Semua tulisan dari Gunawan Umardani

Pekerja Kontrak Pertamina Cepu Tuntut Pemkab Blora Berkirim Surat ke Pertamina Pusat

BLORA. – Puluhan eks pekerja kontrak dalam Kerjasama Operasi (KSO) yang bernaung di bawah PT Caraka, Rabu siang (19/1/2022) kembali menggelar unjuk rasa dan berorasi di depan Kantor Bupati Blora.

Mereka menuntut agar Pemerintah Kabupaten dan DPRD Blora segera berkirim surat kepada Komisaris Utama dan Direktur Utama PT Pertamina EP untuk mendapatkan kejelasan terkait pembayaran satu bulan gaji dan hak-hak atas upah untuk 225 pekerja kontrak yang tergabung dalam PT Caraka, selaku kontraktor Kerja Sama Operasi PT GEO Cepu Indonesia, untuk eksplorasi dan eksploitasi migas di Lapangan Kawengan, Ledok dan Nglobo, yang tidak kunjung selesai dari tahun 2017 hingga kini.

Ketua SPKP Kasbi Blora, Agung Pujo Susilo meminta sekaligus menegaskan agar Pemerintah Kabupaten Blora dan DPRD Blora untuk segera mengirimkan surat untuk penyelesaian sengketa pembayaran gaji pekerja kontrak ke jajaran Komisaris dan Direksi Pertamina Pusat.

“Kami meminta agar Pemerintah dan DPRD Blora segera berkirim surat ke Komisaris dan Direktur Utama PT Pertamina, selaku pemilik keputusan terkait adanya KSO pengelolaan migas, ini perjuangan yang cukup panjang dan memakan waktu 5 tahun, kok tidak bisa diselesaikan,” ungkap Agung Pujo Susilo di hadapan Asisten Bupati bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Blora, Hariyanto dan perwakilan dari Setwan DPRD Blora, Suripto.

Saat dikonfirmasi terkait jumlah kekurangan gaji yang belum dibayarkan serta hak – hak lain, untuk 225 orang pekerja kontrak itu, Agung Pujo menyampaikan bahwa totalnya adalah sebesar Rp. 2,6 Milyar, hal itu disebabkan oleh pailitnya kontraktor utama dalam KSO GEO Cepu Indonesia dengan PT Pertamina EP Cepu.

Sementara saat itu SPKP adalah tenaga kerja yang berada di bawah naungan sub kontraktor PT Caraka, yang menjalankan pengelolaan migas KSO Pertamina – GCI di Lapangan Kawengan, Lapangan Ledok dan Lapangan Nglobo dan Semanggi.

“Kami menuntut agar Pertamina bisa menyelesaikan persoalan kami, pengelolaan migas itu kini berada di tangan Pertamina, beserta seluruh aset dan pekerjanya. Kami meminta Pemkab dan DPRD Blora ikut bersikap membela kami, segera kirimkan surat ke Dirutnya dan Komisaris, karena keputusan ini hanya bisa diselesaikan oleh Pimpinan Pusat Pertamina, yaitu Komisaris dan Dirut” tandas Agung Pujo.

Sementara itu, di saat yang sama Asisten Bupati bidang perekonomian, pembangunan dan kesejahteraan, Hariyanto menyampaikan apresiasinya atas aksi penyampaian pendapat di muka umum, yang dilakukan SPKP Kasbi Blora, berlangsung dengan tertib, damai dan saling memahami.

“Kami akan segera menindaklanjuti hasil audiensi SPKP Kasbi Blora, bersama dengan DPRD untuk segera mengirimkan surat kepada Komisaris Utama dan Direktur Utama PT Pertamina EP, untuk menyelesaikan permasalahan ini, dan saya salut atas ketegaran dan kesabaran personil SPKP yang tanpa lelah, memperjuangkan hak dan nasib mereka, saya berdoa untuk kelancaran prosesnya,” paparnya.

Turut hadir dalam audiensi di ruang rapat Staf Ahli Bupati, Kasat Intel Polres Blora, Kapolsek Blora Kota, Kapolsek Jiken, Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Kabupaten Blora, dan Pengurus KASBI Jawa Tengah, KASBI Grobogan, Rembang dan Semarang. (*)

Waspada di Masa Pandemi, Wredanada Mustika Ajak Anggota PWRI Blora Bernyanyi

Di tepi jalan si miskin menjerit,
Hidup meminta dan menerima,
Si kaya tertawa berpesta pora,
Hidup menumpang di kecurangan.
Sadarlah kau cara hidupmu,
Yang hanya menelan korban yang lain,
Bintang jatuh hari Kiamat,
Pengadilan yang penghabisan.


LAGU berjudul “Hari Kiamat” itu, Kamis (14/10/2021) terdengar menggema dari dalam Gedung PWRI Blora di Jl. Sudarman, Blora Kota. Lagu yang populer di era 70-an itu bukan dibawakan oleh penyanyi aslinya, Hengky (Black Brothers) melainkan oleh para pensiunan yang tergabung dalam wadah Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora.
Ketua PWRI Blora, Bambang Sulistya menjelaskan, pada hari itu digelar rapat dengan agenda utama konsolidasi.


“Selain penyampaian hasil rapat koordinasi PWRI eks Karesiden Pati Raya di Rembang dan Resepsi Hari Ulang tahun ke-59 PWRI Tingkat Jateng di Sragen, juga disampaikan motivasi kehidupan,” ujarnya.


Untuk penghiburan diri, lanjut Bambang di akhir acara diisi dengan hiburan musik solo orgen Wredanada Mustika (WM) yang dikoordinir oleh Winarno, mantan kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Blora.


Di masa pandemi Covid-19 saat ini menurut Bambang, ternyata masih dibutuhkan sikap kewaspadaan, ke hati-hatian dan semangat untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.


Disamping itu, upaya untuk meningkatkan imunitas diri tetap dilestarikan baik melaluhi olah raga, menjaga asupan makanan bergizi dan seimbang, membiasakan berpikir positif, maupun dalam pengendalian emosi serta upaya meningkatkan kualitas ibadah utamanya ibadah sosial.
Ada dua buah lagu yang dinyanyikan bersama-sama, yaitu lagu Tanah Airku karya Ibu Soed dan lagu Hari Kiamat yang dinyanyikan Black Brothers.


