Beranda blog Halaman 74

Proyek Dikerjakan Anak Kades, Inspektorat Pati Lakukan Audit di Desa Dengkek

0

Korandiva – PATI.- Dugaan penyalahgunaan dana anggaran proyek Desa Dengkek yang menyeret nama Kepala Desa Muhammad Kamjawi masih terus bergulir dan memasuki babak baru.

Berdasarkan laporan warga masyarakat beberapa waktu lalu terkait anggaran dan proyek di Desa Dengkek yang tidak kunjung selesai, sejumlah petugas dari Inspektorat Pati datang untuk melakukan audit pada Selasa (21/1/2025).

Namun disayangkan tim Inpektorat terkesan terburu-buru meninggalkan lokasi ketika hendak dimintai keterangan oleh awak media terkait hasil audit yang dilakukan di Kantor Desa Dengkek.

Sementara itu terkait proyek desa yang disebut tidak beres, awak media sempat menemui Ngarijan, salah satu warga mengungkapkan kepada awak media, bahwa menurut petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) saluran irigasi di Desa Dengkek disebut tidak layak.

Hal tersebut terungkap karena Ngarijan sempat mengikuti petugas dari DPU yang turun ke lapangan untuk mengecek saluran air irigasi. “Orang PU tadi menyatakan tidak layak dari sisi bahan bangunan, dan tidak ada pintunya. Saya saksinya sendiri ketika ngecek saluran air itu,” ungkapnya.

Ngarijan juga menambahkan, bahwa proyek irigasi tersebut dikerjakan oleh anak kepala desa sendiri. “Proyek ini sing (yang) garap ya anaknya Kades. Tidak punya CV atau apa, pokoknya asal garap. Haruse kan lelang atau swakelola tetep ada pengumuman siapa yang garap, tapi ini gak ada pengumuman, asal garap saja,” tambahnya.

Di sisi lain ada warga yang mengatakan, kepala desa setempat pernah mengungkapkan bahwa warga masyarakat Desa Dengkek susah diajak bekerja sama membangun desa.

Kabar tersebut dibantah Mustar, warga Desa Dengkek yang lainnya. Menurut Mustar, bukan tidak mau namun bentuk kerja sama yang ditawarkan justru merugikan warga.

“Saya pernah ikut mengerjakan proyek desa, kerja seminggu kok cuma dibayar 2 hari, akhirnya pekerjanya mogok semua. Akhirnya dibayar lunas setelah menunggu lama. Siapa yang mau kerja kalau bayarnya seperti itu,” ungkapnya.

Tidak sampai di situ, bahkan ada warga yang berani menegaskan bahwa hampir semua proyek di Desa Dengkek bisa disebut tidak layak. Hal itu seperti disampaikan oleh Kunardi, warga Desa Dengkek lainnya. “Kalau dicek, semua bangunan yang ada di Desa Dengkek ini semuanya tidak layak,” tegasnya.

Sementara itu ketika diminta penjelasan dan konfirmasinya, Ariyanto pihak dari Dinas PU bagian bangunan gedung enggan memberikan komentarnya karena tidak ingin ada informasi yang simpang siur.

“Saya dari PU hanya bertugas mengecek kondisi bangunan saja. Kalau koordinasi langsung ke Inspektorat saja, saya tidak berani omong takuit salah,” tutupnya. (*)

Kepala Desa se-Kecamatan Jati Hadiri Arisan Bersama Istri di Kediaman Kades Tobo

0

Korandiva – BLORA.- Kepala desa se-Kecamatan Jati beserta istri, berkumpul di kediaman Kepala Desa Tobo, Kecamatan Jati Kabupaten Blora dalam acara arisan rutin, Selasa (22/1/2025).

Arisan yang digelar setiap bulan tanggal 10 ini tak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga membahas isu-isu terkait pemerintahan desa. “Alhamdulillah, acara berlangsung dengan penuh keakraban,” ujar Kades Tobo, Edi Supoyo.

