Beranda blog Halaman 22

Pagar Baru SD Negeri 1 Jetis-Blora, Simbol Sekolah yang Aman dan Tertata

0

Korandiva-BLORA.- Pagar sekolah bukan sekadar pembatas, tetapi juga berperan melindungi, menata, dan mendidik. Pagar yang dirancang dengan baik dapat memperindah tampilan sekolah serta menjamin kegiatan belajar mengajar berlangsung aman, tertib, dan nyaman.

Hal itu disampaikan Topo Hariyono, S.Pd.SD., M.Pd., Kepala SD Negeri 1 Jetis, Kecamatan Blora, saat mengomentari pembangunan pagar baru di sekolahnya. Tahun ini, SDN 1 Jetis menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Pendidikan berupa pembangunan pagar sekolah senilai Rp 185.304.000.

Sekolah yang beralamat di Jalan Maluku No. 39 Blora itu kini memiliki pagar baru sepanjang sekitar 70 meter, lengkap dengan pintu gerbang selebar 4 meter dan tinggi 3,6 meter.

“Dulu gapuranya sedikit ndoyong dan kurang tinggi. Sekarang sudah kokoh dan lebih bagus,” ujar Topo saat ditemui, Jumat (31/10/2025).

Ia menambahkan, keberadaan gerbang baru membuat akses kendaraan ke area sekolah menjadi lebih mudah.

“Alhamdulillah, guru, murid, dan wali murid merasa senang. Rasanya seperti punya sekolah baru,” katanya tersenyum.

SDN 1 Jetis memiliki 93 siswa yang sebagian besar merupakan anak-anak dari Desa Karangnongko, Kecamatan Banjarejo; Desa Dluwangan; dan Desa Kajangan, Kecamatan Blora. Sebagian berangkat ke sekolah dengan sepeda, sebagian lagi diantar oleh orang tua. Sekolah ini diasuh oleh 7 guru.

Meski bersyukur atas pembangunan pagar baru, Topo berharap perhatian pemerintah tidak berhenti sampai di situ. Ia menyebut tiga ruang kelas—yakni kelas 4, 5, dan 6—saat ini dalam kondisi rusak sedang.

“Kerusakannya ada di bagian plafon, lantai, dan atap yang mulai kropos. Masih bisa digunakan, tapi perlu segera direhab,” ujarnya.

Selain ruang kelas, kondisi lantai musala juga mulai memprihatinkan. Permukaannya retak dan bergelombang, membuat aktivitas ibadah kurang nyaman. “Untuk perbaikan musala belum kami ajukan, karena masih fokus mengusulkan rehab ruang kelas,” imbuhnya.

Topo berharap tahun depan sekolahnya bisa kembali mendapat bantuan untuk rehab kelas dan pavingisasi halaman sekolah, agar lingkungan belajar semakin nyaman dan representatif. (*)

Musala Baru di SDN 1 Jepangrejo, Tempat Menumbuhkan Karakter dan Spiritualitas Sejak Dini

0

Korandiva-BLORA.— Keberadaan tempat ibadah di sekolah dasar bukan sekadar pelengkap fasilitas, melainkan bagian penting dari pembentukan karakter dan spiritualitas anak. Selama dikelola secara inklusif dan menghormati keberagaman, tempat ibadah dapat memperkuat fungsi sekolah sebagai ruang tumbuhnya manusia yang cerdas, berakhlak, dan toleran.

Pandangan itu disampaikan oleh Suparmin, S.Pd., Kepala SD Negeri 1 Jepangrejo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. Ia menuturkan, sejak sekolahnya memiliki bangunan musala, suasana belajar menjadi lebih nyaman dan religius.

“Pagi digunakan untuk salat duha, siangnya untuk salat zuhur. Guru, murid, hingga wali murid merasa senang,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (31/10/2025).

Musala di SDN 1 Jepangrejo baru saja rampung dibangun pada Agustus 2025. Pembangunan fasilitas senilai Rp 185.259.000 ini bersumber dari bantuan pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Blora.

Sebelum memiliki musala, kegiatan salat zuhur dilakukan di ruang UKS yang disekat menggunakan pembatas. “Tidak ada keluhan meski guru dan murid harus bergantian,” kenang Suparmin.