“Itu lagu kenangan yang sangat populer menduduki tangga lagu lagu diblantika musik Indonesia sekitar tahun 1970-1980,” ujarnya, di Blora, Jumat (15/10/2021).


Dikatakan mantan Sekda Blora itu, kedua lagu itu sengaja dipilih untuk dinyanyikan bersama para peserta rapat dengan motivasi dan harapan untuk membangkitkan kembali semangat Nasionalisme sehingga di saat sulit dan prihatin seperti saat ini kita tetap kokoh dan mantab rasa kebangsaan kita.


Seperti sepenggal Syair dalam Lagu Tanah Airku “Tanah air Ku tidak kulupakan, Kan Terkenang selama hidupku, Biarpun saya pergi jauh, Tidakkan hilang dari kalbu.Tanah ku yang kucintai,Engkau kuhargahi”


Demikian pula lagu Hari Kiamat untuk dinyanyikan sebagai upaya untuk untuk bahan instropeksi diri dan peningkatan kepekaan sosial.


Seperti terungkap dalam syair lagu Hari Kiamat, Di tepi jalan si miskin menjerit, Hidup meminta dan menerima, Si kaya tertawa berpesta pora, Hidup menumpang di kecurangan. Sadarlah kau cara hidupmu, Yang hanya menelan korban yang lain, Bintang jatuh hari Kiamat, Pengadilan yang penghabisan.


Dalam acara penghiburan diri lagu-lagu yang dinyanyanyikan terbatas hanya pada lagu nostalgia dan campusari dengan irama pop dan keroncong.


“Ternyata kegiatan tersebut mampu menyegarkan badan dan nurani, semua kepenatan, beban hidup dan pikiran yang ruwet terasa bisa terurai lepas menjadi sebuah hiburan diri yang tak ternilai, menggembirakan dan membahagiakan,” ungkapnya.


Dirinya berharap, mudah-mudahan langkah itu akan berkontribusi positif untuk meningkatkan imunitas diri dari para peserta rapat dan juga mampu menumbuhkan suasana kekeluargaan, persaudaraan serta setya kawan di masa pandemi.


“Penghiburan diri merupakan sebuah jawaban dan promosi yang merupakan salah satu manfaat kita bergabung untuk ikut organasisasi PWRI karena saat ini stesel keanggotaan aktif,” kata dia.
Menurutnya, selama ini selalu muncul pertanyaan setiap ASN mau memasuki masa pensiun ditawari masuk organisasi PWRI .


“Apa manfaatnya ikut PWRI. Untuk mengantisipasi hal tersebut saya akhirnya memaknai pengertian PWRI sebagai sebuah akronim yang memiliki manfaat,” jelasnya.
Yang dimaksudkan adalah (P) Penghiburan diri, (W) Waras atau Wasis artinya masuk jadi anggota PWRI tambah sehat dan pintar. (R)Relasi atau rejeki maksudnya kiprah di PWRI banyak teman dan rejeki.
“Kemudian, (I) Iman, artinya ikut PWRI harapan imannya meningkat karena setiap rapat rutin bulanan selalu saya hadirkan nara sumber untuk memberikan pencerahan,” tuturnya.
Dirinya berharap semoga Munas PWRI yang akan berlangsung di Jakarta tanggal 20- 22 Oktober 2021 selain dapat memilih Ketua Umum yang baru juga dapat menghasilkan ketetapan keanggotaan PWRI dari aktif ke pasif. (*).

Jumat Berkah, Kerta Blora Berbagi Paket Makanan dan Masker untuk Duafa

BLORA. – Kerukunan Wanita Wredatama (Kerta) Republik Indonesia Kabupaten Blora, Jumat (17/9/2021) melaksanakan bhakti sosial di Lapangan Kridosono Blora.

Ketua Kerukunan Wanita Wredatama Tri Murjiati yang pada awal reformasi pernah menjadi anggota DPRD Blora mengungkapkan, bahwa kegiatan sosial yang dijalankan pada pagi itu ibarat menyelam minum air.

Dalam tataran riil wujudnya sambil olahraga pagi jalan santai untuk meningkatkan imunitas diri dilanjutkan berbagi kepada kaum duafa.

“Kegiatan Kerta dalam Jumat berkah diilhami oleh kenyataan bahwa saat ini banyak masyarakat mengalami kesulitan, khususnya kaum duafa sebagai dampak musibah pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Sehingga ikhtiar untuk ikut meringankan beban derita kaum duafa menjadi motivasi.

Disamping itu pihaknya juga ingin mengamalkan ungkapan yang ada di lagu Mars Kerta Wredatama,

Marilah ibu ibu, Rapatkan barisan untuk menggalang persatuan, Gotong royong di satu barisan guna memenuhi gerak perjuangan ikut membangun masyarakat yang saat ini sedang membutuhkan uluran tangan karena sedang dalam kesusahan.

Dalam Jumat berkah ini selain memberikan bingkisan paket makanan untuk makan pagi juga dibagikan masker.

Peserta yang hadir terdiri dari para tukang becak, pemulung, pekerja srabutan, pengangkut sampah, pekerja buruh bangunan dan orang orang yang berhak.

Ada ungkapan dari para peserta Jumat berkah selain ekspresi kegembiraan dan ucapan terimakasih juga mereka ingin menanamkan harapan mudah-mudahan masih ada di Jumat berkah ini bantuan selain bentuk makanan dari para kaum dermawan dan siapun yang digerakkan hatinya oleh sang pemilik langit.

Bahkan selain hari Jumat mereka juga sangat merindukan masih adanya bantuhan untuk kaum duafa seperti hari jumat berkah,agar bisa menompang kehidupan yang saat ini semakin rekoso (sulit).

“Kita semua sangat berharap semoga musibah pandemi Covid-19 ini segera berlalu dan tentunya kita harus siap bersatu padu. Untuk saling bahu membahu, saling tolong menolong dan saling bergandengan tangan dan bersama sama melawan penyakit Virus Corona,” ucapnya.

Salah satunya ikhtiar kita, kata Tri Murjiati, adalah tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin walaupun di Blora dalam PPKM Darurat sudah level 2.

