Arsip Tag: Wayang

Kunjungi Penggemarnya, Ketoprak Gendong Budoyo Main Lagi di Genjahan-Jiken

BLORA.-

Kesenian dan budaya Ketoprak masih bertahan di Pulau Jawa, tidak terkecuali di kalangan masyarakat Blora. Seperti yang disaksikan pada Minggu 28 Agustus 2022, di wilayah Dukuh Klampok Desa Genjahan Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, ratusan warga desa menyaksikan pagelaran ketoprak humor “Gendong Budoyo” yang masih penuh dengan kreasi.
Gawok Sutrisno selaku pimpinan ketoprak Gendong Budoyo mengungkapkan, bahwa pentas seni ketoprak ini diperankan oleh semua warga RW 03 Dukuh Klampok, Desa Genjahan. Dengan adanya Pandemi Covid-19 kemarin warga Dukuh Klampok vacum, tidak membuat acara seperti ini.
“Karena itu, antusias warga untuk menonton acara ketoprak sangat besar. Jumlah penonton banyak sekali, hampir sekitar 500 orang berbondong-bondong melihat ketoprak humor di sini,” ujarnya.“Semoga di tahun ini atau tahun-tahun mendatang, semua masyarakat, khususnya warga Dukuh Klampok bisa menikmati hiburan ketoprak lagi,” harap Gawok.
Ketua RW 03 Dukuh Klampok Desa Genjahan, Rukimin mengaku sangat senang dan bangga bisa menyelenggarakan acara ketoprak humor.
“Selama ini warga di sini merasa haus hiburan, jadi sebagai ketua RW saya sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah berupaya demi terselenggaranya acara ketoprak humor ini,” ungkap Rukimin. (*)

Rangkaian Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77 di Wulung-Randublatung Ditutup Pementasan Wayang Kulit Semalam Suntuk

BLORA.-

Menutup rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77, Pemerintah Kelurahan Wulung Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora mengadakan malam pentas seni dengan menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk di Gedung Serba Guna Kalurahan Wulung, Kamis (25/08/2022).
Berbagai lomba yang dilaksanakan sejak awal Agustus 2022, diakhiri dengan pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh dalang cilik yang sudah kondang di wilayah Blora Selatan yaitu Ki Zamroni
Kegiatan yang merupakan malam puncak hiburan itu dihadiri oleh Asisten 1 Setda Blora Irfan Agustian Iswandaru AP.M.Si, Camat Randublatung Sutarso S.Sos.M.Si, Danramil Kapten Chd Sudiyono, dan Kapolsek AKP Les Pujiyanto, serta warga penggemar wayang kulit.
Kepala Kelurahan Wulung Tarmidi S.Sos pada kesempatan itu menyampaikan ucapan tirimakasih atas kehadiran Asisten Setda Irfan Agustia Iswandaru beserta Forkompimcam Kecamatan Randublatung yang hadir pada halam itu.


“Juga kepada semua elemen masyarakat yang turut mendukung rangkaian kegiatan dari awal Agustus sampai akhir, saya ucapkan terimakasih,” ujar Tarmidi.
Sementara itu Asisten 1 Setda Blora Irfan Agustian Iswandaru dalam sambutannya memaparkan terkait APBD Kabupaten Blora, sebagaimana yang pernah disampaikan Bupati Blora Arief Rohman beberapa waktu lalu, dalam kegiatan Blora menyapa di Desa Kembamg Kecamatan Banjarejo dan Desa Kedungringin Kecamatan Tunjungan.
“Anggaran infrastruktur Tahun 2022 naik tiga kali lipat, yang biasanya Rp 106 miliar sekarang naik menjadi hampir Rp 280 miliar,” kata Irfan.
Irfan juga memaparkan hal yang berkaitan dengan program pertanian, salah satunya adalah potensi penanaman kedelai.
“Kita dapat bantguan di bidang pertanian, untuk penanaman kedelai akan dikasih bantuan bibit dan pupuk gratis. Kita diberikan jatah 10 ribu hektar, monggo nanti yang siap segera didaftar,” pungkasnya. (*)

