Bintang Anda Minggu Ini

(berlaku tgl 3 s/d 10 Januari 2021)

AQUARIUS (22 Januari~21 Februari)

sebagai kejutan. Ketika beberapa hal berjalan di luar du-gaan, Anda hanya perlu me-mandang itu sebagai kejutan yang diberikan kehidupan. REJEKI: Menghemat pengeluaran minggu ini, dan bersikap disiplin dan belajar menahan diri. ASMARA: Prioritas setiap orang berbeda-beda dan cara menghadapi masalah cinta juga berbeda. Jangan menyamakan masalahmu dengan masalah pasangan orang lain karena setiap pasangan memiliki tantangannya sendiri.*

PISCES (22 Februari~21 Maret)

sering lelah. Perlu lebih sering olahraga atau melakukan kegiatan fisik yang aktif di ru-mah agar badan tidak lemas dan sering lelah. Diam di rumah akan membuat tu-buhmu kurang bugar. REJEKI: Jangan sampai ma-salah perutangan menghancurkan dengan orang lain. ASMARA: Meski ada kalanya bertengkar kare-na beda pendapat, bukan berti kalian ingin mengak-hiri hubungan. Justru itulah bumbu cinta yang se-makin terbuka satu sama lain dan belajar memahami*

ARIES (22 Maret~21 April)

jaga kesehatan. Anda akan agak sibuk minggu ini dan mungkin akan memengaruhi banyak hal dalam hidupmu. Jangan terlalu keras pada diri sendiri karena kesehatanmu juga perlu dijaga. REJEKI: Keuangan baik dan Anda jadi lebih produktif minggu ini. ASMARA: Sisi sensual dan romantismu sedang panas-panasnya minggu ini, dan dengan dukungan semesta, Anda mampu membangkitkan daya tarik lebih besar dalam hubungan cinta.*

TAURUS (22 April~21 Mei)

tetap notivasi. Sisi pekerja kerasmu sedang on fire minggu ini dan semua pekerjan yang butuh penanganan ekstra bisa Anda kerjakan dengan baik. Anda bisa memuji diri sendiri agar tetap termotivasi minggu ini. REJEKI: Pastikan Anda tidak kekurangan dan bisa mengandalkan budget yang sudah kamu tentukan minggu ini. ASMARA: Hati-hati dengan sifat posesif minggu ini. Buat kelonggaran karena cinta juga per-lu ruang untuk bernafas agar tetap hidup bahagia.*

GEMINI (22 Mei~21 Juni)

jangan bohong. Baik buruknya hari tergantung dari apa yang ingin Anda lakukan. Jangan membohongi orang lain dengan maksud tersembunyi karma akan berbalik pada dirimu sendiri. REJEKI: Pastikan Anda tak menganggap remeh utang dengan jumlah berapa pun. ASMARA: Tidak sedang ingin menunjukkan sisi cinta yang menggebugebu minggu ini. Anda mengharapkan cinta yang tenang dan damai dengan pasangan karena selalu romantis*

CANCER (22 Juni~21 Juli)

ada perubahan. Jika Anda ti-dak aktif bergerak cepat dan mendekat, apa mungkin ada perubahan? Itu juga yang Anda butuhkan jika ingin karir menanjak. REJEKI: Tertarik menginvestasikan uang? Anda harus men-cari banyak informasi yang menguntungkan. ASMA-RA: Perlu mengatur porsi waktu yang seimbang antara urusan pribadi dan urusan cinta dengan pasa-ngan. Seringkali kamu tak sadar telah menduakan pasangan dengan pekerjaan yang menguras waktu*

LEO (23 Juli~22 Agustus) 

jaga kesehatan. Ada banyak kegiatan minggu ini yang mungkin akan membuatmu cukup sibuk. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan pola makan.  An-da butuh energi untuk menghadapi apa pun yang terjadi minggu ini. REJEKI: Sedang baik dan stabil, Anda bisa tenang minggu ini. ASMARA: Jangan lupa memberi kabar, menjaga komunikasi tetap intens setiap hari agar selalu terasa dekat meski sedang jauh dari pasangan.*

VIRGO (22 Agustus~21 September)

nikmati momennya. Minggu ini akan terasa sibuk, jadi persiapkan energi dan semangat menyambut kebersama-an keluarga di rumah. Tak perlu terlalu merasa ter-bebani karena suatu hal, nikmati setiap momennya. REJEKI: Butuh tabungan untuk kebutuhan men-dadak. ASMARA: Di awal menjalani hubungan, wajar jika harus menyesuaikan diri dengan banyak perbedaan. Ketika sudah saling memahami, segala kesulitan akan lebih mudah dihadapi bersama.*

LIBRA (22 September~21 Oktober)

merasa kesepian. Berada di dekat keluarga membuatmu tenang. Meski tak banyak te-man yang bisa menemani di waktu luangmu, tapi Anda tak pernah merasa kese-pian. REJEKI: Jika punya tanggungan, prioritaskan dan bayarkan dulu sebelum memenuhi hal lain. ASMARA: Jangan remehkan kesan bahwa semua hubungan tampak baik-baik saja dan menyenangkan di luar, kamu tak pernah tahu seperti apa isi hati dan kepala orang lain saat menjalani hubungan*

