Beranda blog Halaman 12

Disdik Blora Kaji Wacana Regrouping Puluhan SD Negeri

0

Korandiva–BLORA.- Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blora mulai mengkaji wacana regrouping atau penggabungan administrasi sejumlah sekolah dasar negeri (SDN). Hingga pekan lalu, Disdik Blora telah melakukan visitasi dan evaluasi lapangan terhadap sekitar 30 SD negeri yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Blora.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Nuril Huda, mengatakan visitasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi efektivitas penyelenggaraan pendidikan dasar, khususnya terkait sebaran sekolah dan jumlah peserta didik.

“Pekan lalu seluruh sekolah yang menjadi sasaran evaluasi sudah kami tinjau di lapangan. Jumlahnya sekitar 30 SD negeri,” ujar Nuril, Rabu (14/1/2026).

Menurut Nuril, hasil evaluasi lapangan tersebut menjadi dasar kajian awal kemungkinan dilakukannya regrouping sekolah. Sejumlah faktor menjadi pertimbangan, di antaranya jarak antar sekolah serta jumlah peserta didik yang dinilai kurang ideal apabila dikelola secara terpisah.

“Ada beberapa pertimbangan yang masih perlu dikaji lebih lanjut, seperti jarak antar sekolah maupun jumlah siswa. Karena itu, kajian ini belum bersifat final,” jelasnya.

Sebagai contoh, salah satu sekolah yang masuk dalam wacana regrouping adalah SD Negeri 1 Kalangan dan SD Negeri 2 Kalangan di Kecamatan Tunjungan. Secara geografis, kedua sekolah tersebut saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jalan raya.

“Dari sisi letak, kedua sekolah ini sangat berdekatan. Kondisi tersebut yang kemudian memunculkan wacana untuk dilakukan penggabungan,” ungkap Nuril.

Meski demikian, Nuril menegaskan bahwa rencana regrouping tersebut masih sebatas wacana dan belum diputuskan secara resmi. Pihaknya masih akan melakukan kajian lanjutan serta pembahasan internal sebelum mengambil keputusan akhir.

“Perlu digarisbawahi bahwa ini masih wacana dan belum final. Masih akan kami kaji dan bahas lebih lanjut. Kemungkinan lain masih terbuka, termasuk kemungkinan tidak jadi dilakukan regrouping,” pungkasnya. (*)

Efisiensi Anggaran, Dana Rehab Sekolah di Blora 2026 Turun Drastis

0

Korandiva-BLORA.– Anggaran rehabilitasi sekolah di Kabupaten Blora pada tahun 2026 mengalami penyusutan signifikan menyusul kebijakan efisiensi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dana yang dialokasikan untuk rehab sekolah tahun ini hanya sekitar Rp4 miliar.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sandy Tresna Hadi, mengatakan anggaran tersebut akan difokuskan untuk perbaikan ruang kelas dan toilet sekolah dengan kondisi kerusakan berat.

“Untuk tahun 2026, anggaran rehab sekolah hanya sekitar Rp4 miliar dari APBD. Itu nanti diprioritaskan untuk perbaikan kelas rusak dan toilet sekolah, terutama yang kondisinya rusak berat,” ujar Sandy, Rabu (14/1/2026).

Ia membandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya yang nilainya jauh lebih besar. Pada tahun 2025, anggaran rehabilitasi sekolah di Kabupaten Blora masih mencapai sekitar Rp 20 miliar.

“Tahun kemarin anggarannya masih sekitar Rp20 miliar. Waktu itu masih ada pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD, sekarang sudah tidak ada,” jelasnya.

Meski demikian, Dinas Pendidikan Kabupaten Blora tetap berupaya mencari sumber pendanaan lain. Untuk tahun 2026, pihaknya telah mengajukan bantuan program revitalisasi sekolah kepada pemerintah pusat.

“Pengajuan sudah kami proses, tinggal menunggu penetapan dari pusat. Kami mengajukan revitalisasi untuk 80 SD dan 20 SMP,” terang Sandy.

Ia menambahkan, pada tahun 2026 tidak ada alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor pendidikan. Namun, DAK tersebut digantikan dengan program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat.

“Kalau DAK, dana dari pusat masuk ke Dinas Pendidikan lalu disalurkan ke sekolah. Sementara program revitalisasi ini, dana dari pusat langsung disalurkan ke sekolah,” jelasnya.

