Korandiva-BLORA.- Langit masih pucat ketika satu per satu jemaah meninggalkan saf salat Subuh di Masjid Nurul Falah, Perumnas Karangjati, Blora, Minggu (17/5/2026). Di tengah dinginnya pagi, sebuah tema sederhana namun menghentak mendadak mengisi ruang masjid: NEKAT.
Bukan nekat dalam arti serampangan. Bukan pula keberanian tanpa arah. Dari mimbar kultum tujuh menit, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., justru mengajak jemaah membaca ulang makna nekat di tengah dunia yang berubah terlalu cepat.
Era digital, menurutnya, bukan hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga ancaman bagi manusia yang lengah. Informasi bergerak liar, teknologi melompat tanpa aba-aba, sementara mental manusia sering tertinggal jauh di belakangnya.
“Mental yang tangguh, iman yang mantap, dan kemauan menjadi pembelajar seumur hidup adalah bekal utama agar kita tidak hanyut oleh zaman,” pesannya.
Tema “NEKAT” yang diangkat pagi itu lahir dari pergulatan pengalaman hidup, bacaan motivasi, hingga pitutur Jawa yang akrab di telinga masyarakat: Nekat iku berkat. Juga akronim khas wong Jawa: SUKUN — Sopo Urip Kepenak Usaha Nekat.
Namun Bambang menegaskan, Islam tidak pernah memuliakan keberanian yang membabi buta. Nekat yang benar adalah keberanian yang berpijak pada kebenaran dan tuntunan syariat.

Ia lalu mengutip Surat Al-Ankabut ayat 69 tentang janji Allah kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya. Disusul Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa perubahan nasib tidak akan datang sebelum manusia mau mengubah dirinya sendiri.
Di titik itulah, kata “nekat” memperoleh makna baru.
Nekat bukan sekadar berani mengambil risiko, tetapi keberanian untuk tetap berada di jalan benar ketika godaan datang bertubi-tubi.
Nekat untuk menjaga salat berjamaah tepat waktu di tengah kesibukan. Nekat menolak budaya ghibah yang kini justru menjadi hiburan sehari-hari. Nekat melawan rasa malas, putus asa, dan pikiran negatif yang perlahan menggerogoti kehidupan sosial masyarakat.
Sebaliknya, ia mengingatkan, ada pula nekat yang konyol dan tercela: keberanian melanggar aturan Allah demi kepentingan sesaat. Dalam situasi seperti itu, nekat berubah menjadi pintu kehancuran.

Agar mudah diingat jemaah, Bambang kemudian membumikan pesan itu dalam akronim sederhana:
N untuk Niat yang Baik, bahwa segala langkah harus bermula dari ibadah kepada Allah.
E untuk Enyahkan Pola Pikir Negatif, sebab prasangka buruk sering kali menjadi racun paling halus dalam kehidupan sosial.
K untuk Komitmen dan Konsisten, keberanian menjaga keselarasan antara ucapan dan tindakan.
A untuk Akrobatik dalam Solusi, yakni kemampuan berpikir kreatif dan keluar dari kebiasaan lama demi menemukan jalan keluar.
Dan T untuk Tegar, tetap berdiri ketika hidup sedang tidak ramah.
Kultum singkat itu terasa lebih dari sekadar tausiah Subuh. Ia berubah menjadi semacam tamparan halus bagi masyarakat yang kerap sibuk mengejar dunia digital, tetapi lupa memperkuat fondasi dirinya sendiri.
Di akhir tausiah, Bambang menutup dengan pantun sederhana yang justru menghangatkan suasana:
Buah sukun buah pepaya,
Bergizi tinggi nikmat rasanya.
Dalam kehidupan nekatlah berusaha,
Semoga tercapai bahagia dan sejahtera.
Jemaah tersenyum. Sebagian mengangguk pelan.
Pagi itu, “nekat” tak lagi terdengar kasar. Dari mimbar kecil Masjid Nurul Falah, kata itu menjelma menjadi ajakan untuk berani berubah, berani bertahan, dan berani tetap waras di tengah zaman yang terus bergerak liar.
Kegiatan kemudian ditutup dengan aksi sosial pembagian bibit kelapa genjah untuk ditanam warga sebagai amal jariah bagi lingkungan. Sebuah penanda sederhana bahwa keberanian terbaik bukan hanya soal kata-kata, melainkan juga tindakan nyata yang memberi manfaat panjang bagi sesama. (*)