SCORPIO (22 Oktober~21 November)

kerja tim. Prioritaskan jalan beriringan, bukan saling mendahului. Itulah inti dari kerja tim. Minggu ini Anda bi-sa mencapai kepuasan kerja ketika kekompakan tim bisa tercapai. REJEKI: Seringkali hanya karena harga diri, Anda jadi membeli hal-hal yang tak perlu. ASMARA: Karena kalian adalah dua insan ma-nusia yang memiliki isi kepala yang berbeda, wajar jika kalian memiliki perbedaan pendapat. Namun tidak harus memperdebatkannya secara serius.*

SAGITARIUS (22 Nopember~21 Desember)

jangan kecewa. Ada hal-hal yang membuatmu lupa bah-wa ada kalanya sesuatu memang tak selalu berjalan sesuai rencana. Jadi jangan terlalu kecewa jika memang harus menghadapi kegagalan. REJEKI: Jangan lupa untuk menabung dan berhemat. ASMARA: Se-ringkali karena hal-hal kecil yang kalian abaikan. Anda tak sadar sedang mulai membentuk jarak. Di waktu yang tepat, bicarakan apa yang memang mengganggu pikiran dan hati kalian.*

CAPRICORNUS (22 Desember~21 Januari)

sikap profesional. Berhenti bukan kata yang ada dalam ka-musmu saat bekerja. Anda menjaga sikap profesional dan menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Tak perlu terganggu dengan masalah lain. REJEKI: Hati-hati menggunakan uang minggu ini. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. ASMARA: Anda akan tahu bahwa sebenarnya masih ada banyak karakter dan sisi dirinya yang belum Anda ketahui. Semenarik itulah jatuh cinta. *

Dua Ribu Dua Puluh Satu

Oleh: Trias Kuncahyono (Jurnalis senior)

