Beranda blog Halaman 42

Pensiunan Pos Indonesia Cabang Blora Bergerak: Bersatu Menuntut Dicabutnya Keputusan Direksi No. 21 Tahun 2025

0

Korandiva – BLORA.– Suasana tenang di serambi Musola Kantor Pos Blora berubah menjadi ruang penuh semangat perjuangan. Para pensiunan PT. Pos Indonesia (PPPos) Cabang Blora berkumpul, menyatukan tekad dan strategi untuk bergabung dalam aksi nasional menuntut pencabutan Keputusan Direksi (KD) No. 21 Tahun 2025 yang dinilai sangat merugikan hak-hak mereka.

Koordinasi yang dipimpin oleh Wakil Ketua PPPos Cabang Blora, Budi Hartanto, berlangsung tertib dan penuh semangat. Dalam pertemuan tersebut, Budi mengajak seluruh anggota untuk tetap solid dan konsisten dalam perjuangan mereka.

“Teman-teman, mari kita satukan misi dan bulatkan tekad. Kita harus berjuang menuntut hak-hak kita yang telah dirampas oleh pihak Direksi hingga kini belum dikembalikan,” ujar Budi dengan penuh semangat.

Suara perjuangan juga disuarakan oleh Joko Triyono, anggota PPPos yang sebelumnya sudah pernah ikut dalam aksi di Kantor Pusat PT. Pos Indonesia di Bandung. Joko menegaskan bahwa aksi pertama belum membuahkan hasil yang memuaskan.

“Selamat berjuang, teman-teman. Pantang menyerah sebelum hak kita dikembalikan! Kebijakan Direksi No. 21 Tahun 2025 ini sangat tidak manusiawi. Kita harus tuntut hak kita kembali seperti semula, termasuk harapan kita agar uang ketupat juga dibayarkan,” kata Joko berapi-api.

Menurut informasi yang diterima dari PPPos Pusat dan GERTAK (Gerakan Rakyat Tuntut Keadilan), aksi demonstrasi nasional akan digelar serentak pada 8 Juli 2025. Aksi ini rencananya akan dipusatkan di depan Istana Presiden dan diikuti oleh seluruh cabang PPPos serta Serikat Pekerja Pos Indonesia.

“Ayo, kawan-kawan! Jangan patah semangat sebelum hak kita benar-benar dikembalikan. Demo nasional ini adalah bentuk ikhtiar bersama. Semoga perjuangan kita diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Agung,” tutup Joko dengan penuh harapan.

Gerakan ini menjadi bukti bahwa semangat juang para pensiunan belum padam, meski usia telah menua. Mereka percaya, perjuangan demi keadilan tidak mengenal batas waktu — selama hak belum kembali, semangat pun tak boleh padam. (*)

Polisi Ungkap Penemuan Mayat Di Ruko Tayu, Diduga Meninggal karena Sakit Menahun

Korandiva – PATI.– Sebuah penemuan mayat laki-laki menggegerkan warga Desa Sendangrejo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Sabtu (28/6) sore. Seorang pria paruh baya ditemukan meninggal dunia di dalam Ruko Nomor 6, yang berlokasi tepat di depan lapangan sepak bola desa setempat. Penemuan ini segera ditangani oleh jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Tayu yang bergerak cepat bersama tim medis Puskesmas Tayu 1.
Korban diketahui bernama Akhmad Sudadi, laki-laki berusia 59 tahun, warga Desa Sambiroto RT 6 RW 1 Kecamatan Tayu. Ia dikenal sebagai wiraswasta yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan setempat. Jasad korban ditemukan dalam kondisi mulai membusuk dan melepuh, diperkirakan telah meninggal dunia sekitar lima hari sebelum ditemukan.