Sekolah dasar yang berada di tengah perkampungan Desa Jepangrejo ini memiliki 90 murid dan 13 tenaga pendidik serta penjaga sekolah. Menurut Suparmin, selama bulan Ramadan biasanya sekolah hanya menggelar kegiatan buka bersama di halaman.

“Belum ada rencana kegiatan Ramadan di musala, tapi semoga ke depan bisa dimanfaatkan lebih banyak,” katanya.
SDN 1 Jepangrejo memiliki delapan ruang kelas, satu ruang kepala sekolah, dan ruang guru. Semua ruang dalam kondisi baik, meski lima di antaranya belum memiliki plafon.

Suparmin berharap, tahun depan sekolahnya kembali mendapat dukungan pemerintah untuk pembangunan toilet serta pagar di sisi kanan, kiri, dan belakang sekolah.

“Kalau fasilitas dasar terpenuhi, lingkungan belajar akan semakin nyaman dan anak-anak bisa tumbuh lebih baik,” pungkasnya. (*)

Saatnya BPH Dirampingkan

0

PROSES seleksi Direktur dan Komisaris PT Blora Patragas Hulu (BPH) saat ini tengah menjadi perhatian publik. Sejak berdiri pada tahun 2005, BUMD milik Pemerintah Kabupaten Blora ini sudah beberapa kali mengalami pergantian direksi.

PT BPH didirikan untuk mewakili keikutsertaan Blora dalam Participating Interest (PI) Blok Cepu — sebuah wilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) di perbatasan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) dan Kabupaten Blora (Jawa Tengah).

Meski bergerak di bidang migas, peran PT BPH sejatinya hanya sebatas pemegang hak ekonomi (financial interest). Seluruh kegiatan eksplorasi dan produksi di lapangan sepenuhnya menjadi tanggung jawab ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) selaku operator Blok Cepu. Dengan demikian, BPH tidak memiliki fungsi teknis atau operasional di lapangan.

Secara praktis, tugas PT BPH hanya menunggu pembagian dividen tahunan dari hasil kegiatan Blok Cepu, lalu menyalurkannya kepada Pemerintah Kabupaten Blora sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Walaupun jumlah dividen yang diterima setiap tahun bisa mencapai puluhan miliar rupiah, porsi yang masuk ke kas daerah sebenarnya tidak terlalu besar, karena keuntungan tersebut masih harus dibagi dengan investor dari luar daerah yang menanamkan modal ke BPH.

Ironisnya, dengan biaya operasional dan gaji direksi yang tidak kecil, aktivitas manajemen PT BPH lebih banyak bersifat administratif. Tidak ada target peningkatan produksi, proyeksi bisnis baru, atau upaya ekspansi usaha.

Dalam kondisi seperti ini, keberadaan struktur organisasi yang besar—lengkap dengan komisaris, direksi, satuan pengawas internal, serta bidang keuangan, akuntansi, operasional, dan hukum—patut dipertanyakan efektivitasnya.

Padahal, kegiatan utama PT BPH sebenarnya dapat ditangani oleh satu atau dua orang tenaga akuntansi yang paham pajak untuk mengelola administrasi keuangan dan pembagian dividen.
Dengan merampingkan struktur dan mengefisienkan biaya, BUMD ini justru bisa meningkatkan kontribusinya terhadap PAD.
Mengurangi beban gaji komisaris dan direksi berarti menambah setoran bagi daerah.

Jika tujuan utamanya hanya mengelola dividen dari Blok Cepu, sebenarnya Pemkab Blora tidak harus membentuk BUMD. Alternatifnya, bisa dibentuk Unit Layanan Usaha (ULU) di bawah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, atau bahkan koperasi daerah yang dikelola oleh seorang manajer profesional tanpa struktur direksi yang kompleks.

Namun, bila model BUMD sekarang ini tetap menjadi pilihan, perampingan struktur organisasi dan pengetatan biaya operasional mutlak dilakukan.
Dengan langkah ini, PT BPH dapat lebih efisien, transparan, dan berorientasi pada peningkatan manfaat ekonomi bagi daerah.

“Jika omzet tidak bisa ditingkatkan, maka efisiensi harus dijalankan. Kunci keberhasilan usaha adalah bertumbuh atau berhemat dengan cerdas.”
***

Progres Koperasi Merah Putih Desa Pilang, Bukti Nyata Gerak Ekonomi Kerakyatan

0

Korandiva-BLORA.– Pembangunan Koperasi Merah Putih Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora terus menunjukkan progres positif. Saat ini, pekerjaan telah memasuki tahap pengurukan lahan seluas 2.070 meter persegi, di atas tanah bengkok desa yang telah dibebaskan untuk kepentingan pembangunan tersebut.

