Beranda blog Halaman 3

Laris Habis 300 Porsi, Nasi Pecel Mas Wahyu Banjiri Cepu Saat Lebaran Fitri 1447 H

0

Korandiva-BLORA.– Hari Raya Idul Fitri 1447 H (22 Maret 2026) makin ramai di pinggir Jalan Taman Seribu Lampu Cepu, berkat nasi pecel legendaris Mas Wahyu. Mobil Mitsubishi Mirage sederhananya warna kuning langsung kebanjiran pembeli sejak pukul 06.00 pasca salat Id—stok 300 porsi ludes kurang dari 3 jam.

“Alhamdulillah, laris manis! Biasa hari normal 100 porsi, Lebaran langsung habis. Sambal kacang resep turun-temurun juara, plus telur, tahu, tempe, dan sayur kenal segar,” cerita Mas Wahyu (35), sambil menyeka keringat di tengah antrean keluarga mudik dari Semarang, Surabaya, hingga Jakarta.

Warga lokal dan perantau kampung halaman rela antre. “Enak, murah Rp 6.000/porsi, tambah lauk telur Rp 10.000 pas sarapan Lebaran sebelum open house. Ini pecel terenak di Cepu-Blora bikin kangen rumah.” puji Bu Arum (38) dari Randublatung, bareng keluarga. Dagangannya jadi magnet silaturahmi, bikin Lebaran makin hangat dan lezat. (*)

Janji Bulog Dipertanyakan: Petani Tebu Blora Ancam Turun ke Jalan, Tagih Komitmen Musim Giling 2026

0

Korandiva-BLORA.— Kesabaran petani tebu di Kabupaten Blora kian menipis. Dalam pertemuan panas dengan Bupati dan Wakil Bupati, Jumat (27/3/2026), Ketua APTRI Blora, H. Sunoto, secara tegas “menagih utang janji” Bulog yang hingga kini tak kunjung terealisasi.
Alih-alih menunjukkan progres, perbaikan krusial di tubuh PT GMM Bulog—mulai dari penggantian boiler rusak hingga pembenahan manajemen—justru tak berbekas. Padahal, komitmen tersebut sebelumnya diucapkan langsung oleh Direktur Utama Bulog di hadapan pejabat daerah.

Kondisi ini memicu kemarahan petani. Mereka menilai Bulog gagal memberikan kepastian, bahkan cenderung membiarkan nasib petani terkatung-katung. “Kalau tidak mampu mengelola, serahkan saja ke swasta. Jangan petani terus jadi korban,” tegas Sunoto.

Puncak kekecewaan akan diwujudkan dalam aksi damai besar-besaran pada 2 April 2026 di Alun-alun Blora. Sekitar 5.000 massa dan ratusan truk dipastikan turun ke jalan, membawa satu tuntutan: kejelasan dan tanggung jawab.

Akar persoalan ini tak lepas dari “tragedi giling 2025”—penghentian sepihak akibat kerusakan mesin yang merugikan petani hingga Rp 75 miliar. Hingga kini, tak ada penyelesaian konkret.

Suara serupa datang dari berbagai pihak. Mereka menilai pemerintah pusat seolah menutup mata terhadap penderitaan petani kecil yang sudah berulang kali mengadu tanpa hasil.

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakpastian. Dengan semangat “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, petani Blora bersiap menekan pemerintah—bahkan hingga ke Presiden—agar janji tak lagi sekadar wacana. (*)

Senja Ramadan, Silaturahmi yang Menghangatkan Hati para Purna Tugas

0

Korandiva-BLORA.— Malam kian larut selepas salat tarawih, Jumat (20/3/2026). Di sudut sederhana sebuah kafe di kawasan Nglawiyan, Karangjati, suasana justru terasa hangat. Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan perjumpaan hati—para purna tugas yang pernah mengabdikan diri untuk daerah, kini duduk sejajar, tanpa sekat jabatan.

