Beranda blog Halaman 6

HUT Ke-47, SMP Negeri 2 Cepu Tampilkan Semangat “Membangun Karakter, Meraih Prestasi”

0

Korandiva-BLORA.— SMP Negeri 2 Cepu merayakan hari ulang tahunnya yang ke-47 pada Kamis (12/2/2026) dengan meriah. Lapangan sekolah yang berada di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora itu dihias warna-warni dengan mengusung tema “Membangun Karakter, Meraih Prestasi”.

Perayaan tersebut melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga masyarakat sekitar. Sejak pagi, kemeriahan sudah terasa melalui pawai siswa-siswi yang mengelilingi Kota Cepu sebelum kembali ke halaman sekolah sebagai pusat kegiatan.

Di halaman sekolah, panitia menyiapkan panggung megah yang dipenuhi berbagai hadiah untuk para pemenang lomba. Suasana semakin semarak dengan antusiasme peserta dan tamu undangan yang memadati lokasi acara.

Kepala SMP Negeri 2 Cepu, Erna Titik Yustiyani, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perkembangan sekolah hingga memasuki usia ke-47 tahun. Ia menegaskan pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam memajukan dunia pendidikan.

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter siswa agar menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

Beragam perlombaan digelar untuk memeriahkan peringatan hari jadi tersebut, mulai dari lomba seni, olahraga, hingga pengetahuan umum. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat dan kemampuan siswa, tetapi juga mempererat kebersamaan antarkelas serta menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat.
Erna menambahkan, bertambahnya usia sekolah harus menjadi momentum untuk terus berbenah.

“SMP Negeri 2 Cepu tidak hanya memprioritaskan prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan moral siswa sebagai bekal menyongsong masa depan,” tegasnya.

Selain perlombaan, siswa juga menampilkan pertunjukan seni dan musik yang disambut antusias oleh seluruh peserta dan wali murid yang hadir.

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan harapan agar sekolah senantiasa diberi keberkahan dan mampu mencetak generasi unggul yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. (*)

Pengelola Sumur Tua Minta Kenaikan Tarif Jasa Angkat Angkut ke 80% ICP, ESDM Akan Kaji Revisi Aturan Lama

0

Korandiva-JAKARTA.- Sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Koperasi Unit Desa (KUD) pengelola sumur tua mendesak pemerintah melakukan penyesuaian tarif jasa angkat dan angkut minyak mentah menjadi 80% dari Indonesian Crude Price (ICP). Usulan tersebut disampaikan langsung dalam audiensi bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Lima badan usaha yang hadir dalam pertemuan tersebut yakni PT Bojonegoro Bangun Sarana (BUMD Bojonegoro), PT Blora Patra Energi (BUMD Blora), PD Aneka Tambang (BUMD Tuban), KUD Wargo Tani Makmur (Blora), dan KUD Makmur Jati (Blora).

Audiensi diterima oleh Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Percepatan Peningkatan Produksi, Manajemen Risiko, dan Percepatan Investasi Industri Migas, Muhammad Iksan Kiat.

Perwakilan BUMD dan KUD menyampaikan bahwa keberadaan sumur tua merupakan penopang ekonomi ribuan masyarakat penambang sekaligus memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor migas.
Seiring terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025, para pengelola mengusulkan agar formula tarif jasa yang sebelumnya sebesar 70% ICP dapat disesuaikan menjadi 80% ICP sesuai regulasi terbaru.

Juru bicara BUMD dan KUD pengelola sumur tua, Lilik Budi Witoyo, menegaskan bahwa penyesuaian tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan operasional dan meningkatkan kontribusi produksi migas nasional.
“Penyesuaian ini bukan semata kepentingan usaha, tetapi untuk menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat penambang dan mendukung peningkatan lifting nasional,” ujarnya.

Selain penyesuaian tarif, pengelola sumur tua juga mengusulkan revisi terhadap Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2008 yang dinilai sudah tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini.

Menurut mereka, revisi regulasi perlu membuka ruang penggunaan teknologi tepat guna, termasuk deepening dan Kerja Ulang Pindah Lapisan (KUPL), guna mengoptimalkan produksi dari sumur-sumur lama.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan arahan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam wibset resmi kemeteran ESDM yang berjudul Pemerintah Andalkan Teknologi Lanjutan Tingkatkan Lifting Migas pada hari Kamis, 12 Februari “Untuk meningkatkan lifting, mau tidak mau, harus kita suntik dengan teknologi. Sumur-sumur yang sudah lama ini kita suntik pakai teknologi, nggak ada cara lain. EOR salah satunya,” ujar Bahlil di Jakarta, 27 Februari 2026.

