Arsip Kategori: SOSIAL BUDAYA

Parikan, Rubrik Budaya Jawa yang Masih Dilestarikan Koran Diva

BLORA.-

Di usianya yang 82 tahun, tubuh dan pikiran Sugijono masih terlihat bugar dan cekatan. Karya-karya tulisnya dalam bentuk parikan dan geguritan selalu mewarnai penerbitan surat kabar Diva dalam setiap edisinya dalam rubrik “Pak Rikan”.

Tulisan bernada kritik dan ajakan kebaikan, oleh ayah dari 5 anak laki-laki dan 1 perempuan ini sering kali disampaikannya dalam bentuk parikan berantai atau bersambung.

Untuk parikan yang dikirim ke Koran Diva, kakek dari 15 cucu ini mengaku tidak asal menulis–melainkan dipikirnya dengan serius dan dengan kehati-hatian.

“Ketika menulis parikan saya tidak asal, tapi saya pikir serius dan hati-hati,” ujar kakek yang akrab disapa Mbah Gik itu, Selasa (15/11) lalu.

Dulu, ketika masih menjadi guru di SMA Negeri 1 Blora, Mbah Gik yang lahir di Magetan pada 10 September Tahun 1940 ini memang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Ditambah kecintaannya terhadap budaya Jawa, menjadikannya gemar menulis bahasa Jawa–hinga dipercaya mengajar bahasa Jawa dan menjadi pembimbing Teater di SMAN 1 Blora.

Ketika masih aktif sebagai guru pada saat itu, Mbah Gik yang sejak kecil memiliki cita-cita ingin menjadi guru SMP ini juga sering menulis artikel berbahasa Jawa di majalah-majalah berbahasa Jawa.

“Dulu saya sering nulis artikel atau cerpen berbahasa Jawa untuk majalah-majalah bahasa Jawa” katanya sembari menyebut beberapa majalah berbahasa Jawa terbitan Jawa Timur.

Mantan Kepala SMA Negeri 1 Blora yang pensiun Tahun 2000 ini mengaku menulis Pak Rikan di sela-sela waktu senggangnya. Bahkan tak jarang parikan berantai itu ditulisannya pada tengah malam.

“Sering saya menulisnya ketika terbangun tengah malam dan ada inspirasi,” papar Mbah Gik seraya menambahkan, kebanyakan inspirasinya menulis justru didapat dari membaca berita-berita di Koran Diva. “Pokoknya Koran Diva harus tetap punya rubrik Budaya Jawa,” pesan Mbah Gik.

Ditengah-tengah kegiatannya yang aktif menulis dan mengarsip Pak Rikan, alumni IPG Madiun (sekarang IKIP-red.) Tahun 1966 ini ternyata juga sibuk dan aktif di berbagai organisasi sosial dan agama. Diantaranya adalah sebagai ketua PWRI Kecamatan Blora, Paguyuban Warga Madiun di Blora, Paguyuban Mantan Kepala Sekolah, dan sebagai LPPK Muhammadiyah Blora.

“Prinsip saya, kita itu harus selalu berperan agar otak selalu berpikir,” ungkap kakek yang rajin minum herbal rebusan daun kepladehan (benalu) setiap hari sebagai rahasia kebugarannya ini.

Kepada para pembaca Pak Rikan di Koran Diva, Mbah Gik berpesan agar tetap menjaga persatuan dan jangan mau di pecah belah oleh pihak manapun. Teruslah melestarikan budaya daerah khususnya Jawa. Jika ada yang ingin belajar dan diskusi bersama mengenai tulisan Pak Rikan yang baik, rumahnya di Jalan Sumodarsono, Blora Kota selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

“Silahkan jika ada yang mau belajar bersama saya tentang tulisan-tulisan pantun atau parikan yang baik, InsyaAllah saya senang,” katanya.