Di tempat itu, mantan Sekda Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A., menginisiasi sebuah silaturahmi kecil yang mereka sebut dengan sederhana: “kelompok lima persen.” Sebuah istilah yang terdengar ringan, namun menyimpan makna kedekatan, keakraban, dan mungkin—kejujuran dalam memaknai hidup setelah masa jabatan usai.

Hadir dalam lingkaran hangat itu sejumlah nama yang pernah menjadi bagian penting roda pemerintahan Kabupaten Blora: Drs. Purwanto, MM, mantan Kepala DPMPTSP; Drs. Sunanto, MM, mantan Kepala BPBD; Sarmidi, SP., MM., dari Dindagkop UKM; serta Suripto, S.Sos., mantan Kabid Setwan.

Tak ada protokoler. Tak ada kursi kehormatan. Yang ada hanya canda ringan, tawa lepas, dan sesekali jeda hening ketika kenangan lama kembali menyapa.
Malam itu, perbincangan mengalir dari hal-hal sederhana—kesehatan, keluarga, hingga aktivitas selepas purna tugas—lalu perlahan memasuki ruang yang lebih dalam: perenungan tentang hidup.

Purwanto membuka percakapan dengan pitutur Jawa yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa hidup sejatinya adalah tentang memberi manfaat.
“Urip iku urup,” ucapnya pelan, seolah mengajak semua yang hadir untuk kembali menyalakan cahaya dalam diri masing-masing.
Di tengah zaman yang ia sebut “kolobendu”—penuh godaan dan kegelisahan—ia mengajak untuk tetap mengendalikan hawa nafsu dan ego, terutama setelah ditempa selama Ramadan. Baginya, hidup bukan sekadar berjalan, tetapi memahami dari mana manusia berasal dan ke mana akan kembali—sangkan paraning dumadi.
Sunanto, yang kini memilih mengelola tambak di Dukuhseti, Pati, berbicara dengan nada tenang. Ia merasa, selepas purna tugas, hidup tak lagi soal panggung.
“Sekarang waktunya tetap produktif, tapi lebih banyak memberi manfaat,” tuturnya.

Dari tambaknya seluas dua hektare, ia tak hanya memanen ikan nila dan bandeng, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan dengan berbagi kepada masyarakat sekitar. Baginya, keberkahan justru terasa ketika hasil jerih payah bisa dinikmati bersama.

Sarmidi menambahkan dengan keyakinan yang sederhana namun dalam: hidup sudah ada yang mengatur.
“Urip wis ginaris,” katanya.
Ia mengajak untuk lebih banyak berserah, ikhlas, dan tawakal. Karena pada akhirnya, manusia hanyalah pemeran dalam panggung kehidupan, sementara naskahnya telah ditulis oleh Sang Pemilik Semesta. Namun satu hal yang pasti, ia percaya: sopo nandur bakal ngunduh—siapa menanam, akan menuai.

Sementara itu, Suripto, yang kini aktif memimpin paguyuban keluarga besar keturunan Eyang Dipoyudo, justru menemukan makna hidup dalam kesederhanaan.
“Sekarang ini, hidup sederhana itu malah jadi barang langka,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan tanda kemapanan batin—ketika seseorang tak lagi dikuasai keinginan yang berlebihan.

Di penghujung pertemuan, Bambang Sulistya merangkum semua yang mengalir malam itu dalam satu kata: silaturahmi. Sebuah kebutuhan jiwa yang tak tergantikan.
Ia menyebut silaturahmi sebagai “MULIA”—akronim yang sarat makna: melapangkan rezeki, menghadirkan rahmat, mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat berbagi, hingga menjaga kesehatan lahir dan batin.
Malam semakin larut. Percakapan perlahan mereda. Namun hangatnya kebersamaan justru terasa semakin kuat.
Satu per satu mereka berdiri. Saling berjabat tangan, berpelukan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ucapan yang sama terucap tulus, tanpa rekayasa: Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.