TAHUN 2020 ditutup dengan peristiwa politik dramatik. Ibarat balap mobil, putaran terakhir berujung pada sebuah tikungan tajam dan buntu: Presiden Jokowi melantik mantan kandidat wakil presiden pada Pemilu 2019—Sandiaga Salahuddin Uno—menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dan, pelarangan serta pembubaran FPI.
Bergabungnya Sandiaga Uno ini melengkapi mirabilia, keajaiban politik, yang terjadi pada akhir pemilu. Ketika itu, mantan kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Partai Gerindra masuk dalam kabinet Jokowi. Langkah kaki Sandiaga Uno mengikuti ayunan langkah kaki Prabowo Subianto.
Layar panggung politik Pemilu 2019 diturunkan. Ceritanya berakhir sampai di sini. Inilah Annus Mirabilis, tahun mukjizat, tahun yang mengagumkan, tahun yang ajaib, tahun yang aneh.
Meskipun negeri ini—juga negara-negara lain di berbagai sudut dunia—dicengkeram oleh pandemi Covid-19 yang menelan korban jiwa demikian banyak; dan menghancurkan perekonomian dunia.
Politik memang selalu penuh kejutan. Politik tidak selalu berjalan linear. Untuk mendapatkan jumlah empat, tidak harus selalu dua ditambah dua; bisa tiga ditambah satu, bisa lima dikurangi satu, bisa pula delapan dibagi dua. Pendek kata, segala kemungkinan bisa terjadi. Maka itu, ada berbagai ragam definisi politik.
Ada yang mendefinisikan politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Definisi lain, politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki.
Sementara Harold D. Laswell dan A. Kaplan dalam Power Society: menegaskan bahwa “politik adalah masalah siapa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana.”
Itulah politik. Bahwa ada yang kecewa dari “ujung dari putaran terakhir itu?” Ya, pasti. Ada pro dan kontra dari kedua belah pihak. “Untuk apa berdarah-darah dalam pemilu, kalau ujungnya seperti itu.” Begitu salah satu keluhannya.
Memang, Pemilu 2019 telah mengubah tahun yang semestinya menjadi “tahun pesta demokrasi”; tahun “perayaan perbedaan” menjadi annus horribilis, tahun yang mengerikan, menakutkan, menggetarkan, seram, keji, dan keras.
Menjelang, selama, dan setelah Pemilu 2019, negeri ini seperti diselimuti awan hitam, awan kegelapan. Bayang-bayang perpecahan karena kepentingan politik dari hari ke hari rasanya semakin jelas.
Apalagi kalau mendengarkan perkataan dan pernyataan para elite politik, para tokoh (juga yang ditokohkan atau merasa dirinya tokoh) politik, sungguh seolah hanya kibasan “tongkat sakti” saja yang bisa menyelamatkan negeri ini.
Tidak berlebihan kalau Pemilu 2019 akan dicatat dalam buku besar sejarah bangsa dengan tinta hitam legam sebagai pemilu yang menimbulkan perbenturan demikian keras sesama anak bangsa. Pertarungan demikian keras, tajam, bahkan kasar.
Berbagai narasi politik yang membuat telinga dan hati panas, berbagai ragam ujaran kebencian, berbagai bentuk berita hoax, berbagai warna cercaan bernuansa sektarian, dan berbagai tindakan intoleran bertumpah ruah, membanjiri negeri ini lewat media sosial.
Pesta demokrasi tak lebih dari menghamburkan kata-kata sekadar untuk memfitnah dan mencerca pihak lain. Kebebasan berpendapat dan bersuara yang dijamin oleh demokrasi telah menjadi kampanye hitam disebar-luaskan.
Urusan bangsa yang sangat besar dan penting, telah dijadikan sebagai urusan personal. Berpolitik semata-mata untuk memburu kepentingan diri, kekepentingan kelompok, kepentingan golongan sendiri, bahkan kepentingan keluarga.
Celakanya lagi, semua itu justru dilakukan oleh mereka yang selama ini dipandang sebagai yang melek politik, yang dianggap memiliki kesadaran tinggi akan demokrasi, yang dijadikan panutan, dan yang suaranya didengar.
Mereka justru bersuara sumbang. Mereka justru ikut menebarkan paku-paku tajam yang merobek-robek sulaman indah kebhinekaan.
Tetapi, “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu” itu menegaskan bahwa politik memang drama karakter dan keadaan yang tidak ada habisnya (Andrew Gamble, 2019); yang tidak ada akhirnya.
Kedua
Ada yang mengatakan, selama politik diartikan sebagai “kegiatan di mana orang bernegosiasi, berkolaborasi, dan bekerja sama untuk ‘How to get the power’?”, maka jangan harap akan tercipta ketentraman, perdamaian, dan persahabatan, serta persaudaraan sejati.
Mengapa? Karena prinsip yang pertama-tama akan dipegang dan dijunjung tinggi dalam berpolitik adalah seperti yang diungkapkan dalam bahasa Latin, Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aternum—“lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan.”
Dan, Lord Palmerston (1784-1865) merumuskan menjadi: “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan.”