Dijelaskan oleh Mbah Gik, parikan merupakan salah satu jenis puisi Jawa modern yang serupa dengan pantun Melayu dalam hal wujud spasial dan pola rimanya. Parikan dapat dianggap sebagai puisi rakyat karena hidup dan berkembang di tengah-tengah rakyat.

Sebagaimana kesenian rakyat yang lain, kebanyakan wacana parikan yang ditemukan di lingkungan masyarakat Jawa tidak diketahui siapa penciptanya. Wacana parikan dapat ditemukan dalam berbagai kehidupan masyarakat Jawa, menjadi bagian kehidupan sehari-hari dengan muatan nasihat, sindiran, senda gurau, dan sebagainya.

“Parikan juga muncul sebagai seni pertunjukan, baik fungsional seperti halnya dalam pertunjukan ludruk maupun sebagai isen-isen (isian) berupa cakepan senggakan ‘syair yang meningkahi syair utama dalam gending,” pungkasnya. (*)

Kunjungi Penggemarnya, Ketoprak Gendong Budoyo Main Lagi di Genjahan-Jiken

BLORA.-

Kesenian dan budaya Ketoprak masih bertahan di Pulau Jawa, tidak terkecuali di kalangan masyarakat Blora. Seperti yang disaksikan pada Minggu 28 Agustus 2022, di wilayah Dukuh Klampok Desa Genjahan Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, ratusan warga desa menyaksikan pagelaran ketoprak humor “Gendong Budoyo” yang masih penuh dengan kreasi.
Gawok Sutrisno selaku pimpinan ketoprak Gendong Budoyo mengungkapkan, bahwa pentas seni ketoprak ini diperankan oleh semua warga RW 03 Dukuh Klampok, Desa Genjahan. Dengan adanya Pandemi Covid-19 kemarin warga Dukuh Klampok vacum, tidak membuat acara seperti ini.
“Karena itu, antusias warga untuk menonton acara ketoprak sangat besar. Jumlah penonton banyak sekali, hampir sekitar 500 orang berbondong-bondong melihat ketoprak humor di sini,” ujarnya.“Semoga di tahun ini atau tahun-tahun mendatang, semua masyarakat, khususnya warga Dukuh Klampok bisa menikmati hiburan ketoprak lagi,” harap Gawok.
Ketua RW 03 Dukuh Klampok Desa Genjahan, Rukimin mengaku sangat senang dan bangga bisa menyelenggarakan acara ketoprak humor.
“Selama ini warga di sini merasa haus hiburan, jadi sebagai ketua RW saya sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah berupaya demi terselenggaranya acara ketoprak humor ini,” ungkap Rukimin. (*)

Jaga Kekayaan Budaya, Desa Jipang Kembali Gelar Grebeg Suro

BLORA.-

Bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77 serta dalam upaya mempertahankan dan menjaga kearifan lokal budaya di tengah arus modernisasi kehidupan, Pemerintah Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora kembali menggelar Grebeg Suro Desa Jipang yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut dimulai dari tanggal 27 hingga 28 Agustus 2022.

Serangkaian kegiatan mulai dari pagelaran seni dan budaya, upacara adat, jamas pusaka, kirab budaya, karnaval hingga bazar UMKM disuguhkan selama acara Grebeg Suro di Desa Jipang. Hal itu membuat antusias masyarakat Desa Jipang maupun luar desa tidak ingin melewatkan momen kemeriahan serta keunikan memaknai tradisi penuh nilai seni dan budaya yang biasa digelar tiap tanggal 14 dan 15 bulan Suro menurut tradisi adat Jawa atau hitungan pada kalender Jawa.

Kepala Desa Jipang, Ngadi mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir kegiatan kirab sempat ditiadakan karena Pandemi. “Untuk di masa pandemi kita laksanakan hanya kegiatan ritual,” ujarnya. Walaupun hanya ditopang anggaran desa, Ngadi berharap pada tahun mendatang pihaknya bisa melaksakan kegiatan grebeg yangg lebih besar.

“Kedepan kami ingin menata UMKM di desa agar menjadi daya tarik untuk promo wisata religi yang ada di Makam Gedong Ageng,” tambahnya.

