Beranda blog Halaman 41

PPMSTL Warisan Suprat

0

Korandiva – BLORA.- Empat tahun sudah Supratono, sosok yang akrab disapa Suprat, meninggal dunia. Namun namanya masih kuat terpatri di benak warga Desa Ledok, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora—terutama bagi para penambang minyak sumur tua. Ia bukan sekadar penambang, melainkan tokoh sentral di balik lahirnya organisasi legal pertama para penambang di wilayah itu.

Supratono dikenal sebagai pendiri Paguyuban “Sumur Agung”, organisasi resmi yang dibentuk pada tahun 2005 untuk memayungi aktivitas para penambang minyak sumur timba di Ledok. Saat itu, hak pengelolaan minyak sumur tua di Kabupaten Blora dipegang oleh Kokaptraya (Koperasi Karyawan Pertamina “Patra Karya” Cepu).

Namun peta berubah ketika pada tahun 2015 hak pengelolaan sumur tua diambil alih oleh PT. Blora Patra Energi (BPE), BUMD milik Pemkab Blora. Jika akhirnya terjalin kerjasama, Suprat tidak lagi mengusung nama “Sumur Agung”, melainkan membentuk wadah baru bernama Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba Ledok (PPMSTL) sebagai mitra baru BPE.
Langkah ini, ternyata, menyimpan sejumlah catatan. Pendirian PPMSTL yang terkesan diam-diam itu tidak banyak diketahui anggota Paguyuban Sumur Agung. Bahkan, legalitas Paguyuban Sumur Agung kabarnya sudah “dibubarkan” pada waktu yang bersamaan. Ironisnya, di tengah ketidakjelasan status legalitasnya, Suprat sempat menunjuk pengganti dirinya sebagai ketua Paguyuban Sumur Agung—padahal secara hukum, paguyuban itu sudah tak lagi sah.

Ibarat pohon, PPMSTL tumbuh tanpa akar, dan Sumur Agung tinggal batang tanpa daun. Kini, setelah Suprat tiada, PPMSTL yang dipimpin oleh Dariyanto disebut tak lagi memiliki legitimasi penuh di mata anggotanya. Banyak dari mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses transisi, dan belakangan mulai mempertanyakan arah kepemimpinannya.

Kondisi semakin runyam ketika perjanjian kerja sama antara PPMSTL dan BPE berakhir pada Februari 2025, dan sekarang masih dalam proses evaluasi. Momen ini menjadi titik balik. Banyak anggota yang ingin lepas dari PPMSTL dan memilih jalur mandiri—berharap bisa langsung bekerja sama dengan BPE tanpa perantara.

Situasi makin kompleks ketika baru-baru ini muncul perkumpulan baru yang didirikan oleh para penambang minyak sumur tua Ledok. Mereka mengantongi legalitas resmi, menambah pilihan sekaligus tantangan dalam tata kelola kemitraan minyak sumur tua di Ledok.

Kini, bola panas ada di tangan BPE. Akankah tetap menjalin kemitraan secara eksklusif dengan PPMSTL? Atau akan membuka ruang bagi perkumpulan baru, bahkan mungkin langsung menggandeng para penambang tanpa perantara?
Pilihan itu bukan sekadar administratif, tetapi soal keberlanjutan, keadilan, dan aspirasi warga Ledok yang selama ini menggantungkan hidup dari sumur-sumur tua peninggalan zaman kolonial.
Yang pasti, jejak Supratono tak akan mudah dilupakan. Namun warisannya kini menanti penataan ulang. (*)

Ir. Siswanto: Kerjasama PT. BPE dengan PPMSTL Perlu Dievaluasi

0

Korandiva – BLORA.- Banyak penambang minyak sumur tua di Desa Ledok, Kecamatan Sambong, Blora, menginginkan kerjasama langsung dengan PT Blora Patra Energy (BPE) tanpa melalui Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba Ledok (PPMSTL). Hal ini disampaikan anggota DPRD Blora, Ir. Siswanto, saat ditemui wartawan, Rabu (2/7/2025).
Menurut Siswanto, sistem saat ini merugikan penambang karena 94 persen pembayaran dari Pertamina, hanya 77 persen yang diterima oleh penambang melalui PPMSTL. “Jika penambang bisa bekerjasama langsung dengan BPE, mereka akan memperoleh hasil lebih be-sar dari yang sekarang,” ujarnya.