Respons Pemerintah Menanggapi aspirasi tersebut, Muhammad Iksan Kiat menyampaikan apresiasi atas masukan dari BUMD dan KUD. Ia memastikan bahwa usulan penyesuaian tarif dan revisi regulasi akan dikaji lebih lanjut secara khusus di internal kementerian.

Audiensi tersebut juga dihadiri Siswanto, Ketua Asosiasi Anggota DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia, yang menyatakan dukungannya terhadap aspirasi dari daerah agar kebijakan nasional dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat akar rumput, dan akan mendorong daerah lain untuk turut berjuang meningkatkan produksi minyak nasional. (*)

Sinkronkan Program 2027, BKPSDM Blora Gelar Forum Perangkat Daerah

0

Korandiva-BLORA.– Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Blora menggelar Forum Perangkat Daerah dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Kegiatan yang berlangsung di Aula BKPSDM, Jalan Reksodiputro No. 24 Blora, Rabu (25/2/2026), itu bertujuan menyelaraskan program kerja dengan kebutuhan dan masukan para pemangku kepentingan.

Kepala BKPSDM Blora, Heru Eko Wiyono, menegaskan pentingnya sinergitas dan sinkronisasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan. Terlebih, adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat menuntut setiap organisasi perangkat daerah melakukan langkah terobosan dan penajaman program secara selektif.

“Kita perlu melakukan gerakan pengencangan ikat pinggang atau efisiensi anggaran, namun tetap harus mampu mengakomodasi potensi yang ada di Blora. Kami sangat mengharapkan masukan dan gagasan dari Bapak/Ibu untuk menyempurnakan program tahun 2027,” ujarnya.

Dalam paparannya, Heru membeberkan komposisi sumber daya manusia birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora. Saat ini, jumlah Tenaga PPPK tercatat sebanyak 7.121 orang, disusul PNS 5.172 orang, CPNS 197 orang, serta PPPK paruh waktu 62 orang.

Ia juga menyampaikan data kedisiplinan aparatur, khususnya terkait permohonan izin perceraian. Sepanjang periode terakhir, terdapat 25 permohonan yang disetujui dan dua permohonan lainnya ditolak setelah melalui proses evaluasi.

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Blora, Supardi, yang turut hadir dalam forum tersebut, menyampaikan apresiasi atas kinerja dan semangat jajaran BKPSDM. Di tengah pengetatan anggaran, termasuk penghapusan dana aspirasi dewan dan honor narasumber, pihaknya tetap berkomitmen mendukung visi kepala daerah.

“BKPSDM merupakan mitra kerja Komisi A yang harmonis dan komunikatif. Sebagai wakil rakyat, kami siap berjuang demi mewujudkan Blora yang maju, unggul, dan berdaya saing,” tegasnya.

Dalam sesi dialog, Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya, menyampaikan sejumlah poin strategis. Di antaranya, perlunya dukungan anggaran yang memadai bagi BKPSDM ketika kondisi fiskal daerah kembali normal, serta penegakan disiplin ASN secara konsisten guna meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Selain itu, PWRI juga mengusulkan adanya pembekalan bagi aparatur yang akan memasuki masa purnatugas melalui pelatihan dan magang di bidang ekonomi kreatif agar tetap produktif setelah pensiun. PWRI juga berharap dilibatkan dalam setiap penyerahan SK pensiun untuk memberikan motivasi kepada ASN yang memasuki masa purna.

Bambang turut mengajak seluruh ASN menyukseskan gerakan “SOLEH” yang diimbau Bupati Blora, Arief Rohman, yakni mendorong kepedulian sosial melalui kebiasaan berbelanja di pasar tradisional serta menguatkan nilai-nilai Suka sedekah, Olahraga, Lakukan silaturahmi, Enyahkan pikiran negatif, dan Hadirkan semangat peduli.

