tersebut.
Para peserta aksi pemakzulan diminta mengenakan baju berwarna putih dan bawahan berwarna hitam. Tak ada informasi narahubung dalam pesan ini, hanya tertulis BEM Indonesia sebagai PIC. (*)

Di Lapas Sukamiskin, 52 Napi Korupsi Positif Covid-19

0

Puluhan napi korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung positif Covid-19. Menurut data hingga 5 Februari 2021, terdapat 52 orang napi yang terpapar penyakit tersebut.
“Ada 52 orang positif,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham kepada wartawan, Ahad, 7 Februari 2021.
Rika mengatakan angka positif itu didapat setelah dilakukan swab test kepada 460 warga binaan dan petugas lapas. Dia mengatakan jumlah orang yang positif masih bisa bertambah.
Berdasarkan data Ditjen Pemasyarakatan, sejumlah narapidana yang positif di antaranya mantan Kepala Lapas Sukamiskin, Wahid Husen; mantan anggota DPR fraksi Golkar Budi Supriyanto dan mantan pejabat Kemendagri Dudy Jocom.
Rika mengatakan sejumlah napi dengan gejala berat sudah dirawat di rumah sakit. Sementara yang bergejala ringan diisolasi mandiri di blok khusus di Lapas Sukamiskin dengan pengawasan tim medis.
Dia mengatakan, Lapas Sukamiskin sudah melakukan upaya pencegahan positif Covid-19, misalnya dengan menutup kunjungan langsung dan menggantinya dengan kunjungan daring. Dia mengatakan pihaknya akan berfokus pada perawatan warga binaan yang terpapar. (*)

Perajin Celengan Gypsum di Desa Bangsri, Jepon Tetap Bertahan di Masa Pandemi

0

Perajin aneka karakter celengan (wadah uang untuk menabung) di Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah bertahan di masa pandemi.
Produk kerajinan rumahan berbahan semen gypsum (semen putih) yang ditekuni oleh Derry Gudha Dharma (35) warga setempat itu terus berupaya menorehkan karya baik yang tidak semata meraup keuntungan untuk kelangsungan ekonomi rumah tangganya.
Tetapi juga berobsesi mengangkat potensi kerajinan desa Bangsri seiring dikembangkannya destinasi desa wisata kampung pelangi.
Derry, sapaan akrabnya, mengaku telah menekuni usahanya sekitar tiga tahun lalu.
“Saya mulai membuat kerajinan celengan berbahan gypsum ini sekitar tiga tahun lalu,” kata dia, Minggu (7/2) pekan lalu.
Ia mengerjakan aneka bentuk karakter berbagai ukuran celengan di rumahnya RT 04/RW 1 desa Bangsri.
“Untuk pemasaran selain online, juga saya promosikan langsung kepada warga. Bahkan sudah ada tenaga penjual, seperti di Alun-Alun Blora,” tambahnya.
Derry menyebut, dari bahan 1 karung tepung Gypsum (18 kg) mampu membuat aneka karakter celengan berukuran kecil sebanyak 80 hingga 90 buah. Sedangkan untuk ukuran sedang dan besar, menyesuaikan kebutuhan serta bentuknya.
“Setiap hari rata-rata mampu membuat 40 buah celengan berbagai karakter, seperti boneka doraemon, polisi, semar dan lainnya. Kemudian diwarnai dengan aneka warna cat sehingga menarik,” terangnya.
Hanya saja, kata dia, kebanyakan peminat lebih suka yang masih polosan (belum di cat), kemudian diberi warna sendiri.
“Seperti yang dijual di Alun-Alun Blora, yang polosan diminati. Kemudian pembeli mengecat sendiri. Saya sediakan cat aneka warna jika ingin mewarnai di tempat sambil menikmati suasana malam di Alun-Alun Blora atau di kampung pelangi dan di rumah kami,” kata Derry.
Harga celengan gypsum untuk yang polos (belum dicat) Rp 2.500,00 hingga Rp 6.000,00 per buah. Sedangkan yang sudah diberi warna bisa mencapai Rp 40.000,00 per buah untuk ukuran besar.
“Saya pilih semen gypsum karena warna dasarnya putih, sehingga tidak perlu mengecat warna dasar lagi seperti yang terbuat dari bahan tanah liat. Dengan demikian memudahkan warga atau pembeli jika ingin langsung memberi warna,” tambahnya.
Pada masa pandemi Covid-19, menurut Derry, omzet penjualan menurun. Namun itu tidak menjadi kendala untuk produksi.
“Iya memang omzet penjualan turun. Tapi saya tetap produksi. Ini kan tidak basi atau mudah rusak. Kendala lainnya, saat ini musim hujan, jadi proses pengeringan dengan sinar matahari juga berpengaruh,” jelasnya.
Derry mengaku belajar membuat celengan gypsum secara auotodidak. Sejumlah peralatan dan cetakan aneka karakter dimilikinya sendiri.
“Saya autodidak, saya punya alat dan karakter sendiri,” ucapnya.
Gayung bersambut, sejak dibukanya destinasi wisata kampung pelangi oleh pemerintah desa Bangsri, dinilai oleh Derry sebagai peluang usaha untuk memasarkan produksinya.
“Adanya destinasi wisata kampung pelangi di desa Bangsri ini menjadikan berkah dan peluang untuk mempromosikan celengan gypsum yang saya buat. Maka saya secara pribadi sangat mendukung adanya kampung pelangi sebagai destinasi wisata desa Bangsri,” ungkapnya.
Bahkan, kata dia, baru-baru ini, di rumah produksinya dijadikan sakah satu tujuan uji coba paket wisata desa yang dikunjungi.
“Bersyukur sekali, pengunjung senang, mewarnai celengan gypsum. Bahkan ada yang membeli lebih dari satu buah. Ini menjadi pemacu semangat saya dalam berkarya, terlebih di masa pendemi. Meski di rumah tetap berkerja,,” ujarnya. (*).