BPE menunjuk PPMSTL sebagai koordinator pengelolaan minyak di Ledok. Namun, skema berbeda diterapkan di wilayah Semanggi, dimana BPE melakukan transaksi langsung dengan para penambang.
“Kalaupun nantinya tetap bekerjasama dengan PPMSTL, saya harap ada opsi bagi penambang di Ledok untuk bisa bertransaksi langsung dengan BPE,” tegas

Siswanto yang juga politisi Fraksi Golkar dan warga Desa Ledok.
Kerjasama antara BPE dan PPMSTL secara resmi telah berakhir sejak Februari 2025, bersamaan dengan berakhirnya izin pengelolaan sumur tua dari Pertamina.

Menyikapi rencana perpanjangan izin oleh Pertamina, Siswanto mendesak agar BPE terlebih dahulu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PPMSTL sebelum memperpanjang kemitraan.

“Pemerintah saat ini sedang fokus pada efisiensi dan pemangkasan jalur distribusi. BPE seharusnya mengikuti arah kebijakan ini dengan menyederhanakan rantai kerjasama, termasuk menghapus perantara yang membebani penambang,” pungkasnya. (*)

Pecahkan Kaca Mobil yang Sedang Diparkir, Perampok di Pati Gasak Uang Ratusan Juta

Korandiva-PATI.- Sebuah aksi perampokan nekat terjadi di halaman parkir Warung Spesial Soto Boyolali (SSB) Pati, Jumat (4/7/2025) sekitar pukul 15.17 WIB. Dua orang pria tak dikenal dengan santai melancarkan aksinya di siang bolong dan berhasil membawa kabur uang tunai senilai ratusan juta rupiah dari sebuah mobil.

Mobil jenis MPV berwarna putih menjadi sasaran aksi kriminal ini. Saat kejadian, kendaraan tersebut terparkir di area parkir warung SSB yang berada tak jauh dari Gedung DPRD Kabupaten Pati. Diduga, para pelaku sudah mengincar mobil itu sebelumnya.

Dua pelaku terlihat mengenakan jaket hitam dan datang menggunakan sepeda motor. Satu orang tetap berada di atas motor sambil mengawasi keadaan sekitar, sementara rekannya mendekati mobil dan langsung memecahkan kaca bagian tengah kiri dengan alat tertentu.

Setelah kaca berhasil dipecahkan, pelaku dengan cepat mengambil sebuah barang dari dalam mobil—yang kemudian diketahui berisi uang dalam jumlah besar. Aksi itu berlangsung cepat, dan keduanya langsung kabur ke arah yang tak diketahui. Uniknya, salah satu pelaku meninggalkan helm di lokasi kejadian.

Kapolsek Pati Kota, Iptu Heru Purnomo, membenarkan adanya peristiwa tersebut. “Benar, saat ini kami sedang mendalami kasus dan telah melakukan olah TKP,” ujar Heru saat dikonfirmasi. Ia menambahkan, sejumlah barang bukti sudah diamankan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Heri Dwi Utomo menyebut korban mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. “Kami terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku. Dugaan kuat ini perampokan terencana,” pungkasnya. (*)

Taman Perumnas RW V Blora, Tempat Bertemu Alam, Keluarga, dan Inspirasi

0

Korandiva-BLORA.- Pagi yang sejuk di Taman Perumnas RW V Kelurahan Karangjati, Blora, menjadi saksi kehangatan hubungan manusia dengan alam. Setiap Jumat dan hari libur, taman ini ramai dikunjungi warga dari berbagai usia, dari balita hingga lansia, yang datang untuk berolahraga, bermain, atau sekadar menikmati ketenangan.