Hadir dalam kesempatan tersebut Plt Camat Jati Tulus Setyono S.Pt, Danramil 11 Jati Kapten Infanteri Suparyono, dan Kapolsek Jati AKP Sugiman SH. Kehadiran para pejabat ini turut memberikan nuansa resmi dalam kegiatan tersebut.

Plt Camat Jati, Tulus Setyono S.Pt, menyampaikan informasi terkait pengajuan dana tahun 2025 yang dapat dimulai Februari mendatang. “Diharapkan penyelesaian administrasi Tahun 2024 tidak menjadi kendala,” pesannya.

Danramil 11 Jati, Kapten Infanteri Suparyono, turut memberikan pandangannya dalam pertemuan tersebut. Pesan-pesan penting disampaikan guna mendukung kelancaran kegiatan pemerintahan desa.

Acara ditutup dengan suasana kehangatan antar peserta, mempererat hubungan baik antara kepala desa dan pemerintah setempat. (*)

Pelaku Curanmor di Perumahan Bhayangkara Residence-Jepon Dibekuk Polisi

0

Korandiva – BLORA.– Unit Reskrim Polsek Jepon Polres Blora berhasil membekuk seorang pelaku tindak pidana pencurian sepeda motor (curanmor) yang terjadi pada Sabtu, 18 Januari 2025, di Perumahan Bhayangkara Residence, Jepon, Kabupaten Blora.

Sepeda motor yang dicuri adalah Honda Beat warna hitam silver Tahun 2023 dengan nomor polisi K-4431-BAE. Kasus pencurian sepeda motor milik korban Miftahul Fauziah tersebut langsung ditindaklanjuti oleh petugas Unit Reskrim Polsek Jepon.

Pelaku yang diketahui bernama Fajar Sigit Cahyono, ditangkap setelah petugas berhasil melacak keberadaannya berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat.

Setelah melakukan penyelidikan, petugas mendapatkan petunjuk yang mengarah pada Fajar Sigit Cahyono, seorang residivis yang pernah menjalani hukuman di Lapas Bojonegoro.

Pada Rabu, 22 Januari 2025, sekitar pukul 13.00 WIB, Unit Reskrim Polsek Jepon yang dipimpin oleh IPDA Mariyono SH langsung bergerak menuju wilayah Malo, Kabupaten Bojonegoro setelah memperoleh informasi mengenai keberadaan pelaku. Sekitar pukul 18.00 WIB, petugas berhasil mendeteksi Fajar yang sedang melintas di Jalan Malo-Kedewan, diantar oleh seorang tukang ojek.

Petugas langsung melakukan penangkapan dan berhasil mengamankan pelaku tanpa perlawanan. Kini, Fajar Sigit Cahyono diamankan di Polsek Jepon untuk proses hukum lebih lanjut. (*)

Lakukan Perlawanan, Petani Pundenrejo Gelar Aksi Teatrikal di Halaman Kantor BPN Pati

0

Korandiva – PATI.- Menyambung aksi protes di gedung DPRD Pati beberapa waktu lalu, sejumlah petani Desa Pundenrejo juga menggelar demonstrasi di halaman kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pati.

Kelompok tani yang menamakan diri sebagai Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo (Germapun), dalam aksinya mereka membawa pohon pisang yang ditanam di halaman kantor BPN Pati sebagai bentuk simbolis tuntutan mereka.

Spanduk bertuliskan pernyataan sikap juga mereka bentangkan yang bertuliskan antara lain; “PT LPI Ojo Kemaruk”, “BPN Harus Pro Rakyat”, “Pati Bumi Mina Tani LPI”, “LPI Harus Minggat”, hingga tulisan “Lahan Ben Ditanduri Petani Wae”.