Menurut Sandy, perubahan skema pendanaan tersebut tidak berdampak signifikan terhadap Dinas Pendidikan, meski peran dinas dalam pelaksanaan teknis menjadi lebih terbatas.

“Secara prinsip tujuannya sama, yaitu rehabilitasi dan revitalisasi sekolah. Hanya saja peran kami di dinas agak berkurang. Sekarang kami lebih sebagai fasilitator dan koordinator,” ungkapnya.

Meski demikian, Dinas Pendidikan tetap melakukan pemantauan dan monitoring untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan. Selain itu, pemerintah pusat juga menurunkan tenaga ahli ke lapangan untuk mengawasi pelaksanaan revitalisasi.

“Kami tetap monitoring di lapangan. Dari pusat juga ada tenaga ahli yang turun, biasanya dari perguruan tinggi, untuk memantau pekerjaan rehabilitasi sekolah,” paparnya.

Sandy menegaskan, dengan keterbatasan anggaran yang ada, Dinas Pendidikan akan tetap memaksimalkan dana APBD untuk rehabilitasi sekolah, khususnya yang mengalami kerusakan berat.

“Prinsipnya, anggaran APBD yang ada akan kami maksimalkan. Jika nanti ada tambahan dari pusat, kami tetap memprioritaskan sekolah-sekolah yang kondisinya rusak, terutama yang rusak berat,” pungkasnya. (*)

Keracunan MBG di Gubug, Alarm Higienitas Program Makan Gratis

0

Korandiva-GROBOGAN.- Suasana Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, mendadak berubah sejak akhir pekan lalu. Ratusan warga, mayoritas pelajar dari berbagai jenjang sekolah, satu per satu mengeluhkan mual, sakit perut, dan diare usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka terima pada Jumat–Sabtu, 9–10 Januari 2026.

Hingga Selasa (13/1/2026) pukul 06.00 WIB, jumlah korban dugaan keracunan tercatat mencapai 803 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 688 orang telah dinyatakan sembuh, sementara 115 lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan di Grobogan. Di ruang-ruang perawatan, kondisi para siswa perlahan menunjukkan perbaikan. Meski begitu, keluhan belum sepenuhnya hilang.

“Mual sudah berkurang, tetapi perut masih terasa mulas dan sakit. Frekuensi buang air besar juga sudah menurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko, melalui pesan singkat.

Kasus ini langsung mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tengah melakukan penelusuran menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.

“Sedang dilakukan asesmen secara detail untuk mengetahui penyebabnya,” kata Sumarno saat ditemui di Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (13/1).

Penelusuran difokuskan pada rantai pengolahan makanan, mulai dari persiapan bahan, proses memasak, hingga waktu dan cara penyajian. Aspek higienitas menjadi perhatian utama, mengingat makanan diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah besar. Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Hal-hal yang berkaitan dengan sanksi dan tindak lanjut program merupakan kewenangan BGN. Sejak pagi, pihak BGN juga sudah berada di Dinas Kesehatan untuk membahas penanganan kasus ini,” jelas Sumarno.

Sementara itu, sampel menu MBG yang dikonsumsi para siswa telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Menu yang diperiksa meliputi nasi kuning, telur dadar, tempe orek, dan abon. Hasil uji laboratorium diperkirakan baru akan diketahui dalam waktu 7 hingga 10 hari.

Sumarno menyebutkan, berdasarkan pengalaman dari kasus-kasus serupa, keracunan massal kerap dipicu oleh makanan yang basi akibat waktu penyimpanan dan penyajian yang terlalu lama. Namun ia menegaskan, dugaan tersebut belum dapat disimpulkan sebelum hasil laboratorium keluar.

“Apakah dari proses persiapan, waktu pengolahan, penyajian, bahan baku, atau faktor higienitas lainnya, semuanya masih didalami,” ujarnya.

Kasus di Gubug ini menjadi pengingat penting bahwa program pemenuhan gizi, selain menyasar kecukupan nutrisi, juga menuntut pengawasan ketat terhadap standar keamanan pangan. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi generasi muda, aspek kebersihan dan ketepatan proses pengolahan menjadi kunci agar program yang baik tidak justru berujung petaka. (*)

Dari Mimbar Subuh Menjadi Aksi Menanam Pohon di Karangjati

0

Korandiva-BLORA.- Suasana pagi Minggu (11/1/2026) di Masjid Nurul Falah, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, terasa berbeda. Usai Salat Subuh berjamaah, jamaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka menyimak dengan khidmat pesan sederhana namun sarat makna yang disampaikan Ketua RW V Karangjati, Agus Budi Sukrisno.

