Semua tulisan dari Retno Wulandari

Lagi, Citilink Berhenti Terbang di Bandara Ngloram Cepu

“Kami selaku operator bandara menghormati segala keputusan maskapai dan selalu berharap banyak maskapai yang dapat terbang dari Bandara Ngloram Cepu, Blora,” ucap Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Dewadaru, Ariadi Widiawan.

***

PENERBANGAN maskapai Citilink dari Bandara Ngloram Blora menuju Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta ataupun sebaliknya, untuk saat ini ditiadakan. Tidak adanya penerbangan di Bandara Ngloram pada hari ini, merupakan yang pertama kali sejak Januari 2023 lalu.
“Iya (pertama kali enggak ada penerbangan sejak Januari),” ucap Ariadi Widiawan kepada wartawan, Rabu (22/3/2023).
Namun, pihaknya tidak bersedia menjelaskan secara detil alasan maskapai Citilink menghentikan jadwal penerbangannya di Bandara Ngloram.
“Untuk lebih lanjutnya dapat menghubungi maskapai Citilink,” kata dia.
Pada tahun ini, Maskapai Citilink sempat membuka jalur penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Bandara Ngloram Blora dan sebaliknya, pada 27 Januari 2023 lalu. Selama kurun waktu dua bulan, penerbangan dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu, yaitu tiap Rabu dan Jumat.
Namun sebagaimana diketahui, Maskapai Citilink dulu sudah pernah menghuni rute di bandara pada Januari 2022, dan berhenti beroperasi pada April 2022 dengan alasan terbatasnya mobilitas masyarakat terhadap rute penerbangan Ngloram-Halim (PP).
Meskipun saat ini tidak ada penerbangan komersial, Ariadi memastikan jajarannya siap melayani penerbangan dalam jenis apapun.
“Sehubungan tidak terbangnya pesawat Citilink hari ini yang dapat kami sampaikan, Bandara Ngloram selalu siap melayani penerbangan dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan pengguna jasa, selain penerbangan terjadwal seperti Citilink juga melayani penerbangan tak berjadwal misal charter flight maupun emergency landing,” terang dia. (*)

Setelah Mendapat Sertifikat HGB dari Presiden Jokowi, Warga Wonorejo Ramai-ramai Akan Jual Tanahnya

“Yang luasnya 500 an harganya Rp 450.000 permeter persegi, yang luasnya 2.000 an harganya Rp 250.000,” ujar Suwarno, warga Wonorejo.

***
Warga kawasan Wonorejo Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, kabarnya ramai-ramai akan menjual tanah yang sudah bertahun-tahun mereka tempati. Tanah tersebut sebagian besar telah bersertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dan Hak Pakai di atas Hak Pengelolaan Pemkab Blora.
Sebagian sertifikat telah diserahkan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada warga kawasan Wonorejo para 10 Maret 2023, sebagian lagi diserahkan oleh petugas BPN di kantor kelurahan masing-masing seperti halnya Kelurahan Ngelo, Karangboyo dan Cepu.
Informasi yang dihimpun di lapangan, harga tanah di kawasan Wonorejo bervariatif mulai dari Rp 200.000 sampai Rp 1,5 juta per meter. Tergantung lokasi tanahnya, semakin strategis lokasinya maka harganya akan semakin mahal.
Warga Wonorejo Kelurahan Cepu, Suwarno mengaku hendak menjual tanah yang telah bersertifikat HGB. Dia memiliki lahan 500 meter persegi dan 2.000 meter persegi.
Tanah yang akan dijual Suwarno adalah tanah pertanian, karena tidak lagi ada yang menggarap. “Saya pindah ikut istri. Keluarga sama kakak saya yang menempati di Wonorejo,” ujarnya.
Tanah tersebut, awalnya didapat Suwarno dari pembagian warisan keluarga mertua. “Terus saya beli,” ucapnya.
Warga lainnya, Abdul mengaku dimintai tolong untuk menjualkan tanah milik seorang pengusaha. Lahannya seluas 7.000 meter persegi. Lokasinya cukup strategis, dibandrol dengan harga Rp 1,5 juta per meter.
“Lokasi di Jalan Raya By Pass Cepu. Ikut Sertifikat HGB. Permeter dijual Rp 1,5 juta,” ujarnya.
Sementara warga lain yang enggan disebutkan namanya, berencana menjual tanah bersertifikat HGB miliknya, seluas 600 meter persegi.
“Permeter Rp 200.000, lokasinya di Jatirejo,” katanya.
Sumber tersebut mengaku jika tanah milik adiknya di Kelurahan Karangboyo juga akan dijual. “Punya adik belum saya lihat,” ungkapnya.