Menghadapi sengketa yang tengah bergulir para petani sepakat memperjuangkan tuntutan yang berisi:
“Hentikan proses permohonan hak pakai PT Laju Perdana Indah di atas tanah garapan petani Pundenrejo”.
“Apabila tidak, akan tetap berada di BPN sampai ada sikap kongkrit dari Kepala Kantor BPN Pati”.
Menuntut kantor BPN Pati untuk mengembalikan tanah petani Pundenrejo”.
“Melibatkan tim gugus reformasi agraria Pati”.

Melengkapi aksi protes, para petani juga menampilkan adegan teatrikal yang menggambarkan situasi sengketa dimana dalam aksi ada sejumlah petani yang seolah-olah menggarap lahan dan menanam pohon pisang dan datanglah sekelompok preman yang merusak tanaman mereka.

“Begitulah kenyataan yang kami hadapi di Desa Pundenrejo. Preman yang dibawa oleh PT LPI datang untuk merusak hasil usaha kami,” ungkap salah seorang petani.

Sengketa yang dimulai dari perselisihan lahan yang terjadi antara petani Desa Pundenrejo dengan PT Laju Perdana Indah (LPI) ini karena para petani merasa PT LPI menguasai lahan sehingga mereka tidak bisa mengolahnya.

Sementara itu Hak Guna Usaha (HGU) PT LPI saat ini sudah tidak berlaku lagi. Dan tengah mengajukan permohonan perpanjangan terkait hal tersebut sehingga bisa mengelola lahan di Desa Pundenrejo kembali.

Berangkat dari perihal tersebut, memicu perselisihan yang berakibat pada sengketa dan aksi para petani yang menyerukan bahwa dengan alasan tanah tersebut adalah warisan leluhur sejak zaman kolonial Belanda, maka BPN dituntut untuk tidak menyetujui permohonan perpanjangan HGU yang diajukan oleh PT LPI.

Sarmin salah satu petani Desa Pundenrejo bahkan bertekad untuk memperjuangkan kembalinya tanah yang dianggap dirampas oleh pihak kapitalis.

“Tanah ini adalah milik nenek moyang kami yang dulu dirampas oleh Belanda, dan kini kembali dirampas oleh pihak kapitalis. Kami bertekad untuk merebut kembali tanah ini untuk warga Pundenrejo,” tegasnya. (*)

Skandal Perselingkuhan Guru di SMP 1 Juwana Diduga Berkedok Surat Tugas Palsu

0

Korandiva – PATI.– Mencuatnya kabar oknum guru SMP 1 Juwana berinisial WLSS yang berselingkuh, dan dugaan memalsukan surat tugas dinas luar kota kembali menjadi sorotan publik dan bisa mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Pati.

YT menceritakan perihal mantan istrinya berinisial WLSS yang berselingkuh dengan AGS yang notabene adalah wakil kepala sekolah di tempat tugas yang sama yaitu SMPN 1 Juwana Pati.

YT menyebutkan bahwa skandal perselingkuhan terkuak sejak ditemukannya chat mesra AGS di HP milik WLSS. Dari chat itu juga terkuak adanya surat tugas ke luar kota yang pernah ditunjukkan WLSS kepada YT pada tahun 2022, saat mereka masih berstatus sebagai suami istri.

“Saya yakin surat tugas tersebut palsu, hanya sebagai alasan agar mereka bisa menginap bersama ke luar kota,” ujar YT.

YT yang menilai perbuatan AGS dan WLSS sudah mencoreng dunia pendidikan dan mengakibatkan hencurnya rumah tangganya sudah melaporkan kasus ini kepada kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati namun tidak pernah ada tanggapan atau tindak lanjut berupa teguran atau sanksi kepada yang bersangkutan. “Buktinya AGS dan WLSS hingga saat ini masih bisa leluasa beraktivitas di lingkungan sekolah yang sama,” kata YT dengan nada kecewa.