Prosesi Jamas Pusaka

PROSESI ADAT
Pada hari Sabtu, 27 Agustus 2022, suasana malam pada hari pertama Grebeg Suro Desa Jipang, acara Lamporan, Ritual Kidung Sembogo Wiro Jogo, Jamas Pusaka, Pagelaran Seni dan Kirab Pusaka serta prosesi-prosesi adat lainnya yang dilaksanakan pada malam hari meramaikan suasana malam yang dimulai pada pukul 20:00 WIB hingga prosesi akhir pada pukul 24:00 WIB.

Sementara pada puncak acara, Minggu, 28 Agustus 2022 masyarakat dan para peserta kirab berjalan keliling desa yang dimulai dari kediaman Ngadi, Kepala Desa Jipang menuju Makam Gedong Ageng sambil membawa obor dan tanpa berbicara sepatah kata selama prosesi berlangsung.

Di sepanjang jalan di Desa Jipang, nyala api obor (lampu tradisional yang terbuat dari bambu dan diisi minyak tanah dengan sumbu dari kain) menggantikan nyala lampu modern atau listrik di malam hari, serta diiringi kekompakan warga desa jipang dalam melakukan kegiatan rondan (patroli berjaga keliling desa).

BAZAR UMKM
Sementara itu untuk sesi Jamas Pusaka (membersihkan benda pusaka warisan leluhur dengan cara mencuci atau memandikan menggunakan air kembang untuk membuat harum serta mengkilap) yang di lakukan oleh para sesepuh serta orang-orang terpilih dari Kadipaten Jipang menjadi prosesi yang paling menarik penuh makna tinggi, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur-leluhur serta menjaga kelestarian dan membangkitkan tradisi budaya desa tersebut.

Sebagai perwujudan bentuk rasa syukur atas nikmat dari hasil bumi yang di peroleh masyarakat Desa Jipang, pada pelaksanaan hari kedua Grebeg Suro Desa Jipang mulai pukul 09:00 WIB hingga pukul 12:00 WIB, dua gunungan hasil bumi (berisi berbagai macam buah-buahan hasil panen) dan beberapa nasi tumpeng serta di barengi dengan rombongan peserta kirab yang mengenakan berbagai macam busana adat Jawa, keraton, busana muslim, busana modern dan kostum karnival, diarak dari kediaman Kepala Desa Jipang menuju balai desa yang terletak di depan Makam Gedong Ageng, makam keramat desa setempat.

Kemudian pada puncak acara di hari kedua Grebeg Suro Desa Jipang, Dua Gunungan hasil bumi serta beberapa Nasi Tumpeng menjadi rebutan masyarakat Desa Jipang dan sekitarnya. Tak hanya warga Desa Jipang, namun, masyarakat dari luar desa hingga luar Kota Cepu ikut meramaikan serta menikmati suasana kemeriahan tradisi budaya yang di gelar pada bulan suro setiap tahunnya.

Bukan hanya prosesi-prosesi adat, ritual, kirab pusaka, pagelaran seni dan budaya, pertunjukan tari serta bazar UMKM, menjadi rangkaian keramaian dalam festival budaya Grebeg Suro Desa Jipang, yang di suguhkan sepanjang dua hari dua malam di desa tersebut dengan unsur kegotong royongan dan kebersamaan, agar Desa Jipang atau Festival Budaya ini menjadi tujuan dari Destinasi Wisata kebanggaan milik masyarakat jipang khususnya.

Karniva Agustina warga RT 07 RW 02 Desa Jipang

Karniva Agustina mewakili RT 07 RW 02 Desa Jipang yang mendapat Juara Harapan 1 lomba Nasi Tumpeng mengatakan dirinya merasa bangga dan senang bisa turut andil dalam pagelaran tersebut.

“Selain memeriahkan suasana Grebeg Suro, juga tentunya untuk menghargai dan menjaga tradisi budaya yang telah berjalan bagi generasi milenial seperti saya khususnya sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan “.

