Beranda blog Halaman 40

Warga Kawengan Gelar Audiensi Terkait Kandang Ayam di Tengah Permukiman

0

Korandiva-BLORA.– Sejumlah warga Desa Kawengan menggelar audiensi pada Jumat (11/7) pukul 14.00 WIB di Balai Desa Kawengan guna menyampaikan keluhan terkait keberadaan kandang ayam yang terletak di tengah permukiman padat penduduk.
Audiensi ini dihadiri oleh Kepala Desa Kawengan, perwakilan Kecamatan Jepon, Satpol PP, Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4), serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora.

Galih, salah satu warga yang tinggal hanya sekitar 10 meter dari kandang ayam tersebut, mengungkapkan keresahannya. Menurutnya, bau menyengat dari kandang sangat mengganggu kenyamanan dan berdampak pada kesehatan keluarganya.

“Anak saya yang masih balita terkena pneumonia, dan kami menduga ini ada kaitannya dengan udara yang tercemar,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa saat musim hujan, jumlah lalat meningkat drastis.
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Jalu, pemilik kandang ayam. Ia membantah bahwa keberadaan kandang telah menimbulkan gangguan sebagaimana yang dilaporkan.

“Sebenarnya tidak seperti yang disampaikan itu. Soal lalat, saya rasa tidak ada masalah. Tidak ada lalat berlebihan seperti yang dikatakan,” jelas Jalu.

Terkait bau, ia menegaskan bahwa kebersihan kandang dijaga secara rutin. “Bau memang ada, tapi tidak sampai menyengat atau mengganggu seperti yang dikeluhkan. Kami sudah berupaya menjaga agar tidak menimbulkan masalah bagi warga sekitar,” tambahnya.

Jalu juga menanggapi soal penyakit anak yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar kandang. “Setahu saya, anak tersebut memang punya riwayat penyakit bawaan, yaitu kelainan jantung sejak lahir, bukan karena bau kandang,” terangnya.

Kepala Desa Kawengan, dalam audiensi tersebut, menyampaikan bahwa pihak desa akan menampung semua aspirasi dan memastikan permasalahan ini ditindaklanjuti secara bijak dan berimbang.

“Kami menerima semua masukan dari warga maupun dari pihak pemilik kandang. Pemerintah desa akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan kajian lapangan. Tujuannya agar ada solusi terbaik, tanpa merugikan salah satu pihak,” ujar Kepala Desa.

Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal penanganan persoalan lingkungan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan seluruh sudut pandang secara adil, agar tercipta harmoni antara aktivitas ekonomi dan kenyamanan warga. (*)

FLS3N Blora 2025: Panggung Ekspresi Budaya Anak Negeri, 168 Siswa Siap Harumkan Blora di Tingkat Provinsi

0

Korandiva-BLORA.— Suasana pagi di halaman Dinas Pendidikan Kabupaten Blora dipenuhi semangat yang membuncah. Ratusan siswa, guru pendamping, serta panitia tampak antusias mengikuti pembukaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SD Tahun 2025. Acara yang diselenggarakan oleh Seksi Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Blora ini menjadi ajang seleksi bergengsi menuju FLS3N tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Dengan total 168 peserta dari 16 kecamatan, ajang ini bukan sekadar lomba, tetapi merupakan panggung ekspresi budaya, penguatan karakter, serta penanaman cinta tanah air melalui seni dan sastra.
Panggung FLS3N tahun ini menyuguhkan kekayaan tema yang luar biasa. Mulai dari tari tradisional, kisah-kisah rakyat, hingga ekspresi modern yang tetap mengakar pada budaya lokal Blora.

Penampilan dari SD Islam Ummina Tunjungan membuka acara dengan tarian “Jejak Riang di Tanah Jawa”, menggambarkan cerianya anak-anak yang belajar mengenal budaya leluhur. Diiringi alunan gamelan dan busana adat, penonton dibuat larut dalam atmosfer klasik yang menyegarkan.

