BLORAJAWA TENGAH

Senja Ramadan, Silaturahmi yang Menghangatkan Hati para Purna Tugas

Korandiva-BLORA.— Malam kian larut selepas salat tarawih, Jumat (20/3/2026). Di sudut sederhana sebuah kafe di kawasan Nglawiyan, Karangjati, suasana justru terasa hangat. Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan perjumpaan hati—para purna tugas yang pernah mengabdikan diri untuk daerah, kini duduk sejajar, tanpa sekat jabatan.

Di tempat itu, mantan Sekda Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A., menginisiasi sebuah silaturahmi kecil yang mereka sebut dengan sederhana: “kelompok lima persen.” Sebuah istilah yang terdengar ringan, namun menyimpan makna kedekatan, keakraban, dan mungkin—kejujuran dalam memaknai hidup setelah masa jabatan usai.

Hadir dalam lingkaran hangat itu sejumlah nama yang pernah menjadi bagian penting roda pemerintahan Kabupaten Blora: Drs. Purwanto, MM, mantan Kepala DPMPTSP; Drs. Sunanto, MM, mantan Kepala BPBD; Sarmidi, SP., MM., dari Dindagkop UKM; serta Suripto, S.Sos., mantan Kabid Setwan.

Tak ada protokoler. Tak ada kursi kehormatan. Yang ada hanya canda ringan, tawa lepas, dan sesekali jeda hening ketika kenangan lama kembali menyapa.
Malam itu, perbincangan mengalir dari hal-hal sederhana—kesehatan, keluarga, hingga aktivitas selepas purna tugas—lalu perlahan memasuki ruang yang lebih dalam: perenungan tentang hidup.

Purwanto membuka percakapan dengan pitutur Jawa yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa hidup sejatinya adalah tentang memberi manfaat.
“Urip iku urup,” ucapnya pelan, seolah mengajak semua yang hadir untuk kembali menyalakan cahaya dalam diri masing-masing.
Di tengah zaman yang ia sebut “kolobendu”—penuh godaan dan kegelisahan—ia mengajak untuk tetap mengendalikan hawa nafsu dan ego, terutama setelah ditempa selama Ramadan. Baginya, hidup bukan sekadar berjalan, tetapi memahami dari mana manusia berasal dan ke mana akan kembali—sangkan paraning dumadi.
Sunanto, yang kini memilih mengelola tambak di Dukuhseti, Pati, berbicara dengan nada tenang. Ia merasa, selepas purna tugas, hidup tak lagi soal panggung.
“Sekarang waktunya tetap produktif, tapi lebih banyak memberi manfaat,” tuturnya.

Dari tambaknya seluas dua hektare, ia tak hanya memanen ikan nila dan bandeng, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan dengan berbagi kepada masyarakat sekitar. Baginya, keberkahan justru terasa ketika hasil jerih payah bisa dinikmati bersama.

Sarmidi menambahkan dengan keyakinan yang sederhana namun dalam: hidup sudah ada yang mengatur.
“Urip wis ginaris,” katanya.
Ia mengajak untuk lebih banyak berserah, ikhlas, dan tawakal. Karena pada akhirnya, manusia hanyalah pemeran dalam panggung kehidupan, sementara naskahnya telah ditulis oleh Sang Pemilik Semesta. Namun satu hal yang pasti, ia percaya: sopo nandur bakal ngunduh—siapa menanam, akan menuai.

Sementara itu, Suripto, yang kini aktif memimpin paguyuban keluarga besar keturunan Eyang Dipoyudo, justru menemukan makna hidup dalam kesederhanaan.
“Sekarang ini, hidup sederhana itu malah jadi barang langka,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan tanda kemapanan batin—ketika seseorang tak lagi dikuasai keinginan yang berlebihan.

Di penghujung pertemuan, Bambang Sulistya merangkum semua yang mengalir malam itu dalam satu kata: silaturahmi. Sebuah kebutuhan jiwa yang tak tergantikan.
Ia menyebut silaturahmi sebagai “MULIA”—akronim yang sarat makna: melapangkan rezeki, menghadirkan rahmat, mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat berbagi, hingga menjaga kesehatan lahir dan batin.
Malam semakin larut. Percakapan perlahan mereda. Namun hangatnya kebersamaan justru terasa semakin kuat.
Satu per satu mereka berdiri. Saling berjabat tangan, berpelukan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ucapan yang sama terucap tulus, tanpa rekayasa: Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.

Di balik senyum itu, terselip doa sederhana—semoga usia masih memberi kesempatan untuk kembali dipertemukan dalam Ramadan berikutnya.
Karena bagi mereka, pada akhirnya, yang tersisa bukanlah jabatan, melainkan kenangan, persahabatan, dan makna kehidupan yang terus bertumbuh. (*)

BERITA TERKAIT