Salah satunya Kolonel Purnawirawan TNI Sudarto Mulyo Widodo, SH., MH., mantan Kepala Hukum Kolgapwilhan 1 Tanjung Pinang, yang sengaja datang untuk jogging dan memberi makan burung merpati. Bagi Sudarto, burung merpati punya makna simbolik yang dalam—kesetiaan, perdamaian, dan perlindungan, sebagaimana dalam kisah Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.

“Momen memberi makan burung dara ini seperti terapi batin. Saya merasa damai dan termotivasi,” ungkap Sudarto yang kini juga menjabat Pembina Pepabri Blora dan Wakil Ketua DPC Gerindra Blora.

Tak hanya Sudarto, suasana damai juga dirasakan Fery Imaniar, ST., pegawai tambang dari Kalimantan Tengah yang sedang cuti. Ia mengajak keponakan berumur sebelas bulan menikmati pagi sambil memberi makan merpati.

“Tidak perlu ke Paris, cukup di sini bisa beri makan burung dara sambil menikmati udara segar,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Suparyanti, guru TK ABA Perumnas, taman ini jadi ruang belajar alami bagi murid-muridnya. Setiap Jumat, mereka bermain, belajar, dan berinteraksi dengan lingkungan—dari bermain ayunan, sepak bola, hingga memberi makan burung dara. “Anak-anak bisa belajar dengan bahagia dan bebas,” tuturnya.

Ketua RW V, Agus Budi Sukrisno, terus berupaya menjadikan taman ini sebagai pusat aktivitas warga. Tak hanya untuk bermain dan berolahraga, tapi juga tempat belajar dan berekreasi keluarga. Bahkan, siswa SD hingga SMA/SMK memanfaatkannya untuk kegiatan ekstrakurikuler dan konten kreatif.

Taman Perumnas RW V kini bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan simbol kebersamaan, inspirasi, dan cinta terhadap alam yang menumbuhkan semangat hidup warganya. (*)

Kasus HIV/AIDS di Pati Hampir Tembus Seribu, Juwana dan Pati Kota Jadi Titik Tertinggi

Korandiva-PATI.- Jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Hingga akhir Juni 2025, tercatat sudah ada 926 kasus yang teridentifikasi, berdasarkan data pendampingan dari Rumah Matahari Pati. Dari jumlah tersebut, hanya 550 orang yang masih aktif dalam proses pendampingan.

Koordinator Rumah Matahari, Ari Subekti, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sejak tahun 2011. Menurutnya, penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Pati terbagi ke dalam tiga wilayah besar dengan karakteristik yang berbeda.

Di wilayah selatan, penyebaran lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya jumlah perantau. Sementara di kawasan utara, banyaknya pekerja seks komersial (PSK) menjadi faktor utama. Adapun di wilayah tengah, gaya hidup masyarakat disebut sebagai penyebab utama penularan.

Sebaran kasus HIV/AIDS ini tidak terbatas di satu lokasi saja, melainkan tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Pati. Namun, konsentrasi tertinggi ditemukan di dua titik, yakni Kecamatan Juwana dan Pati Kota.
Ari menambahkan, data kasus biasanya diperoleh dari rujukan rumah sakit, puskesmas, dan layanan kesehatan lain yang kemudian diteruskan ke Rumah Matahari untuk ditindaklanjuti dengan program pendampingan. “Rujukan dari layanan itu menjadi dasar kami untuk mendampingi ODHA,” jelasnya.