Maka, seperti di atas sudah disebut bahwa kini berpolitik itu lebih berurusan dengan siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana cara mendapatkannya. Benar sekali adagium di atas. Banyak kali peristiwa politik membuktikan adagium tersebut.
Apa yang terjadi pada bulan Mei 1998, ketika situasi demikian genting, bisa menjadi salah satu contoh bahwa “tidak ada kawan dan lawan yang abadi yang abadi adalah kepentingan.”
Ketika itu, sejumlah menteri meninggalkan Soeharto; dan tindakan mereka ikut mempercepat berakhirnya kekuasaan Soeharto yang sudah bertahan tiga dasawarsa.
Maka orang akan mengatakan, politik bisa menjadi kejam. Apalagi kalau sudah menyangkut kekuasaan; bagaimana mendapatkan, mempertahankan, dan memperbesar kekuasaan.
Maka, dalam bahasa Niccolo Machiavelli, terjadilah penghalalan segala cara. Pada saat itu, kesetiaan hilang. Dalam perspektif ini, politik dipandang sebagai tindakan yang tidak berprinsip, tidak dapat dipercaya, atau tidak jujur, tipu daya.
Ini sama dengan peperangan. Tujuan akhir sebuah peperangan adalah merebut kemenangan. Demikian pula dalam berpolitik, kemenangan yang ingin menjadi tujuan akhir. Kemenangan itu akan membawa kekuasaan. Tidak ada satu pihak pun yang mau menderita kekalahan. Karena itu, segala cara dilakukan untuk mewujudkan kemenangan itu.
Itulah politik riil, di mana pertarungan untuk mendapatkan kekuasaan menjadi yang pertama dan utama. Tentu pengertian politik seperti tersebut di atas sangat berbeda dengan pengertian yang disodorkan oleh Frans Magnis-Suseno.
Menurut Frans Magnis-Suseno, politik adalah segala kegiatan manusia yang berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan, atau yang berorientasi kepada negara. Sebuah keputusan disebut keputusan politik apabila diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan. Suatu tindakan harus disebut politis apabila menyangkut masyarakat sebagai keseluruhan.
Dengan demikian, tujuan akhir dari kegiatan politik adalah untuk kepentingan masyarakat banyak. Itulah karenanya, tujuan politik dimaksudkan untuk terciptanya kemaslahatan bersama, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan, yang juga sering disebut sebagai bonum commune.
Ketiga
Kalau berhentinya balapan secara tak terduga di “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu” adalah untuk bonum commune, tentu itu yang diharapkan. Bila hal itu benar-benar terjadi—sebagai tujuan pertama dan utama—maka mulai tahun 2021 ini rakyat sedikit boleh mulai berharap akan menikmati ketentraman, tidak diharu-biru oleh “celotehan-celotehan” yang disuarakan oleh para “pemain politik” yang suka menggunakan topeng beraneka wajah berbeda.
(ada yang mengenakan topeng berwajah menggelikan, lucu; ada yang menyebalkan; ada yang menjijikkan; ada menakutkan; ada yang kelihatan bijak; ada yang kelihatan alim dan saleh; tetapi ada juga yang sungguh-sungguh memuakkan).
Hilangnya—atau sekurang-kurangnya, samar-samarnya, sayup-sayupnya—hiruk-pikuk, kebisingan politik akan sangat berguna dalam memenangi “perang” melawan pandemi Covid-19, yang akan berimplikasi positif bagi banyak bidang kehidupan.
Sudah begitu banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini—termasuk yang paling berat adalah soal toleransi antar-umat beragama, soal kebhinekkaan.
Maka, kalau ditambah dengan “celotehan-celotehan” para “pemain politik” yang sekadar mencari popularitas, bangsa ini tidak akan pernah beranjak maju, hanya berputar-putar dari itu ke itu saja. Sementara bangsa lain sudah lari tunggang langgang menuju cakrawala baru.
Tetapi, seperti diingatkan oleh Andrew Gamble bahwa politik sebagai suatu kegiatan selalu memiliki hubungan yang sulit dengan kebenaran. Maka itu benar adagium “tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan.”
Itulah sebab ada nasihat bijak, “hati-hatilah, jangan mempercayai seorang teman, kecuali kalau engkau sudah mengujinya.” Mengapa demikian? Karena, “selama periuk masih panas, persahabatan tetap hidup.”
Sama seperti yang dikatakan oleh Cicero (106-43 SM) seorang filosof Romawi, “Amicus certus in re, incerta cernitur”—sahabat yang sejati dikenal di saat-saat sulit. Jadi, bukan dikenal ketika pesta sudah usai, kursi sudah ditumpuk dimasukkan ke gudang, tenda sudah gulung, hiasan dicopot semua, piring-piring dan gelas dicuci, dan orang pulang ke rumah masing-masing.
Semoga tidak demikian. Karena, kita semua berharap bahwa tahun 2021 benar-benar akan menjadi Annus Mirabilis, tahun mukjizat, tahun yang mengagumkan, tahun yang ajaib, seajaib berhentinya balapan secara tak terduga di “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu.”
Sekurang-kurangnya, keajaiban itu bertahan hingga tahun 2023 menjelang saat datangnya Tahun Politik. Tahun yang cenderung memberikan hawa untuk mencari menang-menangan, yang cenderung menghalalkan segala cara demi kemenangan, demi kekuasaan lagi. (*)

