Beranda blog Halaman 28

APTRI Blora Wadul ke DPRD, Desak Solusi Penutupan Giling Tebu

0

Korandiva-BLORA.– Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora berkomitmen memperjuangkan nasib petani tebu yang terancam rugi akibat penutupan sepihak musim giling 2025 oleh PT GMM Bulog.

Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, menjelaskan, keputusan mengirim surat kepada Ketua DPRD Blora diambil usai mendengar keluhan para petani yang tebunya belum tertebang. Surat tersebut dikirim pada Senin Wage (29/9/2025) sebagai tindak lanjut hasil pertemuan dengan Bupati Blora pada 25 September lalu.

“Langkah ini kami ambil karena hingga kini belum ada solusi konkret dari pihak PT GMM Bulog. Bahkan kami belum pernah diajak rembugan terkait nasib tebu yang belum tertebang,” ungkap Sunoto.

Ketua DPRD Blora, H. Mustopa, S.Pd.I., langsung merespons dengan menjadwalkan audiensi pada Rabu (1/10/2025) pukul 13.00 WIB. Pertemuan itu akan menghadirkan berbagai pihak, termasuk Ketua HKTI HM Kusnanto, mantan Ketua DPRD, serta lebih dari 50 petani tebu.

Menariknya, Mustopa sendiri turut terdampak penutupan giling karena memiliki lahan tebu lebih dari 15 hektare yang belum tertebang. “Saya juga akan berjuang habis-habisan agar ada solusi terbaik untuk petani Blora,” tegasnya.

Direktur Operasional PT GMM Bulog, Krisna Murtiyanto, menyebut penutupan giling 2025 terjadi akibat kerusakan boiler pabrik. Akibatnya, sekitar 1.100 hektare lahan tebu terancam gagal panen. Jika tidak ditebang, kerugian petani diperkirakan mencapai Rp55 miliar.

Sekretaris APTRI, Anton Sudibdyo, yang juga mantan anggota DPRD, menilai kondisi ini memperparah kekecewaan petani. Menurutnya, sejak dikelola PT GMM Bulog, petani jarang mendapat pembinaan dan kerap dirugikan. Selain mesin pabrik yang sering rusak, harga pembelian tebu pun kalah bersaing dengan pabrik di luar Blora.
“Dulu saat GMM dipimpin Dirut Lie Kama Jaya, petani selalu didengar. Sekarang justru sebaliknya,” keluh Anton.

Sementara itu, curah hujan tinggi kian menyulitkan proses tebang, sehingga petani berharap audiensi dengan DPRD mampu menghasilkan solusi nyata bagi keberlangsungan usaha mereka. (*)

Bupati Blora Cari Solusi Penutupan Giling Tebu PT GMM Bulog

0

Korandiva-BLORA.– Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, SIP., M.Si., mengundang sejumlah pihak terkait menyusul penutupan giling tebu 2025 oleh manajemen PT GMM Bulog. Pertemuan berlangsung Rabu (24/9) dan dihadiri jajaran direksi PT GMM Bulog, pejabat Pemkab Blora, serta pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI).

Bupati menegaskan, persoalan tebu petani yang belum tertebang harus segera ditangani. “Jangan sampai petani jadi korban karena penutupan giling dengan alasan kerusakan mesin boiler,” tegas Arief, Kamis (25/9).

Ia meminta manajemen PT GMM Bulog bertanggung jawab dan menawarkan solusi, termasuk menggandeng pabrik gula di sekitar Blora untuk menyerap panen petani. Selain itu, Bupati juga berencana melaporkan persoalan ini ke Gubernur Jawa Tengah dan Menteri Pertanian.

Dari pihak PT GMM Bulog, Direktur Operasional Krisna Murtiyanto memaparkan kronologi berhentinya giling per 25 September 2025. Penerimaan tebu terakhir dilakukan 24 September pukul 24.00 WIB. Selama 112 hari giling, perusahaan hanya mampu mengolah 218.771 ton tebu atau 54,6 persen dari target 400 ribu ton. Rendemen pun rendah, hanya 6 persen akibat curah hujan tinggi.

“Berbagai upaya mempertahankan performa boiler sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Kami juga mengajak petani penyangga untuk membantu pembelian tebu yang belum tertebang dengan memanfaatkan fasilitas PT GMM Bulog,” jelasnya.