Mayat pertama kali diketahui pada pukul 16.15 WIB oleh seorang pedagang angkringan bernama Wahyu Khoiri (24), yang hendak membuka lapaknya di samping ruko tersebut. Saat mempersiapkan tempat dagang, ia mencium bau menyengat yang berasal dari arah ruko.
Merasa curiga, Wahyu kemudian memanggil Abdullah (56), perangkat Desa Sendangrejo, untuk bersama-sama mengecek keadaan di dalam ruko. Melalui ventilasi, keduanya mengintip ke dalam dan mendapati sosok pria tergeletak dalam posisi tidur. Guna memastikan kondisi tersebut, mereka mengambil gambar dan langsung melaporkan kejadian itu ke Polsek Tayu pada pukul 17.30 WIB di hari yang sama.

Kapolresta Pati melalui Kapolsek Tayu, AKP Aris Pristianto, ketika dikonfirmasi menjelaskan bahwa pihaknya segera bergerak cepat setelah menerima laporan. “Begitu menerima informasi, anggota kami langsung mendatangi TKP, mengamankan lokasi kejadian, mencatat keterangan saksi-saksi, mendokumentasikan kondisi korban, berkoordinasi dengan tim medis dari Puskesmas Tayu 1,” ungkap AKP Aris.

Dari hasil pemeriksaan awal oleh dr. Prasetyo Adi Wijayanto, yang memimpin tim medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan ataupun luka penganiayaan pada tubuh korban. “Terdapat luka melepuh pada lutut kanan korban, yang diduga akibat proses pembusukan alami. Hasil visum luar mengindikasikan korban sudah meninggal lebih dari lima hari,” lanjut AKP Aris.

AKP Aris menambahkan bahwa pihak keluarga telah dihubungi dan menerima dengan ikhlas kejadian tersebut. “Keluarga, dalam hal ini diwakili Sdr. Umi Fatatun, menyatakan tidak akan menuntut pihak manapun dan telah membuat surat pernyataan bermaterai yang sah,” jelasnya.

Lebih lanjut, dari keterangan pihak keluarga diketahui bahwa korban memang memiliki riwayat sakit menahun. Hal ini memperkuat dugaan bahwa korban meninggal karena sakit dan bukan karena tindak kriminal.
“Dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan medis, serta tidak adanya indikasi kekerasan, maka kami simpulkan sementara bahwa kematian korban murni karena sebab alami, kemungkinan besar karena penyakit yang dideritanya,” terang AKP Aris.

Petugas kemudian membawa jenazah ke RS Keluarga Sehat Hospital (KSH) Tayu untuk dilakukan proses pensucian jenazah sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Situasi di sekitar TKP sempat ramai oleh warga yang penasaran, namun berhasil dikendalikan dengan cepat oleh petugas.
AKP Aris mengapresiasi kesigapan warga yang segera melaporkan temuan mencurigakan tersebut kepada aparat. “Peran aktif masyarakat sangat penting dalam membantu tugas kami. Kami harap sinergitas ini terus terjaga dalam menjaga keamanan wilayah,” ujarnya.

Kedua saksi yakni Wahyu Khoiri dan Abdullah, sudah memberikan keterangan secara tertulis kepada petugas. Barang bukti berupa foto juga diamankan sebagai pelengkap laporan kepolisian.
Terakhir, AKP Aris mengimbau kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. “Jika ada hal yang janggal, segera laporkan ke kami. Polsek Tayu siap memberikan pelayanan terbaik demi terciptanya rasa aman dan tertib di wilayah hukum kami,” tutupnya. (*)

Apel Pagi Desa Sumberjo Rutin Dilaksanakan Setiap Hari Senin

0

Korandiva-BLORA.– Bertempat di halaman Balai Desa Sumberjo, kegiatan apel pagi rutin kembali dilaksanakan pada hari Senin (30/6). Apel ini diikuti oleh seluruh perangkat desa, mulai dari Sekretaris Desa, Kepala Dusun, para Kasi, dan staf lainnya. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Sumberjo, Kusnan.

Dalam arahannya, Kusnan menekankan pentingnya kedisiplinan dalam melaksanakan tugas masing-masing perangkat desa. Ia juga mengingatkan agar penanganan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa PBB tahun 2024 telah dinyatakan lunas atau sudah klir, sementara untuk PBB tahun 2025 saat ini sedang berjalan. “Semoga proses penarikan dan pelunasannya tahun ini bisa berjalan lancar dan cepat selesai,” harap Kusnan.