Di balik senyum itu, terselip doa sederhana—semoga usia masih memberi kesempatan untuk kembali dipertemukan dalam Ramadan berikutnya.
Karena bagi mereka, pada akhirnya, yang tersisa bukanlah jabatan, melainkan kenangan, persahabatan, dan makna kehidupan yang terus bertumbuh. (*)

PANTHER 3 Bergerak, Tebar Kepedulian dan Perkuat Basis Relawan Menyambut Idul Fitri

0

Korandiva-BLORA.— Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, semangat kebersamaan dan solidaritas terus digaungkan oleh Koordinator Relawan PANTHER 3 (PAN Jawa Tengah 3), Veri Dwi Susanto. Melalui gerakan sosial yang menyentuh langsung masyarakat akar rumput, PANTHER 3 membagikan souvenir kepada relawan tingkat desa di Kecamatan Blora dan Jepon.

Kegiatan ini bukan sekadar aksi berbagi, tetapi juga menjadi simbol penguatan jaringan relawan yang selama ini menjadi ujung tombak perjuangan di lapangan. Dalam momentum yang penuh makna ini, PANTHER 3 ingin menegaskan komitmennya untuk terus hadir bersama masyarakat.

Veri menyampaikan bahwa peran relawan desa sangat strategis dalam menjaga semangat kebersamaan dan menyampaikan aspirasi rakyat. Oleh karena itu, perhatian kepada relawan menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan politik yang berakar kuat.

“Kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh relawan yang telah berjuang tanpa lelah. Apa yang kami berikan ini mungkin sederhana, namun sarat makna sebagai simbol kebersamaan dan penghargaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa momentum Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk mempererat silaturahim, tidak hanya secara personal tetapi juga dalam konteks perjuangan kolektif. Relawan diharapkan tetap solid dan terus bergerak bersama rakyat.

Pembagian souvenir ini juga menjadi wujud nyata bahwa gerakan politik tidak melulu soal kekuasaan, tetapi juga tentang kepedulian sosial dan kehadiran nyata di tengah masyarakat. Politik yang membumi adalah politik yang dirasakan langsung manfaatnya.

Di tengah dinamika sosial dan tantangan ke depan, PANTHER 3 berupaya menjaga konsistensi dalam membangun komunikasi yang intens dengan relawan. Hal ini menjadi fondasi penting dalam menghadapi berbagai agenda politik yang akan datang.

Kecamatan Blora dan Jepon dipilih sebagai lokasi awal kegiatan ini sebagai bagian dari strategi penguatan basis di wilayah yang memiliki potensi besar dalam menggerakkan dukungan masyarakat secara luas.

Para relawan menyambut kegiatan ini dengan antusias dan penuh rasa kekeluargaan. Mereka merasa diperhatikan dan semakin termotivasi untuk terus berkontribusi dalam perjuangan bersama.

Melalui kegiatan ini, PANTHER 3 berharap semangat Idul Fitri dapat menjadi energi baru untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian, dan meneguhkan langkah dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Semoga Idul Fitri ini membawa kebahagiaan, keberkahan, dan semakin mempererat persaudaraan di antara kita semua,” tutup Veri dengan penuh harap. (*)

Berkah di Ujung Ramadan: Senyum Warga Karangjati Menyambut Sedekah “Bude Rini”

0

Korandiva-BLORA.- Peribahasa lama itu terasa hidup di sore yang hangat di Perumnas Karangjati, Blora. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Di saat kebutuhan kian mendesak menjelang Idulfitri, bantuan justru hadir tanpa diduga.

Kamis, 19 Maret 2026, halaman sebuah rumah di Jalan Mliwis No. 44, RW V, menjadi saksi kebahagiaan sederhana. Warga dari berbagai penjuru datang dengan wajah penuh harap—para pemulung, tukang becak, penjual tape, hingga petugas kebersihan dan satpam perumahan. Mereka bukan sekadar hadir, tetapi membawa cerita hidup yang sama: bertahan di tengah keterbatasan.

Di tempat itulah, paket-paket sembako dibagikan. Bantuan dari Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini—yang akrab disapa “Bude Rini”—menjadi lebih dari sekadar kebutuhan dapur. Ia menjelma menjadi harapan.