“Teruslah berbuat baik walaupun melelahkan dan menguras tenaga dan pikiran serta perasan kita karena kebaikan itu nantinya akan membuahkan kebahagian. Salam seger waras dari Ibu ibu Kerukunan Wanita Wredatama Kabupaten Blora,” kata dia.

Pada Jumat berkah sepenggal pantun dipersembahkan oleh salah satu pengurus Kerta Wredatama Kabupaten Blora, Bunga melati harum semerbak wewangi, Kiprah Kerukunan Wanita PWRI, Adalah peduli dan berbagi di masa pandemi,

Sangat berarti bagi Ibu Pertiwi, Jumat berkah penuh pahala dan rejeki, Bagi siapapun yang berhati nurani, Karena hidup ini saling memberi, Semoga penyakit virus Corona segera pergi dan mati. (*).

Dari Kabareskrim Polri untuk Duafa, PWRI Blora Salurkan Bantuan 1.000 Paket Sembako

BLORA. – Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora mendapat amanah dari Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto, menyalurkan bantuan 1.000 paket sembako kepada kaum duafa di Kabupaten Blora pada Kamis, 16 September 2021.

Ketua PWRI Kabupaten Blora, Bambang Sulistya mengatakan, bahwa Kamis, 16 September 2021 merupakan hari bersejarah, karena baru pertama kali PWRI Kabupaten Blora mendapat kesempatan untuk menyalurkan bantuan sembako sebanyak 1.000 paket (setiap paket 5 kg beras kualitas super dan 1 liter minyak goreng kualitas istimewa) dari Bapak Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto, kepada para Kaum duafa.

“Atas nama lembaga dan pribadi, saya mengucapkan terima kasih atas amanah yang diberikan oleh Kabareskrim Polri yang juga salah satu putra terbaik dari Blora,” ujar Bambang Sulistya yang juga mantan Sekda Blora itu.

“Semoga langkah Bapak Agus Andrianto yang mulia ini mendapat balasan dari Allah SWT, juga senantiasa diberi kesehatan yang prima dan kebahagian beserta seluruh keluarga, rezeki yang barokah dan melimpah serta karier yang amanah dan cemerlang,” ungkapnya.

Pada hari itu, secara simbolis Bambang Sulistya menyerahkan kepada 40 orang yang terdiri dari para tukang becak, janda, manula, pemulung, buruh bangunan, pengangkut sampah, asisten rumah tangga, buruh tani, tenaga kerja srabutan, tukang parkir dan Satpam Perumnas Kelurahan Karangjati kecamatan Blora. Penyerahan dilaksanakan di halaman depan kantor PWRI, Jalan Sudarman Blora.

Bantuan sembako tersebut disalurkan ke 25 tempat PWRI kecamatan dan kelurahan yang ada di seluruh Kabupaten Blora. Kemudian oleh pengurus PWRI kecamatan dan kelurahan disalurkan langsung kepada duafa.

Ada berbagai ungkapan positif dari para pengurus PWRI baik dari kabupaten, kecamatan dan kelurahan berkenaan dengan bantuan tersebut, di antaranya, pertama memberi bantuan sembako saat masyarakat sedang mengalami kesulitan dan penderitaan adalah keputusan yang bijak dan cerdas apalagi diberikan saat musim kemarau.

Kedua, dengan adanya kesempatan pengurus PWRI amanah untuk menyalurkan kepada kaum duafa secara tidak langsung memberi pelajaran yang sangat berharga untuk meningkatkan kepekaan sosial kepada kaum lemah dengan belajar berbagi.

Ketiga, langkah berbagi dalam masa pandemi merupakan teladan yang baik, terutama bagi para pemimpin, pejabat, pengusaha dan berbagai elemen masyarakat yang berkemampuan dan berkesempatan dengan ikhlas menyisihkan sebagian rezeki kepada kaum duafa.

“Apalagi ada ungkapan bijak dari para leluhur kita sebagai berikut, Sopo sing seneng weweh bakal oleh (Siapa yang suka memberi bakal memperoleh),” ucapnya.

Ada sepenggal pantun yang dipersembahkan oleh Bambang Sulistya, “Pergi ke Blora beli lontong tahu, Jangan lupa ajak teman dan kerabatmu, Mari kita saling membantu, Agar musibah pandemi segera berlalu. Nasehat baik jangan dilupakan, Berbuat baik sangat diharapkan, Allah telah memerintahkan, Saling menolong dalam kebaikan”

Dalam kesempatan penyerahan bantuan tersebut ada salah satu warga yang mewakili para peserta yakni Sadikin atau modin Perumnas, alamat RT 05/RW 03 Nglawiyan Karangjati yang menyampaikan ucapan terima kasih dan ungkapan rasa gembira, bahagia atas perhatian istimewa memperoleh bantuan ini.

“Diparingi (diberi) kesehatan, umur panjang, rezeki yang berkah, jabatan yang amanah dan dalam masa yang akan datang para kaum duafa di Blora masih mendapat perhatian dari beliau,” ungkapnya. (*)

Lakukan Konsolidasi, PWRI Bogorejo Rintis Gerakan KPK untuk Kaum Duafa

BLORA. – Sejak dilantik pada 22 Mei 2021 lalu, Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora sudah berhasil menunjukkan dinamika organisasi yang luar biasa.

Hal itu mengemuka pada pertemuan konsolidasi PWRI Kecamatan Bogorejo, Minggu (12/9/2021). Pertemuan diselenggaran di rumah salah satu anggota bernama Juariah sambil memperingati seribu hari wafat suaminya.

“Ada sebuah kebahagian dan kebanggaan ketika hari ini, Minggu 12 September 2021, saya diundang di pertemuan konsolidasi PWRI Kecamatan Bogorejo,” kata Bambang Sulistya, Ketua PWRI Blora.

Agenda kegiatan diawali dengan acara tahlilan dilanjutkan laporan ketua PWRI bapak H. Suliman mantan pengawas Guru SD seluruh Kecamatan Bogorejo.

“Pada saat dilantik anggota PWRI Kecamatan Bogorejo hanya 43 orang, sekarang sudah menjadi 71 orang. Meningkat 53%,” ujar H. Suliman dengan nada bangga karena pada pertemuan hari itu dihadiri hampir 95% dari total anggota.