Dalam kultum singkatnya, Agus mengajak jamaah menatap tahun 2026 dengan lebih sadar dan bijak. Bukan hanya meningkatkan ketakwaan, tetapi juga menjaga kesehatan, menata pola kerja, peka terhadap lingkungan sosial, serta peduli pada kelestarian alam. Semua itu, menurutnya, dapat dimulai dari satu kebiasaan sederhana: menanam.

Pesan dari mimbar Subuh itu rupanya tidak berhenti sebagai wacana. Tak lama setelah kultum usai, beberapa jamaah bergerak menuju Taman Perumnas Karangjati. Di sana, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., salah satu tokoh masyarakat setempat, memimpin penanaman pohon buah manggis. Sebuah aksi kecil, namun penuh simbol kepedulian dan harapan.

Bambang Sulistya bercerita, taman Perumnas selama ini memang disiapkan sebagai ruang hijau yang produktif. Berbagai tanaman buah nusantara telah tumbuh di sana, mulai dari mangga gadung, mangga manis Purbalingga, jeruk keprok Tanggul, kelengkeng, belimbing wuluh, belimbing Demak, nangka madu, hingga nangka merah asal Lampung. Ada pula sawo jawa, sawo belanda, juwet putih, aneka jenis jambu, sukun madu, kelapa genjah hijau, dan alpukat.

Baginya, menanam pohon buah bukan semata urusan fisik atau keindahan taman. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata dukungan terhadap program Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., yang mendorong Blora sebagai pusat pengembangan tanaman buah-buahan nusantara.

“Menanam adalah tanggung jawab moral, spiritual, sosial, sekaligus ekologis. Dari tanah inilah kita menyiapkan masa depan yang lebih sehat, damai, dan harmonis,” ungkap Bambang.

Ia menambahkan, proses menanam dan merawat pohon juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan: keikhlasan, kesabaran, serta keteguhan hati. Nilai-nilai yang kian relevan di tengah ritme hidup yang serba cepat.

Agus Budi Sukrisno, yang akrab disapa Kiai Gaul dan dikenal sebagai mantan guru SMA Negeri 1 Blora, memaknai menanam sebagai simbol harapan dan investasi jangka panjang. Menurutnya, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab hari ini, tetapi juga amanah untuk generasi yang akan datang.

“Menanam tanaman adalah amal jariyah. Ia terus memberi manfaat, bahkan ketika penanamnya sudah tiada. Di situlah nilai syukur, sedekah, dan kepedulian berpadu,” tuturnya.

Ia pun mengajak masyarakat menjadikan bumi sebagai ladang amal, tempat menanam kebaikan yang kelak berbuah bagi kehidupan.
Optimisme serupa disampaikan Sitiarta, bendahara Masjid Nurul Falah. Ia membayangkan Taman Perumnas Karangjati ke depan akan menjadi ruang publik yang hidup. Bukan sekadar tempat bermain dan melepas penat, tetapi juga ruang hijau yang menghadirkan udara segar, buah-buahan, serta kicauan burung yang menenangkan.
Dari mimbar Subuh hingga tanah taman perumahan, Karangjati pagi itu menunjukkan satu pesan sederhana: menanam hari ini adalah merawat masa depan. (*)

Merajut Silaturahmi, PWRI Tunjungan Meneguhkan Semangat Pengabdian

0

Korandiva-BLORA.- Sabtu pagi (10/1/2026) di Kecamatan Tunjungan terasa berbeda. Suasana kebersamaan begitu kental ketika para pengurus dan anggota Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) berkumpul dalam sebuah rapat konsolidasi organisasi yang dikemas unik dalam konsep Three In One. Tidak sekadar rapat, kegiatan ini menjadi ruang temu, refleksi, sekaligus penyemangat pengabdian bagi para purna aparatur negara.

Kegiatan dimulai dengan senam bersama yang diikuti penuh antusias. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan wajah ceria, seolah menjadi simbol bahwa usia tak menghalangi semangat untuk tetap sehat dan aktif. Selepas itu, kebersamaan berlanjut dalam makan pagi bersama ala MBG, sebelum akhirnya masuk ke sesi sambung rasa antara pengurus PWRI, Koperasi PWRI Koptama Mardi Santosa, dan para anggota.

Hadir pula jajaran pengurus PWRI Kabupaten Blora yang memberikan perhatian khusus sekaligus suntikan motivasi. Ketua PWRI Kecamatan Tunjungan, Fauzi, S.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai wahana evaluasi organisasi, mencari solusi atas berbagai tantangan, sekaligus mempererat tali silaturahmi.