Kepala SMPN 1 Juwana, Amin Aolawi ketika ditemui YT pada Senin (20/2/2025) membenarkan bahwa pada awal tahun 2024 kedua belah pihak AGS dan WLSS sudah pernah dipanggil oleh Dinas Pendidikan, namun tidak ada sanksi apapun dari kedinasan karena tidak terbukti ada pemalsuan surat atau dokumen yang dituduhkan kepada AGS dan WLSS.

Mendengar jawaban kepala sekolah seperti itu, YT mengatakan bahwa surat yang diduga palsu dan pernah ditunjukkan (dalam HP) WLSS kepadanya sekarang tidak berada di tangannya. “Saya tidak sempat memfoto surat itu sebagai barang bukti,” keluhnya.

Dari kronologi yang terjadi hingga berita ini diturunkan, pihak kepala SMPN 1 Juwana justru merasa dirugikan oleh YT yang melempar fitnah tanpa bisa menunjukkan barang bukti berupa dokumen atau surat yang disebutnya palsu tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Kepala SMPN 1 Juwana Amin Aolawi juga mengisahkan, bahwa WLSS pernah menghadap untuk mengutarakan niatnya berpisah atau bercerai dari YT karena diduga suaminya itu sudah memiliki wanita idaman lain.

“Pada saat itu saya sempat menasehati untuk mereka mempertahankan pernikahan dan tidak bercerai.” ujar Amin Aolawi.

Bukan hanya pihak WLSS, kepala sekolah juga mengungkapkan bahwa pihak YT sendiri pernah menemui kepala sekolah untuk mengkomunikasikan hal yang sama yaitu tentang rencana perceraiannya, dan bukan perkara surat tugas palsu yang diduga dilakukan oleh AGS dan WLSS. (*)

Konsisten sejak Tahun 2021, PWRI Blora Promosi Batik Bermotif Arjuna-Srikandi

0

Korandiva – BLORA.– Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora terus menggapai asa dan konsisten mempromosikan batik bernuansa Blora dalam rangka ikut uri-uri atau melestarikan hasil karya Bangsa Indonesia, sekaligus merupakan budaya adiluhung Bangsa Indonesia yang telah diakui dunia.

Hal tersebut dibuktikan dalam rapat perdana pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora atas usul cerdas dari H. Umartono, SH., mantan Asisten dua Sekda Kabupaten Blora diselenggarakan di rumah pribadinya Sabtu (18/1/2025).

Dengan alasan dan pertimbangan untuk meningkatkan rasa K3 : Kekompakan, Kekeluargaan dan Kerukunan. Mengingat dalam tahun 2025 konon prediksi dari para winasis tahun 2025 merupangan tahun penuh tantangan, perubahan, tranformasi dan keberuntungan.

Sehingga diperlukan spirit gemar bersilaturahmi untuk mewujudkan Guyub Rukun Pasedularan Sak Lawase.
Sengaja diagendakan pula para peserta rapat menggunakan Batik ASRI ciri khas Blora karya dari Drs.H Subagyo, MM., salah satu pengurus PWRI Kabupaten Blora.

“Batik ASRI tersebut sudah digunakan sebagai seragam pengurus dan anggota PWRI sejak empat tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 15 Januari 2021,” terang Ir. Bambang Sulistya, Ketua PWRI Kabupaten Blora, di Blora, Senin (20/1/2025).

Ia menyebut, dulu tujuan pemakaian seragam batik nuansa Blora tersebut dalam rangka para pengurus PWRI ikut cawe-cawe, nguri nguri dan melestarikan hasil karya anak Bangsa Indonesia yang merupakan budaya adiluhung dari para pendahulu kita yang telah diakui dunia.

Disamping itu saat dibuatnya batik ASRI diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk mendongkrak perekonomian industri rumah tangga yang bergerak di bidang seni batik.Karena saat itu masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Pemakaian seragam batik ASRI diperuntukan untuk kegiatan informal seperti untuk silaturahmi, resepsi, rekrasi, menjenguk orang sakit, takziah dan berbagai kegiatan informal lainya,” jelasnya.