Disamping itu, tambah Suliman, di dalam organisasinya juga telah tumbuh jiwa kepekaan sosial. Contohnya dalam pertemuan pada hari itu, pengurus dan anggota tidak dibebani biaya snack dan makan siang karena dikaitkan dengan acara ritual.

“Perlu saya laporkan, seluruh anggota PWRI sudah mengikuti vaksinasi,” tandasnya.

Mendengar laporan seperti itu, Bambang Sulistya mengaku senang dan bangga sekaligus memberi apresiasi positif.

“Itu berarti teman-teman anggota dan pengurus PWRI Bogorejo sudah mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW untuk belajar menjadi orang yang bermanfaat ikhlas dan semangat,” ujarnya.

Yang lebih membuat Bambang Sulistya bangga pada pertemuan di Bogorejo itu, di masa sulit seperti saat ini para pengurus dan anggota PWRI juga merintis gerakan KPK (Kepekaan, Peduli, Kepyur) yang wujud riilnya menyisihkan dana secara ikhlas yang nantinya untuk disumbangkan kepada yang berhak.

Untuk memantapkan semangat juang para pengurus anggota PWRI, Bambang Sulistya menyampaikan arahan agar di masa pandemi COVID-19 tetap sehat dan eksis serta bermanfaat.

Maka, ajaknya amalkan semangat “DPRD” dimanapun dan kapanpun kita berada. Jadikan Semangat “DPRD” sebagai motivator dan inspirator serta provokator. Sebuah akronim yang sudah sangat populer dan melekat di hati masyarakat.

Kali ini Akronim DPRD maknanya sebagai berikut: (D) Dream, artinya dalam bahasa pergaulan, mimpi, visi, cita-cita, harapan dan keinginan.

Dalam situasi seperti saat ini hendaknya seluruh anggota dan pengurus PWRI kalau mau bermanfaat dan tetap eksis harus punya mimpi jelas,harapan yang selalu digelorakan untuk menjadi manusia sehat, bermanfat dan punya kepedulian sosial untuk selalu berbagi kepada kaum lemah.

Untuk mewujudkan hal tersebut langkah berikutnya kita harus melaksanakan (P) Pray (Berdoa).

“Mari di masa pandemi saat ini kita tingkat mantapkan doa kita agar apa yang kita cita-citakan dapat terwujud,” ujarnya.

Dalam praktisnya, lanjut Bambang, mulai saat ini setiap kita akan melaksanakan aktivitas apapun kita awali dengan mengucapkan Bismilah tentu dengan niat baik dan setiap mengakhiri kegitan dengan mengucapkan Alhamdulih.

Dengan harapan setiap melaksanakan tugas kita berusaha melibatkan hadirnya Allah agar semua berjalan sesuai harapan.

Kemudian tahap berikutnya adalah langkah (R) Reaction-Reaksi, tanggapan dan respon.

Artinya apapun yang sudah kita impikan dan doakan tentu ada respon aksi dengan berbagai kegiatan yang konkrit yang mendukung dan berkorelasi dengan harapan akan kita wujudkan.

Ada ungkapan di Jawa, lamun siro iso ngomong nanging kudu iso mbukteke (Siapa saja yang bisa berbicara harus bisa membuktikan).

“Jangan hanya jarkoni bisa ngomong tapi tak bisa menjalani.Oleh karenanya setiap cita-cita harus disertai laku atau langkah yang konkrit,” terangnya.

Berikutnya (D) Disciplin – Disiplin, artinya semua tahapan dan proses dalam mewujudkan harapan harus dilandasi sikap disiplin, kepatuhan dan ketaatan kepada tata tertib,aturan maupun dalam menjalankan komitmen.

Salah satu sikap disiplin yang harus dimiliki saat ini adalah mampu mengembangkan pribadi yang dapat mengendalikan diri dengan baik, tidak emosi apalagi bersumbu pendek.

khirnya saya meminta kepada seluruh yang hadir untuk menyebarluaskan semangat “DPRD” di masyarakat agar dapat memberi kontribusi positif bagi kebangkitan kita untuk tetap waspada.

“Dan jangan lengah dalam memerangi penyakit virus corona, walaupun Kabupaten Blora dalam PPKM Darurat sudah di level 2,” tuturnya. (*).

Ketua Kerta Kabupaten Blora: Jangan Kendor Terapkan Prokes

BLORA. – Bertempat di Kantor PWRI Kabupaten Blora, Kamis (9/9/2021) digelar pertemuan rutin bulanan Pengurus Kerukunan Wanita (Kerta) Wredatama RI Kabupaten Blora.

Selain untuk mengaktifkan kembali agenda pertemuan rutin, pertemuan pada hari itu sekaligus untuk konsilidasi organisasi yang diikuti oleh para anggota pengurus kabupaten.

Konsolidasi dimaksudkan sebagai upaya mendukung suksesnya PPKM Darurat di Kabupaten Blora, yang semula pada level 4 dan kini sudah berada di level 2. Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan pembagian masker untuk para peserta.

Dalam sambutannya, Ketua Kerta PWRI Blora Tri Murdjiati menyampaikan, walaupun Blora sudah masuk level 2, namun kita tetap waspada dan jangan kendor untuk melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat.

“Ibu pengurus dan anggota agar dapat menggerakkan dan memotivasi para ibu lansia di lingkungannya untuk mengikuti vaksin Virus Corona,” ujarnya.

“Juga untuk meringankan beban masyarakat sebagai dampak musibah pandemi Covid-19, ibu-ibu kerta diharapkan bisa ikut menggalang kepedulian sosial untuk memberikan bantuan sembako kepada kaum duafa,” tambahnya.

Ketua Kerta juga menyampaikan, bahwa para ibu Kerta juga akan memberikan dukungan kegiatan Jumat Berkah bersama kaum duafa di Lapangan Kridosono pada Jumat terakhir di bulan September 2021.

“Untuk menjaga imunitas diri mari setiap minggu sekali kita mengadakan Senam kesehatan jasmani bersama ibu-ibu lansia,” ajaknya.