Mewakili kehadiran beliau, Ir. H. Bambang Sulistya, mantan Sekda Blora sekaligus Ketua PWRI, membuka acara dengan ungkapan syukur. Suaranya tenang, namun sarat makna. Ia mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang berbagi dan merawat kepedulian.

“Tahun ini adalah kali kedua kegiatan ini dilaksanakan sejak beliau menjabat,” tuturnya. Sebuah kalimat sederhana, namun cukup untuk menunjukkan bahwa kepedulian itu bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen yang terus dijaga.

Suasana kemudian mencair. Dalam keakraban, Bambang melempar pertanyaan ringan tentang nama Bupati dan Wakil Bupati Blora. Serentak warga menjawab penuh semangat. Tawa pun pecah ketika seorang warga, Usrok, dengan bangga menunjukkan kaus bergambar pasangan “ASRI” yang dikenakannya.

Namun, momen paling hangat justru datang dari pesan yang dititipkan Bude Rini. Ia mengajak warga untuk tetap menjaga kekompakan, merawat kerukunan, dan saling menguatkan dalam kebersamaan. Sebuah pesan sederhana, tetapi terasa dalam di tengah kehidupan masyarakat yang saling bergantung satu sama lain.

Ketua RW V, Agus Budi S., tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Baginya, sedekah di bulan Ramadan bukan hanya soal memberi, tetapi juga tentang keberkahan yang berlipat. Ia bahkan merangkumnya dalam satu kata: SURGA.
S—Selalu dimudahkan dalam tugas.
U—Umur panjang dan bermanfaat.
R—Rezeki yang berkah.
G—Terhindar dari bencana.
A—Jaminan kebahagiaan di akhirat.
“Ini bukan sekadar bantuan. Ini doa yang berjalan,” ujarnya pelan.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat, Sutardi. Ia melihat ada keseimbangan yang indah: ketika pemimpin hadir untuk rakyat kecil, maka rakyat kecil pun dengan tulus mendoakan pemimpinnya. Sebuah hubungan yang tak tertulis, tetapi terasa kuat.

Menjelang penutupan, doa dipanjatkan bersama. Dipimpin oleh Modin Sadikin, suasana berubah hening. Beberapa warga menengadahkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Mungkin bukan hanya karena sembako yang diterima, tetapi karena merasa diperhatikan.

Tepuk tangan yang mengakhiri acara itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah ungkapan terima kasih yang tulus—dari hati yang sederhana. Di penghujung Ramadan, di tengah keterbatasan, kebahagiaan ternyata bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sekarung sembako, sapaan hangat, dan rasa bahwa mereka tidak sendiri. (*)

Menjemput Bahagia di Usia Senja dari Serambi Subuh Nurul Falah

0

Korandiva-BLORA.- Fajar belum sepenuhnya merekah di langit Karangjati, Blora. Namun lantunan ayat suci Al-Qur’an telah lebih dulu menghangatkan ruang Masjid Nurul Falah. Di penghujung Ramadan 1447 H, Rabu (18/03/2026), suasana subuh itu terasa berbeda—lebih hening, sekaligus lebih menggetarkan.

Di hadapan jamaah yang masih larut dalam kekhusyukan, mantan Sekda Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, berdiri menyampaikan Kuliah Tujuh Menit (kultum). Suaranya tenang, namun sarat makna. Tema yang diangkat sederhana, tetapi menyentuh relung kehidupan: “Aktivitas di Usia Senja Menuju Sehat dan Bahagia.”

Baginya, usia senja bukanlah masa untuk berhenti, melainkan fase mematangkan makna hidup. Ia mengajak jamaah untuk menjadi manusia paripurna—mereka yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental, mantap dalam keimanan, dan lapang dalam kebahagiaan.

“Semua itu tidak datang dengan sendirinya,” tuturnya pelan. “Harus diupayakan dengan pendekatan yang utuh—fisik, mental, spiritual, dan sosial.”

