Di Tengah Musim Giling, Petani Tebu Blora Dikepung Ketidakpastian

Korandiva-BLORA.- “Wong urip iku gendong lali, mulane bisa syukur amrih gendong rejeki.”
Kalimat bijak Jawa itu meluncur pelan dari mulut Ketua APTRI Blora, Sunoto, Minggu (10/5/2026), di sebuah sudut Cafe Kuma, Karangjati, Blora. Namun di balik petuah tentang syukur itu, tersimpan kegelisahan panjang ribuan petani tebu yang kini seperti berdiri di bibir jurang.
Musim giling 2026 datang tanpa kepastian.

Sekitar 8.000 hektar lahan tebu di Blora siap panen. Tetapi pabrik gula PT GMM Bulog justru berhenti beroperasi sejak September 2025 setelah dua boiler rusak berat. Dampaknya tak sekadar mesin mati, melainkan juga mematikan harapan lebih dari 30 ribu petani tebu.

Trauma musim giling 2025 masih membekas. Tebu tak terangkut, pembayaran kacau, dan kerugian disebut menembus lebih dari Rp500 miliar. Di desa-desa sentra tebu, kisah itu berubah menjadi luka kolektif.
“Kami sudah berikhtiar ke mana-mana, tapi belum ada hasil,” kata Sunoto lirih.

Kini APTRI menggantungkan harapan pada Siswanto, Wakil Ketua DPRD Blora yang dinilai punya akses hingga tingkat pusat. Nama Siswanto disebut berulang kali dalam forum itu, bukan sekadar pejabat, tetapi figur yang diharapkan mampu membuka pintu terakhir bagi petani tebu.

Sunoto menyebut, di tengah kesibukan dan studi S3 yang dijalani, Siswanto masih mau duduk mendengar keluh kesah petani.

Sementara itu, Sekretaris APTRI, Anton Sudibdyo, mengingatkan ancaman lain mulai muncul. Ketika pabrik berhenti dan harga tebu jatuh, para pemilik modal mulai masuk memainkan sistem “pok-pokan”, membeli tebu murah dari petani yang terdesak kebutuhan hidup.
Petani semakin terpojok.

Agus Joko Susilo bahkan menyebut kondisi ini sebagai ancaman “Kiamat Kubro” bagi petani tebu Blora—penderitaan panjang yang bisa mematikan masa depan pertanian tebu rakyat.

Di hadapan para petani, Siswanto mengaku memahami rasa sakit itu. Ia tidak berbicara sebagai politisi semata. Tebu miliknya sendiri, kata dia, juga ikut gagal ditebang pada musim lalu.
Karena itu, ia menawarkan langkah yang lebih berani: membawa persoalan petani tebu langsung ke Jakarta.

APTRI dijadwalkan beraudiensi dengan Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman. Surat permohonan dari APTRI dan dukungan Ketua Umum ADKASI disebut akan dibawa langsung oleh Siswanto ke ibu kota.
“Besok saya bawa sendiri ke Jakarta,” tegasnya.

Bagi petani tebu Blora, kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi setelah musim demi musim dipenuhi janji dan kerugian, secercah keberpihakan sekecil apa pun kini terasa seperti setetes air di tengah ladang yang mulai mengering. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1066, Terbit Tanggal 27 April 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related