Kepala Desa Pilang, Suyatno, S.Sos, saat ditemui di lokasi pada Kamis (23/10/2025) menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan di desanya.

“Hari ini kita mulai proses pengurukan lahan dengan luas sekitar 2.070 meter persegi, dan untuk area bangunan koperasi sendiri berukuran 30 x 30 meter. Setelah ini, kami juga berencana membangun kolam ikan gurami yang nantinya akan dikelola oleh BUMDes sebagai salah satu unit usaha produktif,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suyatno menegaskan bahwa Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi simbol semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat desa.

“Kami ingin koperasi ini bukan hanya sekadar bangunan, tapi menjadi pusat kegiatan ekonomi yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” tambahnya.

Sementara itu, pengurus BUMDes Pilang, Eko Santoso, menambahkan singkat, “Kami siap mendukung penuh agar koperasi ini bisa menjadi penggerak ekonomi warga.” (*)

Hadroh Al-Mujahadah Sumberpitu Terima Bantuan Rp 50 Juta dari Kementerian Sosial

0

Korandiva-BLORA.- Kelompok Hadroh Al-Mujahadah Desa Sumberpitu, Kecamatan Cepu, menerima bantuan dana sebesar Rp50 juta dari Kementerian Sosial Republik Indonesia. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan, kreativitas, dan kesejahteraan para pelaku seni keagamaan di tingkat desa.

Ketua Hadroh Al-Mujahadah, Ali Maksum, menyampaikan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah terhadap kelompok seni hadroh di daerah. Menurutnya, bantuan ini menjadi dorongan besar bagi para anggota untuk terus berkembang dan melestarikan kesenian Islami.

“Kami sangat berterima kasih kepada Kementerian Sosial atas bantuan ini. Dana sebesar lima puluh juta rupiah ini kami gunakan untuk membeli peralatan hadroh yang lebih baru dan berkualitas, agar penampilan kami semakin baik dan menarik,” ujar Ali Maksum.

Pria 46 tahun ini menjelaskan bahwa tujuan dibentuknya Hadroh Al-Mujahadah adalah untuk melestarikan seni budaya tradisional yang sarat dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Pelestarian ini diharapkan mampu menjaga nilai-nilai luhur, memperkuat jati diri masyarakat, serta menjadikan seni tradisional sebagai sarana pengembangan sosial, pendidikan, dan spiritual masyarakat.

Kelompok Hadroh Al-Mujahadah memiliki 20 anggota aktif yang secara rutin berlatih dan tampil di berbagai kegiatan keagamaan. Mereka tidak hanya tampil di wilayah Kecamatan Cepu, tetapi juga pernah tampil di berbagai daerah seperti Pati, Rembang, dan Bojonegoro. Bahkan, Al-Mujahadah pernah mendapat kehormatan untuk mengiringi Habib Anis dari Jakarta dalam acara keagamaan besar.

Setelah menerima bantuan dari Kementerian Sosial, para anggota hadroh mengaku semakin bersemangat dan merasa sangat terbantu, karena kini mereka bisa menggunakan alat musik yang lebih baik dan modern.

“Kami ingin Hadroh Al-Mujahadah tetap eksis sepanjang masa. Selain sebagai sarana dakwah, hadroh juga menjadi hiburan yang menyejukkan hati masyarakat,” ungkap ayah dua anak ini.

Kelompok hadroh Al-Mujahadah selama ini aktif tampil di berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan masyarakat, seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Mikraj, dan acara-acara desa. Dengan adanya dukungan fasilitas baru, diharapkan penampilan grup ini dapat semakin maksimal dan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah melalui Kementerian Sosial terus mendorong pengembangan potensi masyarakat di bidang seni dan budaya religius sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan sosial. Dukungan terhadap kelompok hadroh seperti Al-Mujahadah diharapkan mampu menjaga tradisi keagamaan yang menumbuhkan semangat kebersamaan dan syiar Islam di tengah masyarakat.