Dalam perjalanan hidupnya, Bambang mengaku selalu berpijak pada “petunjuk langit”. Ia mengutip tiga ayat Al-Qur’an yang menjadi kompas dalam menapaki usia senja. Tentang tujuan hidup untuk beribadah, tentang ciri orang bertakwa, hingga pesan agar manusia tidak berhenti berkarya setelah menuntaskan satu urusan.

Dari situlah lahir sebuah rumusan sederhana namun membumi: BEBAS. Bukan sekadar akronim, tetapi cara hidup.
Beraktivitas, katanya, adalah kunci. Hari-hari harus diisi dengan kegiatan bernilai ibadah. Ia bahkan menyebut tiga “modal sosial” yang kerap terlupakan: bantuan tenaga orang lain (BATOL), bantuan dana (BADOL), dan bantuan doa (BANDOL). Sebuah pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.

Ia lalu mengajak jamaah mengenyahkan pola pikir negatif—penyakit hati seperti iri dan dengki—yang kerap menggerogoti kebahagiaan tanpa disadari. Ramadan, menurutnya, adalah momentum terbaik untuk membersihkan batin.
Belajar pun tak boleh berhenti. Tidak hanya dari buku atau manusia, tetapi juga dari semesta. Dari alam yang sunyi, manusia bisa menemukan ketenangan yang tak tergantikan.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga ritme ibadah, gemar bersedekah, dan merawat silaturahmi. “Di situlah letak sehat dan berkah,” ucapnya.

Dan di ujung pesannya, ia menyelipkan semangat yang tak lekang oleh waktu—Semangat ’45. Semangat untuk tetap tangguh, tetap guyub, tetap rukun dalam kehidupan sosial. Sebuah semangat yang, menurutnya, justru harus semakin menyala di usia senja.
Ia pun mengutip sebuah kalimat yang kini kerap digaungkan Presiden Prabowo Subianto:
“Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.” Kalimat itu menggantung di udara, seolah menjadi penutup yang tak perlu ditambah lagi.

Namun Bambang memilih menutup kultumnya dengan cara yang lebih lembut—sebuah pantun:
Suara takbir menggema syahdu,
Menyentuh kalbu di akhir waktu.
Ramadhan pergi meninggalkan rindu,
Semoga Ramadan tahun depan kita masih bertemu.

Beberapa jamaah tampak menunduk. Barangkali merenung, barangkali juga menahan haru.
Usai kultum, kehangatan Ramadan kembali terasa dalam bentuk yang sederhana. Ketua takmir masjid, H. Slamet Pamuji, SH., M.Hum., membagikan 45 paket makanan kepada jamaah tadarus. Sebuah gestur kecil, namun penuh makna—tentang berbagi, tentang kepedulian, tentang kebersamaan.
Di pagi yang kian terang itu, satu pesan terasa mengendap kuat:
bahwa usia boleh menua, tetapi semangat untuk hidup bermakna tak boleh pernah padam. (*)

Ramadan dan Jalan Menuju Bahagia di Masjid Nurul Falah

0

Korandiva-BLORA.- Ramadan 1447 H terus berjalan. Malam demi malam di Masjid Nurul Falah Perumnas Karangjati, Blora, suasana ibadah masih terasa hangat dan penuh semangat. Pada Sabtu malam, 14 Maret 2026, saat bulan suci telah memasuki hari ke-25, para jemaah kembali memenuhi saf-saf masjid.

Selepas salat Isya berjamaah, tradisi yang selalu dinantikan pun dimulai: kuliah tujuh menit (kultum). Malam itu, tausiah disampaikan oleh Agus Budi S, mantan pengajar SMA Negeri 1 Blora yang kini juga menjabat Ketua RW V Kelurahan Karangjati serta salah satu imam Masjid Nurul Falah.

Dengan gaya tutur tenang namun penuh makna, ia mengajak para jemaah untuk merenungkan betapa istimewanya bulan Ramadan bagi umat Islam.