Dikonfirmasi terpisah, Asisten 1 Sekda Blora Irfan Agustian Iswandaru menyampaikan, karena tanah di kawasan Wonorejo sudah bersertifikat, sehingga sudah menjadi kewenangan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) dan Kantor Pertanahan.
Dari sisi Pemkab Blora, Irfan mengingatkan pe-megang hak untuk membaca kembali perjanjian yang telah ditanda tangani bersama Pemkab Blora. “Di situ tertulis hak dan kewajibannya,” ujarnya.
Irfan menegaskan kembali pemerintah pusat menerbitkan sertifikat tersebut untuk memberikan kepastian hukum.
Namun, ketika ditanya apakah boleh mengalihkan hak atau memindah tangan pemegang hak, Irfan tidak bisa menjelaskan secara detail. (*)

Ketua Panwas Kecamatan Sambong Lantik 10 Pengawas Desa

BLORA.-

Bertempat di Pendopo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, Minggu (5/2/2023) telah melaksanakan pelantikan dan pembekalan pengawas kelurahan atau desa se- Kecamatan Sambong.

Pelantikan yang langsung dilakukan oleh Ketua Panwas Kecamatan Sambong, Jasmanto itu dihadiri jajaran Forkompincam dan anggota Panwas, serta Kades se-Kecamatan Sambong, juga Rokhaniawan Drs. KH. Nuril Asrori, M. Hum.

Panitia Pengawas Desa sebagai ujung tombak dari Bawaslu siap mensukseskan Pemilu Serentak di Tahun 2024.

Di Kecamatan Sambong terdapat 10 desa, dan masing-masing desa hanya diwakili satu orang pengawas, diantaranya: Desa Biting (Eko Sarmianto), Desa Brabohan (Sahir), Desa Gadu (Ahmad Syaikhul Mubin), Desa Gagakan (Joko Santoso), Desa Giyanti (Son Sahari), Desa Ledok (Yuli Rianik), Desa Pojokwatu (Samidi), Desa Sambong (Rio Antono), Desa Sambongrejo (Karmain), Desa Temengen (Sulastri Ragil Rahayu).

“Panitia Pengawas Desa yang terpilih kami yakin dan mampu untuk menjalankan tugas sesuai amanah yang diberikan dan berharap bisa bersinergi dengan kepala desa, Pemdes, Babinsa, Babinkamtibmas,” ujar Camat Sambong Martono, S.Sos.M.SI selaku Pemangku wilayah Kecamatan Sambong. (*)

Sudah Ganti Tahun, Proyek JUT Makadam di Desa Mernung Belum Rampung

BLORA.-

Jalan Usaha Tani (JUT) di Desa Mernung yang bermasalah ternyata ada dua. JUT di RT.04/RW.01 yang pada 28 November lalu ambrol dan hingga kini belum ada perbaikan, sementara JUT makadam yang berada di RT.02/ RW.01 kondisinya mangkrak ditinggalkan oleh pekerjanya.
Dua JUT di Desa Mernung ini kondisinya berbeda satu sama lain. Bila JUT RT.04/RW.01 yang sumber dananya berasal dari aspirasi PDI-P itu dibangun dengan bahan cor semen, maka JUT di RT.02/ RW.01 yang sumber dananya dari aspirasi Partai Golkar itu menggunakan bahan batu urug atau pedel untuk pengerasan jalannya.
Ketika wartawan mendatangi lokasi JUT makadam melihat belum dilakukan pemadatan jalan, sementara batu urug / pedel masih menumpuk di pinggir jalan, dan hanya tampak seorang pekerja sedang menata batu di lokasi proyek.
“Kabare bose, yo nek wis rampungan yo dhi slander,” ujar seorang pekerja bernama Mbah Sumar sambil menjelaskan, bahwa yang dimaksud bose disini adalah kepala desa.