“Sejauh ini Desa Jipang cukup sukses membuat masyarakat bergotong royong meramaikan dan saling membantu melancarkan jalannya kegiatan ini. Semoga kedepan makin meriah dan makin jaya untuk Desa Jipang” tutup Karniva yang menghabiskan biaya untuk kostum dan makeup karnival sebesar 1,5 juta pada ajang Grebeg Suro ini.

Dengan menampilkan aneka Seni dan Budaya, Grebeg Suro Desa Jipang di laksanakan sepanjang dua hari penuh atas inisiatif dari masyarakat dan sesepuh desa, dengan melibatkan Pegiat Budaya, Forkompincam serta di bantu oleh seluruh lapisan masyarakat dari wilayah Kecamatan Cepu.

Selain untuk menjaga kekayaan budaya dan tradisi leluhur, juga untuk membangkitkan ekonomi Desa Jipang khususnya dari segi pariwisata dengan adanya Kirab Budaya serta agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dari Kota Cepu maupun yang berada dari luar daerah sebagai hiburan dan wisata budaya.

“Setiap ada Grebeg Suro Jipang saya selalu hadir bareng suami sama ngajak cucu juga, untuk mengenalkan kearifan lokal budaya sejak dini pada anak-anak. Karena acara seperti ini sangat menarik dan memiliki nilai makna budaya yang sangat tinggi di jaman modern sebagai pengingat untuk anak-anak kami, bahwa tradisi dan budaya itu masih ada dan harus di jaga. Selain itu juga untuk ikut berebut Gunungan dan Nasi Tumpeng, biar ikutan kena berkahnya juga secara tidak langsung,” ujar Tutik Tri Harmani salah satu warga dari Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur.

Grebeg Suro Desa Jipang, memiliki daya tarik dan ikon kearifan lokal serta nilai sejarah yang di minati serta di nantikan oleh masyarakat sebagai kekayaan budaya yang patut untuk di jaga dan di lestarikan. (*)

Kwaran Jiken, Blora Peringati HUT Pramuka ke-61 di Puncak Bukit Serut

BLORA.-
Bertempat di Puncak Bukit Serut, tepatnya di Desa Singonegoro turut Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Minggu (14/8/2022) dilaksanakan peringatan Hari Pramuka ke-61 sekaligus pelantikan Pengurus Mabiran Jiken yang dibarengi acara sarasehan.

Ketua Kwaran Jiken, Kak Sri Nani menjelaskan, pelantikan sudah diagendakan sejak bulan Juli, tetapi karena padatnya kegiatan di Kwarcab hingga hari dilaksanakan pelantikan Pengurus Mabiran Jiken.

“Pelantikan Anggota dan Pengurus Kwaran Jiken, Pelantikan Pramuka Peduli tingkat ranting dan Ketua Kwarcab Blora,” terang Sri Nani.

Pelantikan Anggota dan Pengurus Kwaran Jiken

Sementara itu, Ketua Kwarcab Blora Slamet Pamuji memaparkan, mendapatkan undangan dari Kwaran Jiken ini sekaligus peringatan Hari Pramuka 14 Agustus.

Ketua Kwarcab Blora Slamet Pamuji atau kerap disapa Kak Mumuk mengatakan, tantangan Pramuka adalah bagaimana keberadaannya tetap ada sepanjang jaman.

Eksistensi Pramuka tetap diminati dengan berbagai macam perkembangan teknologi dan sebagainya,” ungkapnya. Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa menjadi Pramuka harus bermanfaat.

“Ya bermanfaat bagi para anggota Pramuka sendiri, dan juga bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya. Selaku Ketua Kwarcab Blora, dirinya berharap pengurus Pramuka yang dilantik hari ini bisa menjalankan hal tersebut.

“Mengabdi tanpa batas, yang artinya harus ikhlas, apa yang bisa kita berikan mesti kita berikan, karena Pramuka itu tidak memandang usia,” pungkasnya.