“Umat muslim sepatutnya bersyukur dan bangga karena memiliki bulan Ramadan yang penuh keutamaan. Bulan ini selalu dinantikan dengan penuh kegembiraan, bahkan tidak hanya oleh umat Islam saja, tetapi juga oleh umat lain yang ikut merasakan atmosfer kebaikannya,” ujarnya.

Menurutnya, Ramadan tidak sekadar menjadi waktu menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum reformasi spiritual.

“Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk memperbaiki diri, membersihkan hati, dan menata kembali kehidupan agar lebih bahagia, baik di dunia maupun di akhirat,” tutur Agus.

Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, kebahagiaan bukanlah sekadar kesenangan duniawi. Kebahagiaan sejati adalah ketenangan jiwa yang lahir dari iman, ketaatan, serta keridhaan Allah SWT.

Dalam kultumnya, Agus kemudian membagikan kiat sederhana meraih kebahagiaan hidup melalui sebuah akronim yang mudah diingat: BAHAGIA.

Huruf pertama, B, dimaknai sebagai Banyak berzikir dan Bersyukur. Mengingat Allah, kapan pun dan di mana pun, diyakini mampu menenteramkan hati. Ia mengutip firman Allah bahwa dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang, serta janji bahwa rasa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat.
Huruf A berikutnya dimaknai sebagai hidup Adhem ayem melalui pola hidup sederhana. Kesederhanaan, katanya, mampu menjauhkan manusia dari tekanan hidup akibat mengejar hal-hal duniawi yang tidak pernah ada ujungnya.

“Rasulullah mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah banyaknya harta, melainkan kaya hati,” jelasnya.

Huruf H merujuk pada keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas—hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia. Salat lima waktu yang dijaga dengan baik menjadi fondasi ketenangan batin, sementara kepedulian sosial menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Huruf A berikutnya mengingatkan pentingnya aktif menjaga kesehatan fisik dan mental. Islam, kata Agus, sangat menganjurkan umatnya menjaga tubuh dengan makanan halal dan bergizi, karena tubuh juga memiliki hak yang harus dipenuhi.

Sementara G dimaknai sebagai guyub rukun paseduluran sak lawase—semangat persaudaraan dan kebersamaan yang terus dijaga. Dalam Islam, persaudaraan mencakup ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, hingga ukhuwah wataniyah. Ia pun mengingatkan pitutur Jawa yang sarat makna: rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.

Huruf I berarti Istighfar ketika melakukan kesalahan serta sabar saat menghadapi ujian kehidupan. Sikap ini diyakini mampu menjaga hati tetap bersih dan tenang.
Terakhir, huruf A menegaskan pentingnya memperbanyak amalan saleh. Berbagi kepada sesama, bersedekah kepada kaum duafa, dan menolong orang lain merupakan jalan sederhana menuju keberkahan hidup.

“Kepyur membuat hidup makmur dan mujur,” ujarnya sambil tersenyum, disambut anggukan para jemaah.

Di tengah malam Ramadan yang semakin mendekati akhir, pesan-pesan sederhana itu terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di Masjid Nurul Falah, kultum singkat itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan ternyata tidak jauh—ia tumbuh dari hati yang bersyukur, hidup yang sederhana, serta kepedulian kepada sesama. (*)

Pengelolola Dapur SPPG di Cepu Menjemput Berkah Ramadan Lewat Senyum Anak Yatim

0

Korandiva – BLORA.- Sore itu, suasana di halaman Rumah Makan Maulana, Mentul, Cepu terasa berbeda. Menjelang waktu berbuka puasa pada Sabtu (14/3/2026), puluhan warga dan tokoh masyarakat mulai berdatangan. Di antara mereka, puluhan anak yatim tampak duduk rapi, sebagian dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sebagian lagi tak mampu menyembunyikan senyum harapan.

Di tempat itulah para pengelola Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cepu 1, Karangboyo 2, dan Nglanjuk 1 menggelar acara buka puasa bersama sekaligus pemberian santunan bagi anak-anak yatim.