Forum tersebut dihadiri jajaran kepala OPD, direktur RSUD Blora, Cepu, dan Randublatung, camat se-Kabupaten Blora, serta pimpinan organisasi profesi dan perguruan tinggi, antara lain IDI, IBI, PPNI, PGRI, Poltekkes Kemenkes, dan STAI Blora. Kegiatan ditutup dengan penandatanganan berita acara kesepakatan sebagai komitmen bersama dalam penyusunan RKPD Tahun 2027. (*)

Merawat Etika di Tengah “Zaman Edan” dari Mimbar Nurul Falah

0

Korandiva-BLORA.- Malam ketujuh Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Nurul Falah, Perumnas Karangjati, terasa berbeda. Usai salat Isya dan Tarawih, jemaah tak beranjak. Sebagian merapatkan saf, lainnya bersandar tenang, menanti tradisi yang telah lama mengakar: Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Di mimbar sederhana itu, sosok yang sudah 14 tahun purna tugas kembali berdiri—mantan Sekretaris Daerah Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA.

Waktu boleh berlalu, tetapi suaranya tetap teduh. Ia membuka kultum bertema “Etika Bermasyarakat” dengan mengajak jemaah menengok realitas sosial hari ini. Bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan renungan yang mengalir. Ia menyebut pandangan pujangga besar Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito, tentang “Zaman Edan”—sebuah istilah yang terasa kian akrab di telinga masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk media sosial, ia menyinggung gejala kemerosotan moral, maraknya korupsi, hingga lunturnya unggah-ungguh. “Sak beja-bejane wong lali, isih bejo karo sing eling lan waspada,” kutipnya, mengingatkan bahwa seberuntung apa pun orang yang lalai, tetap lebih beruntung mereka yang ingat dan waspada.

Sorotan kemudian mengarah pada ruang digital—tempat kritik kerap kehilangan etika, pernyataan kontroversial mudah tersebar, dan hoaks beranak-pinak tanpa saringan. Dalam suasana Ramadan yang seharusnya meneduhkan, ia menyentil budaya “sumbu pendek” yang membuat perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Pantun yang ia lantunkan memancing senyum sekaligus perenungan jemaah.

Namun kultum malam itu tak berhenti pada kritik. Bambang menawarkan jalan pulang melalui akronim sederhana: BAHAGIA. Bergaul dengan tetangga, menjaga adab bertamu, merawat harmoni tanpa sikap adigang, adigung, adiguna, aktif menjaga hubungan, menggalang keguyuban, ikut menjaga lingkungan, serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar—termasuk bijak bermedia sosial. Nilai-nilai itu, katanya, bukan konsep rumit, melainkan praktik keseharian.

Simbol ajakan itu tampak nyata ketika seusai Tarawih, jemaah menerima bibit jeruk lemon California. Bibit kecil yang dibawa pulang itu bukan sekadar tanaman, melainkan pesan: etika dan kepedulian harus ditanam, dirawat, dan dipetik manfaatnya. Dari halaman rumah, harmoni bisa tumbuh; dari lingkungan terdekat, perubahan dimulai.

Malam pun ditutup dengan kalimat sederhana namun sarat makna: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Di Masjid Nurul Falah, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merawat adab di tengah zaman yang kerap terasa bising.

“Bunga melati ditanam di bulan Ramadan, baunya harum membuat hati nyaman. Berbicaralah dengan rendah hati dan sopan, agar hidup harmonis penuh kedamaian.” Pantun itu mengalun pelan, menyatu dengan doa-doa yang terangkat ke langit Karangjati. (*)

Dugaan Perselingkuhan Sesama ASN, Seorang Dokter Laporkan Istrinya ke BKPSDM Blora

0

Korandiva-​BLORA.– Seorang dokter spesialis berinisial dr. SDA, melaporkan istrinya yang juga seorang tenaga kesehatan atas dugaan perselingkuhan dengan sesama Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora. Laporan tersebut ditujukan langsung kepada Bupati Blora, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, dan Kepala BKPSDM Kabupaten Blora.

Dalam surat laporan tertulis tertanggal Juli 2025 tersebut, pelapor menyatakan bahwa istrinya, dr. EHF (Kepala Puskesmas,red), diduga menjalin hubungan asmara dengan seorang pria berinisial DK yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas di wilayah Kabupaten Blora.

​Pelapor mengungkapkan bahwa dugaan perselingkuhan ini telah ia ketahui sejak Januari 2025. Untuk memperkuat laporannya, dr. SDA melampirkan sejumlah barang bukti berupa tangkapan layar percakapan (chat), pesan langsung (DM) Instagram, serta bukti reservasi hotel (check-in) di Yogyakarta.