Harimau Milenial

Oleh: Azhar
Pemerhati satwa liar Aceh

BERAPA jumlah populasi harimau di Sumatera saat ini? Sulit menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin jawabannya diperkecil; Harimau Sumatera diketahui jumlah populasinya hanya di beberapa blok hutan, seperti di Teso Nilo Riau, Bukit Barisan Selatan di Lampung dan Leuser.
Hanya ini yang mampu dianalisis oleh praktisi harimau. Kenapa hal ini terjadi, jawabnya mungkin sederhana, yakni sedikit penelitian tentang harimau di Indonesia hingga khazanah ilmu harimau kurang diminati. Juga rendahnya minat para ahli biologi di Indonesia untuk terlibat dalam penelitian harimau dan banyak faktor lainnya yang menghambat penelitian harimau sumatera.
Salah satunya adalah dibutuhkan mental baja dan tenaga untuk meneliti harimau karena luasnya habitat, juga kebutuhan dana yang besar untuk mobiliasi tenaga kerja lapangan, serta dukungan dana untuk penggunaan alat pendukung penelitian.
Hingga saat ini, hanya beberapa blok hutan yang bisa dilakukan penelitian, selebihnya secara umum penelitian harimau secara keseluruhan di hutan Sumatera sulit dilaksanakan karena beberapa faktor yang disebut di atas.
Beda dengan sepupunya, singa, di daratan Afrika. Singa Afrika relatif gampang diketahui karena keadaan habitat, areal singa terletak di safana (padang rumput), kelimpahan pakan seperti kijang, zebra, dan babi hutan tersebar merata.
Di habitat tersebut tergambar utuh situasi pemangsa dan satwa mangsa atau dikenal dengan istilah prey dan predator, ukuran ekologi habitat, kelompok singa, hingga kelompok pemangsa lainya terdata dengan baik.
Hingga, prilaku singa dan jumlah individu dikelola dengan baik, juga pengelolaan kawasan satwa liar tersebut sesuai dengan peruntukannya. Beberapa di antara kawasan tersebut disebut taman safari, taman nasional, dan cagar alam.
Ini menjadi harapan dalam manajemen penyelamatan dan kampanye satwa liar secara utuh dan berkelanjutan. Implementasi kebijakan nyata dan tegas terjadi di kawasan ini. Kawasan konservasi satwa liar benua afrika terbuka akan segala akses, mulai dari transportasi, akomodasi dan sebagainya. Intinya relatif lebih mudah meneliti dan berwisata satwa liar di sana.
Lain perkara dengan harimau sumatera. Habitatnya berada di hutan primer dan sekunder. Harimau sumatera daya jelajahnya luas dan lebar. Topograpi beragam: pegunungan, sungai, dan rawa gambut. Harimau sumatera menguasai teritorial terluas dan terdahsyat di alam liar Sumatera. Tak ada pembatas daya jelajah mereka.
Seekor harimau jantan memiliki wilayah kekuasaan yang lebih besar dan kadang kala tumpang tindih dengan teritorial harimau betina. Harimau betina dapat memiliki teritorial seluas 20 kilometer persegi. Si jantan memiliki wilayah seluas 60-100 kilometer persegi.
Kawasan ini biasanya berada di daerah yang memiliki banyak sumber makanan. Luasan areapun yang sesuai dengan sumber makanan, hingga harimau bisa menghemat energi untuk mencari sumber makanan dalam menjaga pergerakannya.
Harimau jantan dewasa memiliki daya jelajah (home range) yang lebih besar daripada betina dan hewan yang masih muda. Berat badan kurang memberikan kontribusi terhadap pertambahan laju yang mendekati konstan sebagai masa pertambahan berat tubuh di antara harimau. Home range bertambah seiring laju berat tubuh yang lebih besar.
Saat ini, distribusi makanan dan perlindungan yang tidak teratur berdampak pada daerah jelajah menjadi tidak teratur. Harimau adalah satwa soliter dan memiliki daerah teritorial yang dipertahankan. Luas wilayah teritorialnya berbanding terbalik dengan ketersediaan mangsa yaitu, jika sedikit mangsa yang tersedia, luas teritorialnya akan lebih besar. Begitu pula sebaliknya.
Apa yang membuat harimau begitu tangguh menghadapi bermacam tipe kawasan hutan? tentu kebutuhan makanan untuk memenuhi energi, standar kesehatan, kebugaran dan stamina. Mungkin diperlukan makanan bernilai gizi tinggi. Daftar menu favorit pun beragam, ada rusa, babi, kijang, hingga mamalia kecil lainnya. Konon harimau sumatera juga menyukai durian.
Siklus rantai makanan
Satwa mangsa (prey) seperti rusa kijang dan babi hutan merupakan menu utama bagi harimau. Satwa mangsa tersebut merupakan herbivora. Mereka mengonsumsi variatif daun, tanaman perdu, rumput dan alang alang hingga buah-buahan yang jatuh dari pohon.
Kandungan gizi yang terdapat di tumbuhan, seperti fluktosa, protein (lemak), karbohidrat, berproses di dalam tubuh satwa mangsa. Secara alami satwa mangsa tersebut, jika ketiban sial, akan dimangsa oleh harimau.
Kandungan daging darah, limfa, hati hingga tulang sumsum akan diasup dengan baik oleh harimau. Mungkin kandungan yang terdapat dalam tubuh satwa mangsa tersebut memberikan energi dan kekuatan pisik prima bagi harimau untuk terus bergerak (locomotion).
Jika dirunut, tanah adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor, seperti iklim, organisme dan bahan induk. Aspek yang terdapat dari kandungan tanah akan terserap secara kimiawi ke tumbuhan.
Tanah di hutan adalah tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran jutaan spesies tumbuhan, tanaman zat pemacu tumbuh seperti hormon, vitamin, dan enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara.
Tanaman hutan Sumatera subur dan kaya akan unsur hara, proses kimia rumit ini berasosiasi ke tanaman berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik) sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca.
Dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota untuk menghasilkan biomass bagi tanaman di kawasan hutan, tanah dan tanaman hutan memberikan manfaat ke satwa mangsa.
Asumsi sederhananya adalah semakin subur tanah akan unsur hara maka semakin sehatlah satwa mangsa. Proses ini berimbas ke makanan dan habitat, semua proses alamiah ini saling memberi pengaruh terhadap kondisi harimau, hutan sehat, dan terjaga sangat ideal bagi harimau.
Jika hutan secara terus menerus dirusak digantikan dengan tanaman eksotis seperti sawit dan ekaliptus untuk kepentingan industri, maka dipastikan banyak kandungan unsur hara lepas dari alam, suatu saat hilangnya tanaman endemis di hutan Sumatera.
Ditambah lagi efek buruk dari kualitas udara saat ini berupa asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau. Secara umum dapat dikatakan bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan di hutan Sumatera.
Harimau akan kehilangan pakan dan berkurangnya kemampuan adaptasi, suatu saat satwa mangsa akan mencari makanan baru, dan mungkin kualitas genetika satwa mangsa pun dalam bereproduksi pun turun. Hal ini berdampak pada satwa puncak rantai makanan.
Hampir sama dengan nasib satwa mangsa. Kini kondisi harimau pun berubah dan akan terjadi penurunan kualitas genetis akibat buruknya gizi satwa mangsa. Akibatnya daya jelajah yang biasanya luas ratusan hektare akan menurun. Mungkin keturunan harimau sumatera generasi sekarang tidak sekuat dan setangguh harimau sebelumnya.
Menurut Gilpin dan Soule, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi ketahanan populasi terhadap kepunahan spesies. Pertama adalah variasi lingkungan, kedua variasi demografik, dan ketiga variasi genetik.
Semakin kecil ukuran populasi maka semakin rentan populasi tersebut. Ketiga faktor tersebut dapat menurunkan keberhasilan reproduksi, meninggikan tingkat kematian dan mendorong kepunahan.
Generasi Baru
Mungkin suatu saat, batasan teritorial dan home range seekor harimau yang dulunya ratusan kilometer akan menjadi puluhan atau ratusan meter saja. Suatu saat nanti harimau akan ditempatkan dalam pagar luas. Habitat buatan yang dibuat khusus oleh manusia untuk kepentingan perlindungan. Suatu saat nanti, batas khas keangkeran harimau di hutan, seperti bekas cakaran di pohon, sisa kencing dan gesekan di pohon sebagai penanda teritorial tak berlaku lagi.
Cepat atau lambat, generasi harimau sumatera baru akan datang. Harimau era tahun 50 hingga 2000-an yang garang akan berubah.
Perilaku soliter dan ciri khas kemisteriusan harimau sumatera bakal hilang. Sangar dengan auman keras yang khas dalam menjaga teritorinya sirna.
Harimau ke depan akan memakan apa adanya. Harimau menjadi satwa berkelompok dalam mencari makan, mangsa yang biasa bergerak dikejar dan diburu, kini hanya menunggu makanan dari manusia berupa daging potong, daging sapi olahan, plus minum susu sapi segar. Suatu saat nanti, tak ada lagi daging rusa, kijang, dan napoh.

