Beranda blog Halaman 11

Tak Sekadar Olahraga, Pati KORPRI Fun Run 5K Satukan ASN dan Warga untuk Aksi Sosial

0

Korandiva-PATI.– Ribuan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat memadati Alun-alun Pati, Minggu, 25 Januari 2026 pagi. Sejak sebelum matahari terbit, peserta telah berkumpul untuk mengikuti Pati KORPRI Fun Run 5K yang dimulai pukul 05.30 WIB. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga sarana menumbuhkan kepedulian sosial.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, mulai dari ASN Badan Kepegawaian Negara (BKN), ASN Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, ASN Pemerintah Kabupaten Pati, hingga masyarakat umum. Seluruh peserta berbaur mengikuti lintasan lari sejauh lima kilometer yang melintasi sejumlah ruas jalan utama di pusat Kota Pati.

Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI sekaligus Ketua Dewan Pengurus KORPRI Nasional Prof. Zudan Arif Fakrullah mengatakan, kegiatan olahraga ini dirancang sekaligus sebagai gerakan kepedulian sosial.

“Hari ini kita berlari sekaligus berdonasi untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak musibah longsor. Donasi ini berasal dari pusat dan dari seluruh Indonesia, serta juga diperuntukkan bagi masyarakat Pati, dengan total bantuan sebesar Rp 100 juta,” kata Zudan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kebersamaan ASN bersama masyarakat, sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.

“Kita berlari bersama, sehat bersama. Karena ASN yang sehat merupakan modal utama agar dapat melayani masyarakat dengan lebih baik,” ujarnya.

Zudan menambahkan, Pati KORPRI Fun Run merupakan bagian dari event nasional KORPRI yang diselenggarakan serentak di berbagai daerah dan diikuti sekitar 14 ribu peserta dari seluruh Indonesia.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyampaikan apresiasi kepada KORPRI atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami sangat mendukung kegiatan olahraga seperti ini, karena dalam menjalankan tugas, ASN harus sehat dan bugar, dan salah satu caranya adalah melalui olahraga,” kata Sumarno.

Menurutnya, di tengah situasi yang dihadapi di Pati, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi anggota KORPRI, khususnya ASN hingga tingkat kelurahan, untuk tetap solid. KORPRI sebagai wadah ASN harus memiliki kepedulian terhadap bangsa, negara, dan rakyat.

“Apa pun situasi yang ada, tugas ASN adalah tetap menjalankan amanah dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Paling utama adalah bagaimana kita dapat menjalankan tugas melayani masyarakat dengan tulus dan ikhlas,” kata Sumarno.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengapresiasi antusiasme peserta dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Bagi Kabupaten Pati, menjadi tuan rumah Pati KORPRI Fun Run merupakan kehormatan sekaligus kesempatan untuk menunjukkan semangat kebersamaan antara ASN dan masyarakat,” ujar Chandra dalam acara ramah tamah di pendopo Kabupaten Pati, semalam.

Ia menilai, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial melalui penggalangan donasi bagi masyarakat terdampak bencana. (*)

HKTI Blora Dorong Perbaikan PG GMM Bulog Demi Petani Tebu

0

Korandiva-BLORA.– Pemerintah Kabupaten Blora bersama DPRD dan pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora terus memperjuangkan agar Pabrik Gula (PG) PT. GMM Bulog tetap beroperasi pada masa giling tahun 2026. Upaya tersebut dibahas dalam rapat khusus di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Rapat dihadiri Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora H. Mustopa, S.Pd.I., serta pengurus APTRI Blora yang dipimpin Ketua APTRI H. Drs. Sunoto dan Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo, S.Ag. Dalam kesempatan itu, rombongan meminta agar PG PT. GMM Bulog tetap melaksanakan proses giling secara profesional dan berkelanjutan.

Ketua HKTI Kabupaten Blora, HM. Kusnanto, SH, memberikan apresiasi atas langkah Pemkab Blora dan DPRD tersebut. Menurutnya, keberadaan PG PT. GMM Bulog sangat penting karena menjadi tumpuan harapan ribuan petani tebu di Blora untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

“Pabrik gula ini bukan hanya untuk petani tebu, tapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Kusnanto, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, sejak awal pembangunan, PG GMM Bulog juga dirancang sebagai wisata industri ramah lingkungan. Konsep tersebut dinilai bisa dikembangkan dan diintegrasikan dengan objek wisata alam Gua Terawang di Kecamatan Todanan.

Sementara itu, Direktur Keuangan Perum Bulog Hendra Susanto menyampaikan bahwa pengajuan margin fee Bulog sebesar 7 persen ke Sekretariat Negara telah disetujui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Jumat (23/1/2026). Persetujuan itu menjadi angin segar bagi keberlanjutan PG PT. GMM Bulog.