Pada kesempatan yang sama Ibu Subronto Yusup (isteri Wakil Bupati Blora 2000-2005) selaku pembina Kerta Kabupaten Blora memberi spirit kepada para anggota dan pengurus agar di masa pandemi Virus Corona selalu menjaga imunitas diri dan memanfaatkan waktu yang ada agar diisi dengan berbagai aktivitas positif.

Misalnya, untuk memperdalam pengetahuan agama dan kegiatan berkebun dengan menanam dan memelihara tanaman yang kelak hasilnya dapat dibagikan ke tetangga.

“Jangan lupa tetap berolahraga yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi kekuatan kita masing- masing, jangan memaksakan diri untuk melakukan aktifitas harus ada waktu jeda untuk istirahat,” ucapnya

Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya, menyampaikan kiat tujuh langkah menuju Sehat Lahir Batin di masa pandemi yang terangkum dalam satu kata akronim,yaitu “SESANTI”

Menurutnya, dalam pengertian awam sesanti memiliki makna nasehat, wejangan, slogan dan semboyan.

Namun akronim SESANTI memiliki arti sebagai berikut, (S) Semangat, artinya dalam menghadapi situasi sulit saat ini kita harus punya semangat yang membara untuk tetap sehat, untuk tetap survive dan eksis baik di keluarga maupun di masyarakat.

Semangat utuk berolahraga untuk meningkatkan imunitas diri jadikan kebutuhan hidup, semangat untuk melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin, semangat untuk membangun rasa kekeluargaan, rasa persaudaraan.

Rasa setia kawan, rasa kerukunan jadikan pemenuhan kebutuhan sosial. Karena ada ungkapan untuk meraih kesuksesan hidup seseorang akan sangat tergantung dari semangat yang dimiliki dari yang bersangkutan.

“Ada baiknya ucapan Tetap Semangat menjadi buah bibir yang terus kita gulirkan di masyarakat,” ucapnya.

Kemudian, (E) Enyahkan, mulai saat ini semua pimikiran, sikap, perasaan, ucapan dan tindakan yang berkonotosi negatif untuk bersikap positif dalam hidup keseharian.

“Redam prasangka buruk, suka mengeluh, sikap iri dengki srei, gibah dan gemar memfitnah,” jelasnya.

Berikutnya, (S) Suka memberi atau suka berbagi, artinya tumbuh kembangkan di masa musibah ini sikap kepedulian sosial yang tinggi kepada saudara saudara kita yang sedang menderita untuk memberi perhatian, menolong, membantu dan menyayangi agar hidup ini semakin berarti.

Sedangkan, (A) Awali dalam setiap melaksanakan kegiatan apapun dengan ucapan Bismilah dan Akhiri setiap menunaikan tugas/kegitan dengan Alhamdulilah.

“Karena dengan mengucapkan kata tersebut berarti kita telah menghadirkan dan melibatkan Allah dalam setiap iktiar yang kita lakukan dengan penuh rasa syukur,” tuturnya.

Selanjutnya, (N) Niat, maksudnya setiap aktivitas apapun yang kita lakukan landasi dengan niat baik, kalau sudah dengan niat baik jangan ragu apalagi bimbang segera lakukan langkah terbaik untuk mewujudkannya dalam kehidupan di masyarakat.

Kemudian, (T) Tebarkan kebaikan di dalam kehidupan dimasyarakat, mulai dari tataran ringan tebar senyum,tebarkan ucapan yang sejuk dan motivatif sampai sampai ditataran tinggi tebarkan semangat membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Karena ada sesanti, Siapa yang menebar kebaikan maka akan menuai Kebagian dan Siapa yang menebar kebahagian maka akan menuai kesuksesan,” tuturnya.

Terakhir, (I) Ibadah, semakin kita tingkatkan baik secara kwantitas maupun secara kwalitas.Dalam masa pandemi Covid-19 ibadah yang memiliki demensi realistis adalah ibadah sosial.

Sehingga kegiatan bersedakah, berbagi, atau kepyur mesti makin meningkat di saat Ibu Pertiwi sedang berduka hati seperti saat ini.

“Akhirnya kita semua berharap mudah dengan mengamalkan akronim SESANTI dalam kehidupan di masyarakat mampu memberi kontribusi positif dalam menekan ulah virus corona syukur dapat mengakiri musibah dari Bumi Nusantara khususnya dari Bumi Mustika Blora,” kata Bambang Sulistya yang mantan Sekda Blora itu. (*).