APTRI menyoroti lemahnya komunikasi perusahaan dengan petani. Penasehat APTRI, Ir. H. Bambang Sulistya, meminta data luas lahan tebu yang belum tertebang dan potensi kerugian. Menurut perusahaan, sekitar 1.100 hektare tebu belum terpanen dengan nilai kerugian ditaksir Rp55 miliar.

Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, memberi kritik keras. Ia menilai keputusan sepihak tanpa melibatkan APTRI membuat petani dirugikan. “Kalau PT GMM Bulog memang tidak mampu mengelola pabrik secara profesional, lebih baik diserahkan saja kepada pihak yang berkompeten,” tegasnya.

Sekretaris APTRI, Anton Sudibdyo, bahkan menuding perusahaan tidak berpihak kepada petani kecil. Ia menyebut ada diskriminasi harga tebu antara petani bermodal besar dan petani kecil. “Keputusan mendadak ini membuat petani bingung, resah, dan membuka peluang permainan harga,” katanya.

Meski sempat berlangsung panas, pertemuan ditutup dengan nuansa kekeluargaan. Bupati kembali menekankan pentingnya komunikasi dan penyelesaian konkret agar petani tidak terus menjadi korban. “Petani harus merasakan manisnya tebu, bukan getirnya kebijakan,” tandas Arief. (*)

Kodim 0721/Blora Sosialisasi Karya Bakti Mandiri di Desa Sambongwangan

0

Korandiva-BLORA.- Pasiter Kodim 0721/Blora menggelar sosialisasi Program Karya Bakti Mandiri (KBM) di Balai Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung, Selasa (23/9/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Pasiter Kapten Inf Maningsun menyampaikan bahwa Program KBM merupakan salah satu upaya percepatan pembangunan desa yang didukung oleh dana APBD Kabupaten Blora.

“Program ini murni berdasarkan usulan dari masyarakat. Untuk itu, kami berharap seluruh warga Desa Sambongwangan dapat berperan aktif dalam setiap tahapan kegiatan Karya Bakti Mandiri (KBM),” ujar Kapten Maningsun.

Lebih lanjut Kapten Maningsun menjelaskan, tujuan sosialisasi ini adalah untuk memberikan wawasan dan gambaran mengenai pelaksanaan Program KBM yang akan berlangsung selama satu bulan penuh pada Oktober 2025 mendatang.

“Program KBM ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan TMMD Sengkuyung maupun Reguler. Nantinya akan ada upacara pembukaan dan penutupan. Khusus di wilayah Randublatung terdapat dua lokasi, yaitu Desa Sambongwangan dan Desa Plosorejo, serta satu tambahan lokasi di Desa Wado Kecamatan Kedungtuban,” jelasnya.

Sementara itu, Penggerak Swadaya Masyarakat dari Dinas PMD Blora, Puspo Kuncoro, menambahkan bahwa alokasi anggaran untuk masing-masing desa dalam Program KBM sebesar Rp1 miliar.

“Untuk Desa Sambongwangan, pengajuannya digunakan untuk pekerjaan rabat beton sepanjang kurang lebih 651 meter dengan lebar 3 meter, menyambung dari cor jalan yang sudah ada,” terang Kuncoro, sapaan akrabnya.

Di sisi lain, Wahyudi, Kepala Desa Sambongwangan, menjelaskan bahwa proses pengajuan program ini telah dilakukan sejak sekitar empat bulan lalu.

“Alasan kami memilih jalan sebagai sasaran fisik program ini karena jalan tersebut menjadi penghubung antar dusun dan desa, sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar,” jelas Yudi dengan penuh harapan. (*)

DHC ’45 Blora Gelar Simulasi Matematika Bela Negara untuk Siswa SLTA

0

Korandiva-BLORA.– Dewan Harian Cabang (DHC) ’45 Blora bersama Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) Kabupaten Blora dan Kesbangpol Blora menggelar kegiatan Simulasi Matematika Bela Negara di Resto Djoglo Bangkle, Kamis (25/9/2025).

Dalam kegiatan tersebut, Mayor (Purn) Muntoyono tampil sebagai pemateri. Ia menjelaskan bahwa permainan Matematika Bela Negara merupakan permainan monopoli yang dipadukan dengan operasi matematika serta pengetahuan Pendidikan Kewarganegaraan.

“Permainan ini bertujuan menumbuhkan wawasan kebangsaan, semangat bela negara, dan cinta tanah air, khususnya bagi generasi muda atau milenial,” terangnya.