Dijelaskan, batik itu dinamakan batik ASRI karena pada batik itu ada dua gambar wayang figur yang sangat populer, yaitu Arjuna dan Srikandi. Dua perpaduan nama dijadikan satu akronim,yaitu ASRI.

Para pengurus PWRI saat itu sepakat untuk mengambil nilai nilai positif dari kedua tokoh wayang tersebut untuk dijadikan sumber motivasi dan inspirasi dalam melakukan pengabdian ke masyarakat.

Nilai kebaikan yang dimiliki dari Arjuna adalah memiliki sifat bersahaja,cerdik, jujur,sopan dan beretika. Sebagai kesatria punya sikap T6: Teteg (Kukuh), Tatag (tidak was was), Tanggap (Mengerti), Tangguh (kuat), Tanggon (dapat diandalkan), dan Tutug (tuntas).

Sedangkan untuk Srikandi figur perempuan cantik yang selalu tampil terbaik di bidang yang dikuasi,tegas dan berani dalam segala hal kebaikan dan kebenaran, mandiri, gemar belajar, teladan dalam kemandirian dan menghargahi orang lain.

“Tentu saja falsafah yang diharapkan siapapun yang memakai batik ASRI bisa mengambil dan mengamalkan nilai nilai positif dari kedua figur tersebut ketika dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.

Kemudian dominasi warna hitam dari batik ASRI merupakan hitam lambang kewibawaan dan kekuatan. “Menurut keyakinan masyarakat Samin warna hitam mencerminkan kesederhanaan dan mengingatkan semua umat manusia kedudukan sama di hadapan Allah,” tuturnya.

Ornamen daun jati yang ada pada batik ASRI sebagai upaya mempromosikan bahwa Kabupaten Blora memiliki hutan jati yang luasnya hampir 50% dari luas Kabupaten Blora. Kualitas kayu jati paling baik di Indonesia.Di Kabupaten Blora juga ada situs Jati Denok yang memiliki predikat T3: Tertua,terbesar dan termahal. Satu gambar lagi yang ada di batik ASRI promosi burung merak yang indah dan cantik hidup di hutan jati Blora.

“Saya sangat berharap agar batik ASRI tersebut tidak hanya dimiliki oleh pengurus dan anggota PWRI namun bisa dimiliki dan dipakai oleh seluruh elemen masyarakat dalam rangka mempromosikan potensi Kabupaten Blora dan ikut membangkitkan kembali penggunaan batik produksi Blora,” ujarnya.

Dengan demikian promosi batik ASRI ini tidak terkait dengan nuansa politis di Bumi Blora Mustika. “Memang secara kebetulan dalam pesta demokrasi pilkada 2024 dimenangkan oleh pasangan ASRI (Dr.H Arief Rohman, SIP., M.Si dengan Hj Sri Setyorini) dengan prosentase kemenangan 83,75% dan prosentase kemenangan tersebut tertinggi di Jawa Tengah,” kata Bambang Sulistya.

Sementara salah satu pengurus PWRI Kabupaten Blora H Subekti SP., MMA., suami dari Hj. Sri Setyorini wakil Bupati terpilih menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh hadir atas bantuan dan dukungannya.

Ia juga memberi komentar terhadap batik ASRI tersebut sangat elegan dan pantas dipakai oleh siapapun. Apalagi kalau untuk memotivasi diri dalam melaksanakan pengabdian dengan nilai filosofi yang terkandung didalam batik ASRI. “Disamping untuk menumbuhkan perekat rasa kekeluargaan, kebersamaan dan semangat pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya. (*).

Jalan Rusak Parah, Warga Desa Lahar Tagih Janji DPRD Pati

0

Korandiva – PATI.– Memasuki musim penghujan banyak akses jalan yang semakin menunjukkan kerusakan yang meresahkan para pengguna jalan. Salah satunya yang nampak menjadi protes warga Tlogowungu terkait kondisi jalan yang rawan mencelakai para pengendara sepeda motor.