“Mari kita bersama-sama panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melindungi kita semua. Saya ini salah satu orang yang dituakan di desa ini, maka saya mengajak kita semua untuk menjaga disiplin, karena kedisiplinan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada kita. Disiplin tidak hanya soal kehadiran di kantor, tetapi juga bagaimana kita menjaga sikap dan tutur kata dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Kusnan penuh semangat. (*)

Becak Sampah untuk Blora Bersih, Langkah Nyata Menuju Adipura Kencana

0

Korandiva–BLORA.- Semangat menuju lingkungan bersih dan sehat terus digelorakan Pemerintah Kabupaten Blora. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora mendistribusikan 26 unit becak sampah kepada berbagai wilayah, sebagai bentuk nyata dukungan terhadap kebersihan lingkungan dan persiapan menyambut penilaian Adipura Kencana.

Bantuan becak sampah ini berasal dari Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si. Kepala DLH Blora, Istadi Rusmanto, ST., MM., menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud komitmen Bupati untuk memperkuat upaya pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
“Beliau berpesan agar bantuan ini bisa memberi kontribusi positif terhadap penanganan sampah di Kabupaten Blora,” ujar Istadi, Selasa (1/7/2025).

Distribusi becak sampah ini bukan hanya bentuk bantuan sarana, tetapi juga bagian dari langkah besar Blora untuk kembali meraih penghargaan Adipura – kali ini dalam kategori Adipura Kencana. Kabupaten Blora sendiri sudah pernah mencatat prestasi Adipura pada tahun 1992, 1993, 2016, 2022, dan 2023. Istimewanya, pada 2023, Blora berhasil meraih predikat kota kecil terbersih.

“Kami sedang bersiap menghadapi penilaian Adipura tahun 2026. Ini tentu tidak mudah, tapi kami optimistis dengan dukungan semua pihak, Blora bisa kembali berprestasi,” ungkap Istadi.

Langkah ini juga merupakan tindak lanjut atas surat edaran No. 5 Tahun 2025 dari Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, tentang aksi bersih sampah di seluruh daerah.

Selain menyediakan sarana angkut seperti becak sampah, DLH Blora juga menggagas berbagai program lain. Di antaranya, mendirikan bank sampah di setiap desa, kelurahan, dan OPD, serta membangun dan merehabilitasi taman-taman kota sebagai ruang hijau publik.

Tak hanya itu, Istadi juga menekankan pentingnya peran aktif Pemerintah Daerah dalam penganggaran dana melalui APBD untuk mendukung keberlanjutan program kebersihan.

Sementara itu, warga pun menyambut baik inisiatif ini. Agus Budi Sukrisno, Ketua RW V Kelurahan Karangjati, yang menjadi salah satu penerima becak sampah, mengaku sangat terbantu.

“Bantuan ini sangat bermanfaat untuk mendukung kebersihan di Taman Perumnas. Sekarang sampah bisa langsung diangkut tiap hari ke tempat pembuangan,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Sadikun, petugas kebersihan di Taman Perumnas. Ia merasa kehadiran becak sampah membuat pekerjaannya jauh lebih ringan.
“Seperti dapat durian runtuh. Sekarang taman makin bersih, indah, dan asri,” ucapnya dengan senyum lebar.

Menariknya, becak-becak sampah ini dibuat oleh pengrajin lokal dari Kecamatan Jepon, Blora. Selain fungsional, kualitasnya juga tidak diragukan, sekaligus memberdayakan ekonomi warga setempat.

Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Blora menapaki jalan menuju kota kecil yang bukan hanya bersih dan indah, tapi juga berdaya dan berkelanjutan. (*)

Desa Prantaan, dari Hutan Belantara Menjadi Desa Agraris yang Tangguh

0

Korandiva–BLORA.- Desa Prantaan, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, merupakan salah satu desa agraris di dataran tinggi dengan sejarah unik dan potensi pertanian yang kuat. Terletak di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas wilayah 336,532 hektar, desa ini terdiri dari tiga dusun, tiga RW, dan sebelas RT.