Jaga Tradisi Leluhur, Pemdes Gagaan Gelar Acara Sedekah Bumi

BLORA.-

Pemerintah Desa Gagaan Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora, Rabu (10/8/2022) menggelar acara sedekah bumi. Selain sebagai upaya menjaga tradisi leluhur, sedekah bumi dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur warga desa yang pada tahun ini hasil panennya melimpah.
Hal itu seperti disampaikan Kepala Desa Gagakan Sudarso, bahwa sedekah bumi yang digelar di desanya merupakan wujud syukur warga kepada Allah SWT karena hasil panen di tahun ini sangat memuaskan warga Gagaan.
“Selain itu kita harus tetap menjaga tradisi leluhur yang sudah turun temurun,” ujarnya.
Menurut Sudarso, pesan yang terkandung pada acara sedekah bumi ini adalah wujud syukur dan demi menjaga leluhur serta kerukunan antar warga.
Sudarso menambahkan bahwa sejak dua tahun lalu tidak bisa menyelenggarakan acara sedekah bumi karena adanya larangan dan aturan dari pemerintah terkait Covid-19.
“Untuk itu saya mengajak, agar generasi-generasi berikutnya etap menjaga tradisi ini,” jelas Sudarso.
Salah satu warga Desa Gagaan bernama Yanti mengaku sangat merindukan acara seperti ini. “Saya merasa sangat senang dengan digelarnya acara seperti ini, ibarate sudah lama haus hiburan,” kata Yati. (*)

Acara Sedekah Bumi, Desa Trembul-Ngawen Adakan Karnaval

BLORA.-

Menggelar karnaval dalam acara sedekah bumi merupakan kegiatan tahunan yang selalu dilakukan oleh warga Desa Trembulrejo secara turun temurun. Selain sudah menjadi adat, menggelar acara sedekah bumi dilakukan agar bisa sama seperti desa desa yang lain.
Untuk acara ini kami Sudah rencanakan satu bulan yang lalu,dengan membentuk panitia.
Menurut Kepala Desa Trembulrejo Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora, panitia karnaval dalam rangkaian acara sedekah bumi sudah dibentuk satu bulan sebelumnya.
Kades Trembulrejo, Imron mengaku sangat bangga dan bahagia banget pada hari itu setelah melihat antusias masyarakat desa Trembul maupun warga desa tetangga yang datang menyaksikan barisan karnaval.
“Mereka terlihat senang bisa melihat hiburan lagi, karena sudah dua tahun karnaval tidak bisa diselenggarakan akibat pandemi,” ucap Imron, , Jumat (5/8/2022).
Dalam sambutannya, Imron menyampaikan terima kasih kepada panitia dan semua warga yang ikut mensukseskan acara sedekah bumi.
“Semoga di tahun berikutnya akan lebih meriah lagi,” tandas Imron.
Salah seorang penonton, Suwarti, warga Desa Todanan yang datang menyaksikan karnaval bersama keluarga mengakiu sangat senang menyaksikan ramainya karnaval.
“Sudah lama kami tidak melihat tontonan seperti ini. Hari ini keluarga saya sangat terhibur,” ucapnya. (*)