Akses jalan yang nampak rusak tersebut bisa dilihat di sepanjang satu kilometer membentang di jalan Tlogowungu – Gunungwungkal tepatnya di Desa Lahar Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati. Saking geramnya warga dengan kondisi jalan yang sudah mengelupas disana sini, wargapun berinisiatif membentangkan spanduk yang bertuliskan “Jalan Yang Rusak Tidak Semulus Janji DPR” hingga tulisan “Katanya Ada Pemda Jalan Rusak Dibiarkan Saja”.

Rusak parahnya jalan tersebut tentu saja memancing kekecewaan warga sekitar yang setiap hari menggunakan fasilitas umum tersebut. Bentuk protes warga jelas ditujukan kepada pemangku pemerintahan daerah dan DPR yang dianggap kurang tanggap dalam merespon keluhan warga terutama kerusakan jalan.

Keluhan pun muncul dari salah seorang warga pada Senin (20/1) Mutaqin menyampaikan kekecewaan kepada dinas terkait dan DPRD Pati karena diklaim tidak serius dalam penanganan masalah yang sudah sering dikeluhkan warga. Bahkan dengan kondisi jalan yang sangat rawan mencelakai penggunanya.

“Semoga segera diperbaiki, (khawatir) nanti kalau banyak yang terperosok, apalagi ini kondisi hujan jalannya licin,” jelasnya. “Kemarin sudah ada orang lewat sini terperosok karena jalan licin pas turun hujan. Saya khawatir kalau ini dibiarkan tidak segera diperbaiki akan makan korban yang terperosok lebih banyak lagi,” tambahnya.

Harapan lain juga disampaikan oleh perwakilan warga setempat, Saputra yang menyampaikan bahwa kerusakan jalan yang sudah berlangsung selama satu tahun lebih ini adalah kewenangan pemerintah daerah Kabupaten Pati dan tidak ada perbaikan.
“Harapannya segera diperbaiki, apalagi ada DPR yang kemarin janji mau memperbaiki,”tegasnya.

Sementara itu ketika dihubungi untuk memberikan klarifikasi terkait hal tersebut, Hasto Utomo selaku Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pati menjelaskan bahwa telah dianggarkan dana untuk pengaspalan senilai Rp. 1,4 miliar guna memperbaiki jalan di Desa lahar.

“Anggaran Rp. 1,4 miliar cukupnya aspal hotmix tapi nanti kalau ada penambahan anggaran bisa pake beton,”paparnya. (*)

Konflik Berlarut, Petani Desa Pundenrejo Adukan PT Laju Perdana Indah ke DPRD Pati

0

Korandiva – PATI.– Berdasarkan prinsip kerakyatan dalam hal penyelesaian konflik melawan PT Laju Perdana Indah, Senin (20/1/2025) di kantor DPRD Kabupaten Pati petani Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo (Germapun) menuntut kepada Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati untuk segera menerbitkan rekomendasi.

Dalam pertemuan tersebut Komisi B DPRD Kabupaten Pati mengundang PT Laju Perdana Indah beserta dinas terkait. Sementara sekitar 100-an petani Desa Pundenrejo beserta jaringan solidaritas menunggu berada di luar ruangan dengan terus melantunkan sholawat dan doa serta membawa dan membentangan poster yang berisi beberapa tuntutan mereka.

“Tuntutan warga salah satunya adalah mendesak DPRD Kabupaten Pati untuk memberikan rekomendasi supaya tanah segera dikembalikan kepada petani Pundenrejo untuk dikaji oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional),” ungkap Abdul Kholiq, tim advokasi petani.

Kronologi dari awal tuntutan tersebut adalah berawal dari konflik pada tahun 1999 antara petani Desa Pundenrejo dengan PT Laju Perdana Indah. Pada saat itu tanah garapan petani diklaim oleh perusahaan tersebut.