Tak kalah menarik, SD Negeri 3 Cepu menghadirkan “Tari Nganti Surub”, kisah anak-anak yang bermain hingga petang tanpa sadar telah memasuki waktu magrib—sebuah simbol pamali dalam budaya Jawa, karna bermain sampai surub (magrib),maka rawan bagi anak anak mudah digoda makhluk halus.Dengan gerak teatrikal dan simbolik, mereka mengajak audiens untuk merenung akan pentingnya membimbing anak agar mengisi waktu dengan kegiatan positif.

Penampilan dari SD Negeri 2 Ngraho, Kedungtuban juga tak kalah memikat. Mereka membawakan Tari Kemang (Kedinding Manganan), menggambarkan tradisi makan bersama dalam semangat gotong royong. Sementara Tari Blangkrak Blarak berhasil mencuri perhatian karena kemampuannya menyulap tema kehidupan petani menjadi pertunjukan panggung yang atraktif.

“Ini pengalaman pertama mengikuti FLS3N. Saya berharap bisa membawa anak didik kami menjadi juara dan lolos ke tingkat provinsi,” tutur Adinda Ayu G.R., S.Pd., guru pembina dari SDN 2 Ngraho, penuh harap.

Tujuh Cabang Lomba, Satu Tujuan: Menemukan Bintang Blora
FLS3N Blora 2025 mempertandingkan tujuh cabang lomba, masing-masing dilaksanakan di lokasi berbeda:
-Tari di halaman parkir Dinas Pendidikan Kabupaten Blora
-Menyanyi Solo di Pendopo Pagelaran Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata
-Kriya di Gedung D Dinas Pendidikan
-Mendongeng, Menulis Cerita, Pantomim, dan Gambar Ekspresi di SMPN 6 Blora
Suasana penuh kreativitas dan energi positif mewarnai tiap-tiap cabang lomba. Para juri yang terdiri dari seniman, budayawan, dan akademisi menilai aspek teknis, orisinalitas, serta kekuatan pesan dari setiap karya.

Dukungan Dinas Pendidikan: “Bukan Sekadar Lomba, Ini Pembibitan Masa Depan”
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora melalui Kepala Seksi Pembinaan SD, Buana Adi Nugroho, menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap gelaran ini:

“FLS3N bukan hanya soal lomba, tetapi tentang bagaimana kita memberi ruang kepada anak-anak untuk mencintai budaya mereka sendiri. Di tangan mereka masa depan budaya kita berada. Kami berharap para juara yang terpilih mampu membawa nama harum Blora di tingkat provinsi dan bahkan nasional.”ujarnya yang juga merupakan ketua pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK)
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini sepenuhnya didukung oleh APBD Kabupaten Blora Tahun Anggaran 2025, sebagai bukti komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembinaan seni dan karakter generasi muda.

Ajang FLS3N tingkat Kabupaten Blora menjadi batu loncatan penting bagi peserta terbaik yang akan mewakili Blora di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dengan kualitas karya yang ditampilkan, harapan besar disematkan pada siswa-siswa pilihan ini untuk membawa pulang prestasi dan mengharumkan nama daerah.

“Menang atau kalah bukan yang utama, tetapi proses dan semangat belajar melalui seni inilah yang akan membekas dalam jiwa mereka,” ujar salah satu juri.

Dengan semangat, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya, Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional 2025 di Kabupaten Blora telah menunjukkan bahwa anak-anak Blora bukan hanya belajar dari buku, tetapi juga dari gerak, suara, warna, dan cerita. Selama ada panggung seperti FLS3N, selama itu pula tradisi dan nilai luhur bangsa akan terus hidup — di hati generasi penerus. (*)

Mobil Tiba-Tiba Terbakar di SPBU Bumirejo, Petugas Sigap Cegah Ledakan Lebih Besar

Korandiva-PATI. – Suasana panik sempat mewarnai SPBU Bumirejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati pada Kamis siang (10/7/2025), saat sebuah mobil pick up Isuzu Panther bernomor polisi K 9561 DC mendadak terbakar. Insiden terjadi sekitar pukul 14.00 WIB, tak lama setelah kendaraan itu memasuki area parkir SPBU.

Berkat kesigapan petugas SPBU dan bantuan dari pemadam kebakaran serta kepolisian, kobaran api berhasil dipadamkan tanpa menimbulkan korban jiwa.