Rayakan 1 Suro, Kelurahan Mlangsen Adakan Pagelaran Wayang Kulit

BLORA.-

Merayakan 1 Suro 1444 H, warga masyarakat Kelurahan Mlangsen Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Sabtu (30/07/22) mendapat suguhan pagelaran wayang kulit.
Disamping sudah kangen tontonan tradisional, tingginya antusias warga untuk menyaksikan wayang kulit dikarenakan adanya undian doorprize dengan hadiah utama berupa sepeda yang dikhususkan bagi warga Kelurahan Mlangsen. Pagelaran wayang berlangsung di Jalan Kenanga, Pasar Pitik Koplakan Blora.
Suwarji, warga RT.01/RW.02 Mlangsen, adalah orang yang beruntung pada hari itu karena sudah mendapatkan hadiah sepeda. “Akan saya berikan kepada cucu yang baru sekolah SD,” ujarnya.
Sementara itu Lurah Mlangsen Mugito mengatakan, bahwa pagelaran wayang kulit ini diselenggarakan dalam rangka peringatan 1 Suro yang diadakan rutin setiap Tahunan oleh warga Mlangsen.
“Tetapi karena adanya pelarangan hiburan selama 2 tahun akibat pandemi, kita juga mematuhi aturan,” ujar Mugito.
Pesan Lurah Mugito, walaupun pada kesempatan ini bisa dilaksanakan lagi tetapi harus tetap hati-hati. Karena pandemi masih Ada.
“Wayangan ini merupakan puncak dari rangkaian acara yang dimulai sejak Jumat atau Malam 1 Suro, dan sore tadi diadakan acara Tahlilan,” papar Mugito. (*)

Kampoeng Thengul di Margomulyo, Lestarikan Seni Khas Bojonegoro

BOJONEGORO. –

Wayang thengul menjadi seni pertunjukan khas Bojonegoro. Dalam perkembangannya, thengul menjadi identitas kebudayaan dan mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Hal itu tampak pada geliat Kampoeng Thengul di Desa Sumberrejo Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro. Di sini, warga tak sekedar melestarikan wayang thengul, tapi juga tari thengul hingga aneka sovenir bertema thengul.

Wintari salah satu penggagas Kampoeng Thengul mengatakan dengan adanya perkembangan zaman, kesenian ataupun budaya yang asli khas Bojonegoro harus terus dilestarikan. “Jangan sampai hilang ditelan bumi,” ungkapnya, Jumat (22/07/2022).

Kampoeng Thengul dibentuk dengan tujuan agar generasi penerus bisa lebih mengenal thengul. Di Desa Sumberrejo, warga mendirikan sanggar tari Thengul.

“Alhamdulillah banyak peminat dari kalangan anak-anak untuk belajar menari Thengul khas Bojonegoro ini,” imbuh Elya Ardiana, salah satu pelatih tari.

Wayang thengul sendiri merupakan kesenian Bojonegoro yang mirip wayang golek. Namun ada perbedaan dari sisi cerita yang diangkat dan karakter tokohnya. Jika wayang golek mengangkat cerita dari Wayang Purwa seperti Mahabharata dan Ramayana, justru wayang thengul banyak mengangkat cerita rakyat seperti cerita panji serta cerita para wali.

Wayang thengul menggunakan perangkat boneka kayu tiga dimensi. Wayang dibalut pakaian, di mana tangan sang dalang masuk ke dalamnya. Dalang menggerak-gerakkan boneka tersebut dengan ibu jari dan jari telunjuk, sedangkan tiga jari lain memegang tangkai wayang.

Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, layar (kelir) yang digunakan terdapat lubang kotak di tengahnya. Sehingga penonton dapat menyaksikan dari arah belakang layar. Wayang ini berbentuk boneka 3 dimensi dan biasanya dimainkan dengan diiringi gamelan pelog/slendro.

Sementara itu, Camat Margomulyo Dyah Enggarini menjelaskan Kampoeng Thengul adalah sebuah dusun yang ingin memberikan nilai tambah dari seni yang sudah ada. Di kampung tersebut tinggal dalang sekaligus pembuat wayang thengul, mbah Sumarno.

“Oleh karena itu kami buat Kampoeng Thengul dengan upaya thengul tidak hanya sebagai pementasan wayang. Tetapi juga mengangkat thengul menjadi seni atau budaya yang memberikan nilai ekonomi kepada warga. Selain itu dapat memberi edukasi kepada generasi masa kini untuk melestarikan dan mencintai budaya khas Bojonegoro,” terang Camat. (*) Lanjutkan membaca Kampoeng Thengul di Margomulyo, Lestarikan Seni Khas Bojonegoro

Wayang, Esensi Ceritanya sesuai Dakwah Sunan Kalijaga

Masyarakat harus bangga dengan wayang sebagai seni budaya warisan leluhur. Hal itu disampaikan Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora Bam-bang Sulistya, Jumat (18/2) lalu.