Asal Usul Nama dan Sejarah Desa
Nama “Prantaan” berasal dari kata “rantak-rantak,” istilah lokal yang berarti “merambat-rambat.” Istilah ini muncul dari cerita rakyat setempat yang menyebutkan bahwa dahulu wilayah desa adalah hutan belantara yang dipenuhi semak-semak. Kebakaran yang terjadi di kawasan itu membuat api merambat ke mana-mana—dari situlah nama “Prantaan” berasal.

Potret Wilayah dan Penduduk
Sebagian besar warga Desa Prantaan bekerja sebagai petani tadah hujan, menggantungkan hidup dari hasil bumi dan pertanian musiman. Luas lahan pertanian terdiri dari 65,200 hektar sawah dan 240,000 hektar tegalan, dengan wilayah pemukiman seluas 31,332 hektar.

Desa Prantaan berbatasan langsung dengan beberapa desa, antara lain:
-Utara: Desa Karang, Kec. Bogorejo
-Timur: Desa Jeruk dan Desa Bogorejo
-Selatan: Desa Tempel Lemahbang dan Desa Nglaroh Gunung
-Barat: Desa Gombang

Struktur Pemerintahan Desa
Pemerintah desa saat ini dipimpin oleh Kepala Desa Nyono, yang kembali menjabat sejak 17 Agustus 2023. Ia sebelumnya telah menjabat pada periode 2008–2015 dan 2017–2023.
“Kami berkomitmen untuk terus membangun Desa Prantaan, tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga dari pemberdayaan masyarakat. Pertanian tetap menjadi tulang punggung desa kami, dan kami ingin menjadikan petani semakin sejahtera,” ujar Kepala Desa Nyono saat ditemui di Balai Desa Prantaan.

Didampingi oleh perangkat desa yang solid, berikut adalah susunan pemerintahan desa saat ini:
-Kaur Tata Usaha dan Umum: Warno
-Kasi Pemerintahan: Suwaji
-Kasi Keuangan: Lasimo
-Kasi Kesejahteraan: Lagio
-Kasi Pelayanan: Somat
-Kepala Dusun Prantaan: Sugiran
-Kepala Dusun Kesambi: Tanggem
*Pengelolaan Aset Bengkok dan Bondo Desa
-Tanah kas desa (bengkok) menjadi bagian penting dari sistem pendapatan perangkat desa. Desa Prantaan mengelola sejumlah tanah bengkok dengan total luasan puluhan ribu meter persegi, termasuk:
-Kepala Desa: 31.470 m²
-Sekdes: 18.400 m²
-Kasi, Bayan, Kamituo, Moden, Petengan: bervariasi antara 1.515 m² hingga 10.370 m²
-Sementara itu, bondo desa (aset desa) tercatat mencapai total luas 14.421 m² yang tersebar dalam beberapa bidang.

Penutup
Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah desa dan semangat gotong royong masyarakat, Desa Prantaan melangkah pasti menuju kemajuan. Dukungan penuh terhadap sektor pertanian, peningkatan infrastruktur, serta pengelolaan aset desa yang transparan menjadi pilar penting dalam mewujudkan desa yang mandiri dan sejahtera. (*)

138 SD di Pati Akan Digabung, Pemkab Pastikan Sekolah Terpencil Tetap Beroperas

Korandiva – PATI.– Pemerintah Kabupaten Pati tengah menyiapkan kebijakan penggabungan atau regrouping terhadap 138 Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang tersebar di 21 kecamatan. Langkah ini akan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2025/2026, dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan melalui pengelolaan sekolah yang lebih efisien dan terfokus.

Bupati Pati, Sudewo, menegaskan bahwa regrouping tidak akan berlaku bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil. Menurutnya, kebijakan ini tetap memperhatikan kondisi geografis agar akses pendidikan tidak menjadi beban bagi siswa yang tinggal jauh dari pusat kegiatan masyarakat. Sekolah terpencil tetap dipertahankan meski jumlah siswanya di bawah standar minimal.