“Dengan kehadiran pengurus PWRI Kabupaten Blora, kami berharap semangat juang pengabdian para pengurus dan anggota PWRI Kecamatan Tunjungan semakin tumbuh dan menguat,” ujarnya.

Di balik suasana hangat itu, tersimpan cerita kerja keras dan kolaborasi yang membuahkan hasil nyata. Ketua Koperasi PWRI Koptama Mardi Santosa Kecamatan Tunjungan, H. Supriyadi, S.Pd., memaparkan berbagai aktivitas koperasi yang selama ini menjadi penopang kesejahteraan anggota. Puncaknya, koperasi berhasil membeli lahan dan membangun Gedung PWRI Kecamatan Tunjungan pada periode 2022–2023.

Gedung yang kini berdiri megah tersebut dibangun dengan total dana Rp 1,21 miliar, terdiri dari pembelian lahan sebesar Rp 550 juta serta pembangunan gedung, pagar, dan ruko senilai Rp 660 juta. Tak hanya menjadi pusat kegiatan organisasi, gedung itu juga memberikan pemasukan rutin dari sewa ruko sebesar Rp 1 juta per bulan, yang dimanfaatkan untuk operasional dan pemeliharaan.

Apresiasi tinggi datang dari Ketua PWRI Kabupaten Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA. Ia menilai sinergi antara PWRI dan koperasi di Tunjungan sebagai contoh kolaborasi yang patut diteladani. Bahkan, ia menyebut Gedung PWRI Kecamatan Tunjungan sebagai yang terbaik di Blora, dan berpotensi menjadi yang termegah di Jawa Tengah.

“Gedung ini sangat representatif dan megah. Bisa jadi belum ada yang menyamai, bukan hanya di Blora, tetapi juga di Jawa Tengah, bahkan mungkin se-Indonesia,” ungkap mantan anggota DPRD Blora itu.

Semangat kebersamaan PWRI Tunjungan tak berhenti pada urusan internal. Di penghujung tahun 2025, organisasi ini berhasil menghimpun dana keikhlasan sebesar Rp2.100.000 yang disalurkan kepada korban bencana tanah longsor dan banjir bandang di Pulau Sumatera. Sebuah bukti bahwa kepedulian sosial tetap menjadi denyut utama gerak organisasi.

Dalam pesannya, Bambang Sulistya mengajak seluruh pengurus dan anggota untuk membumikan semangat SBY: Siap berjuang meningkatkan kesejahteraan dan pengabdian, Berani berbuat baik serta bertanggung jawab, dan Yakin bahwa setiap langkah akan membawa manfaat serta perubahan.
Ia juga mengingatkan agar keluarga besar PWRI tetap bersikap prasaja, lomo, dan ora neko-neko dalam menghadapi Tahun Kuda Api (Fire Horse). Selain itu, PWRI diajak berperan aktif mendukung program Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si. dalam menjadikan Blora sebagai pusat pengembangan buah nusantara melalui gerakan menanam.

Sebagai simbol, diserahkan bantuan bibit jambu air dersono atau jambo bol yang dikenal bermanfaat bagi kesehatan. Pada kesempatan yang sama, Surat Keputusan Kepengurusan PWRI Kecamatan Tunjungan Masa Bakti 2025–2030 juga diserahkan, disertai pesan agar pengurus menjadi teladan dalam mengamalkan sesanti PWRI, “Setiap detik berbuat baik dan setiap melangkah untuk beribadah.”

Suasana semakin cair ketika H. Soedadyo, S.H., mengajak peserta melakukan tepuk tangan lansia A5: Awak sehat, Ati seneng, Awet urip, Ana gunane, lan Ajeg ibadahe. Ia pun menutup dengan pengingat spiritual tentang pentingnya budaya menanam sebagai amalan jariyah, mengutip hadis riwayat Ahmad: “Jika hari kiamat terjadi sementara di tangan salah satu di antara kamu ada bibit tanaman, maka tanamlah.”
Di Tunjungan pagi itu, PWRI tidak sekadar berkumpul. Mereka merawat silaturahmi, merayakan kebersamaan, dan meneguhkan komitmen untuk terus memberi arti bagi masyarakat. (*)

Pasar Embung Raya Siap Dibuka, Dongkrak Ekonomi Warga Balun

0

Korandiva-BLORA.– Embung Raya yang berada di kawasan Jalan By Pass, Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, dalam satu tahun terakhir ramai dikunjungi masyarakat untuk aktivitas joging dan lari pagi. Setiap akhir pekan, khususnya Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung mencapai ratusan orang.