​”Istri saya telah melakukan tindak perselingkuhan yang saya ketahui sejak bulan Januari 2025 sampai sekarang dengan laki-laki tersebut yang juga berstatus sebagai ASN Kabupaten Blora,” terang dr. SDA.

Lebih lanjut, dr. SDA menyatakan, selain melaporkan ke atasan juga melaporkan persoalan ini ke Polresta Jogjakarta. Ia berharap aparat kepolisian bisa melakukan pemeriksaan lebih dalam terkait bukti menginap keduanya pada tanggal 2-3 Juli 2025.

“Saya berharap pimpinan daerah dapat mengambil tindakan tegas terhadap kedua oknum tersebut. Perbuatan mereka tidak hanya mengkhianati keluarga, tetapi juga mencoreng citra ASN di wilayah Kabupaten Blora,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BKPSDM, Heru Eko Wiyono mengaku sudah menerima aduan dari terlapor. Selanjutnya berkas akan dikaji bersama tim terlebih dahulu.
Ia menambahkan untuk memproses aduan ini, nantinya akan dibentuk tim dari berbagai instansi. “Timnya nanti ada yang dari BKPSDM, Inspektorat, Bagian Hukum, Dinas Kesehatan dan lainnya,” jelasnya. (*)

Koperasi vs BUMDes

0

GELOMBANG pembentukan Koperasi Merah Putih di desa-desa menghadirkan optimisme sekaligus tanda tanya. Di atas kertas, semangatnya mulia: menggerakkan ekonomi rakyat berbasis gotong royong. Namun di lapangan, publik berhak bertanya—di banyak desa telah berdiri BUMDes yang juga bergerak di sektor ekonomi. Lalu, apakah kehadiran koperasi ini akan menjadi penguat, pesaing, atau justru duplikasi kelembagaan yang membingungkan?

BUMDes lahir sebagai mandat Undang-Undang Desa, dirancang sebagai badan usaha milik desa yang dikelola pemerintah desa untuk mengoptimalkan potensi lokal. Ia adalah instrumen fiskal dan ekonomi yang terhubung langsung dengan kebijakan desa. Sementara koperasi adalah badan usaha berbasis keanggotaan, berdiri atas prinsip partisipasi dan kepemilikan bersama. Secara konseptual, keduanya berbeda. Namun dalam praktik, irisan usahanya sering kali serupa: simpan pinjam, perdagangan sembako, distribusi pupuk, hingga pengelolaan hasil pertanian.

Di sinilah letak persoalannya. Jika Koperasi Merah Putih masuk ke desa tanpa peta jalan yang jelas, potensi tumpang tindih bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan. Dua lembaga dengan unit usaha sejenis bisa saling berebut pasar yang sama—padahal pasar desa terbatas. Alih-alih memperkuat ekonomi, yang terjadi justru fragmentasi dan persaingan internal yang melemahkan keduanya.

Padahal, bila dirancang dengan matang, koperasi dan BUMDes dapat menjadi mitra strategis. BUMDes bisa berperan sebagai agregator atau offtaker produk desa, sementara koperasi menjadi wadah produksi dan distribusi berbasis anggota. BUMDes mengelola aset dan peluang usaha berskala desa, koperasi menggerakkan partisipasi ekonomi warganya. Sinergi semacam ini justru akan melipatgandakan dampak pembangunan ekonomi lokal.

Semangat koperasi yang dulu digagas oleh Mohammad Hatta menempatkan ekonomi rakyat sebagai soko guru perekonomian nasional. Namun Hatta juga menekankan pentingnya pendidikan, manajemen, dan kesadaran anggota. Tanpa tata kelola yang profesional, koperasi mudah menjadi papan nama tanpa aktivitas. Begitu pula BUMDes, tanpa transparansi dan akuntabilitas, ia rentan menjadi alat segelintir elite desa.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu memberi kejelasan desain kebijakan. Apakah Koperasi Merah Putih diarahkan untuk sektor tertentu yang belum digarap BUMDes? Apakah ada regulasi yang mengatur kemitraan keduanya? Jangan sampai program serentak ini hanya mengejar kuantitas pendirian lembaga tanpa memastikan kualitas dan keberlanjutan usaha.