“Kami tetap mempertahankan sekolah di daerah terpencil, walaupun jumlah muridnya sedikit. Tidak mungkin kami bebankan mereka untuk berjalan jauh hanya demi mengikuti kebijakan ini,” jelas Bupati Sudewo. Ia juga menyebutkan bahwa proses persiapan kebijakan sudah hampir rampung dan tinggal menunggu penandatanganan surat keputusan.
Kebijakan regrouping akan difokuskan pada sekolah-sekolah yang memenuhi tiga kriteria utama, yakni memiliki jumlah siswa kurang dari 120 orang, lokasinya berdekatan dengan SD lain, serta sarana dan prasarananya dinilai tidak memadai. Sekolah-sekolah yang memenuhi ketiga indikator tersebut akan digabung untuk memperkuat efektivitas pembelajaran.

Berdasarkan informasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, implementasi program ini telah mencapai 90 persen dan dipastikan siap diterapkan begitu surat keputusan ditandatangani oleh bupati. Harapannya, penggabungan sekolah ini akan memperbaiki distribusi tenaga pengajar, penggunaan fasilitas, serta suasana belajar yang lebih dinamis.
Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk menjawab tantangan pendidikan dasar di wilayah Pati, terutama dalam hal kualitas dan efisiensi. Meski demikian, Pemkab menegaskan akan tetap menjaga prinsip keadilan akses pendidikan bagi seluruh warga, terutama mereka yang berada di pelosok desa. (*)

Jejak Sejarah dan Perkembangan Desa Seso, Jepon – Dari Sumur Gowok hingga Desa Mandiri

0

Korandiva – BLORA. – Desa Seso, sebuah desa di wilayah Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, terus menunjukkan perkembangan pesat dalam pembangunan dan tata kelola pemerintahan. Dengan luas wilayah mencapai 10 km², desa ini memiliki potensi sumber daya manusia dan aset desa yang cukup besar untuk menunjang kesejahteraan masyarakatnya.

Dipimpin oleh Kepala Desa Ngatmin sejak tahun 2008, Desa Seso kini memiliki struktur pemerintahan yang solid. Sejumlah perangkat desa yang bertugas antara lain Sekretaris Desa Saingat, Kasi Pemerintahan Dwi Purwanto, Kasi Pelayanan Nia Oktavia, Kasi Kesejahteraan Sadikin, Kaur Umum dan TU Suparti, Kaur Perencanaan Ristina, dan Kaur Keuangan Yoga Purwanto.

“Fokus kami adalah pelayanan publik dan pemanfaatan aset desa secara optimal untuk kesejahteraan warga,” ungkap Ngatmin dalam wawancara singkat di Balai Desa Seso.

Berbatasan dengan Empat Wilayah
Secara geografis, Desa Seso berbatasan dengan:
-Utara: Desa Balong
-Timur: Kelurahan Jepon
-Selatan: Desa Brumbung
-Barat: Kelurahan Bangle
Wilayah ini strategis karena menjadi salah satu jalur penghubung antar desa dan kelurahan di Kecamatan Jepon.

Aset Desa dan Infrastruktur
Desa Seso memiliki beragam aset yang mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, di antaranya:
Tanah Bengkok seluas 15,5 hektare
-Balai Desa
-Sanggar Seni
-Kios UMKM
-Jalan paving dan rabat beton yang tersebar di berbagai dukuh
-Infrastruktur desa yang terus ditingkatkan menjadi bukti nyata komitmen pemerintah desa dalam memajukan wilayah.