Mobil tersebut dikemudikan oleh Sukardi (66), warga Kelurahan Pati Kidul. Ia menyampaikan bahwa mobilnya sempat mogok di dekat traffic light Tugu Bandeng dan mencium bau hangus.

“Saya mencium bau hangus, tapi mobil masih bisa melaju, jadi saya arahkan ke SPBU untuk mengecek,” tuturnya. Setibanya di SPBU, ia langsung membuka kap mesin dan melihat api mulai menyala dari bawah kemudi.

Petugas SPBU langsung merespons dengan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun karena api semakin membesar, pihak SPBU segera menghubungi petugas pemadam kebakaran serta melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Margorejo.

Dua saksi mata yang ada di lokasi, yakni Wisnu Wardani Hadi Puspita Dewi (41), seorang perawat asal Muktiharjo, dan Andon Jusworo (29), mahasiswa dari Desa Langgenharjo, juga memberikan keterangan kepada petugas. Keduanya mengaku sempat panik melihat asap tebal dan api dari mobil.

Kapolresta Pati melalui Kapolsek Margorejo AKP Dwi Kristiawan mengonfirmasi bahwa pihaknya langsung bergerak cepat begitu menerima laporan masyarakat.

“Begitu menerima informasi, kami segera mendatangi lokasi, mengamankan area sekitar, dan mencatat identitas saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian,” ujar AKP Dwi.

Ia menambahkan bahwa tindakan awal dari petugas SPBU sangat membantu mencegah kerusakan lebih parah.

Dalam proses pemadaman, digunakan empat tabung APAR dan satu unit mobil pemadam kebakaran.

“Kami juga segera berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran untuk melakukan penanganan lanjutan. Api berhasil dipadamkan dengan empat tabung APAR dan satu unit mobil pemadam kebakaran,” jelas AKP Dwi.

Ia mengingatkan pentingnya memeriksa kondisi kendaraan secara rutin agar kejadian serupa tidak terulang.

Kendaraan Isuzu Panther tahun 2002 yang terbakar itu mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan lagi. Pihak kepolisian saat ini masih menyelidiki kemungkinan adanya faktor kelalaian teknis atau penyebab lainnya.

“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut apakah ada unsur kelalaian teknis atau faktor lain dalam kejadian ini,” tambah AKP Dwi.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan segera melapor jika menghadapi insiden serupa. “Tetap tenang dan segera hubungi petugas. Kami siap turun tangan kapan pun dibutuhkan,” pungkasnya. (*)

Pertemuan Keluarga dan Pemilik Kapal, Serta Penyerahan Santunan untuk Korban PKL Hilang

Korandiva – PATI.– Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polresta Pati memfasilitasi pertemuan antara keluarga siswa PKL yang dilaporkan hilang di laut dengan pihak pemilik kapal KM. Mekar Sari. Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman keluarga korban di Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, pada Minggu, 6 Juli 2025, pukul 14.50 WIB.

Pertemuan dihadiri oleh IPDA Lis Purnomo beserta anggota, pemilik kapal Edi Santiko, perwakilan LPK CV. Samurda Rahayu Perkasa, serta Kepala SMK Negeri 3 Tegal Drs. Bedjo, M.Pd. Turut hadir pula unsur perangkat wilayah seperti Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan RT/RW setempat untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban.

Kapolresta Pati melalui Kasat Polairud Kompol Hendrik Irawan menyampaikan bahwa kehadiran mereka dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk pendampingan terhadap keluarga korban. “Kami hadir untuk mendampingi dan memastikan informasi disampaikan secara utuh, jujur, dan transparan agar tidak ada kesimpangsiuran,” tegasnya.

Diketahui, MDS (16), siswa SMK Negeri 4 Tegal, hilang pada 23 Juni 2025 saat kapal berada di perairan Kangean, Madura, Jawa Timur. Ia terakhir terlihat sekitar pukul 11.00 WIB ketika diajak makan siang oleh teman-temannya. Saat dilakukan pemeriksaan oleh kru dan sesama siswa, korban tidak ditemukan di atas kapal.