“Kami berharap kelompok hadroh di berbagai daerah juga mendapat perhatian dan dukungan, agar seni tradisional Islam seperti ini tetap lestari dan diminati oleh generasi muda,” pungkas pria asal Rembang ini mengakhiri perbincangan. (*)

Dari Blora, Harapan Baru Tumbuh di Tengah Hutan: Program Agroforestry Berbasis Alam Dorong Petani Mandiri dan Hutan Tetap Lestari

0

Korandiva-BLORA.- Sore itu, langit di Desa Kedungrejo, Kecamatan Tunjungan, Blora, mulai menggelap. Para petani menutup kegiatan dengan doa singkat, sementara Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini berdiri menatap bibit pohon buah yang baru ditanam di belakang balai desa. Bagi warga, hari itu bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari harapan baru — tangan-tangan petani bukan hanya menanam pohon, tetapi juga masa depan.

Di tengah hawa panas, puluhan petani pesanggem dan perangkat desa tetap antusias menyambut dimulainya Program Nature Based Solution Agroforestry (NbSA), kolaborasi Kementerian Pertanian RI, PT Pupuk Indonesia, dan Duta Petani Milenial Unggulan. Program ini menjadi langkah strategis menggabungkan dua kekuatan besar: ekologi dan ekonomi petani hutan sosial.

Kick off ditandai dengan penanaman pohon kelengkeng oleh Wabup Sri Setyorini di lahan 5 hektare, bagian dari target nasional 1.000 hektare dengan dukungan dana Rp20 miliar dari Pupuk Indonesia untuk Kabupaten Blora.

“Tujuan kami sederhana: meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengorbankan kelestarian hutan,” ujar Sandra, Duta Petani Milenial. “Dalam tiga tahun, pohon sudah berbuah dan hasilnya sepenuhnya untuk petani.”

Melalui sistem agroforestry, tanaman keras seperti kelengkeng, mangga, dan jambu dikombinasikan dengan jagung dan tanaman semusim lainnya. Hasilnya, hutan tetap hijau, tanah lembap, karbon terserap, dan petani mendapat penghasilan berkelanjutan.

Bagi Hendra, petani pelopor di Kedungrejo, program ini menjadi “hadiah perjuangan.” Ia telah bertahun-tahun menanam tanpa kepastian hasil. “Dana sudah banyak keluar, tapi semangat kami tidak pernah padam. Yang penting lahan hidup dan hasilnya untuk anak cucu,” ujarnya dengan mata berbinar.

Perwakilan PT Pupuk Indonesia, Rosikin Busro, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung petani hutan sosial. “Kami tidak hanya menyalurkan pupuk, tapi juga membangun ekosistem pemberdayaan. Petani hutan sosial harus masuk sistem RDKK agar mendapat pupuk bersubsidi,” tegasnya.

Kepala Desa Kedungrejo Suntana menyambut positif program ini. “Kami akan manfaatkan bantuan dengan baik agar hutan kembali hijau dan hasilnya dinikmati bersama,” katanya. Dukungan juga datang dari Serikat Petani Hutan Nusantara (SPHN) yang berjanji merawat bibit sesuai karakter lahan setempat.

Wabup Sri Setyorini menilai program ini sejalan dengan misi Blora menuju kemandirian pangan dan konservasi air. “Dengan kolaborasi ini, target 1.000 hektare agroforestry bisa tercapai pada 2026. Blora akan menjadi lumbung pangan nasional,” ujarnya.

Selain aspek ekonomi, program NbSA juga menargetkan regenerasi petani desa. Tiga sasaran utama diusung: pemberdayaan petani hutan sosial agar mandiri dan inovatif, penciptaan wirausahawan agribisnis muda, serta kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, perusahaan, dan komunitas lokal.

Dengan dukungan Bulog sebagai off-taker, hasil panen buah dan jagung dari kawasan hutan sosial diharapkan terserap optimal di pasar nasional.
“Dari Blora, kita buktikan bahwa hutan tidak hanya hijau, tetapi juga berbuah kesejahteraan,” tutur Sandra menutup kegiatan — sebuah pesan sederhana yang menumbuhkan optimisme di tengah rimbunnya harapan baru. (*)

Program Agroforestry Berbasis Alam Resmi Dimulai di Blora

0

Korandiva-BLORA — Program Nature Based Solution Agroforestry resmi dimulai di lahan hutan Dukuh Gendongan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Selasa (28/10/2025). Kegiatan tanam pohon buah ini digagas Kementerian Pertanian bersama PT Pupuk Indonesia dan Duta Petani Milenial Unggulan.