Dan di tahun 2020 PT Laju Perdana Indah diduga kuat justru mengirimkan orang tidak dikenal yang didampingi aparat untuk merusak tanaman milik para petani. Selanjutnya eskalasi konflik melalui praktik perusahaan serta perampasan lahan yang dilakukan PT Laju Perdana Indah kembali terjadi tanggal 28-30 September 2024 dan ditengah klaim, Hak Guna Bangunan (HGB) PT Laju Perdana Indah sudah habis.

Dari hal tersebut, tindakan PT Laju Perdana Indah dianggap melanggar hak atas rasa aman para petani Desa Pundenrejo. Ditambah muncul dugaan kuat yang menyebutkan bahwa ratusan orang tidak dikenal yang berupaya melakukan perampasan dan pengrusakan tenaman petani merupakan orang kiriman dari PT Laju Perdana Indah.

Berangkat dari hal tersebut, ketua Komisi B DPRD Kabupaten pati menyatakan sikapnya siap mengawal kasus tersebut dan mendorong PT Laju Perdana Indah untuk tidak lagi mengirimkan orang tidak dikenal atau menggunakan cara-cara yang melanggar hukum lainnya.

Dalam forum tersebut juga disampaikan oleh salah satu wakil rakyat demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat, untuk PT Laju Perdana Indah tidak lagi menguasai tanah yang saat ini sedang diperjuangkan oleh para petani Desa Pundenrejo.
“Namun, Komisi B DPRD Pati belum dapat megeluarkan rekomendasi mereka masih perlu untuk mengadakan mediasi lanjutan dengan mengundang unsur pemerintah daerah (Pemda),” tambah Abdul.

Ditengah belum munculnya rekomendasi, para petani akan melakukan aksi massa dan akan melakukan demo di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten Pati Februari mendatang. “Tapi dalam waktu dekat ini warga akan aksi di kantor BPN Pati,”jelasnya.

Pihaknya mengungkapkan bahwa konflik agraria yang terjadi pada petani Desa Pundenrejo mengakibatkan kemiskinan struktural sehingga klaim PT Laju Perdana Indah atas tanah garapan petani harus dijadikan momentum untuk mengembalikan tanah kepada para petani. Terlebih negara juga harus mampu menjalankan mandat reforma agrarian demi kesejahteraan rakyat.

Dalam pertemuan tersebut disepakati Komisi B DPRD Kabupaten Pati untuk melanjutkan audiensi karena para petani Desa Pundenrejo akan mengupayakan proses terus berlanjut. (*)

Polisi Tangkap 3 Pelaku Pengedar Sabu di Gang Perumahan Desa Blaru Pati

0

Korandiva – PATI.– Sat Resnarkoba Polresta Pati berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu di Jalan Gang Masuk Perumahan, Desa Blaru, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati.

Pengungkapan tersebut membuahkan penangkapan tiga pelaku, yaitu AS alias Jadem (46), warga Gabus Pati; AM alias Bulu (35), warga Koripandriyo Gabus Pati; dan SL alias Tuyul (41), warga Desa Winong Pati.

Kapolresta Pati, Kombes Pol Andhika Bayu Adhittama, melalui Kasat Resnarkoba Kompol Agus Budi Yuwono, menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari informasi masyarakat terkait adanya transaksi narkoba di sepanjang Jalur Lingkar Lama Desa Blaru.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Sat Resnarkoba melakukan penyelidikan intensif pada Minggu (19/1/25). “Ketika menyelidiki, kami mencurigai dua pria yang diduga terlibat dalam penyalahgunaan narkoba,” ujar Kompol Agus.

Petugas kemudian menangkap dan menggeledah kedua pria tersebut, yang kedapatan membawa satu paket sabu yang dibungkus dalam klip plastik bening dan disembunyikan di potongan sedotan hitam.