Upaya pencarian melibatkan unsur Basarnas, Polairud, kapal sekitar lokasi kejadian, dan instansi lainnya. Kompol Hendrik menambahkan, “Fokus utama kami adalah menemukan korban. Semua upaya maksimal telah dan terus dilakukan. Kami juga membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi keluarga agar tidak merasa sendirian menghadapi situasi ini.”

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, pemilik kapal Edi Santiko memberikan santunan kepada keluarga korban. Barang pribadi milik MDS juga telah diserahkan oleh LPK kepada orang tua. Kompol Hendrik kembali menegaskan, “Kami sangat memahami perasaan keluarga yang masih syok dan berduka. Pendekatan yang kami lakukan selalu mengedepankan sisi kemanusiaan.” (*)

Pemkab Pati Tertibkan Tambang Ilegal di Tlogowungu, Alat Berat Ditarik

Korandiva – PATI. – Pemerintah Kabupaten Pati menunjukkan ketegasannya dalam menindak aktivitas tambang ilegal. Tindakan tegas ini diwujudkan dengan penutupan sebuah lokasi tambang liar di Dukuh Dekem, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Tlogowungu, yang diketahui beroperasi tanpa izin resmi.
Penertiban tersebut merupakan respons atas laporan masyarakat dan didasari instruksi langsung dari Bupati Pati, Sudewo, S.T., M.T. Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa kegiatan penambangan di wilayah Pati harus sesuai aturan dan tidak merusak lingkungan.

Tim gabungan dari sejumlah instansi terkait diturunkan langsung ke lokasi. Tim terdiri dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Satpol PP, serta Cabang Dinas ESDM Kendeng Muria Wilayah Pati. Kehadiran mereka bertujuan untuk melakukan pengecekan sekaligus penindakan di lapangan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kegiatan tambang tersebut tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Pihak pengelola tambang kemudian diminta menandatangani surat pernyataan untuk menghentikan operasional dan menarik seluruh alat berat dari lokasi tersebut.
Langkah penutupan ini merupakan bentuk nyata komitmen Pemkab Pati dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menegakkan hukum di sektor pertambangan.

Pemkab ingin memastikan bahwa investasi di wilayahnya berlangsung secara legal dan bertanggung jawab.
Selain itu, tindakan ini juga diharapkan memberi efek jera bagi pelaku tambang ilegal lainnya.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa seluruh aktivitas penambangan di Kabupaten Pati wajib memenuhi aspek legalitas dan kelestarian lingkungan. (*)

Pencurian di Konser Margorejo Terbongkar, Polisi Tangkap Satu Pelaku dan Kejar Tiga Lainnya

Korandiva-PATI. – Sebuah konser musik yang digelar di Lapangan Desa Margorejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, pada Minggu malam (6/7/2025), tercoreng oleh aksi pencurian ponsel di tengah keramaian penonton. Dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB tersebut, empat orang diduga terlibat, satu di antaranya berhasil ditangkap.

Kapolsek Margorejo, AKP Dwi Kristiawan, membenarkan penangkapan tersebut. “Kami berhasil mengamankan satu pelaku berinisial WS, warga Malang. Tiga lainnya, yakni AB, FR, dan AN, sudah kami tetapkan sebagai DPO dan saat ini masih dalam pengejaran,” jelasnya kepada awak media, Senin (7/7/2025).

Aksi pencurian diketahui saat korban, Rio Febrian (19), warga Kudus, kehilangan dua ponsel miliknya yang saat itu dititipkan kepada temannya. Revanaya Sandra, yang menyimpan ponsel di saku celana, menyadari benda itu hilang tak lama setelah konser dimulai. Usaha pencarian pun dilakukan namun tak membuahkan hasil.

Sekitar pukul 23.15 WIB, seorang saksi bernama Rakha Yulisetiyanto menemukan sebuah tas selempang berwarna hitam di area konser. Di dalamnya terdapat empat unit ponsel yang kemudian diserahkan ke Polsek Margorejo. “Barang bukti yang kami amankan antara lain iPhone 11, Oppo A3S, Realme C11, dan Redmi 13C. Seluruhnya diduga hasil curian,” terang AKP Dwi.

Menurut keterangan polisi, pelaku memanfaatkan kondisi lapangan yang padat dan minim penerangan untuk melancarkan aksinya. “Mereka berbaur dengan penonton, lalu menyasar tas dan saku celana korban. Ini bukan aksi sembarangan, kami duga ada keterlibatan jaringan lintas kota,” ujar Kapolsek.