Bambang mengaku bersyukur pada Jumat berkah yang sejak pagi hingga waktu shalat Jumat diguyur hujan, ia kedatangan ta-mu yang membawa buah tangan istimewa, yaitu sebuah lukisan wayang Semar yang dilukis di atas kaca dengan pigura kayu jati khas Blora.

Lukisan itu hasil karyanya yang diniatkan secara ikhlas akan diberikan untuk kesenangan orang lain yang menyukai sosok wayang, Sang Pamomong.

“Kebetulan saya penggemar berat tokoh wayang Semar, sejak saya mulai bekerja tahun 1981. Saya tertarik tokoh wayang Se-mar karena figur ini selain seba-gai pengasuh juga sekaligus pe-nasehat para kesatria,” terang mantan anggota DPRD Blora itu.

Setiap bertutur selalu menghibur sehingga orang yang sedih menjadi gembira. Orang yang sedang susah bisa tertawa.

Ucapan dan perilaku bisa jadi panutan oleh siapapun yang memiliki hati nurani. Sosok Semar yang selalu tumaninah mengawal kebenaran dan suara hati para pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.

“Tamu itu bernama Siswoyo (64), pensiunan kepala sekolah diperbantukan di SMP Rimba Taruna yang saat ini menjadi Ketua PWRI Kecamatan Randublatung,” jelasnya.

Siswoyo gemar wayang dan suka melukis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Menurut Siswoyo, wayang adalah seni dan budaya yang adiluhung dalam Budaya Jawa.

Dilihat dari aspek falsafahnya, wayang merupakan gambaran kehidupan manusia yang mence-ritakan peperangan antara kebatilan atau angkoro murka dengan kebenaran.

Akhirnya kebenaran pasti akan menjadi pemenang. Ia mencotoh-kan dalam kisah Mahabarata kemenangan Pandawa terhadap Kurawa.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman pribadi orang yang menyukai wayang tidak akan mengurangi keyakinan sebagai orang muslim.

Karena cerita wayang sudah sesuai dengan arahan dan esensi dari dakwah Sunan Kalijaga, salah satu wali songo penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai media dakwahnya dengan mengenalkan Islam melaluhi pertunjukan wayang yang sangat digemari masyarakat.

Melalui wayang inilah Sunan Kalijaga menanamkan nilainilai ketauhidan, ajaran syariat, serta nilai akhlak berdasarkan agama Islam.

Dari ajaran Sunan Kalijaga inilah Islam yang rahmatan lil alamin, yaitu Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta bisa tumbuh dan berkembang dan sangat dicintai masyarakat.

Bahkan menurut ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Shola-huddin Al-Aiyub, menjelaskan terkait Hukum wayang ini dapat dijelaskan melaluhi tujuan penggunaan wayang dan hukum Obyek wayang itu sendiri.

Pendapatnya, umumnya wa-yang dikenal secara luas digunakan dengan tujuan menyampaikan imformasi, nilai-nilai kebaikan hingga sarana dakwah Islam sehingga dari sisi ini tidak alasan yang membuat wayang menjadi haram.

Sesuatu yang bernilai positif hingga membawa kebaikan,maka sesuatu itu dalam Islam diperbolehkan bahkan diajarkan.

Adapun hukum Islam terkait objek wayang itu sendiri dalam Islam disebut mubah atau boleh, bukan menjadi benda yang dilarang.

Siswoyo menyimpulkan bahwa wayang dalam kehidupan di masyarakat adalah sebagai media hiburan, pendidikan, penerangan, seni, pemahaman filsafat dan media dakwah. Karena wayang merupakan budaya adiluhung maka sepantasnya kita ikut uri-uri dan melestarikan warisan nenek moyang. (*).