Dengan disetujuinya margin fee tersebut, janji Direktur Utama Perum Bulog Majen Ahmad Rizal Ramdani saat rapat khusus pada 21 Januari lalu akan segera direalisasikan, yakni penggantian dua unit boiler yang mengalami kerusakan berat dengan boiler baru. Selain itu, pembenahan internal manajemen dan personel PG PT. GMM Bulog juga akan segera dilakukan.

Kusnanto meminta agar pengurus APTRI tetap aktif mengawal dan memantau perkembangan di lapangan. Ia berharap janji yang sudah disampaikan tidak berhenti pada wacana.

“Jangan sampai cuma janji. Seperti lagu Bob Tutupoly, tinggi gunung seribu janji,” ujarnya.

Hal senada disampaikan pengurus APTRI Blora, Agus Joko Susilo. Mantan kepala desa tersebut menilai perbaikan boiler harus segera dituntaskan karena membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Waktunya harus benar-benar diperhitungkan agar tidak mengganggu masa giling 2026,” ucapnya.

Agus optimistis, jika perbaikan pabrik berjalan lancar dan pengelolaannya ditangani oleh orang-orang yang profesional, jujur, dan berdedikasi, maka masa giling 2026 akan membawa harapan baru bagi petani tebu Blora, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. (*)

Dari Blora ke Jakarta: Doa dan Harapan Petani Tebu untuk Giling 2026

0

Korandiva-BLORA.- Pagi itu, Rabu (21/1/2026), suasana di Kantor Pusat Perum Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, terasa berbeda. Sebanyak 35 petani tebu dari Kabupaten Blora tampak berkumpul dengan wajah penuh harap. Mereka datang jauh-jauh dari kampung halaman, menempuh perjalanan panjang dengan biaya swadaya, demi satu tujuan: memperjuangkan agar giling tebu tahun 2026 di Pabrik Gula (PG) PT GMM Bulog Blora tetap berjalan.

Langkah mereka disambut ramah. Pihak Bulog menerima para petani dengan penuh perhatian dan mempersilakan mereka menunggu di aula kantor. Kehadiran puluhan petani ini bukan sekadar simbol solidaritas, melainkan dukungan moral bagi Ketua APTRI Blora Drs. H. Sunoto dan Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo, S.Ag., yang tengah mengikuti rapat penting menyangkut masa depan pabrik gula yang menjadi tumpuan hidup ribuan petani tebu Blora.

Rapat tersebut dipimpin langsung Direktur Utama Perum Bulog, Mayor Jenderal TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Hadir pula Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora H. Mustopa, S.Pd.I., jajaran organisasi perangkat daerah, direksi PG GMM Bulog, hingga perwakilan serikat pekerja. Di ruang rapat itu, harapan dan kegelisahan petani tebu Blora dipertaruhkan.

Ketua APTRI Blora Sunoto menyampaikan, Bupati Blora menaruh harapan besar agar PG GMM Bulog dapat kembali beroperasi dan melaksanakan giling tebu pada 2026. Bagi Blora, pabrik gula tersebut bukan sekadar bangunan industri, melainkan aset strategis yang selama puluhan tahun menjadi sandaran ekonomi ribuan petani tebu dan penggerak roda perekonomian daerah.

Namun, Sunoto juga mengungkap luka lama yang belum sembuh. Penghentian giling secara mendadak pada musim giling 2025 membuat ribuan hektare tebu petani tak sempat tertebang. Harga tebu jatuh, kerugian membengkak, dan beban utang kian menyesakkan. “Kalau pabrik gula rugi, pegawai masih digaji. Tapi petani harus menanggung kerugian akibat salah kelola manajemen yang tidak profesional,” ujar Sunoto dengan nada getir, seraya meminta kepastian tanggung jawab jika peristiwa serupa terulang.

Nada senada disampaikan Anton Sudibdyo. Ia menyoroti merosotnya kinerja PG GMM Bulog dibandingkan masa-masa kejayaannya. Kerusakan dua boiler di tengah musim giling 2025 menjadi simbol buruknya pengelolaan. Anton mendesak renovasi total pabrik, penggantian boiler yang rusak, serta reformasi manajemen agar pabrik kembali dikelola secara profesional dan berpihak pada petani.

Harapan itu mendapat angin segar. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani merespons positif aspirasi petani dan pemerintah daerah. Bulog, kata dia, berkomitmen mempertahankan keberlanjutan PG GMM Bulog dengan melakukan renovasi pabrik, termasuk mengganti dua boiler yang rusak dan membenahi manajemen internal agar lebih pro rakyat.

Bulog bahkan telah mengajukan anggaran sebesar Rp 114 miliar ke Sekretariat Negara. Dana itu diharapkan menjadi jalan keluar agar pabrik gula Blora kembali menggiling tebu pada 2026. “Kami mohon doa restu agar pengajuan ini segera disetujui,” ujar Ahmad Rizal.