Melihat tingginya antusiasme warga, Lurah Balun Kecamatan Cepu, Mohammad Amin, menilai kondisi tersebut sebagai potensi ekonomi yang menjanjikan. Pemerintah kelurahan berencana mendirikan pasar jajanan mengelilingi embung yang dibangun Pemerintah Kabupaten Blora pada Tahun Anggaran 2023 tersebut.

“Selain untuk meramaikan kegiatan warga yang berolahraga, pasar ini juga bertujuan memfasilitasi warga sekitar yang ingin berjualan, khususnya makanan tradisional,” ujar Mohammad Amin, Jumat (9/1/2026).

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat sekaligus inisiator kegiatan, Darwanto, menyampaikan bahwa pasar yang diberi nama Pasar Embung Raya dijadwalkan dibuka dan diresmikan pada Sabtu, 17 Januari 2026.

“Hingga saat ini sudah ada 15 pedagang yang mendaftar untuk berjualan makanan dan minuman,” kata Darwanto.

Menurut mantan anggota DPRD Blora dari Fraksi Gerindra itu, jumlah warga yang rutin berolahraga di kawasan Embung Raya terus meningkat. Kehadiran pasar jajanan diyakini akan semakin menambah daya tarik lokasi tersebut.

“Pedagang yang sudah terdaftar antara lain penjual pempek, bubur campur, aneka jajan pasar, dawet, sayur-mayur, serta hasil pertanian lokal seperti ketela dan singkong,” tambahnya.

Untuk agenda peresmian Pasar Embung Raya, panitia menyiapkan berbagai kegiatan hiburan dan lomba. Acara akan dimeriahkan dengan kesenian barongan, lomba mancing, serta lomba senam ibu-ibu PKK.
“Khusus lomba mancing, rencananya akan digelar rutin sebulan sekali dan disertai hadiah,” pungkas Darwanto. (*)

Tasyakuran Kenaikan Pangkat Polsek Jati, Hangatkan Silaturahmi Lintas Instansi

0

Korandiva-BLORA.- Alunan musik dangdut berpadu dengan canda tawa para tamu undangan, menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban di halaman kegiatan Polsek Jati, Rabu (7/1/2026). Hari itu, silaturahmi antarinstansi dikemas dalam sebuah tasyakuran sederhana namun sarat makna, menyusul kenaikan pangkat sejumlah anggota Polsek Jati.

Momentum tersebut tak sekadar menjadi ajang ungkapan rasa syukur, tetapi juga ruang bertemunya berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat Kecamatan Jati. Hadir dalam kegiatan itu jajaran Forkopimcam Jati, di antaranya Camat Jati Suwiji, SH., MM., Danramil Jati Kapten Kav. Puryanto, para kepala desa se-Kecamatan Jati, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari Polres Blora. Kebersamaan lintas sektor itu mencerminkan kuatnya sinergi yang selama ini terjalin.

Kemeriahan semakin terasa saat hiburan orkes dangdut dari Randublatung menghibur para tamu. Bahkan, Kepala Desa Doplang, Agus Priyanto, turut naik ke atas panggung menyumbangkan sebuah lagu. Spontan, tepuk tangan dan sorak sorai pun mengiringi penampilannya, menambah semarak suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan.

Di tengah suasana akrab tersebut, Kapolsek Jati AKP Suyadi, SH., menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya. Kenaikan pangkat, menurutnya, bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan amanah dan tanggung jawab yang harus dijawab dengan kinerja dan pengabdian yang lebih baik.

“Kegiatan ini adalah wujud rasa syukur kami atas kenaikan pangkat anggota, termasuk saya pribadi yang sebelumnya berpangkat IPTU dan kini mendapat amanah sebagai AKP. Kebahagiaan ini terasa lengkap karena dapat dirayakan bersama Forkopimcam dan masyarakat,” ungkap AKP Suyadi.