Rayakan 1 Suro, Kelurahan Mlangsen Adakan Pagelaran Wayang Kulit

BLORA.-

Merayakan 1 Suro 1444 H, warga masyarakat Kelurahan Mlangsen Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Sabtu (30/07/22) mendapat suguhan pagelaran wayang kulit.
Disamping sudah kangen tontonan tradisional, tingginya antusias warga untuk menyaksikan wayang kulit dikarenakan adanya undian doorprize dengan hadiah utama berupa sepeda yang dikhususkan bagi warga Kelurahan Mlangsen. Pagelaran wayang berlangsung di Jalan Kenanga, Pasar Pitik Koplakan Blora.
Suwarji, warga RT.01/RW.02 Mlangsen, adalah orang yang beruntung pada hari itu karena sudah mendapatkan hadiah sepeda. “Akan saya berikan kepada cucu yang baru sekolah SD,” ujarnya.
Sementara itu Lurah Mlangsen Mugito mengatakan, bahwa pagelaran wayang kulit ini diselenggarakan dalam rangka peringatan 1 Suro yang diadakan rutin setiap Tahunan oleh warga Mlangsen.
“Tetapi karena adanya pelarangan hiburan selama 2 tahun akibat pandemi, kita juga mematuhi aturan,” ujar Mugito.
Pesan Lurah Mugito, walaupun pada kesempatan ini bisa dilaksanakan lagi tetapi harus tetap hati-hati. Karena pandemi masih Ada.
“Wayangan ini merupakan puncak dari rangkaian acara yang dimulai sejak Jumat atau Malam 1 Suro, dan sore tadi diadakan acara Tahlilan,” papar Mugito. (*)

Wayang, Esensi Ceritanya sesuai Dakwah Sunan Kalijaga

Masyarakat harus bangga dengan wayang sebagai seni budaya warisan leluhur. Hal itu disampaikan Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora Bam-bang Sulistya, Jumat (18/2) lalu.

Bambang mengaku bersyukur pada Jumat berkah yang sejak pagi hingga waktu shalat Jumat diguyur hujan, ia kedatangan ta-mu yang membawa buah tangan istimewa, yaitu sebuah lukisan wayang Semar yang dilukis di atas kaca dengan pigura kayu jati khas Blora.

Lukisan itu hasil karyanya yang diniatkan secara ikhlas akan diberikan untuk kesenangan orang lain yang menyukai sosok wayang, Sang Pamomong.

“Kebetulan saya penggemar berat tokoh wayang Semar, sejak saya mulai bekerja tahun 1981. Saya tertarik tokoh wayang Se-mar karena figur ini selain seba-gai pengasuh juga sekaligus pe-nasehat para kesatria,” terang mantan anggota DPRD Blora itu.

Setiap bertutur selalu menghibur sehingga orang yang sedih menjadi gembira. Orang yang sedang susah bisa tertawa.

Ucapan dan perilaku bisa jadi panutan oleh siapapun yang memiliki hati nurani. Sosok Semar yang selalu tumaninah mengawal kebenaran dan suara hati para pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.

“Tamu itu bernama Siswoyo (64), pensiunan kepala sekolah diperbantukan di SMP Rimba Taruna yang saat ini menjadi Ketua PWRI Kecamatan Randublatung,” jelasnya.

Siswoyo gemar wayang dan suka melukis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Menurut Siswoyo, wayang adalah seni dan budaya yang adiluhung dalam Budaya Jawa.

Dilihat dari aspek falsafahnya, wayang merupakan gambaran kehidupan manusia yang mence-ritakan peperangan antara kebatilan atau angkoro murka dengan kebenaran.

Akhirnya kebenaran pasti akan menjadi pemenang. Ia mencotoh-kan dalam kisah Mahabarata kemenangan Pandawa terhadap Kurawa.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman pribadi orang yang menyukai wayang tidak akan mengurangi keyakinan sebagai orang muslim.

Karena cerita wayang sudah sesuai dengan arahan dan esensi dari dakwah Sunan Kalijaga, salah satu wali songo penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai media dakwahnya dengan mengenalkan Islam melaluhi pertunjukan wayang yang sangat digemari masyarakat.

Melalui wayang inilah Sunan Kalijaga menanamkan nilainilai ketauhidan, ajaran syariat, serta nilai akhlak berdasarkan agama Islam.

Dari ajaran Sunan Kalijaga inilah Islam yang rahmatan lil alamin, yaitu Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta bisa tumbuh dan berkembang dan sangat dicintai masyarakat.

Bahkan menurut ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Shola-huddin Al-Aiyub, menjelaskan terkait Hukum wayang ini dapat dijelaskan melaluhi tujuan penggunaan wayang dan hukum Obyek wayang itu sendiri.