Kepala Desa Mernung Munandar membenarkan, bahwa jalan usaha tani yang belum rampung itu sumber dananya dari bantuan kabupaten. “Aspirasi dari Partai Golkar, Mbak,” ujarnya.
Terkait tidak disebutkannya jangka waktu pengerjaan pada papan proyek, Munandar menyatakan hal itu tidak ada masalah. “Memang ini tidak ada waktu pengerjaannya, yang penting akhir tahun 2022 selesai,” katanya pada pertengahan Desember 2022 lalu.
Kepala desa juga menjelaskan jika selesai menata batu pedel nantinya akan dipadatkan dengan alat berat.
Belum diketahui pasti penyebab mangkraknya pengerjaan JUT makadam di Desa Mernung yang harusnya selesai pada akhir tahun lalu.
Wartawan melakukan konfirmasi melalui WhatsApp, namun terkait keterlambatan pembangunan JUT Bankab 2022 di Desa Mernung ini Camat Cepu Budiman belum memberikan jawaban. (*)

Walaupun Pembangunan Alun-alun Jipang-Cepu Belum Rampung, Tasyakuran Akan Tetap Digelar dengan Menghadirkan Bupati Blora

BLORA.-

Hingga hari Jumat (30/12/2022) pembangunan Alun-alun Jipang di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora belum rampung penggarapannya–bahkan jalan aspalnya masih ambles. Namun pada hari Sabtu (31/21/2022) tetap akan digelar acara tasyakuran sebagai tanda diresmikannya destinasi wisata yang menelan biaya Rp 2,7 Miliar dengan menggunakan dana Bankeu Provinsi Jateng itu.

Salah seorang anggota BPD Desa Jipang, Nuryati kepada wartawan mengatakan bahwa proses pengerjaan Alun-alun Jipang untuk sementara dihentikan, dan belum tahu kapan akan dilanjutkan kembali.

“Kalau jalan aspal ini baru dibangun sekitar sebulan, Mbak. Tapi kondisinya sekarang sudah rusak,” ujar Nuryati sambil menunjuk jalan rusak di depan rumahnya.

Hasil investigasi di lapangan, pembangunan Alun-alun Jipang itu terkesan asal-asalan, hal itu terlihat dari kerusakan jalan aspal yang belum lama selesai dibangun.
Sebagaimana papan informasi proyek, pembangunan Alun-alun Jipang ini dimulai sejak 20 September 2022, dan harusnya sudah selesai 18 Desember 2022. Tapi hingga berita ini diturunkan, kondisi bangunan belum rampung.

Kabar beredar melalui selebaran, acara malam tasyakuran Alun alun Jipang yang akan dilaksanakan pada Sabtu (31/12/2022) dengan menghadirkan Habib Muhammad bis Idrus Al-Jufri dan KH Abdul Jalal itu juga akan dihadiri oleh Bupati Blora Arief Rohman.
Sementara itu Camat Cepu, Budiman belum bisa dikonfirmasi terkait kegiatan tasyakuran yang tetap akan digelar padahal pembangunan Alun-alun Jipang masih belum rampung. (*)

JUT Ambrol, Akses Petani Desa Mernung-Cepu Menuju Sawah Terputus

BLORA.-

Pasca ambrolnya jalan usaha tani (JUT) di Desa Mernung Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Senin (05/12/2022) digelar rapat koordinasi bersama DPRD Blora. Kegiatan yang dikemas dalam Focus Group Discusion (FGD) dengan melibatkan Kepala Desa Mernung bersama warga desanya itu diikuti tiga orang anggota DPRD Blora dari Komisi C diantaranya HM. Warsit, Darwanto, dan Moh. Sahari. Juga hadir pada kesempatan itu Camat Cepu, Budiman.

Kepala Desa Mernung, Munandar dalam pemaparannya mengatakan, bahwa pihak CV akan bertanggungjawab memperbaiki JUT yang ambrol. “Tetapi nanti menunggu situasi dan cuaca,” ujarnya.

Ambrolnya JUT mengakibatkan akses menuju sawah terputus karena jalan tidak dapat dilalui. Pada kesempatan itu Kades Mernung belum bisa memberikan solusi, apakah akan segera dibangun kembali atau dibuatkan jembatan darurat.

“Kalau soal gorong-gorong itu yang menentukan petani, CV hanya manut saja,” tambah Kades.
Pernyataan Kades Mernung itu langsung disanggah oleh warga bernama Sowo. Menurutnya, untuk gorong-gorong dia dernah mengajukan 4 tapi dari CV cuma membuatkan 3. “Teng lekuan niku kulo sukani deker, niku deker kulo piyambak, usaha kulo piyambak, inisiatif kulo piyambak,” sanggahnya.