Seperti saudaranya singa di Afrika, suatu saat nanti jumlah populasi harimau akan lebih mudah dilihat melalui pembatas pagar atau mobil tour wisata di habitat buatan.
Penghitungan jumlah individu mudah dilakukan. Mungkin penghitungan individu pun berdasarkan kelompok. Meneliti harimau pun relatif gampang, bisa menggunakan mobil tour safari.
Ke depan, di tahun 2050, jumlah populasi harimau sumatera akan terus bertambah, bahkan bisa mencapai 1.000 individu, tapi dalam pagar pembatas. (*)

Setiap Hari, TPA Temurejo Terima 24 Ton Sampah

Blora, Diva.-
TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Temurejo Blora menerima setoran sampah rata-rata 24 ton per hari. 15 ton per bulan sampah itu berhasil didaur ulang. Sampah tersebut merupakan sampah domestik masyakarat. Seperti sampah rumah tangga dan sampah pasar.
Dengan sampah sebanyak itu, rata-rata pihaknya baru bisa mengelola sampah sebanyak 15 ton per bulan. Selain dikelola hingga menjadi pupuk kompos, sebagian sampah tersebut dikelola oleh para pemulung di dalam TPA.
”Produk (sampah, red) yang sudah lama itu bisa diolah menjadi kompos. Dengan waktu minimal tiga tahun otomatis sudah menjadi kompos,” jelas Kepala Seksi Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Blora Prih Hartanto, Sabtu (2/1/21).
Dia mengungkapkan delapan armada yang mengangkut sampah masyarakat sekitar Kecamatan Kota Blora dalam sehari setor dua kali. Satu truk rata-rata bertonase enam meter kubik.
”Enam meter kubik itu kira-kira 1,5 ton. Kalau delapan truk dikali rata-rata dua kali setoran, sekitar 24 ton per hari,” tuturnya kemarin.
Prih menambahkan kuantitas sampah masyarakat naik setelah aturan mengenai keramaian dilonggarkan pemerintah dan munculnya tempat keramaian baru. Seperti dibukanya lapangan Kridosono yang mulanya adalah stadion.
”Lapangan Kridosono kan menjadi tempat keramaian baru yang tentunya menghasilkan sampah. Belum lagi perumahan-perumahan baru. Tentu sampahnya semakin hari semakin besar,” kata dia. (*)

Polres Rembang Rapid Tes Pengemudi yang Melintas

Rembang, Diva.–
Masuk Kota Garam saat ini ketat. Khususnya bagi pengemudi kendaraaan luar kota. Tidak hanya kendaraan yang disemprot. Supir dan penumpangnya juga harus rapid test. Dari pemeriksaan ini, lima pengemudi reaktif.
Kegiatan itu dilakukan pada Sabtu (2/1). Ada belasan kendaraan yang diperiksa. Hasilnya enam orang nonreaktif dan lima reaktif.
Dalam pemeriksaan ini melibatkan 18 personel. Satlantas Polres Rembang 6 personel. Polsek Rembang 2 personel, Kodim 0720 Rembang 2 personel. Kemudian Dinhub Rembang 2 personel, Satpol PP Rembang 2 personel, dan DKK Rembang 4 personel.
Kegiatan rapid test pengemudi kendaraan pribadi maupun angkutan dipimpin oleh Pa Pos yan Nataru Rembang Ipda Hengki Irawan S.H,M.H atau Kanit Dalmas 1 Satsabhara didampingi Kanit turjawali Satlantas.
”Menghentikan kendaraan pribadi maupun angkutan dengan memeriksa pengemudi beserta asisten pengemudi. Selanjutnya dilaksanakan rapid test,” keterangan Ipda Henki Irawan.
Dia mengatakan, Polres Rembang menyampaikan telah menyiapkan dua pos pelayanan di Kota dan Sarang. Personel sudah diterjunkan. Kegiatan lebih humanis. Juga tanpa tilang. Sifatnya hanya himbauan serta teguran
Dia mengatakan, akan dilakukan rapid antigen maupun rapid test terhadap masyarakat yang melintas dari Jatim memasuki Jateng. Teknis dilakukan secara acak. Khususnya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi. Juga melakukan penyemprotan terhadap kendaraan yang memasuki daerah Rembang. Sasarannya bus dan mobil keluarga. Ini dilakukan random. (*)