Sejarah yang Hidup dalam Ingatan: Asal Usul Nama Seso
Menariknya, asal-usul nama “Seso” berasal dari cerita rakyat yang berkembang sejak masa penjajahan Belanda. Menurut salah satu versi, pada masa Perang Bangsri, sejumlah pejuang rakyat melarikan diri ke arah utara untuk menghindari serangan penjajah.
Mereka beristirahat di bawah pohon besar yang memiliki gowakan (sumur kecil), sambil makan sisa-sisa makanan. Namun nahas, para pejuang tertangkap dan disiksa secara kejam oleh penjajah. Hanya satu orang yang berhasil meloloskan diri dan mengenang tempat itu sebagai saksi bisu perjuangan para pahlawan. Sumur itu kini dikenal sebagai Sumur Gowok, dan wilayah sekitarnya kemudian dinamai Seso, sebagai penghormatan terhadap para pejuang yang gugur.
Cerita ini menjadi bagian penting dari identitas dan sejarah Desa Seso, yang hingga kini masih diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Deretan Pemimpin Desa dari Masa ke Masa
Sejak kemerdekaan Indonesia, Desa Seso telah dipimpin oleh empat kepala desa:
-Martodiwiryo Sadikin (1945–1975)
-Syakur, B.Sc. (1975–1998)
-Jupriyadi (1998–2006)
-Ngatmin (2008–sekarang)
Peralihan kepemimpinan desa menunjukkan kesinambungan dalam membangun pemerintahan desa yang kuat dan berorientasi pada pelayanan.

Desa Seso hari ini bukan hanya tentang masa lalu yang heroik, tetapi juga tentang masa depan yang dibangun di atas pondasi gotong-royong dan dedikasi.
“Dari Sumur Gowok, lahir semangat perjuangan yang tak pernah padam,” ujar salah satu tokoh masyarakat dengan penuh haru saat menceritakan sejarah desa. (*)

Penanganan Darurat Pasca Banjir, Dinas PUPR Blora Sigap Perbaiki Longsoran di Sumurboto

0

Korandiva–BLORA.- Penanganan pasca banjir di Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, terus dilakukan secara intensif. Salah satu langkah sigap datang dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora yang langsung turun tangan memperbaiki longsoran tanah yang terjadi akibat banjir beberapa waktu lalu. Masyarakat sekitar menyambut baik langkah cepat tersebut dan menyampaikan apresiasi atas kehadiran pemerintah yang tanggap terhadap kondisi darurat di desa mereka.

Tokoh masyarakat Blora, Amin Farid, turut menyatakan dukungannya terhadap proyek penanganan longsoran tersebut. Ia menegaskan pentingnya percepatan perbaikan karena longsoran itu berada di jalur penghubung utama antara Desa Sumurboto dan Desa Turirejo.

“Kalau tidak segera diperbaiki, akses dua desa bisa terputus total. Ini menyangkut mobilitas warga dan distribusi kebutuhan pokok,” ujarnya.

Warga Desa Sumurboto berharap agar penanganan darurat ini dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur yang lebih kokoh dan tahan bencana.

“Kami berterima kasih karena perbaikan sudah dilakukan cepat, tapi kami juga berharap ke depan ada solusi jangka panjang, seperti perbaikan saluran air dan penguatan tanggul,” ujar Nuri, salah satu warga sumurboto. (*)

Sopir Truk Belum Tersangka, Polisi Masih Dalami Kecelakaan Maut di Seso-Sayuran

0

Korandiva—BLORA.- Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pengendara motor akibat menabrak truk yang parkir sembarangan di Jalan Raya Seso-Sayuran, Blora, masih terus didalami aparat kepolisian. Hingga kini, sopir truk belum ditetapkan sebagai tersangka.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Blora, Ipda Eko Purnomo, mengatakan bahwa kasus tersebut masih berada dalam tahap penyelidikan. Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk kernet truk dan warga di sekitar lokasi kejadian, sedang dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.

“Masih dalam tahap penyelidikan dan pendalaman pemeriksaan saksi-saksi, baik kernet truk maupun saksi yang berada di TKP. Adapun penetapan tersangka akan dilakukan setelah rangkaian tahapan penyelidikan, pendalaman TKP atau olah TKP, dan naik ke proses penyidikan serta melalui gelar perkara,” ujar Ipda Eko Purnomo, Minggu (30/6/2025).