Acara yang diprakarsai DHC ’45 bersama Kesbangpol Blora ini dihadiri Ketua DHC ’45 Kabupaten Blora H. M. Kusnanto, Ketua Biro Hankam DHC ’45 yang juga Ketua DPC Pepabri Blora Letkol (Purn) Sri Harjanto, anggota DHC ’45 Pujianto, sejumlah guru pendamping, serta 125 siswa-siswi SLTA se-Kabupaten Blora.

Ketua DHC 45 Kusnanto dalam sambutannya menceritakan sejarah berdirinya DHC 45, berdasar Kepres 50 Th. 84 sebagai wadah para pejuang kemerdekaan.
“Kegiatan ini dimaksutkan untuk memberikan wawasan pada generasi muda milenial agar tidak melupakan sejarah,” ujar Kusnanto.

Pada kesempatan itu Kusnanto juga berharap supaya generasi milenial punya semangat untuk selalu cinta terhadap bangsa dan negara kesatuan RI. “Dengan dasar kecintaan terhadap negara kesatuan Ri, anak-anak muda tidak mudah terhasut oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab atas berita hoax yang semakin marak,” tandasnya.

Peserta berasal dari 21 sekolah, di antaranya SMA Muhammadiyah 1 Blora, SMA Katolik Blora, SMAN 1 dan 2 Blora, SMA Katolik Santo Pius, SMKN 2 Blora, SMK Muhammadiyah, SMK PGRI, SMAN dan SMKN Jepon, hingga sekolah-sekolah di Kecamatan Tunjungan seperti SMAN 1 Tunjungan, SMKN 1 Tunjungan, SMK NU Tunjungan, dan SMK Al Alif.
Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan berlangsung tertib, aman, serta lancar hingga selesai. (*)

Boiler Rusak, PT GMM Bulog Tutup Giling Lebih Awal, Petani Blora Meradang

0

Korandiva-BLORA.– Manajemen PT Gendhis Multi Manis (GMM) Bulog mengumumkan penutupan giling lebih awal pada musim 2025. Pengumuman yang ditandatangani Plt. Direktur Utama Sri Emillia Mudiyanti dan Direktur Operasional Krisna Murtiyanto itu menyebutkan, penerimaan tebu terakhir dilakukan pada Rabu (24/9/2025) pukul 24.00 WIB.

Penutupan mendadak tersebut disebabkan kerusakan serius pada mesin boiler (coal boiler dan bagase boiler). Keputusan ini sontak membuat petani kaget sekaligus kecewa, terutama mereka yang masih memiliki tebu belum tertebang.
“Bagi petani, kabar ini seperti petir di siang bolong,” ujar seorang anggota Koperasi Petani Tebu Manteb.

Ketua Koperasi Manteb, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, segera bergerak menindaklanjuti keresahan petani. Atas saran Ketua Pengawas Koperasi, H. Abu Nafi, SH, ia melakukan koordinasi dengan Ketua dan Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora, Drs. H. Sunoto dan Anton Sudibdyo, S.Ag, serta meminta penjelasan langsung kepada Direktur Operasional PT GMM Bulog.

“Selain itu, saya juga melaporkan dan mohon petunjuk kepada Bupati Blora dan Ketua DPRD agar ada solusi bagi tebu petani yang belum tertebang,” jelas Bambang di Blora, Kamis (25/9/2025).

Menurut keterangan manajemen GMM, sebelum keputusan diambil, mereka sempat mengundang sejumlah petani besar di Blora untuk menjelaskan kondisi riil kerusakan boiler. Perbaikan diperkirakan memakan waktu lebih dari satu bulan, sehingga musim giling terpaksa dihentikan.

Beberapa petani yang diundang mengaku bisa memahami, meski dengan berat hati.
Namun, keresahan masih menyelimuti petani kecil. Mereka khawatir pabrik gula lain di luar Blora juga menutup giling, sehingga tebu mereka terancam tidak terbeli.

Menanggapi hal itu, Bupati Blora Arief Rohman sigap mengambil langkah koordinasi dengan pihak terkait. “Kami sedang menyiapkan mitra kerja untuk menampung hasil panen petani yang belum tertebang,” tegasnya. Dukungan juga datang dari Ketua DPRD Blora, H. Mustopa, yang berjanji memperjuangkan aspirasi petani “sampai wong cilik bisa gumuyu.”