Pada akhirnya, desa tidak membutuhkan banyak papan nama kelembagaan. Desa membutuhkan mesin ekonomi yang benar-benar bergerak. Koperasi dan BUMDes bukan soal siapa lebih dominan, tetapi bagaimana keduanya bekerja saling menguatkan. Jika tidak dirancang dengan visi sinergi, kita hanya akan menyaksikan pengulangan pola lama: lembaga bertambah, tetapi kesejahteraan tetap jalan di tempat. (*)

Diduga Serap 8.000 Liter Sehari, Pembelian Solar Subsidi Berjerigen di SPBU Sugihan Tuban Disorot Publik

0

Korandiva-TUBAN.– Aktivitas pembelian solar subsidi menggunakan jerigen dalam jumlah besar di SPBU Pertamina 54.623.09 Sugihan, Kecamatan Jatirogo, menuai sorotan publik. Pasalnya, praktik yang diduga dilakukan oleh para pengangsu tersebut disebut-sebut mampu menghabiskan hingga 8.000 liter solar subsidi dalam sehari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, para pembeli datang menggunakan jerigen dan melakukan pengisian berulang kali. Solar yang telah diisi kemudian langsung dipindahkan (ditap) di lokasi yang berada tepat di samping area SPBU.

Saat dikonfirmasi, wulung selaku mandor SPBU menyampaikan bahwa para pembeli jerigen tersebut telah mengantongi izin atau surat rekomendasi dari dinas terkait.

“Mereka sudah membawa surat rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi dan UMKM (Dependakop) untuk kebutuhan usaha dan pertanian,” ujarnya.

Namun demikian, jumlah pembelian yang mencapai ribuan liter per hari memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Solar subsidi sejatinya diperuntukkan bagi sektor tertentu seperti petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro yang memenuhi persyaratan, bukan untuk diperjualbelikan kembali.
Warga sekitar mengaku heran dengan aktivitas pemindahan solar yang dilakukan tak lama setelah pengisian. Mereka berharap ada pengawasan lebih ketat agar distribusi BBM subsidi tepat sasaran.

“Kalau memang untuk petani dan UMKM, kenapa jumlahnya bisa sampai ribuan liter setiap hari? Ini perlu dicek ulang,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai legalitas, kuota harian, serta mekanisme pengawasan terhadap pembelian solar subsidi dalam jumlah besar tersebut.

Publik berharap instansi berwenang segera melakukan klarifikasi dan penelusuran guna memastikan tidak terjadi penyalahgunaan distribusi BBM subsidi yang dapat merugikan masyarakat luas. (*)

Tokoh Masyarakat Palon Harap Penanganan Kasus Pengrusakan Proyek Jalan Dilakukan Secara Objektif

0

Korandiva-BLORA.– Tokoh masyarakat Desa Palon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Suhadak, menyampaikan harapannya terkait dugaan pengrusakan dan penghambatan proyek pengecoran jalan yang saat ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian.
Suhadak menegaskan bahwa proyek pengecoran jalan tersebut merupakan kebutuhan vital masyarakat karena menyangkut akses transportasi, kelancaran distribusi hasil pertanian, serta menunjang pertumbuhan ekonomi warga setempat.

“Kami berharap persoalan ini dapat ditangani secara profesional, objektif, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Proyek ini sangat dibutuhkan masyarakat, sehingga pelaksanaannya harus berjalan lancar tanpa gangguan,” ujar Suhadak.

Ia juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga kondusivitas desa dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh suasana. Menurutnya, segala bentuk keberatan atau permasalahan sebaiknya disampaikan melalui mekanisme yang sah dan sesuai aturan.

“Kami ingin Desa Palon tetap aman dan damai. Mari kita percayakan prosesnya kepada aparat penegak hukum dan tetap menjaga persatuan,” tambahnya.

Suhadak berharap agar proyek pengecoran jalan tersebut dapat segera dilanjutkan dan diselesaikan tepat waktu, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh seluruh masyarakat Desa Palon. (*)

Dari Tetesan Air Wudhu, Menyemai Kesucian di Fajar Ramadan

0

Korandiva-BLORA.- Fajar baru saja merekah di langit Karangjati ketika lantunan doa mengalun pelan dari Masjid Nurul Falah, Perumnas Karangjati, Kelurahan Karangjati, Kabupaten Blora. Ramadan 1447 Hijriah kembali menghadirkan suasana yang berbeda—hening, hangat, sekaligus penuh harapan. Di sela kesejukan pagi, jamaah yang baru saja menunaikan salat Subuh tetap bertahan di saf, menyimak rangkaian Kuliah Tujuh Menit (Kultum) yang telah menjadi tradisi tahunan takmir masjid.