Sebagian dari penderita HIV/AIDS yang tak lagi dalam pendampingan diketahui telah pindah ke luar kota, menghentikan pengobatan secara sepihak, bahkan meninggal dunia. Rumah Matahari terus berupaya menekan angka penularan dengan edukasi dan layanan pendampingan berkelanjutan. (*)

Pasar Yaik Pati Akan Dibongkar Total, Diganti Bundaran Ala HI, Nasib Pedagang Masih Menggantung

Korandiva – PATI.– Pemerintah Kabupaten Pati kembali membuat wacana kebijakan kontroversial. Tahun 2026 mendatang, Pasar Yaik—salah satu lokasi ikonik dan sumber penghidupan bagi banyak pedagang kecil—akan dibongkar total. Rencana ini disampaikan langsung oleh Bupati Pati, Sudewo, dalam Rapat Koordinasi Program Prioritas yang digelar di Setda Pati pada Rabu (2/7/2025).

Pasar yang selama ini menjadi tempat berjualan puluhan pedagang itu bakal disulap menjadi taman dan bundaran yang disebut-sebut akan menyerupai Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, pembangunan juga akan dilengkapi dengan patung tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, di tengah bundaran.

Tanpa solusi konkret, wacana relokasi bisa dianggap hanya sepintas lalu, karena hingga kini belum ada kejelasan ke mana para pedagang akan dipindah, dan bagaimana mereka akan tetap bertahan setelah kehilangan tempat berdagang yang strategis.

“Bundaran itu akan menjadi satu kesatuan dengan Alun-alun Kembang Joyo. Kita ingin membangkitkan kawasan itu,” ucap Bupati Sudewo, dengan belum merinci bagaimana nasib para pelaku ekonomi rakyat yang akan terdampak secara langsung di lokasi tersebut.

Proyek ini juga belum jelas dari sisi anggaran, karena Sudewo mengaku masih menghitung biaya dan belum menyebutkan sumber pendanaan.

Ini semakin menimbulkan tanda tanya, mengingat proyek seperti ini jelas membutuhkan anggaran besar dan berpotensi menimbulkan polemik jika menggunakan APBD di tengah kebutuhan masyarakat lainnya. (*)

Yohanes Yapagaimu, Siswa Safin Pati Sports School Terpilih Ikuti TC Timnas U17 Jelang Piala Dunia

Korandiva-PATI.– Yohanes Yapagaimu, salah satu siswa berbakat dari Safin Pati Sports School (SPSS), masuk dalam daftar 34 pemain yang dipanggil mengikuti pemusatan latihan (TC) tim nasional Indonesia U17 di Bali. TC ini akan berlangsung mulai 7 Juli hingga 10 Agustus 2025 sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia U17 di Qatar.

Pemanggilan resmi diumumkan oleh PSSI pada Selasa (1/7/2025). Timnas U17 yang dikomandoi pelatih Nova Arianto ini akan memanfaatkan masa TC untuk membentuk kekompakan tim serta mematangkan strategi sebelum berlaga di ajang internasional bergengsi tersebut yang dijadwalkan berlangsung pada 3–27 November 2025.

Yohanes yang berasal dari Merauke, Papua, mengaku terkejut sekaligus bahagia atas kesempatan langka ini. “Saya sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa lolos ke tahap TC. Ini berkat doa dan dukungan orang tua saya dari Merauke,” ujar pemain kelahiran 2009 tersebut.

Striker bertinggi badan 176 cm itu mengungkapkan bahwa mimpinya sejak kecil adalah membela timnas Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa persaingan yang ketat justru membuat dirinya makin termotivasi untuk tampil maksimal selama pemusatan latihan berlangsung.

Sebelumnya, Yohanes telah mengikuti seleksi timnas U17 tahap kedua di Yogyakarta pada akhir Juni lalu. CEO SPSS, Rafi Arifin, menyambut gembira kabar tersebut dan berharap Yapa — panggilan akrab Yohanes — terus berproses dan menunjukkan kualitasnya. “Ini pencapaian awal yang patut diapresiasi. Semoga jadi pelecut semangat bagi Yapa untuk terus berkembang,” ujarnya.