Jembatan Penghubung Bojonegoro-Blora Diresmikan Tiga Menteri

Bojonegoro, Diva. –
Jembatan penghubung Bojonegoro-Blora Jateng hari ini resmi dibuka untuk umum. Jembatan ini diberi nama Terusan Bojonegoro Blora (TBB).
Jembatan ini berdiri di Desa Luwihaji, Ngraho, Bojonegoro, Jawa Timur dan Desa Medalem, Kradenan, Blora, Jawa Tengah. Jembatan ini memiliki panjang 220 meter dan lebar 9 meter.
Peresmian jembatan TBB ini dihadiri Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Jateng, perwakilan Pemprov Jatim, Anggota DPR RI, Bupati Bojonegoro Anna Muawanah, Bupati Blora Djoko Nugroho, serta Forkopimda yang berlokasi pada ujung jembatan yang berada di Desa Luwihaji, Ngraho, Bojonegoro.
Dengan ditandai penekanan tombol bunyi sirine oleh Mensesneg Pratikno, jembatan resmi dibuka. Para Menteri dan Muspida kemudian meninjau langsung kondisi jembatan baru TBB.
Bupati Anna mengatakan proses pembangunan jembatan butuh waktu enam bulan, dimulai pada 1 Juli 2020 yang ditandai dengan groundbreaking di lokasi dan diselesaikan pada akhir tahun 2020.
“Alhamdulillah akhirnya pada hari ini jembatan dengan nama Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) bisa diresmikan,” tutur Bupati Anna, Minggu (3/1/2021).
Pratikno yang asli kelahiran Bojonegoro menceritakan jika semasa kecil banyak waktunya dihabiskan di kampung kelahiran. Selama belajar di bangku SD hingga SMA di Bojonegoro, karena rumah orang tua dekat dengan Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, maka waktu itu untuk pergi belanja maupun berobat lebih banyak di daerah Cepu dan sekitarnya.
“Dengan adanya konektivitas yang diwujudkan melalui jembatan ini, kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh,” terang Mensesneg Pratikno.
Sementara itu, Menteri PUPR RI, menambahkan, di tahun 2021 ada program pembangunan jalan di Napis-Watujago sepanjang 14 kilometer dengan lebar 7 meter serta peningkatan jalan Ngambon-Pasar Dawe.
“Ke depan akan ada jalan tembusan Karangjati dan Pasar Taji ke jalan Nasional. Sehingga tak ada lagi masyarakat Bojonegoro yang terisolir dan bisa meningkatkan ekonomi,” jelas Menteri PUPR.
Selain itu, Menteri PUPR juga mengapresiasi bupati Bojonegoro dan Blora atas inisiatif untuk melaksanakan konektivitas dan gotong royong membangun daerah berbasis kawasan. (*)

Wisata Perahu Sawah Banjir, Menjadi Destinasi Baru di Kudus

Kudus, Diva. –
Susur perahu di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo menjadi destinasi wisata baru yang ada di Kabupaten Kudus. Destinasi wisata air ini memanfaatkan area persawahan yang tergenang banjir. Sehingga kedalamannya pun hanya sekitar satu sampai 1,5 meter.
Lokasinya tepat di sebelah selatan wisata perahu susur yang sebelumnya sudah ada. Yakni di aliran Sungai Juwana 1. Kepala Desa Temulus Suharto mengatakan, destinasi wisata ini dicetuskan untuk lebih menjamin keamanan wisata susur sungai yang sudah ada sebelumnya. Sebab destinasi wisata susur sungai di aliran Sungai Juwana 1 kedalamannya mencapai lima meter.
”Sebelah sungai ada persawahan yang melimpah air. Pemandangannya bagus. Melihat potensi ini, kami koordinasi sama ketua Pokdarwis dan ketua area lahan pertanian. Akhirnya sepakat memindah sementara wisata perahu itu,” katanya, Sabtu (2/1/21) lalu.
Dengan cukup merogoh kocek Rp 5 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati wisata perahu dengan durasi 20 menit. Destinasi wisata ini rama saat weekend. Berdasarkan data yang ada, sekitar ratusan pengunjung datang menikmati wisata perahu ini tiap pekannya.
”Yang jadi pertimbangan kami untuk memindah sementara, karena mengutamakan keselamatan pengunjung. Dari sekitar 60 hektar persawahan yang terendam, yang kami jadikan wisata sekitar 30 hektare. Sebelumnya wisata susur sungai itu ada di Sungai Juwana 1 dengan rute sejauh dua kilometer,” ucapnya.
Kapasitas perahu berbeda-beda. Mulai dari 10 hingga 25 penumpang. Pihak pengelola pun menyiapkan pelampung bagi pengunjung yang ingin menikmati wisata perahu tersebut. ”Semua pengunjung yang ingin berwisata juga kami wajibkan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat,” imbuhnya.
Nila, salah satu pengunjung mengaku penasaran dengan destinasi wisata susur sungai di Desa Temulus. Dirinya pun cukup puas berlibur ke sana. Dengan hanya modal Rp 5 ribu sudah bisa menikmati keindahan alam dari atas perahu.
”Asyik. Ini pengalaman pertama naik perahu. Pihak pengelola juga cukup safety karena menyiapkan pelampung bagi penumpang,” katanya. (*)

Mengancam Kebebasan Media, Komunitas Pers Minta Kapolri Cabut Pasal 2d Dalam Maklumat Terkait FPI