Pendapatnya, umumnya wa-yang dikenal secara luas digunakan dengan tujuan menyampaikan imformasi, nilai-nilai kebaikan hingga sarana dakwah Islam sehingga dari sisi ini tidak alasan yang membuat wayang menjadi haram.

Sesuatu yang bernilai positif hingga membawa kebaikan,maka sesuatu itu dalam Islam diperbolehkan bahkan diajarkan.

Adapun hukum Islam terkait objek wayang itu sendiri dalam Islam disebut mubah atau boleh, bukan menjadi benda yang dilarang.

Siswoyo menyimpulkan bahwa wayang dalam kehidupan di masyarakat adalah sebagai media hiburan, pendidikan, penerangan, seni, pemahaman filsafat dan media dakwah. Karena wayang merupakan budaya adiluhung maka sepantasnya kita ikut uri-uri dan melestarikan warisan nenek moyang. (*).

Wayang Thengul Bojonegoro

WAYANG THENGUL adalah salah satu jenis seni pewayangan dari Bojonegoro. Seni pertunjukan wayang dari Bojonegoro ini terbuat dari kayu berbentuk boneka yang diberi pakaian serta asesoris sesuai dengan kedudukan dan perannya.

Referensi wayang thengul sangat minim, dari beberapa buku mengenai wayang, ternyata wayang thengul belum tercatat. Wayang thengul telah menjadi ikon kesenian Bojonegoro. Untuk mengembangkan wayang thengul, seniman Bojonegoro, menciptakan Tari Thengul.

Beberapa dalang wayang thengul Bojonegoro, ternyata jarang yang bisa menceritakan sejarah wayang thengul ini. Bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, yang menyatakan wayang thengul sebagai ikon, juga belum mempunyai catatan mengenai sejarah wayang thengul.

Santosa (67 tahun) warga Desa Padangan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, dalang wayang thengul dan wayang krucil yang sekaligus menjadi perajin kedua jenis wayang tersebut, mungkin satu-satunya yang mempunyai catatan atau setidak-tidaknya ceritera mengenani wayang thengul. Beliau menggeluti dalang wayang thengul sejak masih muda, sekitar usia 14 pada tahun 1959. Beliau keluar dari bangku sekolah STN (Sekolah Teknik Negeri) Padangan Bojonegoro kelas dua, untuk menggeluti seni pedalangan wayang thengul.

Wayang thengul muncul sekitar tahun 1930, seorang pemuda bernama Samijan dari Desa Banjarjo, Kecamatan Padangan membuat wayang boneka yang menyerupai wayang menak yang pada waktu itu sudah terkenal di wilayah Kudus. Kemungkinan, Samijan terinspirasi wayang menak Kudus, yang penyebaran meluas sampai Padangan berbatasan dengan Cepu, Kabupaten Blora, yang pada waktu itu wayang menak Kudus sebagai media siar agama Islam.

Jika Wayang Golek Menak sebagai media siar agama Islam, lain halnya dengan Samijan. Niat membuat wayang thengul selain untuk mengembangkan kreatifitas seninya, juga untuk mencari nafkah hidup, karena pada tahun 1930an perekonomian rakyat sangat sulit. Dia membuat wayang thengul untuk mengamen, berniat keliling dari desa satu ke desa lainnya (mengembara). Niat yang kuat untuk keliling (mengembara) dalam bahasa Jawa “methentheng niyat ngulandara” dengan mengamen mendalang wayang boneka kayunya, yang dijadikan nama wayangnya dengan sebutan thengul (theng dari akronim methen theng, dan ngul dari kata ngul andara). Namun juga ada yang mengartikan karena wayang thengul ini kepalanya dapat digerakan ke kiri ke kanan, atau methungal menthungul , maka lalu disebut thengul.

Tidak menduga niatan Samijan membuat wayang thengul yang semula hanya untuk mengamen, ternyata dari hari ke hari yang menanggap semakin banyak. Bukan saja di Padangan, tetapi sampai ke Bojonegoro, Dander, Kanor bahkan sampai wilayah Tuban. Yang menanggap tidak hanya sekedar sebagai hiburan, ari kelompok pengamen, bahkan untuk keperluan hajatan mulai berkembang.

Satu kotak wayang Samijan yang dibawa untuk ngamen keliling, dinamakan Wayang Geyer. Nama ini bisa jadi karena beratnya wayang satu kotak, sehingga membawanya yang dengan cara dipikul hingga nggeyer-nggeyer (merasakan beratnya mengangkat beban). Dari nama Wayang Geyer ini, nama Samijan pun terkenal dengan sebutan Ki Dalang Geyer.