Usai rapat, Bupati Blora bersama jajaran menemui para petani yang menunggu dengan sabar. Anton Sudibdyo menyampaikan hasil pertemuan itu dengan wajah sumringah. Ada harapan baru yang menyala, meski masih harus menunggu satu keputusan penting. Sebagai ungkapan syukur, langkah para petani tebu Blora kemudian berlanjut ke Masjid Istiqlal. Di sana, mereka menunaikan salat berjamaah, memanjatkan doa agar perjuangan mereka berbuah nyata. Kini, mereka menanti realisasi janji, sembari bersiap melangkah lagi jika nasib tebu Blora masih harus diperjuangkan. (*)

Patroli Gabungan KPH Cepu Sapu Wilayah Hutan Cabak–Nglebur, Puluhan Batang Kayu Jati Ilegal Diamankan

0

Korandiva-BLORA.- Dalam rangka memperkuat pengamanan hutan dan menekan aktivitas ilegal di kawasan hutan negara, KPH Cepu melaksanakan kegiatan PAMHUT (Pengamanan Hutan) terpadu melalui patroli simpatik gabungan di wilayah BKPH Cabak, Nglebur, dan Nanas.

Kegiatan diawali dengan apel siaga Gukamhut yang dilaksanakan di Pos PHH Cabak, dipimpin langsung oleh Wakil Administratur/KSKPH Cepu. Apel tersebut menjadi titik konsolidasi sebelum pelaksanaan patroli lapangan, dengan melibatkan kurang lebih 50 personel gabungan dari unsur:

  • Polsek Jiken
  • Asper BKPH Cabak, Wonogadung, Nglebur, Nanas, Kedewan, dan Pasarsore
  • Anggota PM Subdenpom Blora
  • KRPH dan Mandor Wilayah KPH Cepu
  • Danru dan anggota Polhutmob

Usai apel, tim gabungan melaksanakan patroli simpatik yang menyasar wilayah rawan di Dukuh Guwo dan Dukuh Tambi, Desa Nglebur, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Dari hasil penyisiran di sekitar kebun warga, petugas menemukan 24 batang kayu jati berbagai ukuran yang diduga hasil penebangan ilegal. Seluruh barang bukti tersebut selanjutnya diamankan ke TPK Cabak untuk proses lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain patroli gabungan, kegiatan pengamanan juga dilakukan secara terpisah oleh dua anggota bersama Mandor RPH Ketringan, yang melaksanakan patroli preventif dan pemantauan di Pos Jeruk Petak 7043 RPH Ketringan, BKPH Wonogadung, guna memastikan kondisi petak hutan tetap aman dan terkendali.

Selama pelaksanaan kegiatan, situasi terpantau aman, lancar, dan kondusif, dengan dukungan cuaca cerah sehingga seluruh rangkaian patroli dapat berjalan optimal.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen KPH Cepu bersama aparat terkait dalam menjaga kelestarian hutan negara serta menegakkan hukum kehutanan secara humanis namun tegas. (*)

Menyusuri Malam, Petani Tebu Blora Menjemput Harapan di Jakarta

0

Korandiva-BLORA.- Malam Selasa (20/1/2026) itu, jalanan Blora menjadi saksi keberangkatan puluhan petani tebu yang menyimpan harapan sekaligus kegelisahan. Dengan wajah lelah namun tekad mengeras, sekitar 35 petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menaiki bus carteran menuju Jakarta. Tujuan mereka satu: menyampaikan jeritan hati tentang nasib petani tebu menjelang masa giling 2026.

Di bawah komando Ketua APTRI Kabupaten Blora, Drs. H. Sunoto, rombongan ini membawa lebih dari sekadar tuntutan. Mereka membawa trauma, kerugian, dan ketidakpastian yang masih membekas sejak kegagalan masa giling tahun 2025.

Jakarta dipilih sebagai tempat mengadu, berharap suara mereka sampai ke telinga Direktur Utama Bulog dan para pemangku kebijakan.
“Ini bukan aksi yang direncanakan lama. Ini reaksi spontan. Ketika rasa takut dan cemas petani sudah tak terbendung, kami memilih berangkat,” ujar Sunoto dengan nada tegas namun sarat keprihatinan.

Bagi para petani, kepastian menjadi barang mahal. Hingga kini, kerusakan boiler di Pabrik Gula Blora PT GMM Bulog belum juga tuntas diperbaiki. Di sisi lain, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan dalam jumlah besar menambah kegelisahan. Semua itu memunculkan pertanyaan besar: apakah giling tebu 2026 benar-benar siap dijalankan secara profesional dengan manajemen baru?

