Aku, Dia, dan Secangkir Kopi di Suatu Senja

Sinar terakhir matahari sore, perpaduan indah antara oranye dan merah muda, membentang di atas meja kayu yang usang. Itu adalah tempat biasa kami, kafe kecil yang sederhana di sudut Jalan Melati, aromanya perpaduan menenangkan antara biji kopi panggang dan cahaya senja yang memudar. Dan di sana dia, Dia, siluetnya seperti lingkaran cahaya lembut di langit yang cerah.

Aku mengamatinya sejenak sebelum dia menyadariku, cara jari-jarinya yang panjang dan ramping menelusuri tepi cangkir tehnya yang kosong, sebuah gerakan kebiasaan perenungan yang tenang. Rambutnya, berwarna seperti malam tanpa bulan, terurai di bahunya, menangkap cahaya keemasan dalam kilauan yang sekilas. Bahkan dari kejauhan, aku bisa merasakan dengungan lembut kehadirannya, melodi yang telah menjadi latar musik malamku.

“Aku,” kataku, sedikit terengah-engah, saat mendekat, “terlambat lagi?”

Mata Dia, cokelat tua dan hangat seperti tanah yang disinari matahari, bertemu dengan mataku, dan senyum malu-malu perlahan mekar di bibirnya. “Tepat waktu, sebenarnya,” koreksinya, suaranya berbisik lembut yang selalu menenangkan hariku. “Momen-momen terbaik selalu datang dengan cara yang elegan.”

Aku terkekeh, menarik kursi di seberangnya. Pelayan, seorang pemuda yang sudah mengenal rutinitas kami dengan baik, sudah menyiapkan pesananku: kopi susu hitam pekat, persis seperti yang kusuka. Ia meletakkannya di depanku, uapnya naik seperti doa yang rapuh ke udara yang sejuk.

“Senja yang sempurna,” gumamku, mengaduk kopiku, bunyi sendok menjadi tanda baca kecil dalam keheningan yang tenang.

Dia mengangguk, menatap ke jalan tempat lampu-lampu jalan baru mulai menyala. “Memang. Ada sesuatu tentang waktu ini… rasanya seperti rahasia, bukan? Rahasia bersama antara dunia dan kita.”

Kata-katanya, seperti biasa, bergema dalam diriku. Percakapan kami tidak pernah dangkal. Itu adalah permadani yang ditenun dengan mimpi, ketakutan, dan keindahan tenang dari pengamatan sehari-hari. Dengan Dia, aku tidak perlu berpura-pura; aku bisa menjadi diriku sendiri.

Malam ini, rahasia itu terasa sangat kuat. Udara terasa pekat dengan emosi yang tak terucapkan, jenis emosi yang mendidih tepat di bawah permukaan senyum santai dan keheningan yang nyaman. Aku menyesap kopiku, kehangatannya menyebar ke seluruh tubuhku, mencerminkan kehangatan yang telah menetap di dadaku sejak Dia masuk ke dalam hidupku tiga bulan lalu, melalui benturan tak sengaja dan cappuccino yang tumpah.

“Kau tahu,” aku memulai, suaraku sedikit lebih rendah dari yang seharusnya, “aku menantikan malam-malam seperti ini lebih dari apa pun.”

Tatapannya kembali padaku, menatap mataku. Di matanya, aku melihat pantulan kerinduan yang sama yang membuncah di dalam hatiku. Warna jingga dan merah muda di luar semakin pekat, melukis wajahnya dengan cahaya lembut dan halus. Dunia di luar kafe terus bergegas menuju malam, tetapi di sudut kecil kami, di tengah aroma kopi dan cahaya yang meredup, waktu seolah berhenti.

“Aku juga, Aku,” bisiknya, rona merah lembut muncul di pipinya. “Aku juga.”

Dan dalam tatapan bersama yang lama itu, di tengah aroma kopi dan keindahan senja yang sempurna, aku tahu kisah kami baru saja dimulai.***

Koran DIVA Cetak Edisi 1067, Terbit Tanggal 11 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related