Ketenaran Dalang Geyer Samijan dengan wayang thengulnya berjalan hingga tahun 1950-an. Waktu itu penanggap wayang thengul belum merasa puas kalau belum menanggap

dhalang Geyer. Dan nama geyer sangat identik dengan wayang thengul, sehingga seorang dalang wayang thengul di Bojonegoro pun akhirnya dikenal dengan sebutan dalang geyer.

Penerus Samijan ada-lah Tayib dari Desa Caper Kecamatan Batokan yang sebelumnya sebagai penabuh gamelan (niyaga) yang setia mengikuti Samijan. Karena Samijan tidak memiliki anak, maka penerusnya bukan keturunannya tetapi orang lain.

Wayang thengul Bojonegoro, mengambil bentuk dan pakaian mirip kethoprak. Lakon-lakon yang digelar sangat variatif, terutama dalam kisah babad atau cerita rakyat. Untuk wilayah Bojonegoro yang terkenal dengan kisah atau cerita Anglingdarma, Babad Jipang, Babad Ronggolawe. Cerita Panji, Babad Majapahit juga sering dipentaskan.

Gamelan pengiring menggunakan gamelan laras slendro atau pelog, juga diiringi waranggana. Layar bagian tengah terbuka, berbeda dengan layar (geber) wayang kulit yang layar backgroundnya berupa lembaran kain penuh. Pada pakeliran wayang thengul layar bagian tengah terbuka atau diberi lubang diperuntukan sebagai media pementasan gerak wayang, sehingga kalau ditonton dari belakang layar akan tampak bentuk wayang dan pergerakan dalang, lain halnya dengan wayang kulit yang hanya terlihat bayangan siluetnya karena sorotan cahaya (lighting) dari arah muka. Panjang layar pun tidak sepanjang wayang kulit, hanya sekitar 3 meter sampai 4 meter.

Wayang-wayang lainnya dijajar di sisi kiri dan kanan dari bagian layar yang terbuka. Gunungan (kayon, makara) terbuat dari ikatan bulu ekor merak, diikat berjajar ditancapkan seperti kepala raksasa yang menghadap ke muka. Dalam satu kotak wayang thengul terdiri dari 70 sampai 80 buah. Tempat dudukan (tancapan) wayang menggunakan batang pisang.

Wayang thengul tak jauh berbeda dengan wayang Golek Menak Kudus, atau wayang Golek Jawa Barat, di mana bagian kepalanya dapat digerakkan ke kanan ke kiri, bahkan mendongak ke atas.

Wayang thengul yang awalnya untuk mengamen, dalam perkembangannya juga untuk pagelaran hajatan, seperti khitanan, perkawinan, membayar nazar, untuk upacara adat seperti bersih desa, di Bojonegoro dengan istilah manganan. Lama pagelaran antara 6-7 jam, terkadang juga siang malam. Bahkan sekarang juga untuk ruwatan atau murwa kala.

Pakem bentuk wayang hanya tokoh-tokoh tertentu, untuk peran tokoh raja, ksatriya, atau patih yang tidak populer bisa menggantikan peran lain yang selaras. Tokoh-tokoh seperti Menak Jingga, Kecanawungu, Damarwulan, Maudara, Aria Penangsang, Ronggolawe, dan lainnya yang memiliki spesifikasi karakter, dibuatkan bentuk tersendiri.

Dalam pagelaran wayang thengul tidak ada tokoh punakawan yang spe-sifik, seperti wayang kulit terdapat Semar, Gareng, Petruk, Bagoong atau wayang krucil Bancak, Do-yok, atau Sabdapalon, Nayagenggong. Punakawan dalam wayang thengul bisa dimunculkan dengan kreatifitas dalangnya namanya pun menyesuaikan dengan lakon yang digelar.

Untuk cerita Babad Majapahit ada punakawan yang dikenal dengan nama Nayagenggong dan Sabdapalon, untuk ceri-tera Panji dikenal puna-kawan Bancak dan Doyok. Dalam cerita babad atau cerita sejarah jarang me-nampilkan tokoh puna-kawan, kalau pun ada nama tokoh punakawan yang ditampilkan tergantung dari kreatifitas dan imajinasi dari dalang itu sendiri, sebagai selingan.(*)