Saat ini, pihak kepolisian tengah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian di kota lain seperti Surabaya dan Solo untuk memburu ketiga DPO. “Kami tidak akan berhenti sampai para pelaku tertangkap semua. Ini bentuk komitmen kami dalam menjaga keamanan warga,” tegas AKP Dwi Kristiawan. (*)

Jaga Kesehatan di Masa Senja, Kunci Bahagia dan Damai

0

Korandiva – BLORA.— Ketua Paguyuban Setyo Rukun Blora, H. Purwadi, S.Pd., M.Pd., mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan di usia senja. Hal ini disampaikan dalam rapat khusus paguyuban yang digelar di kediaman H. Soeharso, Jln. Agil Kusumadya 20 A Blora, bertepatan dengan syukuran atas kesembuhan istri H. Soeharso.

“Badan sehat sangat didambakan dan penting diperhatikan bagi para purna tugas,” ujar H. Purwadi dalam sambutannya. Ia mengajak seluruh anggota paguyuban untuk terus menjaga pola hidup sehat, melalui olahraga, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan memperkuat ibadah.

Ia menekankan bahwa kesehatan adalah sumber kebahagiaan dan kedamaian bagi generasi senior, yang sebagian besar sudah berusia di atas 65 tahun. Bahkan, H. Soeharso sendiri kini sudah menginjak usia 83 tahun. “Syukuri nikmat sehat dan mari kita rawat bersama,” tegas Purwadi.

Sementara itu, Penasehat Paguyuban Setyo Rukun Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., menyampaikan pesan inspiratif dari seorang lansia berusia 85 tahun asal Dusun Nglawiyan, Blora, bernama Mbah Marsudi. Meski sudah lanjut usia, Mbah Marsudi tetap aktif mencari pakan untuk kambing-kambingnya dan menjalani hidup sehat tanpa bergantung pada obat.

Menurut Bambang, Mbah Marsudi memiliki prinsip hidup sederhana yang ia rangkum dalam akronim KPK:
K: Kegiatan yang bermanfaat, dilakukan setiap hari dengan hati gembira dan semangat. Tak ada waktu untuk mengeluh atau menyalahkan orang lain.
P: Pasrah hasil pada Tuhan, setelah berusaha maksimal. Ia percaya bahwa hasil adalah hak prerogatif Tuhan.
K: Kopi setiap hari, menjadi kebiasaan yang membuat tubuh segar dan hati tenang. Marsudi rutin minum kopi setelah makan, tanpa tambahan gula.

Hal ini diamini oleh H. Soedadyo, S.H., mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial Kabupaten Blora, yang juga berbagi pengalamannya. Ia mengaku sudah lebih dari 15 tahun rutin minum kopi tanpa gula atas anjuran dokter, dan merasakan manfaatnya bagi jantung serta kebugaran tubuh.

Di akhir acara, Soedadyo mengajak semua hadirin untuk menjadikan usia senja sebagai masa yang aktif dan penuh semangat, tanpa bergantung pada obat-obatan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjauhi budaya gibah, saling menghujat, dan menyebar fitnah.

“Sudah saatnya kita fokus menjaga kesehatan, menjaga hati, dan tetap bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya sebelum memimpin doa bersama.

Rapat penuh suasana kekeluargaan ini menjadi momen berharga untuk memperkuat tekad hidup sehat di usia lanjut, dengan semangat rukun, syukur, dan kebersamaan. (*)

Asal Usul dan Perkembangan Desa Gembol, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora

0

Korandiva–BLORA.- Desa Gembol, sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, memiliki kisah sejarah yang menarik dan unik sejak masa awal terbentuknya. Berdasarkan cerita tutur masyarakat, asal-usul nama “Gembol” bermula pada tahun 1848 ketika sepasang suami istri tersasar dan berteduh di bawah pohon di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Tangkut.

Pasangan tersebut kemudian ditemukan oleh sepasang warga lokal yang dikenal sebagai Pak Ero dan Mboh Ero. Saat ditanya mengenai asal-usul mereka, pasangan tersesat tersebut tidak memberikan jawaban, namun tampak menggembol atau membawa sesuatu dalam kantong.