Ia berharap, momentum kenaikan pangkat tersebut mampu memantik semangat seluruh anggota Polsek Jati untuk terus meningkatkan profesionalisme, dedikasi, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Lebih dari itu, sinergi lintas sektor yang telah terbangun diharapkan semakin kokoh demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah Kecamatan Jati. (*)

Gotong Royong Warga Dukuh Goito, Merajut Jalan dan Kebersamaan

0

Korandiva-BLORA.- Deru alat sederhana dan canda ringan terdengar menyatu di Dukuh Goito, RT 03/RW 02, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Sejak pagi, warga tampak bahu-membahu memasang paving di jalan lingkungan yang selama ini belum tersentuh perbaikan. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar membangun jalan, tetapi juga merajut kebersamaan.

Melalui swadaya dan urunan bersama, warga memasang paving jalan sepanjang 100 meter dengan lebar 2,5 meter. Jalan yang sebelumnya berupa tanah kini perlahan berubah menjadi akses yang lebih rapi dan nyaman, diharapkan mampu menunjang aktivitas warga sehari-hari.

Kegiatan ini berawal dari kepedulian warga terhadap kondisi jalan lingkungan yang kerap menyulitkan mobilitas, terutama saat musim hujan. Melalui musyawarah sederhana di tingkat RT, warga Dukuh Goito sepakat untuk melakukan perbaikan secara mandiri, tanpa menunggu bantuan dari luar.

Ketua RT 03/RW 02 Dukuh Goito, Mujito, mengungkapkan bahwa seluruh biaya pemasangan paving berasal dari hasil kesepakatan dan iuran warga. Menurutnya, semangat gotong royong dan kekompakan menjadi modal utama terwujudnya pembangunan tersebut.

“Melihat kondisi jalan yang belum berpaving, kami mengajak warga bermusyawarah. Alhamdulillah, semua sepakat untuk urunan membeli paving dan memasangnya bersama-sama pada Rabu (7/1/2026). Ini bukti kepedulian warga terhadap lingkungannya,” ujar Mujito.

Lebih dari sekadar perbaikan fisik, gotong royong ini juga menjadi ruang pertemuan sosial. Warga dari berbagai usia terlibat, saling membantu dan berbagi cerita. Rasa memiliki terhadap fasilitas lingkungan pun tumbuh seiring dengan kerja bersama yang dilakukan.

Apresiasi atas inisiatif tersebut disampaikan Kepala Desa Mendenrejo, Supari. Ia menilai semangat kebersamaan warga Dukuh Goito mencerminkan nilai-nilai luhur gotong royong yang masih terjaga kuat di tengah masyarakat pedesaan.

“Saya bangga dan mengapresiasi kekompakan warga RT 03/RW 02 Dukuh Goito. Pemasangan paving melalui swadaya ini menjadi contoh positif dan inspiratif bagi wilayah lain di Desa Mendenrejo,” ungkapnya.

Dengan selesainya pemasangan paving jalan lingkungan tersebut, warga berharap akses jalan menjadi lebih baik, aman, dan nyaman. Lebih dari itu, kebersamaan yang terbangun melalui gotong royong ini diharapkan terus terjaga, menjadi fondasi kuat dalam membangun lingkungan yang harmonis dan berdaya. (*)

Merawat Silaturahmi dengan Spirit TPP di Awal 2026

0

Korandiva-BLORA.- Awal tahun 2026 menjadi momentum penuh makna bagi keluarga besar Paguyuban Jati Kuncoro. Di sebuah rumah yang sarat sejarah pengabdian, para purna tugas Dinas Kehutanan Kabupaten Blora berkumpul, berbagi cerita, dan meneguhkan kembali nilai-nilai kehidupan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 paguyuban tersebut, Selasa (6/1/2026).

Bertempat di kediaman Ir. H. Sutikno Slamet, mantan Sekretaris Daerah Blora, di Jalan Dewadaru Kaplingan Kridosono, suasana pertemuan terasa hangat dan akrab. Bukan sekadar perayaan ulang tahun, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana menjalani kehidupan di tahun yang baru.

Spirit kebersamaan itu dirajut melalui akronim TPP, sebuah rumusan tiga sikap penting dalam menjalani kehidupan tahun 2026. Bukan Tunjangan Peningkatan Pendapatan seperti yang kerap dikenal, TPP yang dimaksud justru memiliki makna filosofis: Tutup masa lalu, Pandai bersyukur, dan Pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Nilai tersebut disampaikan oleh Penasehat Paguyuban Jati Kuncoro, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA, yang mengajak seluruh anggota untuk menyongsong tahun 2026 dengan hati lapang dan pikiran optimistis.

