Korandiva-BLORA.- “Tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu ceria.”
Penggalan lirik lagu Kidung milik Chrisye itu seperti menjadi semangat baru bagi para petani tebu Blora yang bertahun-tahun terjebak dalam ketidakpastian.
Sabtu Legi, 9 Mei 2026, tujuh pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora menempuh perjalanan darat lebih dari delapan jam menuju Padepokan HM Arum Sabil di Tanggul, Jember, Jawa Timur. Rombongan dipimpin Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto.
Bagi orang Jawa, angka tujuh atau pitu dipercaya sebagai lambang pitulungan—pertolongan. Harapan itu pula yang mereka bawa: mencari jalan keluar bagi nasib ribuan petani tebu yang sedang limbung.
Di padepokan seluas 65 hektare itu, mereka diterima langsung oleh HM Arum Sabil, tokoh pertanian nasional yang dikenal sederhana, tegas, dan dekat dengan wong cilik.
Dalam suasana hangat dan kekeluargaan, H. Sunoto menyampaikan tiga persoalan besar yang kini menghimpit petani tebu Blora.
Pertama, mandeknya musim giling di PG PT GMM Bulog akibat kerusakan dua boiler utama. Padahal, lebih dari 8.000 hektare lahan tebu di Blora sudah memasuki masa panen.
“Petani hanya ingin ada kepastian. Tebu tetap dibeli dengan harga sesuai ketentuan pemerintah,” ujar Sunoto.
Kedua, mereka meminta renovasi total pabrik gula yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Blora.
Ketiga, reformasi manajerial secara menyeluruh di tubuh PT GMM Bulog. Kondisi internal pabrik disebut semakin memprihatinkan. Banyak pekerja dirumahkan, sebagian dialihkan ke luar kota, dan pabrik nyaris hanya dijaga satpam.
Sekretaris APTRI Blora, Anton Sudibdyo, menyebut penderitaan petani sudah berlangsung terlalu lama.
“Tujuh tahun petani dibuat terpuruk karena salah kelola. Saat giling 2025 dihentikan sepihak, kerugian petani ditaksir lebih dari Rp500 miliar,” katanya.

Menurut Anton, sekitar 30 ribu petani tebu kini hidup dalam trauma dan kebingungan mencari tempat menjual hasil panen mereka.
Namun di tengah keluhan itu, HM Arum Sabil memilih meredakan suasana dengan pesan sederhana: perjuangan harus tetap dijalankan dengan etika dan kepala dingin.
“Petani harus tetap santun dalam menyampaikan aspirasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah integritas dan pengendalian diri,” pesannya.
Arum Sabil bahkan menyatakan kesediaannya mendampingi APTRI Blora bertemu para pengambil kebijakan di tingkat pusat. Kalimat itu menjadi penyejuk bagi rombongan yang datang membawa kegelisahan panjang.
Usai berdiskusi, suasana berubah lebih cair. Para tamu diajak menikmati hidangan sederhana sebelum berkeliling kawasan padepokan menggunakan mobil odong-odong yang dikemudikan langsung oleh HM Arum Sabil.
Di sepanjang perjalanan, mereka melihat kebun buah, peternakan, kolam ikan, hingga lahan edamame yang dikelola modern dan produktif.
Padepokan itu memang bukan sekadar rumah tinggal.
Di sana berdiri pusat pelatihan pertanian P4S Taruna Bhumi dan Sekolah Pelita Hati—dua bangunan megah bergaya Istana Negara yang menjadi simbol pendidikan, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Bambang Sulistya, salah satu anggota rombongan, kunjungan itu bukan hanya perjalanan mencari solusi, tetapi juga upaya merawat harapan.
“Di tempat ini kami belajar bahwa pertanian bisa dikelola maju, manusiawi, dan memberi masa depan,” ujarnya.
Menjelang senja, rombongan APTRI Blora pun pulang membawa sesuatu yang mungkin lebih penting daripada sekadar jawaban: keyakinan bahwa mendung panjang petani tebu suatu hari bisa benar-benar berganti cerah. (*)