Melihat hal itu, Mboh Ero pun berujar bahwa kelak jika tempat tersebut ramai, akan dinamakan “Desa Gembol”, yang berasal dari kata “menggembol”.

Pak Ero kemudian melaporkan kejadian ini kepada Mrayun, penguasa setempat. Atas jasanya, Pak Ero pun diangkat sebagai kepala desa pertama di wilayah tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Desa Gembol.

Namun, dalam perjalanan waktu, kehidupan yang sulit membuat Pak Ero dan istrinya mengalami kekurangan pangan. Mereka kemudian menukarkan jabatan kepala desa (disebut “beselit”) dengan padi segendeng kepada seorang warga bernama Mbah Tam, yang kemudian menjadi kepala desa selanjutnya.

Pada masa itu, daerah sekitar Tangkut belum ramai karena lokasinya yang jauh dari jalan utama. Kini, penduduk menetap di wilayah selatan Desa Gembol yang lebih mudah diakses.

Urutan Kepala Desa Gembol dari Masa ke Masa:
-Pak Ero
-Pak Tam
-Pak Tomo (menjabat selama 40 tahun)
-Pak Tarip (20 tahun)
-Pak Nyoto (10 tahun)
-Pak Kohir (7 tahun)
-Pak Suparman (20 tahun)
-Pak Sathibi (1980–1988)
-Pak M. Supono (1990–2006)
-Pak Al Amin (2007–sekarang)

Profil Geografis dan Demografi Desa Gembol
Desa Gembol terletak di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah Desa Gembol mencapai 170,206 hektare, dengan pembagian sebagai berikut:
-Luas persawahan: 21,780 ha
-Tegalan: 54,60 ha
-Pemukiman: 33,96 ha
-Lain-lain: 59,866 ha

Batas-batas wilayah Desa Gembol:
-Utara: Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo
-Selatan: Kawasan hutan, Kecamatan Jiken
-Barat: Desa Bangoan, Kecamatan Jiken
-Timur: Desa Ketringan, Kecamatan Jiken

Pembagian Tanah Bengkok Perangkat Desa:
-Kepala Desa: 18,196 ha
-Sekretaris Desa: 4,228 ha
-Kasi Kesejahteraan: 4,692 ha
-Kasi Pelayanan: 4,680 ha
-Kaur Tata Usaha dan Umum: 4,638 ha
-Kasi Pemerintahan: 2,585 ha
-Kaur Keuangan: 4,912 ha

Struktur Pemerintahan Desa Gembol Saat Ini:
-Kepala Desa: Al Amin
-Sekretaris Desa: Wildaniyati
-Kaur Tata Usaha dan Umum: Muh. Suprihantono
-Kaur Keuangan: Abdul Malik
-Kasi Pemerintahan: Saekan
-Kasi Kesejahteraan: Saifudin Zuhri
-Kasi Pelayanan: Jumarno

Dengan sejarah yang unik dan struktur pemerintahan yang lengkap, Desa Gembol terus berkembang sebagai bagian dari Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora. Keberadaan dan perkembangan desa ini menjadi bagian penting dalam mosaik sejarah dan pembangunan wilayah Blora. (*)

Bulan Muharram, Ibu-ibu Perumahan Balun Graha Permai Berikan Santunan kepada Anak Yatim

0

Korandiva – BLORA.- Sebanyak enam puluh anak yatim yang tinggal di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora mendapat santunan dari ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok pengajian AN-NISA’.

Penyerahan santunan berlangsung di Masjid Al Muhajirin yang berada di dalam komplek Perumahan Balun Graha Permai pada Minggu pagi (7/7/2025).

Ketua pengurus pengajian AN-NISA’ Ny. Sri Sundari Misno dalam sambutannya mengatakan, bahwa pemberian santunan kepada anak yatim itu merupakan kegiatan rutin Bulan Muharram yang dilaksanakan setiap tahun.

“Ini sebagai wujud syukur atas rizki yang diberikan Allah SWT, sehingga kita bisa berbagi kepada anak-anak yatim–terutama mereka yang tinggal di sekitar Perumahan Balun Graha,” ujarnya.