Menurutnya, kehidupan ke depan akan lebih baik jika dijalani dengan rasa syukur dan kebijaksanaan.
Ia mengaitkan spirit TPP dengan keyakinan bahwa tahun 2026 menurut astrologi Tiongkok merupakan Tahun Kuda Api (Fire Horse), yang sarat dengan tantangan, perubahan, dan peluang.

Kondisi itu, kata Bambang, justru menuntut manusia untuk bersikap arif dalam mengambil langkah.
Makna TPP pun dijabarkan satu per satu. Tutup masa lalu, yakni menutup rapat pengalaman, kebiasaan, dan perilaku kurang baik yang hanya akan membebani langkah ke depan.

Mengutip Imam Al Ghazali, Bambang mengingatkan bahwa masa lalu adalah sesuatu yang paling jauh karena tak mungkin diraih kembali. Oleh sebab itu, waktu saat ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Pandai bersyukur dimaknai sebagai kemampuan menerima apa yang dimiliki tanpa merasa kurang. Tuhan Yang Maha Pemurah, ujarnya, memberi apa yang dibutuhkan manusia, bukan semata apa yang diinginkan. Fokuslah pada apa yang telah ada, lalu sempurnakan, bukan sibuk mengejar kesempurnaan semu.

Sedangkan Pasrah, adalah sikap menyerahkan hasil akhir kepada Allah SWT setelah berusaha dan berikhtiar. Manusia tetap dituntut untuk terus berbuat baik dan memberi manfaat, baik bagi diri sendiri, sesama, maupun lingkungan.

Ketua Paguyuban Jati Kuncoro, Mashudi, SP., M.MA, menegaskan bahwa peringatan HUT ini tidak hanya bertujuan merayakan usia paguyuban, tetapi juga mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat kekeluargaan dan kerukunan.

“Pertemuan ini menjadi sarana menjaga kebersamaan keluarga besar Jati Kuncoro,” ujarnya.

Sejumlah tokoh purna tugas turut hadir, di antaranya H. Gunadi, S.Sos., MM, mantan Asisten II Sekda Blora beserta istri; Ir. H. Soebekti, SP., MMA, mantan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Blora; Turiman, BSc, mantan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan; Ir. H. Bambang Sulistya, MMA, Ketua PWRI Kabupaten Blora; serta Dra. Indah Purwaningsih, M.Si, mantan Kepala Dinsos P3A Kabupaten Blora. Hadir pula para purna tugas kehutanan lainnya.

Acara dipandu Drs. H. Jenal Susanto, mantan pejabat Pemkab Blora, yang mampu mencairkan suasana. Gelak tawa dan keakraban mengalir seiring hiburan karaoke yang dibawakan langsung oleh para peserta.

Sebagai tuan rumah, Ir. H. Sutikno Slamet mengungkapkan rasa syukurnya karena di awal tahun 2026 dapat kembali berkumpul dalam suasana penuh makna. Baginya, pertemuan ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga ruang untuk mengenang romantika dan dinamika pengabdian di masa lalu. Ia berharap tradisi pertemuan semacam ini terus dilestarikan.

Sutikno juga mengenang rumahnya yang pernah menjadi saksi sejarah, yakni tempat pembentukan kepengurusan HKTI Kabupaten Blora, saat organisasi tersebut diketuai Bupati Blora Ir. H. Basuki Widodo.

Nuansa reflektif semakin terasa ketika Dra. Indah Purwaningsih, M.Si menyampaikan testimoni perjuangannya kembali ke Pemerintah Kabupaten Blora setelah sebelumnya bertugas di Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah.

Kisah tentang doa, ikhtiar, dan kesabaran itu disampaikan runtut dan menyentuh hati para hadirin.
Kehangatan kian lengkap saat H. Gunadi berduet dengan sang istri membawakan lagu Jawa Setyo Tuhu. Lagu tentang kesetiaan cinta yang tulus itu mengalun merdu, menghadirkan rasa damai dan kebahagiaan di antara para peserta.
Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan pembagian doorprize dan makan bersama menu khas lontong opor Ngloram, kuliner legendaris Kabupaten Blora, yang seakan menyempurnakan kebersamaan di awal tahun yang penuh harapan. (*)

Galaksi TV Digital dan Pertaruhan Akal Sehat di Blora

0

Korandiva-BLORA.- Di banyak daerah, media digital tumbuh dengan irama yang tak menentu. Hari ini trafik melonjak, esok hari menghilang. Satu berita bisa terangkat tinggi oleh algoritma, lalu tenggelam tanpa jejak keesokan paginya. Di tengah banjir informasi, publik justru semakin selektif. Banyak yang lelah, sebagian memilih menjauh dari berita karena rasa tidak percaya yang kian menebal.

