Korandiva-BLORA.- Pemutaran film Pesta Babi di Blora, Sabtu (9/5/2026) malam, berlangsung tanpa gangguan. Di tengah kabar pembubaran dan tindakan represif terhadap pemutaran film serupa di sejumlah daerah, ruang kecil di Blora justru berubah menjadi tempat lahirnya suara-suara getir dari Papua.
Pelajar, guru, aktivis hingga mahasiswa asal Papua duduk bersama menyaksikan film yang mengangkat luka panjang tanah timur Indonesia itu.
Sedikitnya lima mahasiswa Papua hadir dalam pemutaran tersebut. Di antara mereka ada James, Melanesia, dan Chris. Bagi mereka, film itu bukan sekadar tontonan, melainkan potret kehidupan yang mereka alami sendiri.
“Film ini benar-benar menceritakan Papua yang nyata,” kata James.
Ia berasal dari Timika, wilayah yang berdekatan dengan area konsesi tambang Freeport. Menurutnya, masyarakat kini hidup di tengah kerusakan lingkungan yang makin parah.
“Kami susah bertani. Limbah tambang masuk ke wilayah warga dan merusak alam,” ujarnya.

Suara serupa disampaikan Melanesia. Ia menggambarkan hutan Papua terus dibabat oleh perusahaan tambang, perkebunan, dan industri besar lainnya. Sementara masyarakat adat, katanya, hidup bergantung sepenuhnya pada alam.
“Kalau hutan digusur, kami harus cari makan di mana?” tuturnya.
Baginya, pembangunan yang datang ke Papua justru sering meninggalkan ironi: alam rusak, pendidikan tertinggal, dan masyarakat adat semakin tersisih di tanah sendiri.
Chris, mahasiswa Papua lainnya, menambahkan bahwa kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman kini ikut berubah drastis. Air laut yang dulu jernih mulai keruh, sungai tercemar, dan hasil buruan maupun tangkapan ikan terus menurun.
“Pantai kami sekarang airnya sudah tidak seperti dulu. Butek,” katanya.
Ia menilai kerusakan itu tidak bisa dilepaskan dari aktivitas pertambangan dan pembukaan hutan besar-besaran yang terus meluas menggunakan alat berat.
Di Blora malam itu, film Pesta Babi tak hanya diputar sebagai karya sinema. Ia menjadi ruang kesaksian—tentang Papua yang selama ini lebih sering dibicarakan tanpa benar-benar didengar. (*)


