Arsip Tag: Budaya Jawa

Sedekah Bumi, Warga Dukuh Delok, Pojokwatu-Sambong Akan Mengadakan Pagelaran Wayang Kulit

BLORA.-

Bertempat di rumah kediaman kepala dusun (Kadus) Dukuh Delok, Desa Pojokwatu Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Selasa malam (13/12/2022) telah dilaksanakan pembentukan panitia sedekah bumi. Terpilih Riyadi Purnomo (ketua), Sonip (wakil ketua), Ludviana Dwi S (sekretaris), Suremi (bendahara).

“Pembentukan panitia dihadiri masyarakat dari RT 01 s/d 05 serta kepala desa. Tetapi ketua BPD Mujianto tidak diundang,” ujar Damin, warga RT 03.
Pada malam itu diputuskan, bahwa dalam acara sedekah bumi akan digelar kesenian wayang kulit dengan dalang Dodik. “Pelaksanaannya di pablengan sumber garam Dukuh Delok, pada hari Jumat Pon tanggal 23 Desember2022. Dimulai ba’da shalat Jum’at sampai Sabtu pagi,” ujar Damin.

Informasi dari berbagai sumber, acara sedekah bumi dengan pagelaran wayang kulit dilaksanakan setahun sekali, pelaksanaannya selesai tanam padi. Pagelaran wayang kulit dengan lakon watu gunung sejak leluhur Dukuh Delok untuk mengenang permintaan Yai Karsinah, pepunden (dayang) Dukuh Delok.
Pablengan yang bersumber garam, riwayatnya dulu masyarakat mengambil air untuk dimasak malah jadi garam dapur.

Anggaran yang digunakan untuk kegiatan pagelaran wayang kulit diperoleh dari iuran warga masyarakat Rt01-Rt05 Dukuh Delok. “Ditambah dari donatur dengan mengumpulkan hasil jimpitan hingga bulan Desember. Satu tahun terkumpul Rp 19 juta,” ujar Damin yang dalam kegiatna ini menjabat Humas. (*)

Parikan, Rubrik Budaya Jawa yang Masih Dilestarikan Koran Diva

BLORA.-

Di usianya yang 82 tahun, tubuh dan pikiran Sugijono masih terlihat bugar dan cekatan. Karya-karya tulisnya dalam bentuk parikan dan geguritan selalu mewarnai penerbitan surat kabar Diva dalam setiap edisinya dalam rubrik “Pak Rikan”.

Tulisan bernada kritik dan ajakan kebaikan, oleh ayah dari 5 anak laki-laki dan 1 perempuan ini sering kali disampaikannya dalam bentuk parikan berantai atau bersambung.

Untuk parikan yang dikirim ke Koran Diva, kakek dari 15 cucu ini mengaku tidak asal menulis–melainkan dipikirnya dengan serius dan dengan kehati-hatian.

“Ketika menulis parikan saya tidak asal, tapi saya pikir serius dan hati-hati,” ujar kakek yang akrab disapa Mbah Gik itu, Selasa (15/11) lalu.

Dulu, ketika masih menjadi guru di SMA Negeri 1 Blora, Mbah Gik yang lahir di Magetan pada 10 September Tahun 1940 ini memang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Ditambah kecintaannya terhadap budaya Jawa, menjadikannya gemar menulis bahasa Jawa–hinga dipercaya mengajar bahasa Jawa dan menjadi pembimbing Teater di SMAN 1 Blora.

Ketika masih aktif sebagai guru pada saat itu, Mbah Gik yang sejak kecil memiliki cita-cita ingin menjadi guru SMP ini juga sering menulis artikel berbahasa Jawa di majalah-majalah berbahasa Jawa.

“Dulu saya sering nulis artikel atau cerpen berbahasa Jawa untuk majalah-majalah bahasa Jawa” katanya sembari menyebut beberapa majalah berbahasa Jawa terbitan Jawa Timur.

Mantan Kepala SMA Negeri 1 Blora yang pensiun Tahun 2000 ini mengaku menulis Pak Rikan di sela-sela waktu senggangnya. Bahkan tak jarang parikan berantai itu ditulisannya pada tengah malam.

“Sering saya menulisnya ketika terbangun tengah malam dan ada inspirasi,” papar Mbah Gik seraya menambahkan, kebanyakan inspirasinya menulis justru didapat dari membaca berita-berita di Koran Diva. “Pokoknya Koran Diva harus tetap punya rubrik Budaya Jawa,” pesan Mbah Gik.

Ditengah-tengah kegiatannya yang aktif menulis dan mengarsip Pak Rikan, alumni IPG Madiun (sekarang IKIP-red.) Tahun 1966 ini ternyata juga sibuk dan aktif di berbagai organisasi sosial dan agama. Diantaranya adalah sebagai ketua PWRI Kecamatan Blora, Paguyuban Warga Madiun di Blora, Paguyuban Mantan Kepala Sekolah, dan sebagai LPPK Muhammadiyah Blora.

“Prinsip saya, kita itu harus selalu berperan agar otak selalu berpikir,” ungkap kakek yang rajin minum herbal rebusan daun kepladehan (benalu) setiap hari sebagai rahasia kebugarannya ini.

Kepada para pembaca Pak Rikan di Koran Diva, Mbah Gik berpesan agar tetap menjaga persatuan dan jangan mau di pecah belah oleh pihak manapun. Teruslah melestarikan budaya daerah khususnya Jawa. Jika ada yang ingin belajar dan diskusi bersama mengenai tulisan Pak Rikan yang baik, rumahnya di Jalan Sumodarsono, Blora Kota selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

“Silahkan jika ada yang mau belajar bersama saya tentang tulisan-tulisan pantun atau parikan yang baik, InsyaAllah saya senang,” katanya.

Dijelaskan oleh Mbah Gik, parikan merupakan salah satu jenis puisi Jawa modern yang serupa dengan pantun Melayu dalam hal wujud spasial dan pola rimanya. Parikan dapat dianggap sebagai puisi rakyat karena hidup dan berkembang di tengah-tengah rakyat.

Sebagaimana kesenian rakyat yang lain, kebanyakan wacana parikan yang ditemukan di lingkungan masyarakat Jawa tidak diketahui siapa penciptanya. Wacana parikan dapat ditemukan dalam berbagai kehidupan masyarakat Jawa, menjadi bagian kehidupan sehari-hari dengan muatan nasihat, sindiran, senda gurau, dan sebagainya.

“Parikan juga muncul sebagai seni pertunjukan, baik fungsional seperti halnya dalam pertunjukan ludruk maupun sebagai isen-isen (isian) berupa cakepan senggakan ‘syair yang meningkahi syair utama dalam gending,” pungkasnya. (*)