Sepenggal Pantun untuk Gadis Kecil si Pemulung

AWAL September 2021, langit di atas Lapangan Kridosono-Blora tampak cerah. Seorang gadis kecil terlihat asik dan bersemangat mengambil barang bekas seperti botol, gelas dan kotak plastik bekas wadah nasi. Barang-barang bekas itu kemudian dimasukan ke dalam glangse/bagor bekas tempat pupuk unorganik.
Keberadaan gadis kecil diantara para orang-orang yang sedang berolahraga untuk meningkatkan imunitas, akhirnya menarik perhatian mantan Sekda Blora, Bambang Sulistya yang pagi itu juga sedang berolahraga pagi di lapangan Kridosono.
Anak seusia dia yang lain sedang menggunakan gawai untuk daring kegiatan sekolah atau melihat tayangan hiburan di televisi, bahkan mungkin sedang bermain dengan teman sebayanya.
Mengapa dia mau jadi pemulung yang oleh sebagian masyarakat dianggap memiliki konotasi negatif, dekil, kotor dan kumuh?
Namun di sisi yang lain dirinya jadi kagum melihat penampilan saat sedang melaksanakan tugas mengais rezeki di tengah orang-orang yang sedang meningkatkan imunitas diri.
Penasaran, Bambang Sulistya yang sekarang menjabat Ketua PWRI BLora itu lalu mengajak gadis kecil itu ngobrol di warung kaki lima yang ada di sekitar lapangan Kridosono.
Gadis kecil itu menyebutkan namanya, Inayatul Solikah. Tiga bersaudara yang bapak ibunya sehari-hari bekerja sebagai pemulung.
Masih duduk di kelas 5 salah satu SDN di Kecamatan Blora, Inayatul Solikah, Rabu (1/9) pagi itu sedang membantu orang tuanya, memulung di seputar Lapangan Kridosono.
Dia bercerita, sejak sekolah diliburkan tidak boleh belajar tatap muka, ia ingin membantu memulung untuk meringankan beban bapak ibunya.
Sebelum matahari terbit, ia sudah meninggalkan rumah tanpa ada tradisi sarapan pagi. Menyusuri jalan-jalan menuju ke tempat yang diperkirakan ada “rezeki” berupa barang-barang bekas yang sudah dibuang sembarangan di jalan atau di tempat sampah. Salah satu sasarannya adalah Lapangan Kridosono.
Hasil perolehan barang bekas, dan juga uang hasil pemberian dari orang-orang yang iba kepada kepad aInayatul, semuanya diserahkan pada orang tuanya.
“Tiap hari selalu dapat sedekah berupa makanan dan uang dari orang-orang yang ketemu,” ujar gadis kecil itu.
Penghasilan dari penjualan barang bekas sebesar Rp 500.000 per bulan, ditambah pemberian uang dari orang-orang yang punya kepekaan sosial.
Karena tidak punya gawai, untuk mengikuti pelajaran sekolah ia datang sendiri ke rumah gurunya pada sore hari. Diluar dugaan, ketika Bambang Sulistya menanyakan cita-citanya kelak. “Saya ingin jadi dokter,” jawabnya cepat.
Apa alasannya pingin jadi dokter? “Pingin membantu keluarga dan masyarakat agar tetap sehat dan tidak mengalami lagi ada musibah penyakit virus corona,” katanya tanpa jedah.
Mendengar jawaban dari Inayatul Solikah yang membuatnya terkejut sekaligus bangga, Bambang Sulistya pun langsung membacakan sepenggal pantun untuk gadis kecil si pemulung;
Di pagi buta engkau telah bersiap diri, meski dinginnya udara pagi engkau tak peduli,
Demi kehidupan keluarga dan hidup mandiri, engkau bukanlah kaum jalanan yang tak tahu diri,
Tapi engkau pahlawan kebersihan yang tak pernah berpromosi,
Tatkala kau bercermin menimbang diri, apakah diriku pantas diakui sebagai profesi. (*)

Melalui Siaran Radio, PWRI Blora Sampaikan Pesan Moral di Masa Pandemi

BLORA. – Setelah beberapa pekan absen karena ada beberapa pengurusnya yang terpapar Covid-19, Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora kembali mengudara di radio melalui Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Gagak Rimang Blora.

Acara bertajuk Wredatama Menyapa itu kembali memancar pada gelombang 105,9 FM (streaming), Kamis (19/8) pukul 20.00 WIB untuk menyampaikan motivasi, ide, dukungan kepada pemerintah Kabupaten Blora.

Agenda rutin ini direncanakan setiap dua minggu sekali, pada Kamis malam secara bergiliran antar pengurus dan anggota PWRI.

Pada siaran Kamis (19/8) lalu, Sekretaris PWRI Blora, Soedadyo yang juga mantan Kepala Dinas Sosial danTenaga Kerja, menyampaikan tema tentang Hijrah.

Menurutnya, bulan Muharram ditandai adanya peristiwa besar, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Medinah.

Hijrah sendiri, terang Sudadyo, pengertian secara terminologis bermakna meninggalkan sesuatu atas dasar untuk melakukan taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

“Dalam Islam kata hijrah sudah dikenal sejak awal Islam bahkan sebelumnya, dan hal ini Hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan fisik seperti hijrahnya Rasulullah, namun hijrah secara psikis, pikiran dan yang non fisik lainnya,” ucapnya.

Singkatnya hijrah adalah perpindahan hidup dari hal hal negatif ke hal-hal positif. Saat ini ajakan untuk berhijrah menjadi tren baru baik di kalangan tokoh agama, pejabat, para politisi, para artis maupun di kalangan anggota masyarakat.

Sebagaimana contoh yang ditunjukkan Sudadiyo, masih banyak hijrah kecil-kecil yang perlu dilaksanakan saat ini di antaranya kudis (kurang disiplin), kutil (kurang teliti), kurap (kurang merapat/kurang dekat dengan Allah), kusem (kurang semangat), kuper (kurang pergaulan), kupeng (kurang pengalaman), dan kumal (kurang amal).

Disamping itu Hijrah harus ada niatan yang kuat dan istiqomah bukan sekedar asesoris belaka namun juga dari sisi aklaknya, akidahnya, ibadahnya dan perilakunya.

“Paling utama orang berhijrah itu dengan Tolabul Ilmi (mencari ilmu Agama). Mengingat orang berhijrah akan memberi hasil buah yang manis,” ucapnya.

Di antaranya hilangnya kesusahan karena akan menemuhi yang baru, bertambah rezeki bertambah ilmu dan etikanya makin mantab,dan memperoleh sahabat yang mulia.

Pada kesempatan itu Ketua PWRI Blora H. Bambang Sulistya menambahkan acara itu sekaligus sebagai momentum untuk memanfaatkan bulan Muharram 1443 Hjriah sebagai bulan penuh berkah dan bulan bersedekah.

Dijelaskannya, bahwa hijrah juga dapat dimaknai sebagai fase penting dalam kehidupan seseorang untuk memperbaiki diri karena hijrah secara harafiah berarti meninggalkan dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik, positif yang bermaat bagi orang lain.

Oleh karenanya bila dikaitkan situasi pandemi Covid -19 saat ini berhijrah dapat dimaknai sebagai upaya untuk meninggalkan budaya 5M, bukan mau menentang protokol kesehatan, tapi 5M tersebut artinya sebagai berikut, 1M-Mengeluh artinya dalam suasana keprihatinan saat ini berhentilah untuk mengeluh karena kalau hanya mengeluh saja tak akan memberikan hasil apa-apa. Mari dengan penuh semangat kita berbuat bersama sama melawan Corona.

2M-Memikirkan, artinya disaat menghadapi musibah saat ini tinggalkan memikirkan kondisi ada dengan pola mikir negatif tapi rubahlah dengan pola pikir positif yang kelak akan membuahkan karya yang.baik.

3M-Menghujat,artinya mulailah saat ini untuk memuaskan emosi berhenti menghujad kepada Pemerintah karena perbuatan mengujad hanya akan menimbulkan kegaduan dan kebingungan di masyarakat.

