PDIP Blora Mulai Garap Basis Seniman Muda, Panggung Budaya Jadi Arena Konsolidasi Politik

Date:

Korandiva-BLORA.— Panggung seni budaya tradisional di Stadium Tirtonadi Reborn, Sabtu malam (25/4/2026), bukan sekadar hiburan rakyat. Di balik gegap gempita tari dan barongan yang digelar Komunitas Perawat Kesenian Blora (Korea), tersirat agenda politik yang mulai diarahkan ke basis komunitas seni budaya tradisional di Kabupaten Blora.

Pagelaran yang digagas Ketua DPC PDIP Blora Andita Nugrahanto, yang juga Ketua Fraksi PDIP DPRD Blora, sukses menyedot perhatian masyarakat. Namun lebih dari itu, kegiatan ini dinilai sebagai langkah awal PDIP merawat sekaligus mengonsolidasikan dukungan dari kalangan pelaku seni budaya, segmen yang selama ini memiliki massa besar dan akar sosial kuat di tingkat desa.

Andita menyebut kegiatan tersebut sebagai upaya menumbuhkan semangat budaya di kalangan generasi muda.
“Harapan kami anak-anak muda Blora menjaga budaya Blora, semangatnya pemuda Blora berbudaya,” ujarnya.

Namun di balik narasi pelestarian budaya, publik menangkap adanya upaya membangun kedekatan politik dengan komunitas seni tradisional yang jumlahnya tidak sedikit. Puluhan ribu pelaku seni budaya di Blora merupakan ceruk sosial yang potensial menjadi basis simpatisan politik.
Strategi semacam ini bukan hal baru. Panggung budaya kerap menjadi medium efektif untuk membangun loyalitas sosial sekaligus menanam pengaruh politik, terutama ketika kegiatan dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan.
Apalagi Andita menegaskan bahwa agenda “Wong Abangan Blora” akan digelar rutin dan berkeliling ke 16 kecamatan di Kabupaten Blora.

“Supaya seni tari dan barongan makin membumi di Blora,” katanya. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa panggung seni bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga berpotensi menjadi alat penetrasi politik berbasis komunitas. Ketika ruang budaya dikemas dalam simbol, jaringan, dan figur politik tertentu, maka batas antara pelestarian budaya dan konsolidasi elektoral menjadi semakin tipis.

Pembina seni dari Desa Purwosari, Deni, menilai seniman memang tidak bisa dilepaskan dari politik karena kebijakan pemerintah menentukan arah perkembangan ekonomi kreatif.
“Seni budaya adalah bagian dari ekonomi kreatif untuk meningkatkan pariwisata daerah,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa politik dan seni memang saling beririsan. Namun persoalannya, ketika dukungan terhadap seni dibangun oleh kekuatan politik tertentu, maka muncul pertanyaan: apakah panggung budaya ini murni pemberdayaan seni, atau bagian dari investasi politik jangka panjang?
Dengan kekuatan massa besar dan kedekatan emosional dengan masyarakat akar rumput, komunitas seni budaya tradisional kini menjadi lahan strategis bagi perebutan pengaruh politik. Dan di Blora, tanda-tanda itu mulai terlihat jelas: budaya dipentaskan, jaringan dirawat, dan basis massa mulai dipetakan. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1066, Terbit Tanggal 27 April 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related