Di sisi lain, Ketua APTRI Blora, Sunoto, menyayangkan absennya APTRI dalam pertemuan dengan manajemen GMM. “Padahal APTRI adalah organisasi yang selama ini konsisten memperjuangkan nasib petani tebu di Blora,” ujarnya.

Nada serupa disampaikan Anton Sudibdyo. Ia mengaku heran pabrik gula modern yang digadang-gadang jadi contoh nasional justru mengalami masalah teknis berulang. “Apakah ada yang salah dalam pengelolaannya?” tanyanya.

Tokoh petani yang juga anggota DPRD Blora tiga periode, Sakijan, menambahkan, masih ada puluhan hektare tebu belum tertebang, khususnya di Kecamatan Todanan. “Kami berharap ada jalan keluar yang menguntungkan petani. Jangan sampai wong cilik jadi korban,” tegasnya.
Selama musim giling 2025, mesin GMM Bulog tercatat beberapa kali mengalami gangguan. Kondisi ini membuat sebagian petani terpaksa menjual tebunya ke luar daerah. (*)

Kodim Blora Tegaskan Tidak Ikut Seleksi Pelaksana Program MBG

0

Korandiva-BLORA.– Komando Distrik Militer (Kodim) 0721/Blora menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan dalam proses seleksi maupun verifikasi pihak yang akan menjadi pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini disampaikan Komandan Kodim 0721/Blora, Letkol Inf Agung Cahyono, S.Sos., M.Han., dalam konferensi pers menanggapi simpang siur informasi di masyarakat.

Menurutnya, pendaftaran dan verifikasi pelaksana MBG dilakukan sepenuhnya secara online melalui sistem pusat MBG, bukan melalui Kodim. “Kodim tidak punya kewenangan untuk melakukan seleksi. Semua proses administratif dan verifikasi ada di pemerintah pusat maupun daerah sesuai instansi yang ditunjuk,” tegas Agung Cahyono.

Ia menjelaskan, lembaga yang berwenang dalam hal ini adalah kementerian atau dinas terkait, seperti Kemendikbudristek, Kemenkes, Kemensos, maupun pemerintah daerah. Kodim, lanjutnya, hanya berperan dalam pendampingan, pengawasan lapangan, dan pengawalan distribusi agar program berjalan tepat sasaran, aman, tertib, serta sesuai standar gizi.

“Jadi kalau ada pihak seperti katering, koperasi, UMKM, atau sekolah yang ingin ikut menjadi pelaksana MBG, pendaftarannya bukan melalui Kodim, tetapi melalui mekanisme resmi pemerintah. Kodim baru terlibat setelah pelaksana ditetapkan, yakni pada saat pengawasan di lapangan,” jelasnya.

Dengan penegasan ini, diharapkan masyarakat tidak lagi salah paham mengenai keterlibatan TNI dalam program unggulan pemerintah Prabowo–Gibran tersebut. (*)

Dugaan Korupsi Lemah Bukti, Kuasa Hukum Kuwatono Ajukan Pemeriksaan Tambahan ke Kejari Blora

0

Korandiva-BLORA.– Penanganan kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan aset desa di Desa Sogo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, kembali mendapat sorotan. Kali ini, tim kuasa hukum dari Kuwatono, perangkat desa yang menjadi terlapor dalam perkara tersebut, mengajukan permohonan pemeriksaan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tambahan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora.

Permohonan ini dilayangkan secara resmi oleh Mohammad Ababilil Mujaddiyin, S.Sy., M.H., C.I.A, dari Kantor Advokat Billy Nobile & Associates. Ia menyampaikan bahwa permohonan ini bertujuan untuk memperkuat posisi hukum kliennya, karena bukti-bukti yang ada dinilai tidak cukup kuat untuk menetapkan adanya korupsi aset desa.

Aset yang Dipersoalkan Bukan Milik Desa
Menurut Ababilil, pihaknya telah mengantongi sejumlah dokumen resmi dari berbagai instansi yang menyatakan bahwa jaringan air bersih yang menjadi objek perkara bukanlah aset milik Pemerintah Desa Sogo. Oleh karena itu, penetapan kliennya sebagai pihak yang bertanggung jawab dinilai tidak berdasar.