Sebanyak 50 anak yatim hadir dalam kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda berbuka puasa. Lebih dari itu, momen Ramadan dimaknai sebagai ruang untuk mempererat ukhuwah serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Joko K, pengelola SPPG Cepu 1, Karangboyo 2, dan Nglanjuk 1, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kebersamaan antara pengelola dapur program pemenuhan gizi dengan masyarakat di sekitar lingkungan mereka.

“Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berbagi. Kami ingin menjadikannya sebagai momentum mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan rasa saling peduli,” ujarnya.

Menurut Joko, santunan yang diberikan kepada anak-anak yatim tidak hanya berupa makanan untuk berbuka puasa, tetapi juga pakaian serta sejumlah uang saku. Bantuan sederhana itu diharapkan dapat sedikit meringankan beban mereka yang berasal dari keluarga kurang beruntung.

“Alhamdulillah, di bulan suci ini kami masih diberi kesempatan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” tuturnya.

Menjelang azan magrib berkumandang, suasana semakin terasa khidmat. Anak-anak yatim duduk berdampingan dengan warga dan para tokoh masyarakat.

Kebersamaan yang tercipta seakan menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menghadirkan kasih sayang kepada sesama.

Melalui kegiatan seperti ini, Joko k, berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat menjadi tradisi yang terus berlanjut setiap Ramadan di tahun-tahun mendatang.

“Semoga kebersamaan seperti ini bisa terus kita jaga, dan kegiatan santunan anak yatim dapat rutin kita lakukan setiap Ramadan,” harapnya.

Di tengah hangatnya kebersamaan sore itu, senyum anak-anak yatim menjadi gambaran sederhana bahwa berbagi, sekecil apa pun, selalu mampu menghadirkan kebahagiaan. (*)

Dana Desa Rp 100 Juta Menguap, Proyek Aspal Tak Pernah Ada: Pengawasan Kecamatan Todanan Dipertanyakan

0

Korandiva-BLORA.- Fakta baru kembali mencuat dalam dugaan penyimpangan Dana Desa (DD) Tahun 2025 di Desa Sendang, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dana kegiatan fisik tahap II dilaporkan telah cair seluruhnya sebelum September 2025, namun hingga tutup tahun anggaran proyek pengaspalan jalan yang direncanakan tak kunjung dikerjakan.

Ironisnya, hasil pemeriksaan Inspektorat bahkan memerintahkan pengembalian dana sebesar Rp 100 juta ke Rekening Kas Desa (RKD). Namun hingga 4 Maret 2026, dana tersebut belum juga dikembalikan.
Kasi Pembangunan Kecamatan Todanan, Tasmanto—yang akrab disapa Minto—mengungkapkan dugaan penyimpangan itu pertama kali terdeteksi saat monitoring dan evaluasi (monev) Dana Desa tahap II pada 10 Desember 2025.

“Dalam satu tahun anggaran kami melakukan monev dua kali, yakni pada tahap I dan tahap II pencairan Dana Desa,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Namun fakta di lapangan menunjukkan hal mencolok: dana telah dicairkan penuh, sementara progres fisik proyek nihil.
Saat ditanya prosedur jika terjadi ketidaksesuaian antara rencana dan pelaksanaan, Minto menyebut pemerintah desa seharusnya tetap menjalankan kegiatan sesuai APBDes yang telah disahkan.

“Kalau ada perubahan harus melalui APBDes Perubahan,” tegasnya.
Ia mengaku telah menyarankan pemerintah desa agar kegiatan segera direalisasikan. Jika memang tidak memungkinkan, dana diminta dikembalikan ke RKD atau dimasukkan sebagai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA).

“Namun sampai sekarang pengembalian Rp100 juta itu belum terealisasi,” katanya.

Lebih mengejutkan lagi, ketika ditanya apakah kecamatan pernah melaporkan persoalan ini secara resmi, Minto mengakui tidak ada laporan tertulis yang dibuat sebelum pemeriksaan Inspektorat berlangsung.

Menurutnya, penyampaian hanya dilakukan secara lisan saat tim Inspektorat memberi pemberitahuan jadwal pemeriksaan pada awal Januari 2026.