Truk yang diduga parkir tidak sesuai aturan itu menjadi sorotan setelah insiden tragis yang merenggut nyawa seorang pemotor. Warga sekitar berharap kasus ini segera mendapat kejelasan hukum dan menjadi pelajaran agar parkir liar tak lagi dianggap sepele.
Polisi memastikan akan menindaklanjuti kasus ini secara profesional dan transparan sesuai prosedur hukum yang berlaku. (*)

Pernikahan Bersejarah: Mantan Bupati Blora Yudhi Sancoyo Resmi Menikah dengan Drg. Hj. Any Djuwitawati

0

Korandiva- BLORA.- Sebuah peristiwa sakral dan penuh makna berlangsung khidmat di Jalan Kolonel Sunandar No. 15 Blora, Sabtu, 28 Juni 2025. Drs. Raden Mas Yudhi Sancoyo, MM, Bupati Blora ke-26 yang menjabat pada periode 2007–2010, resmi mempersunting Drg. Hj. Any Djuwitawati, M.Kes, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora.

Akad nikah yang berlangsung dalam suasana penuh khidmat ini turut disaksikan tokoh penting daerah, salah satunya adalah Bupati Blora saat ini, Dr. H. Arief Rohman, SIP, M.Si, yang hadir sebagai saksi pernikahan. Hadir pula sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat, baik yang masih aktif maupun yang telah purna tugas.

Sejumlah nama yang turut hadir di antaranya Hj. Ainia Shalichah, SH., M.Pd AUD., M.Pd. BI., Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora; HM Kusnanto, SH., mantan Ketua DPRD Blora yang kini menjabat sebagai Ketua HKTI dan Bhakti Praja Blora; Ir. H. Sutikno Slamet, mantan Sekda Blora; H. Abdul Goni, mantan Wakil Ketua DPRD Blora; serta tokoh agama seperti H. Khoirurroziqin, M.Si., Ketua Takmir Masjid Agung Baitunnur Blora.
Tak ketinggalan Soepandi, S.Pd., M.Pd., Ketua Organisasi MAOS (Manut Obahe Sikil) Kabupaten Blora, serta para kerabat, sahabat, dan tetangga kedua mempelai yang turut menyaksikan momen bahagia ini.

Usai prosesi akad, para tamu undangan bergiliran memberikan ucapan selamat dan berfoto bersama pasangan pengantin. Kebersamaan kemudian berlanjut dalam suasana ramah tamah, sambil menikmati sajian menu tradisional empat sehat lima sempurna yang menggugah selera.
Ucapan selamat dan harapan baik berdatangan dari berbagai tokoh. H. Sudiyono, S.Pd., M.Pd., mantan Wakil Ketua MKKS SMP dan tokoh masyarakat Blora, menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, ikut senang dan gembira. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Pak Yudhi sudah mendapat pendamping yang ideal, yang bisa diajak curhat, diskusi, dan menemani dalam menjalani hidup ke depan,” ujarnya.

Sebagai informasi, Sudiyono adalah mertua dari Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara Kabinet Merah Putih 2024–2029, serta kakek dari Lanova Chandra Tirtaka, Wakil Ketua DPRD Blora saat ini.
HM Kusnanto, SH., sahabat lama Yudhi Sancoyo, juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. “Beliau sudah mendapatkan pasangan yang sangat cocok dan serasi. Semoga bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah,” tuturnya.

Ungkapan bahagia juga datang dari Ir. Bambang Sulistya, M.MA., Ketua PWRI Blora yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah. “Pak Yudhi adalah pemimpin sekaligus guru saya. Beliau sosok yang berwibawa, komunikatif, pandai berorasi, dan memiliki suara merdu saat bernyanyi,” kenangnya.

Bambang juga mengutip salah satu pitutur bijak ala Yudhi yang sangat lekat di kalangan rekan dan bawahannya: “Lamun siro iso ngomong, nanging ojo brebeki kuping, opo maneh gatelke kuping.” Sebuah pesan moral yang mengingatkan pentingnya menjaga lisan dalam pergaulan.

Yudhi Sancoyo juga dikenal dengan jargon khas yang akrab di masyarakat: “Keploki ah Tro!” yang berarti memuliakan teman atau mitra hidup sebagai bagian dari persaudaraan.
Pernikahan ini menjadi momen istimewa yang bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan kembali kenangan, nilai-nilai kebersamaan, dan semangat untuk terus menebar inspirasi dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. (*)