Dalam lanskap yang rapuh itulah Galaksi TV Digital hadir di Blora. Kehadirannya bukan sekadar menambah saluran informasi, melainkan sebuah pertaruhan. Pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah media lokal masih mungkin berdiri dengan martabat editorial, bertahan secara bisnis, dan tetap relevan di tengah ekosistem digital yang lebih ramah pada platform besar daripada ruang redaksi?

Secara angka, industri iklan digital Indonesia memang tampak menjanjikan. Proyeksi GroupM menyebutkan, pada 2025 belanja iklan nasional diperkirakan mencapai US$6,445 miliar, dengan sekitar 75 persen mengalir ke ranah digital. Namun di balik angka besar itu, media lokal menghadapi kenyataan pahit: sebagian besar belanja iklan justru terserap ke ekosistem platform global, bukan ke penerbit berita di daerah.

Pola konsumsi publik mempertegas tantangan itu. Data Reuters Institute menunjukkan, mayoritas masyarakat Indonesia masih mengakses berita melalui media sosial—60 persen pada 2024 dan sekitar 57 persen pada 2025. Artinya, media lokal bertarung di wilayah yang bukan miliknya sendiri, dengan aturan main yang bisa berubah kapan saja tanpa bisa ditawar.

Migrasi ke TV digital melalui kebijakan penghentian siaran analog (ASO) memang membuka peluang baru dari sisi teknologi dan distribusi. Kualitas siaran membaik, kanal semakin beragam. Namun persoalan utama media hari ini bukan lagi soal pemancar, melainkan soal kepercayaan. Di tengah misinformasi, konten manipulatif, dan sensasi yang mengalahkan akurasi, riset global menunjukkan gejala news avoidance kian menguat. Sekitar 39 persen responden mengaku kadang atau sering menghindari berita.

Dalam situasi seperti ini, media lokal akan kalah bila sekadar meniru pola media nasional: mengejar viral, volume, dan klik. Keunggulan media lokal justru terletak pada hal-hal yang sering luput dari radar algoritma: kedekatan peristiwa, konteks, dan akuntabilitas sosial. Media lokal berbicara tentang rapat desa, layanan publik, konflik lahan, harga komoditas, hingga kisah warga biasa—lengkap dengan penjelasan mengapa itu terjadi dan apa dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah peluang Galaksi TV Digital terbuka. Bukan hanya sebagai pelapor peristiwa, tetapi sebagai penyusun konteks. Namun peluang itu mensyaratkan sikap editorial yang tegas. Kecepatan memang penting, tetapi ketepatan adalah harga diri. Verifikasi tidak boleh dikorbankan demi sensasi sesaat.

Agar tidak menjadi media yang ramai di awal lalu meredup, fondasi harus diletakkan sejak hari pertama. Pilar editorial dengan standar yang bisa diuji publik: SOP verifikasi yang jelas, pemisahan tegas antara fakta, analisis, dan opini, koreksi terbuka, serta transparansi konflik kepentingan. Pilar produk yang memandang TV digital bukan sekadar siaran, melainkan ekosistem konten—liputan lapangan, dialog berbasis data, explainer, hingga distribusi multi-format. Dan pilar bisnis yang realistis: pendapatan yang tidak bertumpu pada satu sumber, dari iklan UMKM lokal, sponsorship tematik berpagar etik, hingga kegiatan berbasis komunitas.
Upaya negara mendorong platform digital membayar media atas konten berita menandai pengakuan atas ketimpangan struktural media–platform. Namun regulasi saja tidak cukup. Keberlanjutan media lokal tetap ditentukan oleh kredibilitas dan kedisiplinan membangun model bisnis yang sehat.

Pada akhirnya, media lokal yang bertahan bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling konsisten menjaga kualitas. Galaksi TV Digital hadir di masa ketika media digital berada di tepi jurang: atensi mahal, iklan tak ramah, kepercayaan publik menurun. Namun justru karena situasinya keras, ruang bagi media lokal yang serius masih terbuka.

Jika Galaksi TV Digital memilih jalan yang sulit—merawat verifikasi, menolak sensasi murahan, dekat dengan warga, dan disiplin secara bisnis—ia bukan sekadar media baru. Ia berpeluang tumbuh menjadi institusi lokal: tempat warga Blora mencari kabar yang tidak membohongi, dan ruang akal sehat yang tidak mudah dibeli. (*)