Sebagai Pemerintah yang baik pasti sudah berupaya secara maksimal untuk menanggulangi musibah saat ini terjadi misalnya adanya program vaksinasi dan berbagai program bantuan sosial bagi masyarakat.

Selanjutnya, 4M-Memutar balikkan Fakta, artinya masih banyak anggota masyarakat yang tidak percaya kalau penyakit virus Corona itu ada.

“Mereka ada yang berpendapat penyait itu hanya rekayasa bahkan ada yang mengatakan itu hanya mengalihkan isu politik untuk mengalirkan dana bagi kepentingan kelompok mereka.Berhentilah untuk membangun budaya memutar balikkan fakta karena azab akan menimpa.

Berikutnya, 5M-Menebarkan, artinya mulailah saat ini berhenti untuk menebarkan berita hoaks, fitnah dan provokasi karena hanya menimbulkan kondisi dimasyarakat yang semakin rapuh, runtuh dan ambyar bagi kerukunan dan keutuhan bangsa.

“Akhirnya melalui Wredatama Menyapa saya menitipkan harapan dengan sebait patun, Bulan Muharram bulan penuh berkah dan mulia, Segeralah bertobat dan jahui perbuatan tercela, Tunaikanlah puasa sunah agar memperoleh berlipat ganda pahala, Jangan lupa bersedekah dan berdoa,” tutur Bambang Sulistya yang mantan Sekda Blora.

Sementara itu Direktur LPPL Radio Gagak Rimang Blora, Kasiyanto, menyampaikan apresiasi atas semangat para wredatama.

Meskipun sudah purna tugas tetapi jiwa dan semangat mengabdi ibu pertiwi menjadi spirit bagi semuanya.

“Sangat hormat kepada sesepuh yang masih berkenan berbagi pengalaman dan nasehat. Terlebih masih peduli dengan radio,” ucapnya, Jumat (20/8/2021).

Pihaknya juga mempersilahkan kepada publik Blora yang ingin mengisi gelar wicara di studio Gagak Rimang. (*).

PWRI Blora, Semarakkan HUT RI ke-76 dengan Gowes Sepeda Ontel

BLORA. – Posdaya sepeda ontel Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Blora yang dikomandani Sudadiyo, Selasa (17/8/2021), memperingati HUT RI ke-76 dengan kegiatan gowes sepeda ontel (sepeda santai).

Seperti pada tahun lalu, tujuh belasan tahun ini dirayakan tanpa gegap gempita, dan diselenggararakan secara sederhana serta terbatas, ditambah lagi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat.

Kegiatan bersepeda santai dimulai dari start pukul 07.00 WIB (7 orang jawa pitulungan) dari Lapangan Kridosono Blora. Sebelum berangkat dilaksanakan doa bersama agar memperoleh kesegaran dan keselamatan.

Soedadyo menjelaskan, rute gowes santai memutari jalan-jalan di perkotaan sambil melihat lihat semaraknya pemasangan umbul-umbul merah putih untuk menyerap spirit Proklamasi Kemerdekaan.

“Kemudian menyusuri jalan-jalan di perdesaan lewat jalan yang di kanan kiri terhampar lahan persawahaan/tegalan yang saat ini tumbuh tanaman jagung daunnya hijau royo-royo yang menyegarkan suasana hati,” ucapnya.

Setelah satu jam lebih, akhirnya finish di rumah sesepuh pejabat Blora, Soebronto Yusuf, matan Wakil Bupati Blora. “Di rumah Bapak Soebronto dilaksanakan upacara sederhana ala para pejuang pembangunan yang sudah purnatugas,” terang dia.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh seluruh peserta. “Kemudian pengucapan Pancasila tanpa teks oleh Bapak Sugito dahulu mantan Kabag hukum Setda Blora ditirukan oleh seluruh peserta,” ujarnya.

Dilanjutkan sambutan oleh Soebronto Yusuf, yang dahulu juga mantan kepala Inspektorat Blora.

Dalam sambutannya, Soebronto menyampaikan tiga hal petuah yang perlu diteladani. Pertama saat ini perjuangan kita tidak mengusir penjajah tetapi membasmi penyakit Virus Corona. “Untuk itu ikuti anjuran Pemerintah untuk melaksanakan 5M, tingkatkan dan mantapkan ibadah kita dan olahraga,” kata dia.

Kedua, manfaatkan waktu yang ada untuk diisi dengan aktivitas positif yang bermanfaat bagi orang lain misalnya untuk berkebun hasilnya bisa diberikan kepada tetangga, bersosialisasi kebaikan di masyarakat dengan mengadakan pengajian rutin setiap Jumat pagi.

Ketiga, menikmati hidup, melakukan semua kegiatan ibarat sedang melakukan ibadah dan selalu ingat kebaikan orang lain yang pernah kita terima.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PWRI Blora Bambang Sulistya mengucapkan terima kasih kepada Soebronto yang telah menerima dan menyediakan tempat untuk kegiatan upacara peringatan tujuh belasan secara sederhana, bahkan mensponsori makan pincukan, suguhan buah dan minuman snak secara gratis.

“Demikian pula kepada bapak Sukardi mantan kepala sekolah SMAN 1 yang telah menyediakan bantuan sembako untuk kaum duafa,” ucapnya.

Berikutnya, dalam memperingati HUT ke-76 RI yang diselenggarakan oleh posdaya yang dipimpin oleh Sudadiyo mantan Kadinas Sosial merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat karena langsung mengamalkan anjuran pemerintah dalam melawan corona.

“Selain hari ini kita melakasanakan protokol kesehatan dan memperoleh spirit proklamasi juga dapat meningkatkan imunitas diri karena sudah berolah raga sepedaan, makan buah jambu sukun dan semongko serta makan nasi pecel pincukan lengkap dengan telur ceploknya,” tuturnya.

Dikatakan oleh mantan Sekda Blora itu, kegiatan saat ini langsung dapat menerapkan ibadah sosial yang diwujudkan dengan kegiatan berbagi membatu sembako bagi kaum duafa, dan menanam jambu kristal sebagai wujud sedekah bumi.