Sepenggal Pantun untuk Gadis Kecil si Pemulung

AWAL September 2021, langit di atas Lapangan Kridosono-Blora tampak cerah. Seorang gadis kecil terlihat asik dan bersemangat mengambil barang bekas seperti botol, gelas dan kotak plastik bekas wadah nasi. Barang-barang bekas itu kemudian dimasukan ke dalam glangse/bagor bekas tempat pupuk unorganik.
Keberadaan gadis kecil diantara para orang-orang yang sedang berolahraga untuk meningkatkan imunitas, akhirnya menarik perhatian mantan Sekda Blora, Bambang Sulistya yang pagi itu juga sedang berolahraga pagi di lapangan Kridosono.
Anak seusia dia yang lain sedang menggunakan gawai untuk daring kegiatan sekolah atau melihat tayangan hiburan di televisi, bahkan mungkin sedang bermain dengan teman sebayanya.
Mengapa dia mau jadi pemulung yang oleh sebagian masyarakat dianggap memiliki konotasi negatif, dekil, kotor dan kumuh?
Namun di sisi yang lain dirinya jadi kagum melihat penampilan saat sedang melaksanakan tugas mengais rezeki di tengah orang-orang yang sedang meningkatkan imunitas diri.
Penasaran, Bambang Sulistya yang sekarang menjabat Ketua PWRI BLora itu lalu mengajak gadis kecil itu ngobrol di warung kaki lima yang ada di sekitar lapangan Kridosono.
Gadis kecil itu menyebutkan namanya, Inayatul Solikah. Tiga bersaudara yang bapak ibunya sehari-hari bekerja sebagai pemulung.
Masih duduk di kelas 5 salah satu SDN di Kecamatan Blora, Inayatul Solikah, Rabu (1/9) pagi itu sedang membantu orang tuanya, memulung di seputar Lapangan Kridosono.
Dia bercerita, sejak sekolah diliburkan tidak boleh belajar tatap muka, ia ingin membantu memulung untuk meringankan beban bapak ibunya.
Sebelum matahari terbit, ia sudah meninggalkan rumah tanpa ada tradisi sarapan pagi. Menyusuri jalan-jalan menuju ke tempat yang diperkirakan ada “rezeki” berupa barang-barang bekas yang sudah dibuang sembarangan di jalan atau di tempat sampah. Salah satu sasarannya adalah Lapangan Kridosono.
Hasil perolehan barang bekas, dan juga uang hasil pemberian dari orang-orang yang iba kepada kepad aInayatul, semuanya diserahkan pada orang tuanya.
“Tiap hari selalu dapat sedekah berupa makanan dan uang dari orang-orang yang ketemu,” ujar gadis kecil itu.
Penghasilan dari penjualan barang bekas sebesar Rp 500.000 per bulan, ditambah pemberian uang dari orang-orang yang punya kepekaan sosial.
Karena tidak punya gawai, untuk mengikuti pelajaran sekolah ia datang sendiri ke rumah gurunya pada sore hari. Diluar dugaan, ketika Bambang Sulistya menanyakan cita-citanya kelak. “Saya ingin jadi dokter,” jawabnya cepat.
Apa alasannya pingin jadi dokter? “Pingin membantu keluarga dan masyarakat agar tetap sehat dan tidak mengalami lagi ada musibah penyakit virus corona,” katanya tanpa jedah.
Mendengar jawaban dari Inayatul Solikah yang membuatnya terkejut sekaligus bangga, Bambang Sulistya pun langsung membacakan sepenggal pantun untuk gadis kecil si pemulung;
Di pagi buta engkau telah bersiap diri, meski dinginnya udara pagi engkau tak peduli,
Demi kehidupan keluarga dan hidup mandiri, engkau bukanlah kaum jalanan yang tak tahu diri,
Tapi engkau pahlawan kebersihan yang tak pernah berpromosi,
Tatkala kau bercermin menimbang diri, apakah diriku pantas diakui sebagai profesi. (*)