Sebagai informasi, dari total 34 pemain yang dipanggil, sembilan di antaranya adalah pemain diaspora yang merumput di luar negeri. TC ini menjadi kunci dalam menentukan siapa saja yang akan membela Garuda Muda di ajang Piala Dunia U17, di mana Indonesia tergabung di Grup H bersama Brasil, Honduras, dan Zambia. (*)

Persipa Pati Degradasi, Joni Kurnianto Mundur dan Serahkan Saham ke Saiful Arifin

Korandiva-PATI.- Setelah Persipa Pati terdegradasi ke Liga 3 Nusantara musim 2025-2026, Joni Kurnianto resmi mundur dari jabatan CEO. Langkah ini diambil menyusul desakan dari para suporter dan penurunan performa tim yang mengecewakan. Joni pun menyerahkan 41,8 persen saham miliknya kepada Saiful Arifin, tokoh olahraga sekaligus mantan Wakil Bupati Pati.

Joni mengaku keputusan tersebut sudah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Gede Widiade, pemegang saham mayoritas sebesar 50 persen. Sisanya, yakni 8,2 persen saham, tetap dimiliki oleh klub-klub lokal di bawah Persipa dan para suporter. Rencana kelanjutan struktur kepemilikan ini akan dibahas lebih lanjut dalam RUPS dalam waktu dekat.

Dalam keterangannya, Joni menyampaikan bahwa Saiful Arifin siap melanjutkan estafet kepemimpinan Persipa, dan hal itu juga telah mendapat restu dari Bupati Pati. Seluruh urusan administrasi dan keuangan di bawah kepemimpinannya diklaim telah diselesaikan dengan baik.

Joni tercatat mulai memimpin Persipa sejak 2021, kala klub masih berkompetisi di Liga 3 Nasional. Ia kemudian membawa Laskar Saridin promosi ke Liga 2 dan mendirikan PT Laskar Saridin Syeh Jangkung sebagai wujud profesionalisasi klub. Selama dua musim berturut-turut, operasional tim mayoritas dibiayai dari dana pribadinya yang mencapai sekitar Rp 10 miliar.

Masuknya Gede Widiade pada musim 2024-2025 sempat memberi harapan baru, namun performa tim tetap melemah. Persaingan ketat di Liga 2 membuat Persipa tak mampu bertahan dan harus terdegradasi kembali. Joni pun menyampaikan permintaan maaf kepada suporter dan masyarakat atas kegagalan mempertahankan posisi di kasta kedua sepak bola nasional.

Menanggapi kabar bahwa ia kembali ke Persipa, Saiful Arifin belum memberikan kepastian. Meski demikian, kiprahnya dulu sebagai Ketua Umum Persipa periode 2018-2021 membuat publik menaruh harapan bahwa ia akan mampu membawa kembali kejayaan Laskar Saridin di masa mendatang. (*)

Pelantikan Plt Sekda Pati Digelar Tertutup, Bupati Sudewo Tunjuk Riyoso Gantikan Jumani

Korandiva – PATI.- Dalam suasana yang berlangsung tertutup, Bupati Pati Sudewo secara resmi melantik Riyoso sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pati pada Rabu pagi (2/7/2025). Prosesi pelantikan dilakukan di Pendapa Kabupaten tanpa diumumkan dalam agenda resmi bupati, dan hanya dihadiri oleh sejumlah kecil pejabat terpilih.
Sementara itu, Jumani yang sebelumnya menjabat sebagai Sekda definitif digeser ke posisi baru sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik. Penggantian posisi ini dibenarkan langsung oleh Bupati Sudewo saat ditemui usai menghadiri Rapat Koordinasi Program Prioritas Bupati di Ruang Pragolo, Setda Pati.

“Sekda sudah kami ganti pagi tadi. Untuk sementara, Plt Sekda dijabat oleh Pak Riyoso, yang saat ini juga masih menjabat Kepala Dinas PUPR,” ungkap Sudewo kepada wartawan. Dengan demikian, Riyoso kini memegang dua peran strategis di lingkungan Pemkab Pati.