Program ini menjadi langkah awal integrasi konservasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan petani hutan sosial. Kick off ditandai dengan penanaman bibit buah di lahan 5 hektare, bagian dari target nasional 1.000 hektare dengan total bantuan Rp20 miliar untuk Blora.

Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai program ini sejalan dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan dan konservasi air. “Dengan kolaborasi ini, Blora bisa menjadi lumbung pangan nasional. Target 1.000 hektare agroforestry kami kejar sampai 2026,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kendala teknis di lapangan, seperti distribusi pupuk yang masih bergantung pada sistem niaga lama. “Kami berharap ke depan distribusinya lebih transparan dan berpihak pada petani,” tambahnya.

Perwakilan PT Pupuk Indonesia, Rosikin Busro, menegaskan komitmen perusahaan untuk memastikan ketersediaan pupuk dan pemberdayaan petani hutan sosial. “Kami mendukung kebijakan agar petani hutan sosial masuk sistem RDKK dan menerima pupuk bersubsidi,” katanya.

Sementara Sandra, Duta Petani Milenial Kementan, menjelaskan tujuan utama program ini adalah meningkatkan pendapatan petani tanpa mengorbankan kelestarian hutan. “Tanaman seperti mangga, kelengkeng, dan jambu bisa berbuah dalam tiga tahun, hasilnya untuk petani. Hutan tetap lestari, ekonomi tumbuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, sistem agroforestry juga berperan menyerap karbon, menjaga siklus air, dan menanamkan kesadaran lingkungan bagi generasi muda.
Kepala Desa Kedungrejo Sutana menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak. “Bantuan ini kami manfaatkan agar hutan kembali hijau dan hasilnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Perwakilan Serikat Petani Hutan Nusantara (SPHN) menegaskan kesiapan kelompok pesanggem merawat tanaman sesuai karakteristik lahan. “Bibit sudah disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim. Kami siap rawat agar tumbuh maksimal,” ujarnya.

Program ini juga menargetkan pemberdayaan petani hutan sosial agar mandiri, mencetak wirausahawan muda desa, dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat untuk pengelolaan hutan produktif berkelanjutan. (*)

PWRI Blora Didorong Jadi Penggerak Literasi Digital Lansia

0

Korandiva-BLORA. — Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Blora menggelar sarasehan bertema “Peran Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) dalam Menciptakan Iklim Ruang Digital yang Nyaman” di resto D’Joglo, Selasa (28/10/2025).

Kepala Bakesbangpol Blora, Sujianto, SE., M.M., menyebut kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan tukar gagasan untuk memperkuat kapasitas organisasi PWRI agar dapat berkontribusi aktif dalam pembangunan Blora yang maju dan berkelanjutan di era digital.

“Para purna tugas yang tergabung dalam PWRI diharapkan memahami dampak positif dan negatif dari transformasi digital, serta mampu menjadi motivator dan panutan masyarakat,” ujar Sujianto.

Ia menekankan pentingnya kecakapan, etika, dan kebijaksanaan dalam berinteraksi di ruang digital. Menurutnya, para wredatama perlu berperan sebagai penggerak literasi digital yang menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, dan semangat guyub rukun, terutama di tengah maraknya hoaks dan ujaran kebencian.

Sementara itu, Ketua PWRI Blora Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., menyampaikan apresiasi atas dukungan Bakesbangpol dalam meningkatkan kapasitas SDM ormas. “Sarasehan seperti ini sangat bermanfaat bagi generasi lansia. Berdasarkan data, lebih dari 70 persen lansia cenderung percaya pada berita hoaks,” ungkap mantan Sekda Blora tersebut.

Bambang juga mengingatkan pentingnya berpikir kritis dan memverifikasi informasi melalui metode ABCD — Amati judul dan pesan, Baca isi utuh, Cek fakta, dan Diskusikan dengan pihak berkompeten.

Dalam sarasehan itu, ia memaparkan lima ikhtiar hidup bahagia di usia senja: menerapkan pola hidup sehat, mandiri, aktif bersilaturahmi, menjadi pribadi bermanfaat, serta rajin beribadah dan bersedekah.