Ingatan petani masih segar pada peristiwa dramatis tahun lalu. Saat itu, proses giling tebu tiba-tiba dihentikan oleh manajemen dengan alasan kerusakan boiler. Akibatnya, ribuan batang tebu tak tersentuh mesin giling, sementara petani menanggung kerugian besar.

“Banyak tebu siap panen tidak bisa ditebang. Modal habis, hasil nihil,” kata Sunoto, mengenang pahitnya masa itu.

Di antara rombongan, Sri Wahyuningsih, seorang srikandi petani tebu Blora, turut melangkah dengan beban cerita yang tak kalah berat. Baginya, kegagalan 2025 bukan sekadar persoalan produksi, melainkan pukulan telak bagi kehidupan keluarga petani.

“Kami kehilangan kepercayaan diri. Ekonomi keluarga hancur, hutang menumpuk. Semua itu akibat pengelolaan giling yang tidak profesional,” tuturnya lirih namun tegas. Ia berharap reformasi total di tubuh manajemen PT GMM Bulog bukan sekadar janji.

Nada keras juga datang dari Sekretaris APTRI Kabupaten Blora, Anton Sudibyo. Ia menilai perubahan setengah-setengah tak lagi cukup. Yang dibutuhkan, katanya, adalah perombakan fundamental, mulai dari sikap mental petugas pabrik, manajemen perusahaan, hingga pembenahan mesin-mesin produksi.

“Kalau tidak mampu, serahkan saja kepada pihak yang benar-benar berkompeten,” ucap Anton tanpa basa-basi.

Langkah petani tebu Blora tidak sepenuhnya sunyi. Dukungan moral mengalir dari berbagai pihak. Ketua HKTI Kabupaten Blora, HM Kusnanto, SH, menyatakan siap mendampingi perjuangan petani, bahkan hingga membuka akses kepada aparat penegak hukum bila diperlukan.

Dukungan serupa juga datang dari mantan Direktur Utama GMM, Lie Kamajaya, yang memberi motivasi sekaligus menjamu para petani makan malam di sebuah rumah makan di Semarang.

Di antara koper dan tas sederhana, sebuah spanduk ikut terbentang. Chairul, salah satu petani, menuliskan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto: perbaikan Pabrik Gula Blora PT GMM Bulog, penggantian manajemen dengan tenaga profesional, audit oleh penegak hukum, serta tekad APTRI Blora untuk berjuang hingga titik darah penghabisan.

Bus carteran yang mereka tumpangi melaju meninggalkan Blora, dibiayai dari urunan seikhlasnya. Di dalamnya, para petani membawa satu keyakinan: selama suara belum didengar, perjuangan belum boleh berhenti. Jakarta hanyalah tujuan, sementara harapan mereka tertambat pada masa depan yang lebih adil bagi petani tebu. (*)

SUKUN, dari Buah Kehidupan Menjadi Pesan Kerukunan Umat

0

Korandiva-BLORA.- Di banyak halaman literatur, buah sukun (Artocarpus altilis) dikenal sebagai tanaman tropis serbaguna. Dijuluki bread fruit, sukun memiliki rasa dan tekstur yang menyerupai roti. Tak hanya menjadi alternatif pangan pengganti beras, jagung, dan terigu untuk menunjang ketahanan pangan, buah ini juga menyimpan beragam manfaat kesehatan, mulai dari melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan jantung dan otak, meningkatkan daya tahan tubuh, mengontrol gula darah, hingga mengandung antioksidan alami.

Namun pada Minggu pagi (18/1/2025), sukun tidak hanya dibicarakan sebagai sumber pangan atau kesehatan. di Masjid Nurul Falah, Perumnas RW V, Kelurahan Karajati, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, buah tropis ini menjelma menjadi simbol pesan kerukunan umat.

Dalam kultum tujuh menitnya, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., mengangkat tema SUKUN sebagai refleksi kehidupan beragama di tengah masyarakat modern.

“Alhamdulillah, saya masih dipercaya Ketua Takmir Masjid Nurul Falah, H. Slamet Pamudji, SH., M.Hum., untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Judul kultum yang saya sampaikan adalah SUKUN,” ujar Bambang Sulistya di Blora, Senin (19/1/2026).

Ia mengajak jemaah menengok jejak sejarah sukun sebagai tanaman asli Nusantara. Relief Candi Borobudur abad ke-8 menjadi bukti bahwa sukun telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, pohon sukun bahkan menjadi saksi bisu perenungan Bung Karno hingga lahirnya gagasan besar Pancasila.

Kini, tempat itu dikenal sebagai Taman Renungan Bung Karno.
Namun Bambang memberi makna lain pada sukun. Dalam kultumnya, SUKUN dipahami sebagai akronim “Supaya Rukun”, sebuah ajakan agar umat Islam mampu menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah kehidupan yang ia sebut sebagai zaman kalabendu.