Sabtu (21/2/2026) pagi itu, kultum diisi oleh Imam Utama Masjid Nurul Falah, KH A. Jajik S. Dengan suara tenang dan bahasa yang mudah dipahami, ia mengangkat tema sederhana namun mendasar: “Peran Kegiatan Wudhu dalam Kehidupan Umat Islam.”

Bagi sebagian orang, wudhu mungkin hanya dipandang sebagai rutinitas sebelum salat. Namun di tangan KH A. Jajik S, wudhu menjelma menjadi pintu masuk untuk memahami makna kebersihan yang lebih luas. Ia mengajak jamaah menengok kembali hakikat bersuci, bukan semata membasuh anggota tubuh, melainkan juga membersihkan jiwa.

Mengacu pada Al-Maidah ayat 6, ia menguraikan tata cara bersuci—mulai dari membasuh wajah, mencuci tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, sampai mencuci kaki hingga mata kaki. Ayat tersebut, jelasnya, bukan hanya pedoman teknis, melainkan fondasi spiritual yang mengajarkan ketertiban, ketekunan, dan kesadaran diri sebelum menghadap Sang Pencipta.
“Wudhu adalah jembatan yang menghubungkan kebersihan lahiriah dengan kesucian batiniah,” tuturnya, disambut anggukan para jamaah.

Dalam suasana Ramadan yang sarat perenungan, penjelasan itu terasa kian bermakna. Wudhu, katanya, mampu menggugurkan dosa-dosa kecil, menenangkan hati yang gelisah, serta meredakan emosi. Bahkan, dalam ajaran Islam, bekas wudhu kelak menjadi tanda pengenal umat Nabi Muhammad SAW di hari akhir.

Tak hanya dari sisi spiritual, ia juga menyinggung manfaat fisik wudhu. Air yang menyentuh wajah dan anggota tubuh beberapa kali sehari memberi kesegaran, membantu menjaga kebersihan kulit, hingga meredakan stres. Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat, wudhu menjadi jeda—sebuah momen hening untuk menata ulang niat dan pikiran.

Menjelang akhir kultum, mentari mulai meninggi. Jamaah perlahan bersiap meninggalkan masjid untuk kembali ke aktivitas masing-masing. Namun pesan yang tertinggal pagi itu sederhana sekaligus dalam: menjaga wudhu berarti menjaga kesadaran diri.
Ramadan di Masjid Nurul Falah bukan sekadar rangkaian ibadah rutin, melainkan ruang perjumpaan antara ilmu dan perenungan. Dari air wudhu yang mengalir, tersimpan harapan agar hati-hati yang hadir di saf Subuh itu tetap bersih, teduh, dan khusyuk dalam menapaki hari. (*)

HIPPRADA Blora Hadiri Pesta Siaga Kwarcab 2026 di Kedungtuban: Membangun Karakter Pramuka Siaga yang Cerdas dan Berakhlak Mulia

0

Korandiva-BLORA.- Ketua Cabang Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (HIPPRADA) Blora, Rohadi, S.Pd, menghadiri Pesta Siaga Tingkat Kwartir Cabang Blora Tahun 2026 yang digelar di SMP Negeri 1 Kedungtuban pada Sabtu (14/2/2026). Acara ini bertujuan mengembangkan keterampilan dan kedisiplinan pramuka siaga melalui permainan dan lomba.

HIPPRADA sebagai wadah bagi pramuka senior, hadir untuk memberikan inspirasi dan teladan bagi generasi muda. Kehadiran Rohadi, S.Pd, dalam acara ini menunjukkan komitmen HIPPRADA dalam mendukung pengembangan karakter pramuka siaga.

Pesta Siaga ini diikuti oleh 408 pramuka siaga dari 34 barung putra dan putri, dengan tema “SAHABAT” (Santun, bahagia, hebat). Sebagai Pembina Upacara Pembukaan adalah Bunda AINIA Arief Rohman Istri Bupati Blora, yang hadir bersama Ketua Kwartir Cabang Blora, dan pejabat lainnya.

Rohadi, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Pesta Siaga ini, yang diharapkan dapat membentuk karakter pramuka siaga yang cerdas, riang, dan gembira. (*)