Berkah di Ujung Ramadan: Senyum Warga Karangjati Menyambut Sedekah “Bude Rini”

Korandiva-BLORA.- Peribahasa lama itu terasa hidup di sore yang hangat di Perumnas Karangjati, Blora. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Di saat kebutuhan kian mendesak menjelang Idulfitri, bantuan justru hadir tanpa diduga.
Kamis, 19 Maret 2026, halaman sebuah rumah di Jalan Mliwis No. 44, RW V, menjadi saksi kebahagiaan sederhana. Warga dari berbagai penjuru datang dengan wajah penuh harap—para pemulung, tukang becak, penjual tape, hingga petugas kebersihan dan satpam perumahan. Mereka bukan sekadar hadir, tetapi membawa cerita hidup yang sama: bertahan di tengah keterbatasan.
Di tempat itulah, paket-paket sembako dibagikan. Bantuan dari Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini—yang akrab disapa “Bude Rini”—menjadi lebih dari sekadar kebutuhan dapur. Ia menjelma menjadi harapan.
Mewakili kehadiran beliau, Ir. H. Bambang Sulistya, mantan Sekda Blora sekaligus Ketua PWRI, membuka acara dengan ungkapan syukur. Suaranya tenang, namun sarat makna. Ia mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang berbagi dan merawat kepedulian.
“Tahun ini adalah kali kedua kegiatan ini dilaksanakan sejak beliau menjabat,” tuturnya. Sebuah kalimat sederhana, namun cukup untuk menunjukkan bahwa kepedulian itu bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen yang terus dijaga.

Suasana kemudian mencair. Dalam keakraban, Bambang melempar pertanyaan ringan tentang nama Bupati dan Wakil Bupati Blora. Serentak warga menjawab penuh semangat. Tawa pun pecah ketika seorang warga, Usrok, dengan bangga menunjukkan kaus bergambar pasangan “ASRI” yang dikenakannya.
Namun, momen paling hangat justru datang dari pesan yang dititipkan Bude Rini. Ia mengajak warga untuk tetap menjaga kekompakan, merawat kerukunan, dan saling menguatkan dalam kebersamaan. Sebuah pesan sederhana, tetapi terasa dalam di tengah kehidupan masyarakat yang saling bergantung satu sama lain.
Ketua RW V, Agus Budi S., tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Baginya, sedekah di bulan Ramadan bukan hanya soal memberi, tetapi juga tentang keberkahan yang berlipat. Ia bahkan merangkumnya dalam satu kata: SURGA.
S—Selalu dimudahkan dalam tugas.
U—Umur panjang dan bermanfaat.
R—Rezeki yang berkah.
G—Terhindar dari bencana.
A—Jaminan kebahagiaan di akhirat.
“Ini bukan sekadar bantuan. Ini doa yang berjalan,” ujarnya pelan.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat, Sutardi. Ia melihat ada keseimbangan yang indah: ketika pemimpin hadir untuk rakyat kecil, maka rakyat kecil pun dengan tulus mendoakan pemimpinnya. Sebuah hubungan yang tak tertulis, tetapi terasa kuat.
Menjelang penutupan, doa dipanjatkan bersama. Dipimpin oleh Modin Sadikin, suasana berubah hening. Beberapa warga menengadahkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Mungkin bukan hanya karena sembako yang diterima, tetapi karena merasa diperhatikan.
Tepuk tangan yang mengakhiri acara itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah ungkapan terima kasih yang tulus—dari hati yang sederhana. Di penghujung Ramadan, di tengah keterbatasan, kebahagiaan ternyata bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sekarung sembako, sapaan hangat, dan rasa bahwa mereka tidak sendiri. (*)