Menurutnya, realitas sosial hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Di antara sesama umat Islam, kerap muncul sikap mudah tersulut emosi, saling menghujat, menghina, memaki, membenci, bahkan memfitnah dan bermusuhan. Padahal, Al-Qur’an dan hadis telah dengan tegas mengajarkan kehidupan yang rukun dan penuh kasih sayang.

Ia mengingatkan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 103 agar umat Islam berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai. Hadis riwayat Muslim dan Bukhari pun menegaskan bahwa sesama muslim adalah saudara yang tidak boleh saling menzalimi, membenci, atau mendengki. Semua itu sejalan dengan Surat Al-Anbiya ayat 107, yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, menandai Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Bambang juga menyoroti tumbuh suburnya budaya waton suloyo atau sikap asal-asalan yang berpotensi memecah persatuan umat dan mengikis ukhuwah Islamiah. Ia merangkum penyebab perpecahan tersebut dalam akronim MATI: meninggalkan ajaran agama, adanya dengki dan iri hati, tidak menggunakan akal sehat karena lebih menuruti emosi, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Sebagai jalan keluar, ia mengajak umat Islam membumikan nilai ENAK dalam kehidupan sehari-hari. ENAK berarti Enyahkan pikiran negatif, Niat baik dalam setiap langkah, Aktif membangun komunikasi yang saling menghormati dan membantu, serta Kembangkan budaya kasih sayang dan menjaga ukhuwah Islamiah. Ia pun mengutip hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tentang pentingnya menyayangi sesama makhluk agar memperoleh kasih sayang Allah SWT.

“Kisah seorang wanita tuna susila yang memberi minum anjing kehausan menjadi pelajaran berharga tentang kepekaan dan kasih sayang. Jika itu bisa dilakukan, apalagi oleh umat Islam yang taat,” tuturnya.

Menutup kultumnya, Bambang menegaskan bahwa SUKUN, atau Supaya Rukun, adalah sesuatu yang ENAK untuk diwujudkan dalam kehidupan. Ia mengutip pesan almarhum Gus Dur agar umat Islam mengedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah.
“Buah sukun dan buah merah, ciptakan guyub rukun, hidup jadi berkah,” ucapnya.

Usai kultum, pesan itu tak berhenti pada kata-kata. Panitia membagikan bibit tanaman buah kepada para jemaah sebagai bentuk dukungan terhadap program Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., dalam mewujudkan Kabupaten Blora sebagai pusat pengembangan tanaman buah nusantara. Lebih dari itu, pembagian bibit tersebut menjadi ajakan nyata untuk menanam kebaikan dan menghadirkan amalan jariyah melalui budaya menanam. (*)

Dukung Perpanjangan Kontrak Blok Cepu, Blora Usulkan Aktivasi Lapangan Giyanti

0

Korandiva-BLORA.- Pemkab Blora mendukung Perpanjangan Kontrak Exxon Mobile di WKP Blok Cepu. Kontrak yang melibatkan Exxon Mobil sebagai operator utama bersama Pertamina EP Cepu, dengan masa berlaku hingga 2035. Regulasi perpanjangan diatur dalam Permen ESDM No. 23/2018, memungkinkan pengajuan maksimal 20 tahun per perpanjangan melalui SKK Migas ke Menteri ESDM.

“Blora sangat mendukung rencana perpanjangan kontrak Exxon Mobil hingga 2055 di Blok Cepu’, hal ini disampaikan oleh Seno Margo Utomo, Komisaris BUMD PT BPE.
Seno menambahkan, “Terbukti sejak 2008 hingga 2025, Blok Cepu telah menghasilkan nilai kontribusi komulatif lebih dari US$ 35 miliar (sekitar Rp 579 triliun) kepada Pemerintah.

Produksi dimulai pada 2008 dengan kontribusi awal signifikan, mencapai 220.000 bph pada 2018 dan 210.000 bph sepanjang 2020. Pada tahun 2024-2025, produksi harian rata-rata sekitar 144.000-180.000 bph, atau penyumbang 30% dari total lifting nasional.

Pembicaraan perpanjangan kontrak yang sedang berjalan dengan Pemerintah pusat, juga melibatkan 4 daerah pemilik wilayah, termasuk Blora. Dalam pembicaraan Blora mengusulkan aktivasi lapangan Gas Giyanti di Sambong.

Harapannya, selain agar ada DBH Migas untuk menambah PAD Blora juga ada ketersediaan energi sebagai daya tarik investasi di Blora, Secara khusus untuk mendukung rencana pembangunan kawasan industri terpadu di Blora”, pungkas Seno. (*)

Kompak, Semarak dan Inspiratif, Anjangsana Enam Bulanan KJNI Blora di Kecamatan Jiken Kompak, Semarak dan Inspiratif

0

Korandiva-BLORA.– Rintik hujan pagi hari baru saja reda di desa Jiken, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, pada Minggu (18/1/2026). Suasana di kantor Kecamatan Jiken tampak berbeda seperti hari biasanya. Di pendopo kecamatan setempat tertata ratusan kursi, sedangkan di sekitarnya, terpasang tratag. Pada gapura masuk, terpasang spanduk bertuliskan ucapan Selamat Datang KJNI se Kabupaten Blora di Kecamatan Jiken.