Beberapa dokumen penting yang disampaikan antara lain:
Surat dari BPD Desa Sogo dan Dinas PMD Blora yang menyatakan tidak adanya Peraturan Desa (Perdes) terkait aset air bersih untuk periode 2010–2014.
Surat dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali–Juwana yang menyebut bahwa jaringan air bersih tersebut merupakan aset kewenangan pusat, bukan milik desa.
Tanggapan dari Dinas PMD dan BPKAD Provinsi Jawa Tengah yang mengonfirmasi bahwa pipa induk eks PNPM di Desa Sogo tidak tercatat sebagai aset milik provinsi.
“Semua bukti tersebut menunjukkan bahwa aset yang dimaksud bukan merupakan aset desa. Maka dari itu, posisi hukum klien kami lemah untuk dikaitkan dengan tindak pidana korupsi,” ujar Ababilil.

Ajukan SP3, Kejaksaan Diharap Bertindak Objektif
Pihak kuasa hukum juga meminta agar Kejaksaan Negeri Blora dapat segera menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas nama Kuwatono, dengan pertimbangan bahwa objek perkara berada di luar kewenangan desa.
Permohonan ini turut disertai dasar hukum berupa sejumlah regulasi nasional, seperti Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, serta berbagai Peraturan Pemerintah dan Permendagri yang mengatur soal pengelolaan aset desa.
“Jika objek penyidikan saja tidak jelas kepemilikannya, maka proses hukum terhadap klien kami berpotensi mencederai keadilan,” tambahnya.

Belum Ada Tanggapan Resmi dari Kejari Blora
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kejaksaan Negeri Blora terkait permohonan pemeriksaan tambahan ini. Namun masyarakat berharap agar perkara ini dapat segera mendapat kejelasan hukum dan tidak berlarut-larut.
Sementara itu, Kuwatono yang selama ini dikenal sebagai perangkat desa yang aktif dan kooperatif, mengaku siap mengikuti seluruh proses hukum, namun tetap berharap keadilan ditegakkan secara objektif. (*)

Bambang Sulistya Ajak Jemaah SIAP Hadapi Kehidupan

0

Korandiva-BLORA.– Sabar, syukur, ikhlas, aktif, dan pasrah menjadi sikap yang mampu menjaga kedamaian jiwa, menumbuhkan optimisme, sekaligus membimbing manusia menjalani hidup lebih bermakna dan bermartabat.
Hal itu disampaikan Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, saat mengisi kuliah tujuh menit (kultum) bertema SIAP di Masjid Nurul Falah Perumnas RW V, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, Minggu (21/9/2025) seusai salat subuh berjemaah.

“Alhamdulillah, saya diberi amanah menyampaikan pesan kebaikan kepada para jemaah dengan judul SIAP, sebuah kata yang populer di media sosial dan sering digunakan dalam keseharian,” ujar mantan Sekda Blora itu, Senin (22/9/2025).

Menurutnya, SIAP bukan sekadar ungkapan, tetapi juga sikap mental untuk menghadapi realita kehidupan yang penuh dinamika. Ia mengutip filosofi Jawa Urip kaya Cakra Manggilingan (hidup seperti roda berputar), yang menggambarkan pasang surut perjalanan manusia.

Bambang menjelaskan, akronim SIAP terdiri dari lima sikap penting:
(S)abar, menahan diri dari emosi dan tergesa-gesa.
(S)yukur, menghargai nikmat yang ada sehingga membuka pintu rezeki.
(I)khlas, beramal tulus demi ridha Allah.
(A)ktif, berbuat nyata memberi manfaat bagi diri dan orang lain.
(P)asrah, menyerahkan hasil usaha sepenuhnya kepada Tuhan.
“Kolaborasi kelima sikap ini akan menciptakan optimisme, ketenangan, dan keyakinan dalam menyelesaikan persoalan hidup,” jelasnya.

Di akhir tausiyah, Bambang menutup dengan pantun:
“Bendera merah putih berkibar-kibar. Wanita cantik sedang berikrar. Saat amarah berkobar-kobar. Kuatkan hati untuk bersabar.”
Sebagai penutup acara, panitia juga membagikan doorprize berupa kaos bertuliskan “SIAP” kepada jemaah yang beruntung. (*)

KB Al Fajr Cepu, Konsisten Wujudkan Sekolah Inklusif di Blora

0

Korandiva-BLORA.- Komitmen Lembaga Pendidikan Al Fajr Cepu sebagai sekolah inklusi terus ditunjukkan seti-ap tahun ajaran baru dengan membuka pendaftaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sebagai bagian dari proses penerimaan peserta didik baru, Al Fajr rutin mengadakan program Trial Class yang juga berfungsi untuk assesment dengan mengobservasi tumbuh kembang anak sejak awal.