Acara ditutup dengan pencerahan anti pikun oleh H. Soedadyo, SH, dan tepuk tangan semangat lansia A5: Awak Sehat, Ati Seneng, Awet Urip, Ana Gunane, lan Ajek Ibadahnya. (*)

Bakti Sosial Lazismu Cepu dan Desa Tlogotuwung, Bukti Nyata Kepedulian Sesama

0

Korandiva-BLORA.- Pada Sabtu (24/10/2025), bertempat di Balai Desa Tlogotuwung, Lazismu Cepu bekerja sama dengan Pemerintah Desa Tlogotuwung, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, menggelar kegiatan bakti sosial sebagai wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat.

Berbagai kegiatan sosial digelar, di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian sembako bagi warga kurang mampu, penyaluran zakat untuk anak yatim, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil, serta pembagian pakaian layak pakai bagi warga yang membutuhkan.

Kepala Desa Tlogotuwung Maryono menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Lazismu Cepu atas perhatian dan kepeduliannya terhadap warga desa.

“Kami sangat berterima kasih kepada Lazismu Cepu yang telah hadir dan peduli terhadap masyarakat kami. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga, terutama dalam meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan dan menumbuhkan semangat berbagi,” ujar Maryono.

Sementara itu, perwakilan Lazismu Cepu Malinda menjelaskan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian dari program kemanusiaan yang rutin dilakukan pihaknya.

“Kami ingin terus hadir di tengah masyarakat, membantu meringankan beban sesama dan mempererat tali silaturahmi. Melalui kegiatan ini, semoga bisa membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi banyak orang,” tutur Malinda.

Melalui kegiatan bakti sosial ini, diharapkan kerja sama antara Lazismu Cepu dan Pemerintah Desa Tlogotuwung dapat terus terjalin, sehingga semakin banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial menjadi fondasi kuat dalam membangun desa yang sehat, sejahtera, dan penuh empati. (*)

Polres Blora Tangkap Pemuda Pelaku Persetubuhan Anak di Bawah Umur

0

Korandiva-BLORA.– Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blora berhasil menangkap seorang pemuda berinisial FERA (23) yang diduga kuat melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak di bawah umur berinisial CHO (14). Terduga pelaku ditangkap setelah korban ditemukan dan mengakui perbuatan tersebut kepada ibunya.

Peristiwa ini bermula pada Minggu, 27 Juli 2025. Korban, yang merupakan seorang pelajar asal Kelurahan Karangboyo, Kecamatan Cepu, meninggalkan rumah dengan dijemput ojek online dan membawa tas ransel. Ibu korban, Siti Fatimah, yang panik karena korban tidak bisa dihubungi, kemudian meminta bantuan kerabat untuk melakukan pencarian.

Setelah satu hari pencarian, pada Senin malam, 28 Juli 2025, nomor telepon korban tiba-tiba aktif. Melalui bujuk rayu, korban akhirnya memberikan alamat keberadaannya, yakni di sebuah kamar kos “YCL” di Desa Seso, Kecamatan Jepon, Blora.

Saat ditemukan di kamar kos tersebut oleh kerabatnya, korban berada sendirian. Saksi mata di lokasi menemukan barang bukti berupa alat kontrasepsi dan tisu magic bekas pakai di dalam lemari. Meski sempat bungkam, korban akhirnya mengakui kepada ibunya pada Rabu, 30 Juli 2025, bahwa ia telah disetubuhi sebanyak satu kali, dan ia mengaku tidak suka dengan perbuatan tersebut. Akibat perbuatan tersangka, korban mengalami trauma, sering murung, dan secara fisik sudah tidak perawan.

Tersangka, beralamat di Kelurahan Kedungjenar, Kecamatan Blora, kini telah diamankan dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Tindak Lanjut dan Penegasan dari Kepolisian
Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa penangkapan ini adalah bagian dari komitmen Polres Blora dalam melindungi anak-anak dari tindak kekerasan seksual.
“Kami telah mengamankan tersangka FERA. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, tersangka dijerat dengan Pasal 81 ayat (1) atau ayat (2) UURI No. 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak,” tegas AKBP Wawan Andi Susanto.

Kapolres Blora menambahkan bahwa proses penyidikan akan dilakukan secara profesional. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinsos P3A Kabupaten Blora untuk memberikan pendampingan dan pemulihan psikologis (trauma healing) kepada korban. Selain itu, penyidik juga sedang menunggu hasil Visum et Repertum dari rumah sakit untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum. (*)