Forum pada hari itu tidak membuahkan hasil yang maksimal karena perdebatan antara petani dengan Kades pada hari itu belum ada konfirmasi dari pihak CV Arum Jaya dan Konsultan yang mengetahui standarisasi pembangunan JUT tersebut.

Kades menjelaskan lagi, bahwa JUT di desanya itu dananya berasal dari aspirasi PDIP, dan masih dalam masa perawatan. Tapi ditanya soal panjang jalan JUT, Kades tidak bisa menyebut menyebut angka namun hanya menjawab, “niku plange ada, mbak”.

Dan, ketika wartawan membaca papan proyek tersebut tidak ditemukan informasi tentang panjang jalan maupun lebar jalan.
Di tempat terpisah Ketua BPD Desa Mernung, Kasmin mengatakan bahwa pihaknya tidak tahu persis perihal pelaksanaan proyek JUT di desanya. Dia mengaku pernah diberitahu bahwa JUT itu dari aspirasi, namun dalam pelaksanaan pembangunan Kasmin tidak pernah diajak rembukan. “Kami juga tidak tau RAB nya,” papar ketua BPD itu.
“Sebelum ambrol pihak inspektorat sudah datang, karena belum sesuai, kon mbenahi neh. Belum ada serah terima dari Inspektorat,” tambah Kasmin.

Sementara itu Camat Cepu Budiman yang pernah meninjau ke lokasi beberapa hari setelah JUT ambrol mengatakan akan berkoordinasi dengan pihak terkait, dalam hal ini dinas pertanian.
Namun Sampai berita ini diturunkan belum ada solusi terkait akses jalan yang terputus, padahal jalan tersebut merupakan jalan utama bagi para petani untuk menuju sawah mereka. (*)

Diterjang Hujan, Bangunan JUT di Desa Mernung-Cepu Ambrol hingga Merusak Tanaman Padi Milik Petani

BLORA.-

Curah hujan yang cukup tinggi sejak bulan Oktober mengakibatkan ambrolnya bangunan JUT (jalan usaha tani) di kawasan persawahan di Desa Mernung Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora Jawa Tengah pada Senin (28/12/2022). JUT yang baru saja selesai dibangun pada 28 September 2022 itu mengalami longsong pada salah satu sisinya. Dan puncaknya pada tanggal 28 November 2022 ketika hujan turun dengan cukup deras hingga malapetaka itu benar-benar terjadi karena ambrolnya bangunan JUT malah merusak tanaman padi milik petani di kawasan itu.
Selain curah hujan yang memang tinggi, ambrolnya JUT di Desa Mernung itu diduga akibat kualitas bangunan yang rendah serta cara pengerjaannya yang asal-asalan.
Dalam pelaksanaan pembangunan JUT sepertinya pelaksana proyek tidak mempertimbangkan saluran draenase yang memadai, sehingga jalan tidak mampu menahan air dan menyebabkan ambrolnya bangunan tanpa pondasi itu.
Karsih, salah seorang petani yang tanaman padinya tertimbun material jalan berharap pemerintah segera turun untuk memberi solusi. “Ngantos sak niki dereng wonten solusi dari pemerintah desa. Nggih niki ditanami maleh, niki jane nggih sampun umur 3 minggu,” ucap Karsih kepada wartawan sambil memperbaiki kerusakan sawahnya.
“Jawah wengenane nggih sebelah mriku longsor,” tambah Karsih sambil menunjuk sawah petani yang tertimbun tanah yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi jalan yang ambrol sekarang.


Sementara itu Sowo, petani yang terdampak kerusakan paling parah mengaku hanya bisa pasrah dan berusaha menyelamatkan tanaman padi yang sebagian sudah hancur.
“Masalahe saluran draenasene kurang,” ucap pria yang akrab disapa Mbah Sowo itu.
Kepala Desa Mernung, Munandar saat dikonfirmasi mengatakan, bahwa pembangunan JUT tersebut masih dalam masa perawatan. “Untuk kerusakan sudah saya dokumentasi untuk pertanggungjawaban dari PT ARUM, termasuk nantinya meminta ganti rugi untuk petani yang terdampak,” katanya.
Hingga berita ini dirilis belum ada pihak yang menyatakan bahwa bangunan JUT di Desa Mernung itu sudah memenuhi standart atau belum. Pihak konsultan pengawas PT TIARA SINERGI belum bisa ditemui, dan dalam papan informasi pembangunan pun terkesan janggal karena tidak ada keterangan volume pembangunan. sedang memperbaiki kerusakan sawahnya memberikan keterangan (*)