Kepala Lembaga Pendidikan Al Fajr Cepu, Farida, S.E., S.Pd., mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 63 anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di sekolah yang beralamat di Jl. Dumai I No. 59, Nglajo, Cepu tersebut.

“Untuk kelompok PAUD (KB dan TK) ada 31 anak, sementara ke-lompok Homeschooling terdiri dari 32 anak yang duduk di kelas 1 sampai 6 SD, serta kelas 1 dan 2 SMP,” ujar Farida kepada wartawan, Rabu (17/9/2025).

Farida menjelaskan, ABK pada jenjang PAUD mencakup anak-anak dengan down syndrome, ADHD, keterlambatan bicara (speech delay), autisme, disleksia, mikrosefali, tuna rungu, dan tuna wicara. Sementara itu, peserta didik pada program Homeschooling mencakup ABK dengan autisme, tuna rungu, disleksia, diskalkulia, ADHD, down syndrome, cerebral palsy, hydranencephaly, serta gangguan kecemasan.

Keberhasilan lembaga pendidikan Al Fajr Cepu dalam menerima dan mendidik ABK menunjukkan bahwa pendekatan inklusif yang diterapkan mampu memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing. Hal ini sejalan dengan moto lembaga, Education for All atau “Pendidikan untuk Semua,” yang menekankan hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setara.

Dalam kegiatan belajar mengajar, keberadaan ABK tidak mengganggu siswa lainnya. Hal ini karena Al Fajr memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dalam pena-nganan ABK.

“Anak-anak yang sudah dalam kondisi kondusif dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) reguler. Sementara bagi yang belum siap, akan mengikuti kelas terapi terlebih dahulu hingga dinyatakan siap untuk bergabung di kelas reguler, baik dengan atau tanpa pendamping (shadow teacher), sesuai rekomendasi psikolog dan terapis,” jelas Farida.

Meskipun masih menghadapi keterbatasan alat stimulasi dan terapi, lembaga pendidikan Al fajr Cepu tetap menjalankan program inklusif dengan optimal. Saat ini, sekolah tersebut memiliki dua tenaga pengajar yang telah mengikuti pelatihan khusus ABK pada tahun 2015. Selain itu, kegiatan terapi juga difasilitasi oleh satu orang psikolog dan dua orang terapis.

“Keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi kami. Selama ada kemauan inklusi bisa dijalankan dengan baik,” pungkas Farida, yang telah memimpin lembaga ini sejak tahun 2007. (*)

83 SD di Blora Sudah Terima ABK, Siswanto: Pembangunan ULD di Blora Perlu Dirintis

0

Korandiva-BLORA.- Sebanyak 83 sekolah dasar di Kabupaten Blora kini telah menerima anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam program pendidikan inklusi. Meski demikian, keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar masih menjadi kendala utama.

Wakil Ketua DPRD Blora, Siswanto, S.Pd., M.H., menilai bahwa sudah saatnya pembangunan Unit Layanan Disabilitas (ULD) mulai dirintis sebagai pusat layanan bagi siswa ABK.

“Kalau ke depan bisa disentralisasi dalam sebuah unit, akan lebih mudah bagi anak-anak tersebut untuk bergaul dan mengakses pendidikan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/9/2025).

Menurut Siswanto, Dinas Pendidikan perlu mulai menyusun perencanaan pembangunan ULD untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Perencanaan tersebut harus mencakup tahapan-tahapan kerja yang jelas dari tahun ke tahun.

“Pembangunan sumber daya manusia merupakan bagian dari visi misi kepala daerah, dan di dalamnya termasuk pendidikan inklusif. Pendidikan harus bisa diakses semua orang, tanpa kecuali,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya penyusunan grand desain pendidikan inklusif selama lima tahun yang kemudian dipecah ke dalam rencana kerja tahunan. “Setiap tahun harus jelas apa saja yang akan dicapai — mulai dari pembangunan gedung, penyusunan kurikulum, pelatihan sumber daya manusia, penganggaran, hingga program sosialisasinya,” jelas Siswanto.

Terkait anggaran, Siswanto menyatakan hal tersebut bisa dibahas bersama ketika grand desain dan rencana tahunan sudah tersusun dengan matang.
“Nantinya bisa disinergikan antara program pemerintah daerah dan DPRD. Kita juga akan lakukan tinjauan langsung ke lokasi sebagai bagian dari persiapan,” pungkasnya. (*)