BLORAJAWA TENGAH

Menjemput Bahagia di Usia Senja dari Serambi Subuh Nurul Falah

Korandiva-BLORA.- Fajar belum sepenuhnya merekah di langit Karangjati, Blora. Namun lantunan ayat suci Al-Qur’an telah lebih dulu menghangatkan ruang Masjid Nurul Falah. Di penghujung Ramadan 1447 H, Rabu (18/03/2026), suasana subuh itu terasa berbeda—lebih hening, sekaligus lebih menggetarkan.

Di hadapan jamaah yang masih larut dalam kekhusyukan, mantan Sekda Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, berdiri menyampaikan Kuliah Tujuh Menit (kultum). Suaranya tenang, namun sarat makna. Tema yang diangkat sederhana, tetapi menyentuh relung kehidupan: “Aktivitas di Usia Senja Menuju Sehat dan Bahagia.”

Baginya, usia senja bukanlah masa untuk berhenti, melainkan fase mematangkan makna hidup. Ia mengajak jamaah untuk menjadi manusia paripurna—mereka yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental, mantap dalam keimanan, dan lapang dalam kebahagiaan.

“Semua itu tidak datang dengan sendirinya,” tuturnya pelan. “Harus diupayakan dengan pendekatan yang utuh—fisik, mental, spiritual, dan sosial.”

Dalam perjalanan hidupnya, Bambang mengaku selalu berpijak pada “petunjuk langit”. Ia mengutip tiga ayat Al-Qur’an yang menjadi kompas dalam menapaki usia senja. Tentang tujuan hidup untuk beribadah, tentang ciri orang bertakwa, hingga pesan agar manusia tidak berhenti berkarya setelah menuntaskan satu urusan.

Dari situlah lahir sebuah rumusan sederhana namun membumi: BEBAS. Bukan sekadar akronim, tetapi cara hidup.
Beraktivitas, katanya, adalah kunci. Hari-hari harus diisi dengan kegiatan bernilai ibadah. Ia bahkan menyebut tiga “modal sosial” yang kerap terlupakan: bantuan tenaga orang lain (BATOL), bantuan dana (BADOL), dan bantuan doa (BANDOL). Sebuah pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.

Ia lalu mengajak jamaah mengenyahkan pola pikir negatif—penyakit hati seperti iri dan dengki—yang kerap menggerogoti kebahagiaan tanpa disadari. Ramadan, menurutnya, adalah momentum terbaik untuk membersihkan batin.
Belajar pun tak boleh berhenti. Tidak hanya dari buku atau manusia, tetapi juga dari semesta. Dari alam yang sunyi, manusia bisa menemukan ketenangan yang tak tergantikan.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga ritme ibadah, gemar bersedekah, dan merawat silaturahmi. “Di situlah letak sehat dan berkah,” ucapnya.

Dan di ujung pesannya, ia menyelipkan semangat yang tak lekang oleh waktu—Semangat ’45. Semangat untuk tetap tangguh, tetap guyub, tetap rukun dalam kehidupan sosial. Sebuah semangat yang, menurutnya, justru harus semakin menyala di usia senja.
Ia pun mengutip sebuah kalimat yang kini kerap digaungkan Presiden Prabowo Subianto:
“Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.” Kalimat itu menggantung di udara, seolah menjadi penutup yang tak perlu ditambah lagi.

Namun Bambang memilih menutup kultumnya dengan cara yang lebih lembut—sebuah pantun:
Suara takbir menggema syahdu,
Menyentuh kalbu di akhir waktu.
Ramadhan pergi meninggalkan rindu,
Semoga Ramadan tahun depan kita masih bertemu.

Beberapa jamaah tampak menunduk. Barangkali merenung, barangkali juga menahan haru.
Usai kultum, kehangatan Ramadan kembali terasa dalam bentuk yang sederhana. Ketua takmir masjid, H. Slamet Pamuji, SH., M.Hum., membagikan 45 paket makanan kepada jamaah tadarus. Sebuah gestur kecil, namun penuh makna—tentang berbagi, tentang kepedulian, tentang kebersamaan.
Di pagi yang kian terang itu, satu pesan terasa mengendap kuat:
bahwa usia boleh menua, tetapi semangat untuk hidup bermakna tak boleh pernah padam. (*)

BERITA TERKAIT