Sementara di belakang panggung juga terpasang spanduk bertuliskan “Anjangsana 6 Bulanan KJNI se Kabupaten Blora di Kecamatan Jiken”

Satu persatu, peserta berdatangan memenuhi undangan panitia. Mereka mengenakan atribut dan seragam yang menjadi identitas keberadaan dan eksistensinya.

Mereka adalah Komunitas Jalan Nordic Indonesia (KJNI) Kabupaten Blora dari wilayah Kecamatan Jiken, Kecamatan Cepu, Kecamatan Randublatung, Kecamatan Blora, Kecamatan Ngawen dan Kecamatan Kunduran.

Udara dingin yang semula membalut tubuh, perlahan hilang saat mereka mengikuti senam bersama yang dipandu oleh instruktur berpengalaman. Keceriaan pun mengiringi asa dengan nuansa gembira dan suka cita.

Setelah mengikuti senam, ratusan peserta yang rata-rata lanjut usia dan sudah purna tugas itu, dilepas oleh KORMI Blora, kemudian berjalan santai menyusuri sejuknya pagi, mengitari sebagian wilayah desa Jiken.

Tongkat Nordic yang dibawa menjadi ciri khas, yang diharapkan bisa memantik keterlibatan warga untuk memasyarakatkan olahraga, khususnya Nordic.

Sepanjang jalan yang dilalui, menumbuhkan kenangan dan merekatkatkan silaturahmi antar komunitas jalan Nordic di wilayah Kabupaten Blora.

Ketua panitia Anjangsana 6 Bulanan KJNI se Kabupaten Blora di Kecamatan Jiken, Kartika, dalam sambutan dan laporannya menyampaikan bahwa acara ini bisa terselenggara atas kerja sama dan koordinasi.

“Kita mengucap syukur alhamdulillah, kita semua bisa bertemu dalam acara Anjangsana 6 Bulanan KJNI se Kabupaten Blora di Kecamatan Jiken. Kata kunci atas terselenggaranya acara ini adalah kerja sama dan koordinasi di antara kita. Jadi tanpa koordinasi dan musyawarah di antara kita pelaksanaan seperti ini tidak mungkin terjadi,” ucap Kartika.

Pada kesempatan yang sama, tuan rumah penyelenggara acara yang sekaligus penasehat KJNI Watulumbung (WTLB) Desa Jiken, H.M Kusnanto, SH., mengucap syukur alhamdulillah, bahwa pada hari itu, giliran ditamoni atau anjasana KJNI Kabupaten Blora 6 bulanan.

“Jadi setiap enam bulan sekami KJNI Kabupaten Blora melaksanakan anjangsana di masing-masing kecamatan yang sudah ditunjuk, kami juga sampaikan terima kasih kepada Camat Jiken, yang sudah berkenan meminjamkan pendopo kecamatan ini dengan segala fasilitasnya, juga terima kasih kepada jajaran keamanan, Pak Kapolsek dan Pak Danramil, serta dari Puskesmas Jiken yang telah menyediakan ambulan, ” kata HM. Kusnanto.

Mantan Ketua DPRD Blora itu menjelaskan KJNI WTLB merupakan singkatan dari Dukuh Watulumbung, Desa Jiken.

“Kebetulan sekali sekretariatnya juga di tempat saya, maka diberi nama KJNI WTLB. Baru berdiri 12 April 2025. Kegiatan ini terselanggara, seperti ada tratag, sound sistem, ini sumbangan gratis, terima kasih kepada panitia Jiken. Termasuk snack dan buah, ini iuran dan gotong royong, tidak minta sumbangan dari luar. Semoga ini nanti bisa menular di kecamatan yang lain, terima kasih ibu-ibu semuanya kompak,” ucapnya.

Dirinya juga berharap, agar kegiatan itu bisa menginspirasi kecamatan lainnya yang belum terbentuk KJNI.
Kusnanto menjelaskan, olahraga ini sangat efektif menjaga kebugaran dan dapat mengatasi rasa sakit pada punggung, leher, dan bahu, terutama bagi yang biasa beraktivitas duduk seharian.

*Membuat Sejarah Baru
Penasihat Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Blora Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., mewakili Ketua KORMI Blora H. Soebekti, SP., M.MA, dalam sambutannya menyampaikan kepada semuanya yang hadir telah membuat sejarah baru di Kabupaten Blora.