“Artinya memang tidak ada laporan tertulis khusus sebelumnya,” ujarnya.

Minto juga menegaskan pengawasan dari kecamatan sebatas memastikan kegiatan dilaksanakan atau tidak sesuai rencana. Ia membantah adanya kelalaian dari pihaknya.

“Karena monev masih dalam tahun berjalan, desa sebenarnya masih punya waktu untuk merealisasikan pekerjaan,” kilahnya.

Namun pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan publik. Jika dana sudah cair sebelum September 2025 dan baru terdeteksi pada 10 Desember 2025, apakah sistem kontrol dan pengawasan benar-benar berjalan efektif?

Ketika ditanya apakah ada evaluasi internal terhadap kinerja pengawasan di tingkat kecamatan, jawabannya singkat. “Tidak ada,” kata Minto.

Langkah perbaikan yang disebutkan hanya sebatas meningkatkan koordinasi dengan pemerintah desa dan organisasi perangkat daerah (OPD) agar pelaksanaan kegiatan sesuai aturan.

Menurutnya, hampir seluruh desa di Kecamatan Todanan telah melaksanakan kegiatan Dana Desa 2025, baik fisik maupun nonfisik.
“Desa Sendang menjadi pengecualian yang kini berbuntut temuan pengembalian Rp 100 juta,” tandasnya.

Kasus ini menyisakan sejumlah tanda tanya besar bagi publik:
Bagaimana dana bisa cair penuh sementara proyek tak pernah dikerjakan? Mengapa pengawasan baru menemukan kejanggalan menjelang akhir tahun anggaran? Dan sampai kapan pengembalian Rp 100 juta itu dibiarkan menggantung tanpa kepastian? Sementara waktu terus berjalan, proyek aspal yang dijanjikan tetap tak berjejak—dan akuntabilitas pengelolaan Dana Desa kini berada di bawah sorotan tajam. (*)

MPKN Blora Desak Kementerian PDTT Rombak Total Pendamping Desa: “Penyimpangan Dana Desa Bukti Pendamping Tak Berguna!”

0

Korandiva-BLORA.- Masyarakat Pengawas Keuangan Negara (MPKN) Kabupaten Blora mendesak Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) untuk melakukan perombakan besar-besaran terhadap sistem pendampingan desa. Ketua MPKN Blora, Fuad, menilai bahwa banyaknya kasus penyimpangan dana desa dan kemunduran desa menjadi bukti ketidakberdayaan pendamping desa.

Fuad menegaskan bahwa keberadaan pendamping desa seharusnya vital dalam mengawal pembangunan dan pengelolaan keuangan desa. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pendamping desa seringkali gagal mencegah terjadinya penyimpangan dan kemunduran.

“Beragam banyak kasus yang sering terjadi di desa-desa sebenarnya tidak luput dari pendamping desa. Karena bagaimanapun, pendamping desa itu tugasnya sangat vital keberadaannya di desa,” ujar Fuad.

“Jadi, apabila ada penyimpangan dana desa ataupun mundurnya desa, itu berarti keberadaan pendamping desa itu sangat tidak penting,” tegasnya.

Fuad mendesak Kementerian PDTT untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pendamping desa di seluruh Indonesia. Evaluasi ini harus dilakukan secara transparan dan melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat desa.

“Kami meminta agar Kementerian PDTT mengevaluasi kompetensi, integritas, dan efektivitas pendamping desa. Jika terbukti tidak kompeten atau terlibat dalam penyimpangan, harus ditindak tegas,” kata Fuad.

Selain itu, Fuad juga meminta agar Kementerian PDTT memperbaiki sistem rekrutmen dan pelatihan pendamping desa. Pendamping desa harus dipilih berdasarkan kompetensi dan integritas, serta diberikan pelatihan yang memadai agar mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

“Kami berharap Kementerian PDTT segera mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki sistem pendampingan desa. Jangan sampai dana desa yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, justru diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” pungkas Fuad. (*)