Sudewo menjelaskan, rotasi jabatan ini merupakan bagian dari dinamika normal dalam tubuh birokrasi. Menurutnya, pergeseran seperti ini ditujukan untuk menciptakan penyegaran serta memacu semangat kerja baru di lingkungan pemerintahan daerah.
Ia berharap pergantian Sekda ini dapat mendorong perbaikan kinerja birokrasi di seluruh unit organisasi perangkat daerah.

“Harapannya, setiap OPD bisa lebih optimal dalam bekerja, agar pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal,” ujar Sudewo.

Dalam pernyataannya, Sudewo juga menegaskan bahwa perubahan struktur kepemimpinan seperti ini merupakan hal yang wajar terjadi di setiap organisasi, termasuk pemerintahan. “Rotasi adalah bentuk adaptasi terhadap tantangan kerja, dan itu sangat wajar,” tutupnya. (*)

Program “Sambong Rasa” Jembatani Aspirasi Warga Lewat Musyawarah Lintas Sektoral

0

Korandiva-BLORA.- Pemerintah Kecamatan Sambong meluncurkan program inovatif bertajuk “Sambong Rasa”, sebuah forum musyawarah yang melibatkan Forkompimcam bersama lintas sektoral dalam upaya menyerap aspirasi dan menyelesaikan permasalahan di tingkat kecamatan secara cepat dan tepat.

Camat Sambong, Sunarno, menjelaskan bahwa Sambong Rasa merupakan akronim dari Sambong Rembug Antar Warga Desa, yaitu forum komunikasi dua arah yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dengan pemerintah dan lintas sektor. Tujuan utamanya adalah menampung aspirasi masyarakat serta memberikan informasi langsung mengenai program dan kebijakan pemerintah.

“Program ini kami rancang sebagai wujud keterbukaan dan sinergi antara unsur Forkompimcam dengan lintas sektoral. Kita duduk bersama, mendengar langsung aspirasi masyarakat, lalu bersama-sama mencari jalan keluarnya,” ungkap Sunarno ketika ditemui Diva di kantornya.

Sunarno menegaskan bahwa masyarakat kini memiliki ruang untuk menyampaikan usulan dan permintaan secara langsung, serta memperoleh informasi yang jelas dan akurat dari pemerintah, bukan dari isu simpang siur.

“Ini adalah komunikasi dua arah. Tidak hanya masyarakat menyampaikan aspirasi, tapi mereka juga mendapat informasi langsung dari pemerintah. Kita harapkan masyarakat awam pun bisa memahami arah pembangunan dan program yang sedang dijalankan,” jelasnya.

Kecamatan Sambong sendiri terdiri dari 10 desa, yakni Gadu, Sambong, Sambongrejo, Ledok, Pojokwatu, Biting, Brabowan, Giyanti, Gagakan, dan Temengeng. Semua kepala desa turut dilibatkan dalam forum ini.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah isu aktual dibahas, mulai dari penguatan ekonomi desa, peningkatan layanan publik, penanganan stunting, hingga perbaikan infrastruktur jalan desa.

Hadir pula unsur Koramil, Polsek, Puskesmas, tokoh agama, perwakilan UMKM, serta tokoh pemuda dan perempuan.
Sunarno menambahkan bahwa akan ada rencana tindak lanjut dari setiap pertemuan Sambong Rasa, agar usulan masyarakat tidak berhenti sebatas diskusi.

“Setelah forum ini, akan kita susun rencana tindak lanjut berdasarkan skala prioritas. Ini bukan forum seremonial, tapi benar-benar akan kita kawal hasilnya,” tegasnya.

Program Sambong Rasa akan digelar secara berkala dan bergilir di desa-desa se-Kecamatan Sambong, agar pendekatan langsung kepada warga bisa terus dijaga dan solusi terhadap permasalahan lokal semakin cepat dilakukan. (*)