“Seluruh peserta juga membawa pulang bibit jambu yang akan ditanam di rumah masing masing,” kata Bambang.

Menurutnya, seperti testimoni beberapa teman di PWRI beberapa waktu yang lalu terpapar virus corona, ternyata jus jambu sangat bermanfaat bagi peningkatan imunitas diri.

“Oleh karena itu, mari kita yang diberi kesempatan untuk bisa berbuat kebaikan bagi kaum duafa jadikan momentum peringatan tujuh belas Agustus ke-76 ini sebagai wahana untuk meningkakan spirit perjuangan melawan virus corona,” tambahnya.

Kegiatan diakhiri dengan pemberian bantuan sembako kepada kaum duafa dan secara simbolis penanaman bibit jambu kristal di kebun dibelakang rumah Wakil Bupati Blora 2005-2010.

“Selanjutnya di hari yang bersejarah ini saya titipkan harapan kepada ibu Pertiwi yang saat ini sedang berduka akibat olah virus Corona melalui sebait patun, Pagi ini bersepeda di kota Blora, Bersama para pejuang pembangunan yang sudah purna, 76 tahun Indonesia Merdeka, Semoga rakyat masih tangguh dan sejahtera,” katanya.

Sebab, Selasa tanggal 17 Agustus 2021 seluruh rakyat Indonesia sedang memperingati Hari Ulang Tahun ke-76 di tengah Pandemi Covid 19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk level 4 (Blora level 3).

“Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Sesarengan mBangun Blora,” ucapnya. (*).

Komunitas Sepeda Dapur Wojo Blora Bagikan Bibit Buah dan Paket Sembako

BLORA. – Komunitas sepeda ontel Dapur Wojo Blora menyerahkan bibit buah dan paket sembako kepada warga kurang beruntung sambil memasyarakatkan olah raga bersepeda.

“Kalau di Jakarta ada kebijakan three in one, maka di kota sate Blora ada semangat five in one,” kata Bambang Sulistya, penggemar sepeda ontel yang juga Ketua PWRI Blora, Minggu (15/8/2021).

Semangat itu ditemukan di komunitas sepeda Dapur Wojo saat melaksanakan aktivitas.

“Kalau dulu ada istilah sambil menyelam minum air, tapi saat ini mengamalkan lima kegiatan dikemas dalam satu aksi,” ujarnya.

Yaitu bersepeda, bersilahturahmi, berbagi sembako, membantu bibit buah-buahan dan mempromosikan wisata lokal.

Ia menjelaskan komunitas sepeda ontel Dapur Wojo secara organisasi diawaki oleh sosok pimpinan yang humoris, dermawan dan jawani bernama mbah Ngatmo, Galih dan Ngatman.

Kemudian didukung oleh tim penggerak 5 orang. Yakni, Haryanto, Daryanto, Wondo, Dedi Tc dan Iwan.

Sedangkan tim dokumentasi Subiyanto,Tomo. Mekanik Tego Mulyono, Bendahara Agus Tc, Om Ibo dan Pembina/inspirator bapak Bambang Darmo.

Para anggota berasal dari berbagai macam profesi ibaratnya NKRInya Blora, seperti ASN, para purna tugas, pegawai aktif swasta maupun negeri ada tukang becak dan Satpam, bahkan ada pejabat eselon 2.

“Semua bisa membaur jadi satu tanpa ada ,sekat, jarak dan strata sosial,” ucapnya.

Dari sisi keyakinan para anggota ada yang beraga Islam, Katolik dan aliran kepercayaan. “Barangkali itu bentuk perekat persatuan kesatuan di organisasi Dapur Wojo,” kata dia.

Kemudian sasaran kegiatan sepedahan hari ini ke desa Plosorejo kecamatan Banjarejo dengan agenda silahturahmi ke tempat Muhkholil yang sudah berkumpul orang yang akan menerima bantuan sembao dan bibit jambu kristal.

Bahkan juga sudah disiapkan makanan ringan berupa pisang godok, gembili, ketela godok, kedelai godok dan makan wajik. Secara sederhana ada sambutan dan doa.

“Saya mewakili dari Komunitas Dapur Wojo pertama mengucapkan terimakasih atas sambutan masyarakat yang penuh rasa kekeluagaan dan wajah yang memancarkan rasa senang dan kegembiraan,” ujarnya.

Kedua, sebagai bentuk rasa syukur dari para anggota Dapur Wojo ingin berbagi dan menyampaikan bantuan sembako dan bibit buah-buahan kepada kaum duafa di desa Plosorejo agar dapat ikut meringankan beban penderitaan sebagai dampak musibah Covid-19.

Kemudian, ketiga mudah-mudahan langkah ikhlas untuk berbagi bisa diterima sebagai bentuk ibadah sosial.

Berikutnya, keempat mendorong kepada masyarakat pedesaan agar memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami tanaman buah buahan agar di kelak kemudian hari dapat memberikan hasil dan menciptakan lingkungan asri dan segar terjaga kelestarian hidup.

“Kelima, memohon kepada yang hadir agar tetap melasanakan protokol kesehatan,” tambahnya.

Diluar dugaan semua sajian makanan yang lebih dibungkus diberikan kepada peserta gowes sepeda ketika rombongan akan kembali ke Blora.

Menurut, Bambang Darmo pemberian makanan tadi merupakan pelajaran yang sangat berharga, yang ternyata orang desa jiwa berbagi sangat tinggi dalam membingkai rasa kekeluargan dan persahabatan.

Demikian juga kata Daryono, bahwa berbagi atau kepyur membuat kita makmur oleh sebab itu mumpung kita masih diberi waktu untuk melihat matahari ayo kita berbagi.

Kegiatan yang sama dari Komunitas Dapur Wojo sudah ketiga kali selama masa pandemi.

Pertama di desa Purwosari Kecamatan Blora, kedua di desa Nglangitan kecamatan Tujungan.

“Demikian mudah-mudahan semangat five in one dari komunitas Speda Dapur Wojo mampu memberi inspirasi dan motivator kepada seluruh elemen masyarakat untuk terpanggil hati mereka membudayakan kegiatan berolahraga sambil silahturahmi dan berbagi kepada kaum duafa di saat musibah pandemi Covid-19,” harap Bambang Sulistya. (*).