“Karena saya baru kali ini menyaksikan gerak langkah dan kekompakan yang ada di Kecamatan Jiken,” ucap mantan Sekda Blora itu.
Setelah mengikuti agenda pada acara itu, Bambang Sulistya, menyimpulkan bahwa agenda pada hari itu, walaupaun pada tingkat kecamatan, tapi rasa kabupaten.

“Yang saya kesankan di sini, dan nanti bisa ditiru kepada yang lain-lain, bahwa KJNI Kecamatan Jiken telah melaksanakan managemen GG, artinya GG, gratis-gratisan,” kata Bambang Sulistya disambut tepuk tangan meriah.

Dikatakannya, KJNI adalah sebuah motivasi yang harus kita pahami bersama.

“Setelah saya onceki dalam perjalanan, KJNI ini merupakan sebuah akronim yang wajib dipahami, dan mungkin nanti diamalkan,” ujarnya.

(K): Kekompakan, saat ini yang dibutuhkan adalah kekompakan, melalui KJNI ini kita semua bisa rukun, paseduluran sak lawase.

(J): Jaga kesehatan jiwa dan raga. Buktinya, melalui tongkat nordic kita jadi percaya diri (PD), jalan tidak terasa.

“Bahkan ada ceritanya, siapapun yang mengikuti olahraga jalan Nordic, akan terlepas dari penyakit sroke, karena 80 persen tubuh kita digerakkan,” tegasnya.

Kemudian, (N): Netral, tidak ada unsur politik. (I): inspiratif, yang muda dan tua kompak, rukun jalan sehingga perlu untuk diikuti dan atau ditiru.

Pada kesempatan yang sama, Camat Jiken Joko Lelono, SE. MM., menyampaikan sungguh merupakan hari yang luar biasa, karena kedatangan para tokoh dan senior yang inspiratif.

“Sukses buat jajaran KJNI, bisa selalu kompak dan mengisnpirasi, karena ketika masuk KJNI tidak ada yang awat tua, ternyata awet muda semuanya,” ujar Camat Jiken memotivasi.

Sementara itu Ketua KJNI Cabang Blora Sutoyo, di antaranya menyampaikan dengan jalan nordic merupakan upaya sehat tanpa obat.

“Perjalanan KJNI di Kabupaten Blora sudah sejak 2023, makanya tidak lama lagi kita akan mengadakan ulang tahun KJNI Blora, insya allah kita programkan bulan April, mohon dukungan semuanya,” ucapnya.

Sutoyo juga menyampaikan apresiasi, bahwa pelaksanaan Anjangsana 6 Bulanan KJNI se Kabupaten Blora di Kecamatan Jiken, bejalan dengan lancar dan semarak.

“Untuk agenda yang sama nanti giliran KJNI Cepu, di bulan Juni atau Juli 2026, silahkan dipersiapkan, sekali lagi semuanya saya ucapkan terima kasih,” jelasnya.

Suasana semakin semarak, ketika KJNI dari enam kecamatan tampil perform dengan lincah, gemulai dan apik dalam koregografi gerak dan lagu ala nordic. Masing-masing juga mendapatkan bingkisan dari KJNI Jiken. Pengamanan dari Polsek Jiken, menjadikan acara lebih tertib, aman dan lancar. (*).

Dari Pengendali Banjir Menjadi Pusat Geliat Warga, Pasar Embung Raya Cepu Bangkitkan Harapan

0

Korandiva-BLORA.- Sabtu pagi (17/1/2026) itu, suasana di kawasan Jalan By Pass, Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, tampak berbeda dari biasanya. Di tepian embung yang dahulu hanya dikenal sebagai pengendali banjir, kini berkumpul ratusan warga dengan wajah ceria.

Bupati Blora Arief Rohman pun tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya saat meresmikan Pasar Embung Raya, sebuah ruang baru yang memadukan ekonomi, rekreasi, dan kebersamaan warga.

Peresmian Pasar Embung Raya berlangsung meriah. Ratusan ibu-ibu dari berbagai grup senam memadati area embung sejak pagi. Hadir pula Komunitas Jalan Nordik Patra Cepu, Komunitas Nordik Blora, dan Komunitas Nordik Jiken yang tampil khas dengan tongkat nordik di tangan, menambah semarak suasana.

Bupati Blora hadir didampingi anggota DPRD Blora dari Fraksi PKB Asrofin, Camat Cepu Endah Ekawati, Camat Kedungtuban Rajiman, Camat Kradenan Tarkun, Lurah Balun Mohammad Amin, serta tokoh masyarakat sekaligus mantan anggota DPRD Blora, Darwanto.

Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat tersebut menjadi penanda pentingnya peran Embung Raya bagi masa depan Cepu.