Menurut Sri Sundari, dana santunan merupakan hasil urunan ibu-ibu warga dari 6 RT yang berada di lingkungan RW.16 Kelurahan Balun. Untuk penerima santunan adalah anak yatim yang tinggal di wilayah Cepu. Mereka mendapat santunan dalam bentuk uang tunai.

“Alhamdulillah, di bulan Muharram ini kita bisa melakukan amal kebaikan. Salah satu amal baik yang kita lakukan di bulan Muharram ini dengan cara memberikan santunan kepada anak yatim,” tambahnya.

Kegiatan yang didukung penuh oleh pengurus dan anggota takmir Masjid Al Muhajirin ini dihadiri oleh Ketua RW.16, Rudi Hartono bersama istri.

Sementara itu Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin, H. Agus Purnomo Adi pada kesempatan itu berpesan kepada anak-anak agar tidak pelit dalam menjawab sholawat.

“Shalawat itu diajarkan untuk dijawab. Walaupun kita tidak punya harta, kalo ada orang shalawat jangan pelit untuk menjawab,” pesan Agus. (*)

Untuk Pembiayaan Proyek Infrastruktur di Blora, Bank Jateng Cairkan Pinjaman Rp 215 Miliar secara Bertahap

0

“Rp 205 miliar untuk pembiayaan proyek infrastruktur, sedangkan Rp 10 miliar sebagai dana likuiditas yang bisa digunakan Pemkab dalam kondisi mendesak,” ujar Djoko Sabiyanto, pemimpin Bank Jateng Cabang Blora.
***
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora resmi menerima pencairan pinjaman daerah dari Bank Jateng senilai Rp 215 miliar. Dana tersebut akan dicairkan secara bertahap sepanjang Tahun Anggaran 2025.
Pemimpin Bank Jateng Cabang Blora, Djoko Sabiyanto, menjelaskan,bahwa pencairan dana disesuaikan dengan progres pelaksanaan proyek. “Pencairan dilakukan bertahap. Disesuaikan dengan pelaksanaan kegiatan di lapangan,” katanya.

Menurutnya, dana infrastruktur hanya berlaku untuk Tahun Anggaran 2025. Jika tidak terserap hingga akhir tahun, maka tidak bisa digunakan kembali di tahun anggaran selanjutnya. “Pencairan hanya berlaku untuk tahun ini saja,” tandasnya.

Pinjaman tersebut memiliki masa tempo selama empat tahun. Namun, sesuai ketentuan, pengajuan pinjaman harus mengikuti sisa masa jabatan kepala daerah. Jika masa jabatan tersisa dua tahun, maka tenor pinjaman maksimal juga dua tahun.

“Pinjaman harus selaras dengan masa jabatan bupati. Tidak bisa pinjam melebihi sisa waktu kepemimpinan,” jelas Djoko.

Mengenai sistem pembayaran, bunga pinjaman dihitung bulanan, namun pelunasan pokok dan bunga menyesuaikan kemampuan fiskal daerah. “Pembayaran tidak harus setiap bulan, bisa disesuaikan kemampuan keuangan daerah,” ujarnya.

Ini merupakan kali kedua Pemkab Blora mengajukan pinjaman ke Bank Jateng. Sebelumnya, pada tahun 2022, Pemkab Blora juga menerima pinjaman daerah sebesar Rp 150 miliar untuk keperluan pembangunan.

Sementara itu Bupati Blora, Arief Rohman mengatakan, bahwa dana pinjaman kali ini akan difokuskan untuk memperbaiki 41 ruas jalan rusak di berbagai wilayah Blora. Ia menargetkan pembangunan dimulai pertengahan 2025. “Proses perencanaannya sudah selesai, dan akan segera masuk tahap lelang,” ujarnya.

Menurut Arief, pembangunan infrastruktur merupakan fokus utama pemerintahannya. Ia meyakini bahwa kualitas infrastruktur yang baik akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Arief juga menyebut, pinjaman ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pembangunan. “Kalau infrastrukturnya baik, ekonomi akan ikut bergerak. Ini bagian dari ikhtiar kita menjawab harapan masyarakat,” tegasnya. (*)