Jakarta, Diva.-
Komunitas pers meminta Kapolri Jenderal Idham Aziz mengevaluasi Maklumat Nomor: Mak/1/I/2021 tentang Kepatuhan terhadap Larangan Kegiatan, Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan Front Pembela Islam (FPI).
Kadiv Humas Polri: Jangan Risau, Poin 2d Maklumat Kapolri Tidak Menyinggung Media Tak Sesuai Prinsip Negara Demokrasi, KAMI Se-Jawa Minta Kapolri Cabut Maklumat Soal FPI
Permintaan ini disampaikan, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S. Depari, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Hendriana Yadi, Sekjen Pewarta Foto Indonesia (PFI) Hendra Eka, Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred) Kemal E. Gani, dan Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut.
Polri beralasan Maklumat yang ditandatangani 1 Januari 2021 itu untuk memberikan perlindungan dan menjamin keamanan serta keselamatan masyarakat pasca dikeluarkan keputusan bersama tentang larangan kegiatan, penggunaan simbol dan atribut serta penghentian kegiatan FPI.
Kegiatan FPI dilarang berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Jaksa Agung RI, Kepala Kepolisian Negara RI dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Nomor: 220-4780 Tahun 2020; M.HH 14.HH.05.05 Tahun 2020; 690 Tahun 2020; 264 Tahun 2020; KB/3/XII/2020; 320 Tahun 2020 tanggal 30 Desember 2020 tentang Larangan Kegiatan, Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan FPI.
Menurut komunitas pers, ada empat hal yang disampaikan dalam Maklumat itu, yang salah satunya tidak sejalan dengan semangat demokrasi yang menghormati kebebasan memperoleh informasi dan juga bisa mengancam wartawan dan media yang tugas utamanya adalah mencari informasi dan menyebarluaskannya kepada publik.
Salah satu isi maklumatnya, tepatnya di Pasal 2d, yang isinya menyatakan: “Masyarakat tidak mengakses, mengunggah, dan menyebarluaskan konten terkait FPI baik melalui website maupun media sosial”.
Menyikapi Maklumat di Pasal 2d tersebut, komunitas pers menyatakan empat sikap:
Pertama, Maklumat Kapolri dalam Pasal 2d itu berlebihan dan tidak sejalan dengan semangat kita sebagai negara demokrasi yang menghargai hak masyarakat untuk memperoleh dan menyebarkan informasi.
Soal ini tertuang jelas dalam Pasal 28F UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.
Kedua, Maklumat ini mengancam tugas wartawan dan media, yang karena profesinya melakukan fungsi mencari dan menyebarkan informasi kepada publik, termasuk soal FPI.
Hak wartawan untuk mencari informasi itu diatur dalam Pasal 4 UU 40/1999 tentang Pers yang isinya menyatakan, “(3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi”.
“Isi maklumat itu, yang akan memproses siapa saja yang menyebarkan informasi tentang FPI, juga bisa dikategorikan sebagai ‘pelarangan penyiaran’, yang itu bertentangan dengan Pasal 4 ayat 2 UU Pers,” ujar komunitas pers yang keterangan tertulis, Jumat (1/1). Ketiga, mendesak Kapolri mencabut Pasal 2d dari Maklumat itu karena mengandung ketentuan yang tidak sejalan dengan prinsip negara demokrasi, tidak senapas dengan UUD 1945 dan bertentangan dengan UU Pers.
Kelima, menghimbau pers nasional untuk terus memberitakan pelbagai hal yang menyangkut kepentingan publik seperti yang sudah diamanatkan oleh UU Pers. (*)

Jumat Bebas dari Gunung Sindur, Abu Bakar Ba’asyir Siap Disambut Keluarganya

Jakarta, Diva.-
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Senin (4/1) lalu mengabarkan rencana pembebasan narapidana terorisme Abu Bakar Bin Abud Ba’asyir alias Abu Bakar Ba’asyir (Ustad ABB).
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir akan bebas dari Lapas Gunung Sindur pada Jumat besok (8/1) Januari 2021, sesuai dengan tanggal ekspirasi atau berakhirnya masa pidana.
Media kemudian mengkonfirmasi putra Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Abdul Rochim Ba’asyir.
Ia membenarkan dan langsung mengucap syukur Alhamdulillah.
“Alhamdulillah, saya memang belum mendapat kabar resmi karena belum telpon TPM (Tim Pengacara Muslim), tapi pihak pondok sudah rapat, beliau akan pulang ke Ngruki (Ponpes Al Mukmin Ngruki),” ungkap Ustadz Iim sapaan beliau saat dihubungi Kantor Berita RMOLJateng, Senin (4/1) lalu.
Ustadz Iim mengaku tidak ada acara khusus untuk menyambut kepulangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, selain itu masih masa pandemi jadi tidak ada kerumunan.
Awal tahun 2019 sebelumnya diketahui Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sempat dikabarkan akan bebas bersyarat namun gagal. Untuk informasi kali ini keluarga berharap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bebas murni.
Diketahui, Abu Bakar Ba’asyir merupakan narapidana yang menjalani masa pidana di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur atas tindak pidana terorisme atau melanggar Pasal 15 jo. 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir divonis pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun. (*)

Din Syamsuddin Menikah dengan Cucu Pendiri Pondok Gontor

Ponorogo, Diva.-
Din Syamsuddin, mantan ketua umum PP Muhammadiyah, Minggu (3/1/2021) menikah dengan Rashda Diana.
Diketahui, Rashda Diana merupakan cucu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Imam Zarkasyi.
Pernikahan itu digelar tertutup di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.
Kepala Desa Gontor, Agung Prihandoko mengatakan Din Syamsuddin sudah mengajukan permintaan surat pengantar dari Desa Gontor ke KUA Mlarak pada Selasa (29/12/2020).
“Prosedurnya sama dengan warga lain. Semua persyaratannya sudah lengkap, mulai dari pengantar dan sebagainya,” terang Agung.
Agung menjelaskan prosesi pernikahan Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) tersebut digelar secara tertutup di lingkungan Pondok Gontor.
“Pernikahan itu terbatas hanya untuk keluarga,” terang Agung.
Kabar pernikahan Din Syamsuddin dan Rashda Diana ini dibagikan oleh Aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah, Ma’mun Murod, Minggu (3/12/2020) hari ini, lewat akun Twitternya, @mamunmurod_.
Mamun mengatakan Din Syamsuddin dan Rashda Diana resmi menikah hari ini pukul 09.00 WIB di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. (*)

Koran Lokal Terpercaya