Lurah Balun Mohammad Amin mengenang, sebelum ramai seperti sekarang, kawasan embung sudah lebih dulu menjadi magnet warga setiap akhir pekan. Sabtu dan Minggu pagi, masyarakat berdatangan untuk jogging, senam, atau sekadar menikmati udara segar.

Kini, denyut kehidupan di embung semakin terasa dengan berdirinya belasan tenda pedagang yang menawarkan beragam kuliner dan minuman.

“Sekarang di embung ini tidak hanya ada air dan ikan, tetapi juga kegiatan ekonomi warga. Kami mohon dukungan semua pihak agar suasana di embung ini bisa berkembang seperti Sarangan,” ujar Mohammad Amin penuh harap.

Antusiasme warga juga mendapat perhatian Camat Cepu Endah Ekawati. Ia menilai Embung Raya telah membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Rencana penambahan lokasi berjualan di sekeliling embung pun disambut positif.

“Semangat masyarakat Cepu luar biasa kalau melihat ada peluang berjualan. Nanti akan kita arahkan agar bisa ikut meramaikan kawasan embung,” tuturnya.

Di hadapan warga, Bupati Blora Arief Rohman mengaku terkejut sekaligus bangga. Embung yang dibangun dengan dana APBD itu ternyata mampu bertransformasi menjadi sentra UMKM yang menggerakkan ekonomi lokal. Menurutnya, Cepu sebagai pintu gerbang Blora dari arah timur harus ditata dengan baik dan memiliki wajah yang membanggakan.

“Cepu ini pintu masuk dari timur. Kota ini harus kita tata,” tegas Bupati. Ia juga menyampaikan rencana penataan pedagang UMKM di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Taman Seribu Lampu di depan RSUD Cepu.

Kepada pengelola Embung Raya, Bupati Blora berpesan agar lahan kosong di sekitar embung segera ditata dan dikembangkan menjadi pusat kuliner. Ia membayangkan hadirnya warung-warung tempat nongkrong seperti di kawasan Tempuran yang mampu menarik pengunjung dari daerah sekitar, seperti Rembang dan Tuban.

“Potensi di sini besar. Kalau ditata dengan baik, kulinernya akan jadi daya tarik. Embungnya pun bisa dimanfaatkan untuk kegiatan memancing,” pungkasnya.

Kini, Embung Raya tak lagi sekadar infrastruktur pengendali banjir. Ia menjelma menjadi ruang harapan baru, tempat ekonomi warga tumbuh, silaturahmi terjalin, dan Cepu menemukan wajah barunya sebagai kota yang hidup dan ramah bagi masyarakat. (*)

Disdik Blora Kaji Wacana Regrouping Puluhan SD Negeri

0

Korandiva–BLORA.- Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blora mulai mengkaji wacana regrouping atau penggabungan administrasi sejumlah sekolah dasar negeri (SDN). Hingga pekan lalu, Disdik Blora telah melakukan visitasi dan evaluasi lapangan terhadap sekitar 30 SD negeri yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Blora.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Nuril Huda, mengatakan visitasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi efektivitas penyelenggaraan pendidikan dasar, khususnya terkait sebaran sekolah dan jumlah peserta didik.

“Pekan lalu seluruh sekolah yang menjadi sasaran evaluasi sudah kami tinjau di lapangan. Jumlahnya sekitar 30 SD negeri,” ujar Nuril, Rabu (14/1/2026).

Menurut Nuril, hasil evaluasi lapangan tersebut menjadi dasar kajian awal kemungkinan dilakukannya regrouping sekolah. Sejumlah faktor menjadi pertimbangan, di antaranya jarak antar sekolah serta jumlah peserta didik yang dinilai kurang ideal apabila dikelola secara terpisah.

“Ada beberapa pertimbangan yang masih perlu dikaji lebih lanjut, seperti jarak antar sekolah maupun jumlah siswa. Karena itu, kajian ini belum bersifat final,” jelasnya.

Sebagai contoh, salah satu sekolah yang masuk dalam wacana regrouping adalah SD Negeri 1 Kalangan dan SD Negeri 2 Kalangan di Kecamatan Tunjungan. Secara geografis, kedua sekolah tersebut saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jalan raya.

“Dari sisi letak, kedua sekolah ini sangat berdekatan. Kondisi tersebut yang kemudian memunculkan wacana untuk dilakukan penggabungan,” ungkap Nuril.

Meski demikian, Nuril menegaskan bahwa rencana regrouping tersebut masih sebatas wacana dan belum diputuskan secara resmi. Pihaknya masih akan melakukan kajian lanjutan serta pembahasan internal sebelum mengambil keputusan akhir.

“Perlu digarisbawahi bahwa ini masih wacana dan belum final. Masih akan kami kaji dan bahas lebih lanjut. Kemungkinan lain masih terbuka, termasuk kemungkinan tidak jadi dilakukan regrouping,” pungkasnya. (*)