Dari penggeledahan ini, ditemukan petunjuk berupa percakapan WhatsApp. Kedua pelaku mengakui sabu tersebut dipesan dari rekannya, SL alias Tuyul, dengan harga Rp600 ribu untuk konsumsi bersama.

Tim segera melakukan pengembangan dan menangkap SL di Desa Ngemplak Lor, Margoyoso. Setelah diinterogasi, SL mengakui perbuatannya dan menyebut bahwa narkotika tersebut dipesan dari seseorang yang saat ini masih dalam daftar pencarian orang (DPO).

Barang bukti dan ketiga pelaku kini diamankan oleh Sat Resnarkoba Polresta Pati untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Para pelaku akan dijerat dengan Pasal 114 ayat (1) dan/atau Pasal 112 ayat (1) atau Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” pungkas Kompol Agus. (*)

Pati Waspada Banjir Pintu Air Bendung Wilalung Kudus DIbuka

0

Korandiva – PATI.– Saat ini pintu air Bendung Wilalung yang berlokasi di Kabupaten Kudus sudah dibuka dan dialirkan ke arah Sungai Silugonggo. Hal itu seperti disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya yang pada kesempatan itu juga mengingatkan masyarakat terutama yang berada di sepanjang Sungai Silugonggo Juwana untuk waspada terhadap terjadinya potensi bencana banjir.

“Jadi informasinya yang masuk ke saya tadi pagi pintu Wilalung (di Kabupaten Kudus) yang mengarah ke lembah Sungai Silugonggo dibuka kurang lebih 10 cm,” terangnya.

Ditemui wartawan pada Selasa (21/1/2025) Martinus juga menyampaikan bahwa saat ini debit air di Bendung Wilalung mencapai 840 meter kubik per detik. Dan pembukaan pintu bendung pengendali banjir ke arah Pati dilakukan karena debit air sedang dalam keadaan deras.

Namun masyarakat tidak perlu panik karena kondisi tersebut tidak serta merta akan langsung menjadi penyebab banjir di wilayah sepanjang Sungai Silugonggo.

“Dalam artinya dalam kondisi aman belum menyebabkan air melimpas atau banjir di persawahan atau pemukiman penduduk,” tambahnya.

Dan berdasarkan prakiraan cuaca pada akhir Januari – Februari untuk wilayah Pati hujan akan turun dengan durasi yang cukup lama dengan intensitas sedang hingga deras.

“Maka potensi banjir genangan akan terjadi di wilayah-wilayah Kabupaten Pati sampai Poncomulyo, Srikaton Kayen sampai wilayah Juwana,” tegasnya.

Tak lupa Martinus juga mengingatkan untuk masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir. Juga untuk cuaca ekstrem yang bisa saja terjadi harus diperhatikan terutama untuk para nelayan harus lebih mengutamakan keselamatan ketika melaut.

“ Jadi wilayah sepanjang Sungai Silugonggo Juwana ini meningkatkan kewaspadaan. Total ada 90-an desa sepanjang aliran sungai,” jelasnya.

“Kemudian jangan membuang sampah membersihkan tumpukan sampah dari anak sungai yang bermuara ke Sungai Juwana supaya harapan air lancar sampai masuk ke laut,” tambahnya.

Sementara itu lewat keterangan tertulis kepada awak media, Herda Helmijaya selaku Penjabat (Pj) Bupati Kudus juga mengecek langsung kondisi Bendung Wilalung untuk mengetahui kondisi pintu air pengendali banjir.

“Bendung yang berada di perbatasan Kabupaten Kudus dan Demak berstatus awas,” terangnya. “Harus ada upaya strategis agar banjir tidak menjadi bencana tahunan. Kalau agenda terdekat BBWS Pemali Juwana kan normalisasi sungai ya, menurut saya itu masih belum cukup,” pungkasnya. (*)